Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Ini Pasti Mimpi


__ADS_3

Sesampai di Jakarta, setelah mengantarkan Anggi sampai depan kosannya, Luna kembali ke rumahnya. Hari ini dan sampai dua hari ke depan, Luna memberikan Anggi cuti, karena Luna tau, Anggi juga pasti lelah dan butuh istirahat yang cukup setelah apa yang mereka lalui beberapa hari terakhir.


Sesaat setelah ia sampai di rumah, Bibi Imah yang terkejut melihat kedatangannya, langsung menghampiri Luna, memeluknya dan menangis.


"Yang sabar ya, Non," ujar Bibi Imah membuat Luna mengernyitkan dahi, ia tak mengerti kenapa Bibi Imah harus ngomong seperti itu.


"Emang aku kenapa, Bi?" tanyanya heran.


Mendengar pertanyaan majikannya, kini bergantian Bibi Imah yang diam sambil melepas pelukannya. Dia menatap wajah lelah Luna dan memang tidak tersirat kesedihan di sana, kecuali rasa lelah.


"Non belum tau?" tanyanya.


"Belum tau? Emang apa yang harus aku ketahui?" tanyanya terkekeh.


"Ayahnya Non Luna kan meninggal beberapa hari yang lalu," ujarnya membuat Luna langsung mematung, namun hanya beberapa detik, setelahnya ia berwajah datar.


"Bibi jangan bercanda masalah kematian. Aku gak suka!" ujarnya kesal. Siapa yang gak kesal mendengarkan hal konyol seperti itu.


"Tapi bibi gak bohong." bantahnya.


"Sudahlah, aku tau Bibi cuma pengen ngasih kejutan kan buat aku, tapi please jangan ngomong seperti itu, Bi. Aku gak suka."


"Bibi gak bohong Non. Coba Non aktivkan hpnya, Bibi yakin, akan ada banyak panggilan dan pesan di hp Non Luna," tuturnya.


Melihat raut wajah serius Bibi Imah, perasaaan Luna semakin tak menentu. Ia ingat, hpnya sudah mati total dari empat hari lalu. Ia juga males mau ngecas, sehingga membiarkan hp nya tetap mati.

__ADS_1


Luna segera pergi ke kamarnya dan mengeces hpnya. Baru di cas lima menit, ia langsung menghidupkannya, tak peduli jika baterainya masih lemah.


Dan benar saja, sesaat setelah hpnya di aktivkan, banyak chat dari seluruh keluarga besarnya, termasuk suami dan mertuanya. Tapi lebih banyak dari suaminya yang isinya tentang kekecewaan dia karena merasa sudah di abaikan.


Membaca semua pesan dari Dion, hati Luna langsung mencelos. Sakit tapi tidak berdarah, ia juga membaca pesan dari Lintang dan Ibunya. Semuanya mengatakan kekecewaaan.


Dan yang lebih parah, adalah dirinya bahkan tidak tau jika ayahnya sudah tiada, ia bahkan tidak melihat wajah terakhir ayahnya.


"Kenapa begini? Bukan ini yang aku mau?" gumamnya dengan tatapan kosong. Rasa lelah yang mendera seakan sudah tidak lagi ia rasakan.


Tiba-tiba ia merasa semuanya gelap dan setelahnya, ia tak ingat apapun yang terjadi.


Bibi Imah yang pergi ke kamar Luna, merasa kaget melihat Luna tak sadarkan diri di samping tempat tidurnya. Dengan susah payah, ia mengangkat Luna ke atas tempat tidur. Dan setelahnya, Bibi Imah langsung menghubungi dokter.


Cukup lama Bibi Imah menunggu, dan setelah dirinya mendengar bunyi bell, barulah Bibi Imah segera pergi ke ruang tamu dan membukakan pintu.


"Kenapa dengan Luna, Bi?" tanyanya.


"Dia pingsan, Dok."


"Sekarang ada di mana?"


"Di kamar."


Bibi Imah emang kenal dengan Dokter Reyhan, karena Dokter Reyhan adalah salah satu teman Ariel yang berprofesi jadi dokter, hanya saja mereka tidak terlalu akrab. Bahkan Dokter Reyhan hanya datang saat di panggil saja. Selebihnya, ia gak pernah datang untuk bermain atau bersilaturrahmi layaknya sesama teman yang saling kenal.

__ADS_1


Dokter Reyhan memeriksa Luna seperti dirinya memeriksa pasien yang lain. "Dia gak papa, Bi. Hanya kelelahan saja. Mungkin Luna harus istirahat untuk beberapa hari ke depan agar bisa mengembalikan tenaganya, sehingga bisa vit kembali," ujarnya tersenyum ramah.


"Oh gitu, syukurlah."


Setelahnya, Dokter Reyhan pun pamit pulang, ia tak perlu menunggu Bibi membayarnya karena ia pasti akan mendapatkan transferan dari Ariel.


Sedangkan Bibi Imah, ia melihat raut wajah Luna yang emang sangat lelah dan pucat. Tak tega melihatnya, Bibi Imah pun memijit kaki Luna, berharap dengan apa yang ia lakukan, bisa mengurangi rasa lelah di dalam diri Luna.


Dua jam kemudian, Luna mulai sadar. Ia diam sejenak dan ingatan sebelum ia tak sadarkan diri, mulai berputar di otaknya.


"Aku pasti cuma mimpi," gumamnya yang masih di dengar oleh Bibi Imah.


"Non Luna sudah sadar?" tanyanya.


"Aku kenapa, Bi? Oh ya, Bi. Tadi aku mimpi buruk. Aku mimpi Ayah gak ada. Itu pasti cuma mimpi belaka kan bi?" tanyanya memastikan.


"Ayah Non Luna emang sudah gak ada, Non. Non Luna harus sabar dan ikhlas."


"Enggak, Bi. Ayahku masih hidup. Aku yakin, Ayah masih hidup!" Luna turun dari kasur dan mengambil hpnya yang masih dalam keadaan di charger. Ia menelfon Bunda Naila, tapi gak di angkat. Nelfon Lintang pun juga sama. Bahkan saat ia nelfon Dion juga tak ada yang mengangkat telfonnya.


"Mereka pada kemana? Kenapa aku nelfon gak di angkat?" tanyanya frustasi.


Lalu ia segera mengambil tasnya dan tanpa ganti baju lebih dulu, ia langsung segera pergi lagi dari sana. Ia bahkan tidak memperdulikan ucapan Bibi yang tengah mengambilnya. Ia memilih menggunakan mobil online menuju bandara, lalu membeli tiket pesawat untuk mempersingkat waktu, untung saja ada jadwal penerbangan yang lebih cepat, sehingga Luna tak perlu menunggu lagi. Ia tak memperdulikan perutnya yang terasa perih dan keroncongan dari tadi. Sepanjang jalan ia terus menangis, menangisi kebodohannya karena terlalu malas mencharger hpnya.


Ia juga berusaha mengirim pesan pada suaminya, namun tak ada satu pun yang di balas. Malah saat ini, gantian nomer suaminya yang tidak aktiv. Padahal jelas jelas, pesannya telah di baca, tapi Dion seakan sengaja ingin menghindarinya.

__ADS_1


"Mas, Dion, Ayah, Ibu. Maafin aku, maafin kebodohan aku," ujarnya sambil terisak pelan takut menganggu yang lain.


__ADS_2