
Hari ini setelah sarapan pagi bersama dengan Diana, Ariel pergi ke rumah Ardi dan Lestari untuk bertemu dengan Dania. Ariel sudah sangat merindukan putrinya itu setelah berbulan bulan tidak bertemu. Yah, memang sih selama ini walaupun tidak bertemu, mereka seringkali vidio call, namun tetap saja rasa rindu itu masih ada.
"Papa," panggil Diana.
"Iya, Nak," balas Ariel sambil menoleh ke arah putrinya itu.
"Kita au mana?" tanyanya dengan ucapannya yang belum terlalu fasih.
"Mau ketemu sama Adik Dania, masih ingat ka?" tanyanya sambil melihat ke arah putrinya yang seperti sedang berfikir keras.
"Iana gak ingat," ucapnya setelah cukup lama berfikir.
"Itu yang sering vidio call, yang sering muncul di hp. Masih belum ingat?" tanyanya.
"Ah, iana ingat," ujarnya dengan sangat antusias sekali. Mungkin Diana senang karena akhirnya, ia ingat siapa Dania.
"Nah, kita sekarang akan kesana. Diana kangen gak sama Dania?" tanyanya lagi.
"Angen," balasnya dengan senyum cerianya.
"Baiklah, nanti jika ketemu, tidak boleh bertengkar ya." ujarnya mengingatkan. Dan Dania hanya menganggukkan kepalanya, membuat Ariel begitu gemas melihatnya.
Saat ini, Diana memakai gamis yang ukuran kecil, sengaja Ariel melakukan itu, agar Diana terbiasa sampai dewasa. Selain gamis, Diana juga memakai ****** ***** dan celana panjang, jadi di balik baju gamisnya, juga ada celana panjang sehingga saat Diana bermain, ****** ******** gak kelihatan orang luar. Diana juga memakai kaos kaki dan sepatu simple, sehingga mempermudah saat membukanya. Hijabnya juga warnanya senada dengan gamis berwarna hitam.
Kebanyakan baju Diana emang berwarna hitam, putih, abu-abu, navy dan warna gelap lainnya. Ia lakukan agar tidak menarik perhatian banyak orang.
Bagaimanapun Diana harus terbiasa dari kecil. Jujur, menjaga anak perempuan itu tidaklah mudah,tanggung jawabnya begitu besar, untuk itu mumpung masih kecil. Ariel berusaha mendidiknya sebaik mungkin, agar putrinya itu menjadi anak yang sholehah, dan tidak banyak tingkah. Sehingga tidak memberatkan dirinya kelak di akhirat.
Setelah cukup lama di perjalanan, barulah mereka sampai di depan rumah Ardi. Ariel dan Diana turun dari mobil, lalu mereka jalan bergandengan tangan menuju pintu utama. Ariel jalan dengan sangat lambat dan pelan, karena ia harus mengimbangi langkah mungil putrinya.
__ADS_1
Ariel menekan bell rumahnya dan tak lama kemudian, pintu pun terbuka lebar.
"Assalamualaikum," ucap Ariel
"Waalaikumsalam, ya Allah Ariel kapan datang?" tanyanya kaget.
"Kemaren," balas Ariel sambil berjabat tangan dan berpelukan sebentar, berpelukan ala laki-laki untuk melepas rasa rindu. Mereka memang tak ada ikatan darah, namun keakraban mereka selama ini, sudah seperti saudara kandung.
"Ayo masuk, ayo. Ini Diana, sudah besar ya." tuturnya.
"Iya. Diana, salim Nak sama Om," ucap Ariel kepada Diana. Diana pun menurut dan mencium tangan Ardi dengan sopan.
"Duh pinternya. Sudah cantik, sopan lagi. Duduk dulu ya, Om panggilkan Dania sama Tante dulu. Riel, aku ke belakang dulu bentar," pamitnya.
"Oh,ya."
Dan setelahnya, Ariel dan Diana duduk di kursi sofa. Sedangkan Ardi pergi ke belakang untuk memberitahu anak dan istrinya jika ada Ariel di ruang tamu.
Sedangkan Ariel, ia mengecek hpnya bentar, sebelum akhirnya ia menaruhnya kembali. Ia gak bisa lama-lama main hp, kecuali jika Diana sudah tidur siang atau tidur malam. Karna jika dirinya main hp terus, tidak menutup kemungkinan, Diana juga akan tertarik dan ingin main hp juga. Bagaimanapun seusia Diana, masih belum bisa megang hp lama-lama karena bahaya untuk matanya.
Tak lama kemudian, Ardi datang bersama dengan Dania, sedangkan Lestari katanya masih mau ganti baju dulu.
"Nah ini Papa Ardi datang. Ayo salam dulu sama Papa," tutur Ardi yang juga mengajari Dania dengan tutur kata sopan agar tidak bertinkah saat dewasa nanti.
Dania pun langsung menghampiri Ariel dengan malu-malu, tubuhnya yang gemoy membuat Ariel gemas hingga dia langsung memeluk Dania dan mencium pipinya yang seperti bakpau itu. Dania sendiri hanya terkekeh geli dengan perlakuan Papa kandungnya itu. Dania mungkin emang gak tau, jika Ariel papa kandungnya, tapi ikatan batin mereka begitu kuat, hingga bisa saling memberikan rasa aman dan nyaman.
Apalagi Dania juga sering vidio call dengan Ariel sehingga ia tidak merasa asing dengan wajah Ariel.
"Papa, eluk," tutur Diana, melihat Papanya berpelukan dengan Dania, Diana pun juga ingin di peluk. Akhirnya Ariel memeluk mereka berdua.
__ADS_1
"Oh ya, Riel. Mumpung kamu di sini. Aku boleh nitip Dania, sekitar semingguan?" tanyanya.
"Boleh." jawab Ariel lekas, tanpa menanyakan alasannya.
"Syukurlah, jujur besok sore rencananya aku mau pulang kampung. Anakku sakit, sebenarnya mau berangkat hari ini, tapi karena masih ada pekerjaan, jadi tak selesaikan dulu. Baru besok berangkat, sepertinya aku di sana semingguan. Tapi misal anakku belum sembuh, sepertinya akan cukup lama di sana. Istriku juga aku bawa. Sebenarnya aku pengen bawa Dania juga, cuma karena perjalananya cukup jauh, aku khawatir sama kesehatannya, apalagi jalannya kan gak enak. Istriku juga tengah hamil muda, aku takut gak bisa fokus menjaga keduanya," tutur Ardi memberitahu.
"Ya Allah, anakmu sakit apa, Ar?" tanyanya.
"Jatuh dari sepeda motor. Katanya sih saat di gonceng, entah ngantuk apa gimana, tiba tiba aja jatuh gitu, untungnya kendaraan waktu itu sepi, jadi cuma luka lecet di beberapa bagian, cuma ya entah karena kesakitan apa gimana, sampai akhirnya malah demam dan harus di bawa ke rumah sakit."
"Semoga anakmu cepet sembuh ya, Ar."
"Aamiin."
"Selamat juga, akhirnya kamu bentar lagi akan nambah anak," ujarnya dengan tulus.
"Iya, terima kasih doanya. Aku pun juga gak menyangka akhirnya akan nambah anak di usiaku yang sekarang."
"Emang kenapa dengan usiamu?'
"Ya sudah tua," ujarnya terkekeh.,
"Tapi aku lihatnya masih seperti umur dua puluhan," godanya, Tapi emang perawakan Ardi terlihat lebih muda dari usianya, entah karena perawatan atau karena rajin oleh raga atau karena tidak ada beban berat sehingga membuat dirinya terlihat lebih muda.
"Ck ... kamu tuh."
Saat mereka mengobrol, Lestari datang membawa nampan berisi minuman. Penampilan Lestari pun sudah berubah, menggunakan gamis lebar berwarna navi dan hijab lebar dengan warna senada, serta kaos kaki coklat dan sandal jepit. Sandal yang emang di pakai untuk di dalam rumah, jadi sandal luar sama sandal dalam, di bedakan.
"Di minum, Mas," ucap Lestari sopan. Ia tidak menjabat tangan Ariel karena memang Ardi, sang suami melarangnya untuk bersentuhan dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Dan Lestari pun mengiyakan, karena memang ia lebih nyaman dengan yang sekarang.
__ADS_1
Mereka pun ngobrol santai, Lestari lebih banyak diam, dan hanya bicara misal di tanya aja, selebihnya diam. Hanya sesekali Lestari mengajak bicara Diana, yang menurutnya sangat lucu dan imut. Apalagi memakai hijab membuat Lestari gemas sendiri. Dania sendiri memang kadang memakai hijab tapi belum bisa konsisten, karena kadang Dania suka nangis kalau di kasih hijab, sering di jambak sendiri, mungkin karena sumuk dan belum terbiasa.