
Saat Ariel tengah tertidur pulas, Luna yang masih sibuk dengan hpnya, mencoba melambaikan tangannya di depan wajah Ariel. Namun ternyata Ariel tampak tertidur pulas. Tanpa mau buang-buang waktu, Luna langsung turun dari kasur, dan segera mengambil Hp Ariel. Dengan susah payah, ia mencoba mencari tau pin yang di pakai oleh Ariel dan setelah itu, ia mencoba untuk menyadap Hp Ariel, tentu ia tidak langsung bisa. Ia harus mencoba beberapa kali, dan untungnya karena zaman sudah canggih, ia bisa mencari tau lewat google chrome dan youtube. Serta minta bantuan Dion, hingga butuh dua jam lamanya, akhirnya kini Luna berhasil menyadap Hp Ariel, dan tentu tak akan ketahuan karena Luna tak menggunakan aplikasi atau apapun.
Setelah itu, Luna menaruh hpnya kembali ke tempat semula. Dan ia kembali duduk di pinggir kasur dan mulai membuka hpnya yang menampilkan chat Laras dan juga Ariel. Sedangkan masalah rekaman itu, ia belum dapat bukti apa-apa karena Ariel belum mengajak Laras naik mobilnya dan masalah rekaman di wajah Laras, Laras sudah mengetahuinya. Mungkin saat dirinya dan Dion memasang sesuatu, ada tetangga Laras yang melihatnya dan melaporkannya ke Laras. Hingga sampai detik ini tak ada lagi bukti yang biasa ia dapatkan kecuali bukti kemaren saat Ariel mendapatkan telfon dari Laras.
Luna tau, bahwa saat ini Ariel dan Laras sepertinya sudah mulai curiga jika dirinya tengah mencari tau, sehingga mereka semakin pandai menyembunyikannya namun Luna percaya, sepintar-pintarnya mereka menutup bangkai, pasti akan ada celah buat Luna untuk bisa mengetahui semuanya. Tak ada yang tak mungkin selagi dirinya mau berusaha dan pantang menyerah.
Luna membaca pesan Ariel dan Laras satu persatu, ini pesan dari tadi pagi. Karena yang kemaren sepertinya sudah di hapus.
Jam 06.45
Laras , "Mas, kok belum datang?"
Ariel, "Aku libur hari ini, yank."
Laras, "Kenapa?"
Ariel, "Aku ingin menghabiskan waktuku bareng Luna."
Laras, "Hueft terus aku gimana?"
Ariel, "Sabar dulu ya."
Laras, "Tapi aku kangen kamu."
Ariel, "Aku juga tapi yak apa lagi. Sekarang Luna curiga sama kita lo."
Laras, "Kenapa kamu gak cerai aja sih sama Luna?"
Ariel, "Aku masih mencintainya yank, lagian Mama dan Papa aku udah sayang banget sama Luna Dan lagi, jika aku cerai rumah dan resto itu akan jadi milik Luna. Aku hanya mendapatkan uang dari saham yang punya di beberapa perusahaan. Tapi kan kamu tau, sekarang zaman kayak gini, lagi pada nurun. Keuntungan aku pun dari sana gak seberapa."
Laras, "Hemm kmu cuma cinta Luna aja nih?"
Ariel, "Sama kamu juga dong."
Laras, "Hueftt sebenarnya aku gak ingin berbagi cinta"
Ariel, "Ingat kan perjanjian kita, aku nerima kamu jadi pacar aku, asalkan kamu gak boleh sampai membuat hubungan aku dan Luna hancur. Ingat yank, kamu yang menginginkan hubungan ini, bukan aku. Kamu yang bikin aku jadi suami brengsek kayak gini, jadi jangan minta yang aneh-aneh. Jangan bikin kepala aku pusing, sudah untung aku mau nerima kamu jadi pacar aku dan memenuhi semua kebutuhan kamu itu."
Laras, "Iya-iya, maaf Mas."
Ariel, "Iya sudah gak papa, tapi lain kali jangan gitu lagi ya. Aku emang sudah cinta sama kamu, tapi tetap aja rasa cinta aku ke Luna masih jauh lebih besar, terlebih Luna adalah istri aku."
Laras, "Iya, Mas. Aku faham."
Ariel, "Nanti aku transfer uang buat kamu, kamu jalan-jalan aja dulu kemana gitu, atau beli apapun yang kamu mau."
Laras, "Makasih ya, Mas."
Ariel, "Sama-sama."
Laras, "Tapi besok kita ketemu kan?"
__ADS_1
Ariel, "Iya tapi aku gak bisa jemput di rumah kamu lagi, karena di sana ada cctv nya kan?"
Laras, "Iya, huh Luna itu kenapa nekat banget sih ngasih cctv di depan rumah aku. Untung ada yang ngasih tau aku, coba kalau enggak, bisa berabe kan?
Ariel, "Ya itu, untung aja ada yang ngasih tau kamu."
Laras, "Di mobil Mas ada cctvnya juga gak? Atau di rumah Mas atau di kantor mungkin?"
Ariel, "Entahlah aku gak tau, makanya kita hati-hati."
Laras, "Ya, HPnya Mas gimana, gak pernah di pegang Luna?"
Ariel, "Enggak kok, lagian pinnya sudah aku ganti dan chat nya kamu juga sering aku hapus. Biar meniggalkan rekam jejak."
Laras, "Syukurlah. Kok Luna jadi nakutin gini ya. Padahal yang aku tau dia gak kek gitu."
Ariel, "Entahlah, aku juga gak mengerti. Mungkin insting seorang istri kali ya terlalu kuat hehe."
Laras, "Hehe mungkin, Mas."
Ariel, "Ya sudah kamu kerja aja dulu, nanti Nani akan curiga kalau kamu chatan terus. Kita lanjut nanti atau besok lagi chatannya. Semangat ya kerjanya."
Laras, "Iya, Mas. I Love you."
Ariel, "I love you too sayang."
Jam 12.03
Ariel, "Iya, kamu juga."
Dan setelah itu, tak ada chat lagi. Luna hanya bisa menghela nafas membaca pesan itu. Sakit, pasti. Tapi kalau dia menangis pun juga percuma, buat apa. Menangis gak akan menyelesaikan masalah. Yang paling penting adalah dia yang harus mencari bukti yang kuat agar ia bisa segera membalas rasa sakitnya dan menghancurkan mereka berdua.
Untuk menghilangkan rasa sesak, Luna langsung turun lagi dari kasur dan membiarkan Ariel tidur sendirian. Ia membawa HPnya dan duduk di belakang rumah sambil melihat bunga yang tengah mekar.
Bibi Imah yang tau kalau Luna duduk sendirian, langsung membuatkan jus melon dan kue bolu pandan. Dan membawanya untuk Luna.
"Minum, Non," ucapnya sambil menaruh jus aplukat dan kue bolu pandannya di meja samping kursi.
"Makasih, Bi." Luna menoleh ke arah Bibi Imah dan tersenyum tulus.
"Sama-sama, Non," jawabnya sambil memperhatikan wajah Luna yang terlihat seperti menyimpan banyak beban.
"Non Luna kenapa?" tanya Bibi Imah yang merasa kasihan melihat wajah Luna yang tak lagi ceria seperti dulu.
"Mas Ariel selingkuh sama Laras, Bi."
"Astaga, jadi benar kecurigaan kita selama ini, Non."
"Iya, Bi."
"Kan sudah Bibi bilang dari awal, Laras itu wajahnya aja polos, tapi dia akan jadi ancaman buat Non nanti. Dan sekarang terbukti kan ucapan Bibi?'
__ADS_1
Luna menganggukkan kepalanya.
"Setidaknya dengan Laras ada di sini, aku tau Bi. Kalau Mas Ariel bukan type suami yang setia. Dan aku tau sifat sahabatku yang asli, kalau dia bisa nusuk aku dari belakang demi memuaskan egonya. Setidaknya, aku gak perlu menyayangi mereka seperti dulu lagi, aku tak lagi hidup dalam kebohongan," ujar Luna sambil menatap ke depan dengan tatapan kosong.
"Hidup ini lucu ya, Bi. Dulu aku menderita karena Mas Ariel yang selalu ngekang aku, gak boleh kemana-mana, sering di rumah, sehingga aku merasa kebebasan aku tereggut olehnya. Untung ada Bibi Imah dan Bibi Neni sehingga rasa bosan dan rasa jenuh aku sedikit terobati. Aku juga harus jaga pola makan aku, gak boleh makan ini dan itu, aku harus diet ketat, olah raga setiap hari. Aku benar-benar seperti burung dalam sangkar emas. Dan sekarang setelah Mas Ariel memberikan aku kekebasan, membiarkan aku kemanapun aku pergi, mengizinkan aku makan apapun yang aku mau, tapi lagi-lagi aku menderita dan tak bahagia. Jika dulu karena terkekang, sekarang karena suamiku tega mengkhianati aku dengan sahabat aku. Dua duanya gak nyaman, Bi. Sama-sama sakit." Hati Luna seperti di remas saat ia berkata seperti itu. Membuat mata Bibi Imah berkaca-kaca.
Padahal majikannya ini sangat baik, tapi Tuhan selalu memberikan ujian tanpa henti.
"Sabar ya, Non. Setiap rumah tangga memang ada ujiannya masing-masing, Non.
"Iya, Bi. Dalam hal ekonomi aku memang sangat cukup, bahkan lebih. Aku juga punya suami yang tampan dan mapan, aku juga mensyukuri karena Tuhan memberikan aku kecantikan tanpa harus operasi. Aku juga di kelilingi orang-orang yang tulus sayang sama aku. Hanya saja, selain Tuhan belum memberikan aku anak, Tuhan juga membuat hati suamiku berpaling dariku. Tapi aku gak bisa menyalahkan Tuhan sih, karena itu salah Mas Ariel sendiri karena imannya tak kuat sehingga mudah tergoda oleh hawa nafsu."
"InsyaAllah, Non akan bahagia, nantinya. Entah itu dengan Tuan Ariel atau dengan pria lainnya yang bisa memberikan Non kebahagiaan bahkan lebih dari apa yang Tuan Ariel berikan untuk Non. Kita gak tau, apa hikmah dari semua kejadian ini. Untuk itu, Non hanya bisa melakukan yang terbaik. Mengikuti arus takdir yang sudah ditetapkan. Tapi Bibi berharap semuanya akan berakhir happy ending. Dan Bibi akan selalu mendukung apapun yang Non lakukan."
"Makasih ya, Bi. Jika gak ada Bibi di sini, aku gak tau apakah aku bisa sekuat ini."
Luna emang sangat bersyukur sekali karena ia mempunya dua asisten rumah tangga yang sangat menyayangi dirinya. Di saat ia tengah terpuruk seperti ini, ada Bibi Imah dan Bibi Neni yang selalu ada untuknya. Dan sekarang juga ada Dion yang akan membantunya melalui semua ini. Untuk itu, Luna tak ingin menjadi wanita lemah, ia gak akan terpuruk oleh keadaan hanya karena pengkhiatan yang di lakukan oleh suami dan sahabatnya itu.
Luna meminum jus alpukat dan menyisakan setengah. Lalu ia juga memakan bolu yang di siapkan oleh Bibi.
"Bibi gak makan juga bolunya?"
"Enggak, Non."
"Kenapa?"
"Bibi masih kenyang. Lagian Bibi juga baru selesai makan."
"Bibi Neni sudah makan?"
"Sudah, Non. Dan sekarang ada di kamar lagi."
"Kenapa ya, apa Bibi Neni lagi sakit atau ada masalah?"
"Enggak kok, Non. Bibi Neni lagi asyik tik tokan."
"Oh gitu, ya gak papa sih. Yang penting Bibi Neni gak papa."
"Hehe ya, Non. Entahlah, sekarang Bibi Neni suka bikin konten gitu loh Non. Pengikutnya kan banyak Non sudah seribu lebih di tiktok."
"Oh gitu, makin gaul ya, Bibi Neni."
"Hehe ya, Non."
"Aku sih gak papa, kalau Bibi Neni tiktokan yang penting pekerjaan sudah selesai."
"Ya, Non. Bibi Neni mah gak akan megang hp kalau pekerjaannya belum beres. Dia tau kapan harus megang Hp," ujar Bibi Imah dan Luna pun mengangguk setuju.
"Bibi Imah gak main tik tok juga?"
"Enggak, Non. Males. Bibi mah megang hp kalau pas pengen nelfon saudara aja, atau saat chatan sama mereka. Bibi mah sudah tua, Non. Gak mau aneh-aneh, mending gini-gini aja deh, gak banyak yang di fikirin. Atau kalau bosen ya Bibi milih nonton tivi aja, lihat film di channel ikan terbang."
__ADS_1
"Hehe iya sih, aku gak akan melarang apapun yang ingin Bibi lakukan. Bibi mah bebas di sini. Yang penting pekerjaan sudah selesai. Setelahnya mah terserah." ucap Luna dan Bibi Imah pun menganggukkan kepala. Inilah enaknya punya majikan baik seperti Luna. Gimana mungkin Bibi Neni dan Bibi Imah gak betah, jika mereka di perlakukan sangat baik bahkan sudah di anggap seperti keluarga oleh Luna.