
Ariel mengetuk pintu, dan tak lama kemudian pintu pun terbuka. ARiel menatap wajah Luna dengan perasaan bersalah, sedangkan Luna menatap ARiel dengan wajah terkejut.
"Kenapa dia harus datang di saat Abah, Umi dan Lintang gak ada sih?" tanya Luna kesal. Ia hanya bisa menggerutu dalam hati. Memang benar,saat ini Lintang dan kedua orang tuanya itu sedang pergi karena harus menghadiri pernikahan acara saudaranya di desa sebelah. Luna sendiri gak bisa ikut karena dari pagi merasa lemas dan mual-mual. Padahal dari awal hamil, dia biasa aja, tapi tadi pagi, da mual banget bahkan ia sampai gak bisa makan apapun sehingga Luna hanya bisa minum air dari pagi sampai sekarang.
"Lun," panggil Ariel dengan suara lirih, entah kenapa suaranya seperti tercekat di tenggorokan.
"Ada apa?" tanyanya tanpa menyuruh Ariel masuk ke dalam rumahnya.
"Aku ingin bicara," jawabnya gugup.
"Bicara aja," ujarnya dingin dan ketus. Ingin rasanya ia langsung mengusir Ariel begitu saja, tapi ia gak mau membuat keramaian hingga bikin rasa penasaran tetangganya. Biasalah, tetangga kadang mudah kepo dengan urusan orang lain.
"Apa kamu gak mau nyuruh aku masuk dulu?" tanyanya, karena ia merasa gak enak harus bicara berdiri di depan pintu seperti ini, sedangkan Luna di dalam dengan pintu yang terbuka sedikit.
"Enggak, aku gak nerima kamu di sini. Sudah untung aku mau di ajak ngobrol," ujarnya lagi-lagi ia bersikap dingin dan acuh tak acuh.
"Baiklah, gak papa. Aku gak maksa, oh ya ini aku bawain kue buat kamu dan keluarga kamu." Ariel ingin menyerahkan kue itu namun ditolak oleh Luna.
__ADS_1
"Aku gak suka kue, lagian aku gak bisa makan karena mual. Jadi kamu bawa aja lagi kue itu atau kamu bisa kasih ke orang lain di luar sana, atau bisa kamu kasih ke Laras dan keluargnya. Di sini juga masih banyak kue sisa kemaren, bahkan di kulkas juga penuh dengan kue. Jadi dari pada mubadzir mending kamu kasih ke calon istri dan calon mertuamu itu," sinisnya.
"Ah gitu, iya sudah gak papa. Tapi apa gak bisa kamu terima aja?" tanyanya lagi.
"Enggak," jawabnya ketus.
"Iya sudah gak papa, aku gak maksa. Kamu gak bisa makan ya, kamu mau apa, biar aku belikan?" tanyanya lagi berusaha mencairkan suasana, ia tau jika orang hamil itu kadang gak bisa makan nasi dan pengen sesuatu yang seringkali di sebut ngidam.
"Enggak usah, aku bisa beli sendiri. Dan jangan sok peduli sama aku. Karena kamu itu bentar lagi hanya akan jadi MANTAN SUAMI. So, jangan ngurus aku, lebih baik urus aja CALON ISTRIMU itu yang kini juga tengah hamil," sindirnya membuat Ariel menundukkan kepala, ia merasa bersalah karena selama ini tak lagi memperhatikan istrinya, hingga luna hamil pun ia tak tau, padahal tinggal satu atap.
"Lun, jujur aku menyesali apa yang sudah terjadi. Aku menyesal karena sudah mengabaikan kamu, dan mengkhianati kamu. Aku sangat-sangat menyesal."
"Lun ...."
"APA? MAU MARAH?" tanyanya dengan suara tinggi, namun entah dari mana, air mata Luna keluar begitu saja.
"Asal kamu tau, aku sudah tau semuanya dari awal, aku tau, tapi aku memilih diam. Aku tau, tapi aku masih berusaha melayani kamu, padahal aku sakit banget. Aku sering menangis sendirian, karena gak tahan nahan rasa sakit. Aku sering memperingatimu, untuk tak main-main lagi, saat mau tidur, aku beberapa kali memberikan kamu kode, untuk berhenti. Nyatanya kamu ulangi lagi dan lagi. Bahkan saat sikap aku mulai dingin, kamu malah mengajak aku menginap di hotel mewah, makan makanan mewah dan lain sebagainya. Padahal aku gak butuh itu, aku gak butuh kamu bawa aku ke tempat mewah. Aku cuma butuh kesetiaan, kejujuran, hanya itu. BAhkan saat kita bakar-bakar, aku tau kamu pergi ke kamar mandi, lalu Laras menyusul. Aku bahkan melihat apa yang kalian lakukan berdua dari hp aku, karena aku sudah menaruh kameran kecil di sana. Aku tau, tapi aku tidak mendobrak pintu itu dan memilih diam menahan rasa sakit, bahkan aku bersikap seakan tak terjadi apa-apa. BAhkan malamnya, aku juga tau kamu melakukan hubungan itu lagi di kamar tau. Itulah kenapa aku pergi ke kamar Laras dan tidur di sana. Aku tau kamu ada di bawah tempat tidur, itulah kenapa aku loncat-loncat di atas kasur, biar kamu ngerti kalau aku sudah tau semuanya. Aku juga memasang kamera di kamar tamu, tentu aku tau apa yang kalian lakukan. Lagi dan lagi, aku hanya bisa diam, menahan rasa sakit. Bahkan ketika aku pulang ke sini kamu juga memanfaatkan situasi dan menjadikan kamar kita untuk tempat berzina. Aku juga tau saat malam-malam, kamu pergi untuk mutusin Laras, nyatanya kamu malah terbuai rayuan lagi dan melakukan itu di dalam mobil. Sekarang, aku tanya. Wanita mana yang tahan melihat adegan panas itu, seperti tampak di depan mata? Wanita mana yang rela tersenyum, seakan akan tak terjadi apa-apa, padahal ia menyaksikan semuanya dan tau kebusukan suami dan sahabatnya, tapi ia tetap melayani suaminya dengan baik. Mas, hati ini rasanya sudah mati. Mati karena terkikis oleh rasa sakit. Jadi jika kamu bilang menyesal, aku sudah tak percaya. Aku sudah tak lagi peduli, karena percuma. Kamu tak akan bisa menyembuhkan rasa sakit hatiku, kamu gak akan bisa mengulang waktu. Semuanya sudah terjadi. Terima kasih sudah mengkhianati aku, menyakiti aku sedemikiran rupa, terima kasih atas luka yang kamu berikan hingga bikin dadaku kadang terasa sesak. Terima kasih untuk semuanya, Mas. Kamu berhasil, berhasil mengubah rasa cinta aku menjadi rasa benci. Kini, sedikitpun tak ada rasa kasihan padamu, rasa cinta, rasa sayang, kangen, rindu atau apapun yang berkaitan denganmu, tak ada lagi, karena yang ada hanyalah sebuah benci yang tak akan ada habisnya," ucap Luna dengan linangan air mata.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Ariel pun ikut menangis. Ia tak menyangka jika Luna tau dari awal, walaupun ia sudah melihat dari vidio yang sudah tayang itu, tapi mendengar sndiri dari mulut istrinya itu membuat dada Ariel terasa sesak. Bahkan istrinya melihat saat ia berinta panas dengan sahabatnya sendiri. Pasti itu sangat menyakitkan dan Luna memilih untuk diam dan bahkan bersikap manis padanya dan pada Laras. Padahal Luna tau betul apa yang sudah ia dan Laras lakukan di belakangnya, namun Luna memilih untuk pura-pura tidak tau.
"Maaf." Hanya itu yang bisa di ucapkan oleh Ariel, ia bahkan tak punya muka untuk mengajak Luna balikan atau sekedar meminta Luna untuk memberikan dirinya kesempatan kedua. Ia terlalu malu karena tau, karena sadar, bahwa ia sudah banyak melakukan kesalahan.
"Aku gak bisa menerima kata maaf, karena sampai detik ini hatiku masih sakit. Walaupun aku berpura pura bahagia di depan keluarga aku, nyatanya aku gak bisa menutupi diri bahwa rasa sakit itu masih ada dan terus menganga," ujarnya.
"Lebih baik kamu pulang dan jangan kembali lagi. Biarkan aku hidup tenang tanpa bayang-bayangmu. Masalah perpisahan, akan segera aku urus, karena aku gak mungkin tetap mempertahankan hubungan ini, di mana sudah tak ada lagi cinta di dalamnya kecuali hanya sebuah kesakitan."
"Yah, aku janji gak akan menemui kamu lagi, aku benar-benar minta maaf, Lun," ucapnya, ia tak punya kuasa untuk mengikuti egonya yang ingin terus bersama. Karena ia sadar, bahwa kehadirannya saja sudah membuat Luna semakin terluka, bagaimana jika ia malah tinggal satu atap dengannya, tak menutup kemungkinan Luna pasti akan terus meengingat kesalahannya dan hubungan seperti itu juga pada akhirnya gak akan bisa harmonis lagi. Karena sudah ada retakan yang tak bisa kembali utuh seperti semula.
"Hm, pergilah. Aku gak mau kehadiranmu akan membuat keramaian di sini. Bentar lagi Ayah, Bunda dan adikku pulang. Aku gak ingin ada keributan lagi yang memancing tetangga buat datang ke sini."
"Iya, sampaikan maafku pada mereka. Aku menyesali atas apa yang sudah terjadi."
"Ya."
Dan setelah itu, Ariel pun pulang dengan membawa kue yang masih ia pegang. Karena Luan tak mau menerima kue darinya. Tanpa sepengetahuan mereka, ada tetangga yang mengintip dari sebelah rumah Luna bahkan tak segan untuk merekamnya dan menguploadnya di grup RT, RW. Bahkan ia juga menguploadnya di media sosial hingga membuat para warganet menjadi heboh.
__ADS_1
Luna yang gak sadar bahwa sudah di rekam, langsung menutup pintu lagi setelah memastikan jika Ariel sudah pergi dari sana.