Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Persiapan Pulang Kampung


__ADS_3

Sore harinya, Mama Ila dan Papa Ardi pamit pulang ke Luna. Sedangkan Ariel masih belum pulang padahal jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Luna sudah mengirim pesan beberakali gak di balas. Nelfon juga gak di angkat, Mama Ila dan Papa Ardi pun sama, mereka nelfon gak ada yang di angkat. Sedangkan Papa Ardi nelfon ke resto, malah mereka bilang kalau Ariel gak datang ke sana sama sekali, padahal tadi pagi pamitnya ke sana.


Papa Ardi, tentu sangat marah sekali. Ingin rasanya menghajar putranya itu sampai babak belur karena sudah tega membohongi orang tua dan istrinya. Tapi Papa Ardi tak bisa melakukannya, ia harus segera pulang karena ada urusan yang gak bisa di tinggalkan. Sebelum pulang, Mama Ila memeluk menantunya itu dan mengusap perut Luna.


"Jaga cucu Mama ya. Maafin Mama dan Papa, karena gak bisa mendidin putra Mama dengan baik," ucap Mama Ila menangis.


"Mama gak perlut minta maaf, ini bukan salah, Mama," balas Luna tersenyum.


"Mas Ariel sudah besar, dia sudah tau mana yang baik dan mana yang enggak. Dia bukan anak kecil lagi yang harus selalu di ingatkan," lanjut Luna.


"Dia akan menyesal karena sudah menyakiti kamu seperti ini," tutur Mama Ila sambil menghapus air matanya.


"Ya, karena Mas Ariel gak akan bisa mendapatkan wanita secantik dan sebaik aku," godanya membuat Mama Ila menganggap kata-kata Luna dengan serius. Padahal niat Luna bicara seperti itu, hanya bercanda. Tak ada maksud apa-apa.


"Kamu benar, apapun keputusan kamu. Mama akan dukung, kamu memang hanya menantu, tapi bagi Mama, kamu adalah putri Mama. Jadi Mama harap apapun yang terjadi, kamu akan selalu jadi Putri Mama, walaupun kelak kamu bukan lagi istri dari putra Mama," ujarnya, sakit rasanya mengatakan hal itu, tapi mau bagaimana lagi. Ini kesalahan Putranya, yang rela menukar berlian dengan baru kerikil.


"Jika ada apa-apa, jangan sungkan menghubungi Papa, Nak," tutur Papa Ardi. Ia sudah tau jika Luna kini tengah mengandung cucunya, seharusnya Luna itu di manja, di perhatikan, bukan malah di sia-siakan seperti ini. Bukan malah di abaikan seperti ini. Bukan malah di sakiti seperti ini dan bukan malah di hancurkan seperti ini. Luna terlalu baik buat putranya yang brengsek itu. Bahkan ia akan sangat malu, jika sampai terbukti benar adanya, bahwa Ariel telah berzina dengan wanita lain.


"Iya, Pa. Pasti. Terima kasih karena Mama dan Papa sangat menyayangi aku. Aku bersyukur karena menjadi bagian dari hidup kalian," ujar Luna menitikkan air mata.

__ADS_1


Mama Ila memeluk Luna sekali lagi, mereka menangis bersama. Melampiaskan emosi yang ada dalam diri mereka dengan sebuah air mata.


"Mama dan Papa, pamit dulu ya. Kamu hati-hati di rumah. Nanti jika kamu sudah berangkat ke Jember, hati-hati ya Sayang," tutur Mama Ila.


"Iya, Ma."


"Kalian juga hati-hati ya di jalan. Dan kalau sudah sampai, jangan lupa kabarin aku," balas Luna, Mama Ila dan Papa Ardi pun menganggukkan kepala.


Setelah pamit, Mama Ila dan Papa Ardi pun pergi sedangkan Luna, ia terus melihat ke mereka sampai tak terlihat lagi, baru setelah itu ia masuk.


Luna mengambil Hpya, nomer Ariel dan Laras, dua duanya gak bisa di hubungi. Jadi ia melihat CCTV di mobil Ariel, ternyata setelah dari dokter kandungan mereka pergi ke hotel. Luna mendengar dengan jelas percakapan mereka, tentang keinginan mereka dan harapan mereka agar Luna menerima Laras jadi madunya dan akan hidup bahagia dalam satu atap. Mendengar hal itu, Luna hanya berdecih, ia masuk ke dalam kamarnya dan memilih untuk istirahat karena kelapanya terasa pusing.


Jam sembilan malam, Ariel baru pulang dan ketika ia sampai rumah, Mama dan Papanya sudah pulang. Ia mengaktifkan HPnya, dan ternyata ada banyak telfon dan pesan dari Luna, Mamanya dan Papanya. Ariel lagi-lagi merasa bersalah, tadi setelah cek kandungan, Laras minta makan Pizza dan setelah itu mereka pergi ke Hotel karena Laras ingin tidur sambil di peluk, tentu bukan hanya pelukan tapi juga melakukan hubungan badan sebagaimana yang sering mereka lakukan.


Ariel langsung menghampiri kamar Luna, namun sayangnya kamarnya itu di kunci dari dalam sehingga ia gak bisa masuk dan kemungkinan Luna pun juga mungkin sudah tidur. Ariel pun langsung masuk ke kamarnya sendiri, kamar yang sering di tempati olehnya dan Luna, namun sayangnya akhir-akhir ini Luna memilih tidur di sebelah dari pada bersamanya.


Keesokan harinya, saat Luna bangun. Ariel langsung meminta maaf kepada Luna dan memberikan alasan konyol, bahwa dirinya ada rapat dengan pemegang saham. Luna pun hanya bisa pura-pura percaya dan memaafkan kelakukan suaminya itu. Melihat Luna tersenyum padanya dan memaafkan dirinya, Ariel pun bernafas lega. Setelah itu, Ariel meminta izin untuk berangkat kerja, tentu Luna mengizinkan, ia malah senang jika Ariel gak pulang dan dirinya bisa bebas di rumah ini.


Seharian Luna menghabiskan waktunya bersama Bibi Imah dan Bibi Neni, ada Dion juga yang datang setelah Luna menelfonnya.

__ADS_1


"Mas Dion, Bibi Imah, Bibi Neni. Besok aku mau pulang ke Jember, aku ingin kalian ikut sama aku, kalian mau kan?" tanya Luna sama mereka.


"Mau, Non. Tapi naik apa, Non?" tanya Bibi Imah.


"Aku sih pengennya naik mobil. Mas Dion, kira-kira capek gak kalau nyetir ke Jember?" tanya Luna hati-hati.


"Enggak sih, Non. Malah saya seneng, nanti sekalian kita bisa berhenti di beberapa tempat buat liburan," jawab Dion.


"Iya, aku rencananya juga gitu. Aku ingin mampir di Bandung buat ke kebun Teh, dan beberapa tempat lainnya. Setiap beberapa jam sekali, kita bisa berhenti buat makan, sholat, atau pergi ke tempat-tempat yang bagus. Gak harus besok berangkat, besok sampai. Kita gak di kejar waktu, bahkan jika pun tiga hari perjalanan juga gak akan ada yang marah, jadi kita benar-benar bisa menikmati perjalan kita berempat, gimana?" tanya Luna.


"Setuju, Non. Bibi juga pengen banget liburan, sudah lama rasanya gak liburan," tutur Bibi Neni.


"Iya, Bibi juga pengen liburan menikmati hidup," sahut Bibi Imah.


"Gimana kalau nanti pas di Bandung, mampir ke rumah saya Non?" tanya Dion.


"Boleh, aku juga ingin kenal sama keluarga Mas Dion," balas Luna yang tak keberatan, mendengar hal itu, Dion pun tersenyum senang. Ia ingin mengenalkan Luna pada keluarganya, terutama orang tuanya. Walaupun saat ini Luna masih istri orang, tapi ia yakin, gak lama lagi, dirinyalah yang akan jadi suami Luna, menggantikan posisi Ariel.


"Besok bawa baju secukupnya aja kalau kurang, kita bisa mampir di Mall buat beli. Selama kalian ikut aku, kalian tanggung jawab aku, jadi apapun yang kalian inginkan nanti, bilang sama aku ya," ujar Luna dan mereka pun menganggukkan kepala. Luna emang baik dan gak pelit, dia adalah majikan ter the best sepanjang masa.

__ADS_1


Mereka pun mengobrol santai dan membahas liburan kemana saja besok dan Lusa. Ariel pun memberitahu beberapa tempat yang menurutnya bagus di Bandung dan Luna pun mengangguk antusias dengan rekomendasi Ariel.


Di saat Luna tengah membahas liburannya, berbeda dengan Ariel yang tengah memanjakan Laras. Dari kemaren Laras emang memilih tinggal di hotel dan saat ini, mereka tengah pergi untuk mencari makanan yang Laras inginkan. Setelah tau jika Laras hamil, Ariel sangat memanjakannya bahkan apapun yang Laras inginkan, Ariel berusaha memenuhinya. Laras pun memanfaatkan itu semua, agar bisa semakin dekat dengan Ariel. Ia senang, karena dengan kehamilannya, ia bisa menjerat Ariel dan membuat Ariel akan segera menikahinya. Ia bersyukur karena tak lama lagi, statusnya bukan jadi selingkuhan, tapi akan berubah menjadi istrinya. Walaupun hanya istri kedua, setidaknya ia tak kehilangan Ariel, laki-laki yang ia cintai.


__ADS_2