Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
7 Bab Menuju Tamat


__ADS_3

Tanpa di ketahui oleh Luna, Dion mendengar perbincangan mereka. Lagi-lagi Dion di buat kecewa oleh Luna. Padahal Dion datang sambil gendong putranya untuk ia kasihkan ke Luna.


Memang tadi ia gak langsung pergi karena Dion harus meyakinkan orang tuanya lebih dulu, jadi dirinya membutuhkan waktu yang lebih lama. Tapi sayangnya setelah ia ingin masuk ke dalam kamarnya.


Ia mala mendengar suara tangis Luna yang membicarakan keburukan dirinya dan orangtuanya.


Padahal Dion sudah memaafkan kesalahan Luna yang dulu dan mencoba untuk membuka lembaran baru. Tapi apa yang ia dapat, Luna lagi-lagi bikin dirinya kecewa.


Akhirnya Dion gak jadi masuk dan membiarkan Luna menangis sendirian di kamar


Ia pergi ke belakang dan memberikan Daniel pada Mami Ocha. Sedangkan Dion memilih untuk pergi dari rumah itu agar dirinya bisa mencari ketenangan. Ia tak ingin bertengkar dengan Luna di saat orang tuanya ada bersama mereka.


Dion butuh udara segar, ia butuh tempat untuk menenangkan dirinya. Sungguh, kadang dirinya lelah dengan sikap Luna yang semakin hari semakin keterlaluan.


Apalah dirinya seburuk itu di mata Luna. Ia bahkan tidak marah saat Luna tidak memasak. Ia memilih memesan makanan secara online, ia tidak marah saat rumah berantakan. Dion memilih membersihkan dirinya. Padahal dulu, jangankan bersih-bersih, kebutuhan dirinya pun di layani pelayan.


Tapi sekarang, demi Luna, ia bahkan rela turun tangan sendiri untuk membersihkan semuanya.


Dion juga tak marah saat bajunya belum di cuci dan masih bergelantungan. Akhirnya ia memilih membawa ke tempat laundry yang tak jauh dari rumahnya.


Dion selalu berusaha mengerti Luna. Tapi sayangnya Luna tak mau mengerti posisinya.


Dion berteriak keras di pinggir jalan, ia bahkan sudah gak peduli dengan suara klakson.


Dion memukul stir mobil, sungguh ia lelah , lelah dengan semuanya. Ia capek, capek menghadap sikap Luna yang masih belum ia mengerti sampai sekarang.


Terlebih Luna dan orangtuanya yang kadang akur, kadang enggak.


Dion faham, jika Maminya ingin yang terbaik buat rumah tangganya, tapi dirinya juga faham jika Luna tak suka di atur dan hidupnya selalu di hantui oleh Maminya.


Ahh, kadang mati lebih baik dari pada aku harus selalu berada di tengah-tengah mereka.


Aku mendapatkan tekanan dar istriku, aku juga mendapatkan tekanan dari Mamiku.

__ADS_1


Kenapa sih, kenapa mereka gak mau mengerti. Kenapa mereka harus saling bermusuhan. Padahal kmren sudah membaik, sekarang gak akur lagi.


Kenapa Sikap mereka begitu rumit, kenapa tidak bisa akkur dan damai aja.


Kenapa? Ahhhhhhh


Dion berteriak bak kesetanan. Berada di antara mereka benar-benar membuat otaknya panas.


Bahkan ternyata menghadapi mereka jauh lebih sulit dari pada menghadapi dunia bisnis yang kejam.


Di saat Dion marah-marah gak jelas, tiba-tiba dari arah depan,ada truk yang menghadang ke arahnya. Dion yang melihat hal itu tentu kaget, ia langsung banting setir ke kanan, karena jika banting setir ke arah kiri, akan bahaya.


Namun saat ia banting setir ke kanan, ada pohon besar, yang akhirnya membuat mobil yang ia kendarai, menabrak pohon itu dengan keras.


Dahi Dion menghantam stir mobil sampai-sampai dahinya terluka dan mengeluarkan darah.


"Mungkin ini sudah waktunya. Tuhan aku sudah pasrah," gumam Dion sebelum akhirnya ia memejamkan mata.


--


"Mami, Papi. Ayo ke rumah sakit sekarang," teriak Luna dengan mata bengkaknya.


"Ada apa?" tanya Mami Ocha kaget dengar teriakan Luna.


"Mas Dion kecelakaan parah, sekarang di bawa ke rumah sakit." jelas Luna.


"Apa!" Mami Ocha kaget, ia bahkan hampir menjatuhkan Danie yang ada dalam gendongannya. Untungnya ada Papi Dimas. Ia langsung mengambil alih Daniel dan berusaha menenangkan istrinya.


"Ayo, Mam. Cepet," ujar Luna.


Dan akhirnya mereka bertiga pun langsung pergi ke rumah sakit dengan Luna yang menyetir mobil karena Papi Dimas harus gendong cucunya dan menenangkan sang istri yang masih sok sampai sekarang.


Luna menyetir dengan kecepatan tinggi. Hingga dalam waktu dua puluh menit, mereka sudah sampai di depa rumah sakit

__ADS_1


Luna dan mertuanya langsung menanyakan kepada resepsionis. Ternyata Dion saat ini masih ada di ruang UGD.


Luna langsung lari lebih dulu, di depan ruangan. Luna langsung menangis sesenggukan.


Luna tak mengerti kapan Dion keluar dan kenapa tidak izin lebih dulu.


Padahal terakhir Luna lihat, Dion menggendong putranya da bercengkerama dengan orang tuanya.


Lalu bagaimana bisa kini Dion kecelakaan dalam mendengarai mobil.


Mengapa hanya hitungan menit, semuanya langsung berubah. Keluarga yang tadinya terlihat Harmon, kini menangis meraung-raung.


Papi Dimas memberikan Daniel kepada Luna karena sedari tadi menangis, sedangkan mereka pada lupa membawa dot susu.


Akhirnya Luna mengambil alih Daniel. Entah ini musibah atau sebaliknya.


Di satu sisi ia merasa senang karena akhirnya ia punya kesempatan buat gendong Daniell bahkan menyusuinya secara langsung. Ia senang akhirnya bisa mendekap putranya, menciumnya sebanyak mungkin. Ia senang akhirnya bisa berdekatan dengan putranya.


Tapi di sisi lain, ia juga sedih. Sedih lihat suaminya masuk ke ruang UGD. Sedih karena suaminya kecelakaan. Sedih karena melihat suaminya terluka parah.


"Oh Tuhan, aku harus ngerespon kek gimana. aku harus senang atau sedih. Tapi dengan suamiku kecelakaan dan terluka parah. Mami sama Papi, gak akan fokus ke Daniel lagi,tapi mereka lebih fokus ke Mas Dion. Tapi misal Mas Dion sembuh, mereka pasti akan merecoki kehidupan aku lagi dah menjauhkan aku dengan putraku. Tuhan, aku harus bagaimana?" tanya Luna dalam hati.


Ia terus menggendong putranya dan menyusuinya. Luna mengusap rambut Daniel dengan pelan. Sungguh, Luna sangat bahagia bisa bersama dengan putranya lagi.


Sedangkan tak jauh dari Luna, Mami Ocha terus saja menangis. Ia menangis karena sampai sekarang dokter juga belum keluar dan memberitahu kondisi putranya saat ini.


Papi Dimas pun juga sangat sok, namun ia berusaha untuk tegar dan kuat karena di sini, hanya dia laki-laki yang menjadi tumpuan istri, menantu dan cucunya.


Setelah hampir dua jam menunggu, akhirnya dokter keluar dan memberitahu jika ternyata Dion koma.


Mendengar hal itu, Mami Ocha dan Papi Dimas semakin sok. Tak menyangka jika Dion akan koma karena kecelakaan yang terjadi padanya.


Setelah selesai di operasi, Dion di pindahkan ke ruang VVIP.

__ADS_1


Di sana, Mami Ocha, Papi Dimas, Luna dan Daniel masuk ke dalam ruangan dan melihat Dion yang terbaring di atas brankar.


"Kenapa kejadiannya hampir sama seperti yang dulu?" tanya Luna dalam hati


__ADS_2