
Jam sepuluh, saat Luna berada di kamarnya dan tengah rebahan sambil nonton film, tiba-tiba Lintang masuk ke dalam kamarnya. "Mbak, ada mertuanya tuh di depan," ucapnya memberitahu.
"Mertua? Mertua siapa?" tanyanya yang masih loading.
"Mertuamu lah, Mbak. Orang tuanya Mas Ariel," jawabnya sambil gregetan sendiri karena Luna melupakan mertuanya sendiri.
"Ah Mama Ila dan Papa Ardi ya," ucapnya.
"Iya," sahutnya sambil duduk di pinggir kasur Luna.
"Aku cuci muka dulu," ujarnya sambil menaruh hpnya dan langsung beranjak dari kasurnya. Sedangkan Lintang masih di sana, menunggu Luna.
Sepuluh menit kemudian, Luna pun keluar karena ia cuma sikat gigi sama cuci muka biar bersih dan gak terlihat kusam. Tanpa memakai make up, ia langsung keluar dan benar saja, ia melihat mertuanya kini tengah berbincang hangat dengan orang tuanya sendiri.
"Mama, Papa." Luna menghampiri mereka dan mencium punggung tangan mereka dengan lembut.
Lalu ia pun duduk di pinggir sang Bunda.
"Luna, ada yang ingin di bicarakan oleh Mama dan Papa mertua kamu. Bicaralah dari hati ke hati ya, Nak. Jangan emosi lagi," ucap Bunda Naira lembut.
"Iya, Bunda," balas Luna tersenyum, ia juga tak mungkin emosi sama mertuanya, karena baginya mereka sama seperti orang tuanya sendiri.
"Saya ke dalam dulu ya, Jeng," pamit Bunda Naila begitupun dengan Ayah Lukman. Mereka seakan ingin memberikan waktu buat putrinya dan besannay untuk mengobrol dengan leluasa.
Dan kini tinggal mereka bertiga di ruang tamu. Lintang sendiri juga mengerti, ia tak mau mengganggu perbicangan mereka bertiga, jadi memilih untuk ke belakang menyusul ayahnya. Sedangkan sang Bunda, dia ada di dapur untuk memasak makan siang karena ia ingin mengajak besannya itu buat makan siang di sana. Bunda Naira gak mungkin mengusir atau membenci besannya hanya karena menantunya itu sudah menyakiti putrinya sedemikian rupa, ia masih sadar diri dan tak ingin menambah masalah buat putrinya. Lagian mereka ke sini datang dengan baik-baik, jadi sudah sewajarnya, jika Bunda Naila dan Ayah Lukkman juga menerima mereka dengan tangan terbuka.
__ADS_1
"Ma, Pa. Maafin aku ya, atas kejadian kemaren," ucap Luna menundukkan kepalanya, ia malu kepada mertuanya itu.
"Enggak papa, kami mengerti. Kamu pasti sakit hati banget sama kelakukan mereka sampai kamu harus berbuat seperti itu," ujar Mama Ila tersenyum, namun dalam hatinya ia merasa sedih dan kecewa. Sedih karena putranya itu sudah menyakiti menantu kesayangannya dan juga kecewa, karena dengan kejadian ini, tak menutup kemungkinan Luna akan menggugat cerai putranya dan ia akan kehilangan menantunya itu. Dan lagi, ia pasti akan jauh dari cucu yang sudah ia tunggu-tunggu dari dulu.
"Ya, aku bukan hanya sakit hati, tapi juga kecewa dan marah. Aku sudah memberikan kesempatan berkali-kali buat Mas Ariel, Ma. Tapi nyatanya mereka terus saja bikin ulah di belakang aku. Awalnya aku curiga saat Mas Ariel membelikan Laras sepeda motor, terlebih Mas Ariel juga suka sering pulang malam dan cuek sama aku. Dan saat aku pergi ke resto, Mas Ariel Laras sama-sama gak masuk kerja, dan dari sanalah aku akhirnya mengambil tindakan, menyadap HP Mas Ariel dan mengingati mereka juga dari CCTV yang aku taruh di mobil, dan di setiap sudut rumah aku. Aku sakit saat membaca pesan mesra mereka berdua, terlebih saat mereka memesan hotel dan melakukannya di sana berkali-kali. Bahkan saat aku mengundang Laras untuk bakar-bakar, mereka juga melakukannya di kamar mandi, dan mereka juga melakukannya di malam hari. Mereka terus saja menyakiti aku, saat Mas Ariel berjanjii buat gak ngulangin lagi, nyatanya mereka masih melakukannya lagi dan lagi di dalam mobil. Aku tau semuanya karena aku lihat di Hp aku yang terhubung dengan CCTV, bahkan percakapan mereka pun aku denger. Aku sakit, Ma. Bahkan ketika aku pulang ke Jember, Mas Ariel membawa Laras menginap di sana dan melakukannya siang malam di kamar utama, di kamar aku dan Mas Ariel. Mama dan Papa bisa bayangin sakitnya aku. Aku sudah memberikan beberapa kode, biar Mas Ariel berhenti, tapi tetap saja Mas Ariel gak bsia nahan hawa naf sunya. Kenapa sih harus dia lampiaskan ke Laras padahal kan ada aku di rumah, aku halal loh dan juga akan dapat pahala tentunya tapi kenapa Mas Ariel malah melakukannya dengan sahabat aku sendiri, melakukan dosa besar tanpa memikirkan bagaimana perasaan aku. Bahkan Mas Ariel juga menemani Laras untuk cek kandungan, menemani Laras di Hotel dan selalu memanjakan Laras, bahkan ketika Laras mengidam, Mas Ariel langsung gerak cepat. Sedangkan aku, aku hanya diam melihat semuanya dari Hp aku. Sakit, Ma. Sakit banget rasanya," ucap Luna menitikkan air mata.
Melihat Luna menangis, Mama Ila ikut menangis. Sedangkan Papa Ardi sangat geram ketika mendengar penuturan menantunya itu. Ia gak menyangka, jika selama ini Luna menahan rasa sakit itu seorang diri, bahkan seharusnya Ariel itu menjadi suami yang siaga, karena bentar lagi dia akan menjadi ayah. Akan teapi bukannya siaga dan memberikan Luna kebahagiaan, malah berlaku sebaliknya.
Mama Ila menghampiri Luna dan mememluknya.
"Maafin Mama, Nak. Maafin Mama karea gak bisa mendidik Putra Mama dengan baik, Mama sudah gagal menjadi seorang Ibu," ujar Mama Ila menangis.
"Enggak, Ma. Ini bukan salah Mama. Mas Ariel itu sudah dewasa, sudah tau mana yang baik dan mana yang buruk. Dia bukan anak kecil lagi yang harus di nasehatin terus menerus, bukan anak kecil lagi yang selalu di ingatkan setidap detiknya. Dia sudah dewasa Ma. Dia juga pastinyaa sangat sadar saat melakukan hubungan terlarang itu, ia pasti juga sangat sadar saat melakukan zi na. Mata Mas Ariel sudah tertutup oleh hawa nafsu, hingga ia pun tak takut akan dosa," balas Luna dengan air mata yang terus mengalir.
"Jadi saat Mama dan Papa ke sana kamu sudah tau semuanya."
Mereka terus mengobrol saling mencurahkan isi hati, sedangkan Papa Ardi memilih diam, ia terlalu malu kepada menantunya itu, karena Ariel terlalu dalam menyakitinya, menyia nyiakannya, dan membuatnya menangis seperti ini.
Papa ARdi, gak akan pernah memaafkan kelakukan busuk putranya itu, ia bahkan malu untuk mengakui jika dia adalah darah dagingnay sendiri.
"Oh ya, saudara Mama dan Papa kok gak di ajak ke sini?" tanya Luna setelah ia puas menangis dan melupakan rasa sakit yang ia simpan selama ini.
"Mereka sudah pulang tadi sehabis sholat shubuh. Cuma Mama dan Papa yang masih bertahan karena Mama dan Papa ingin meminta maaf secara langsung ke kamu dan keluarga kamu. Sesungguhnya Mama dan Papa sangat malu untuk datang ke sini, tapi Mama juga gak bisa diam aja dan terus menghindar dari masalah ini."
"Mama dan Papa gak perlu minta maaf. Sungguh aku dan keluarga aku gak ada yang menyalahkan kalian. Aku pun juga tak benci sama Mas Ariel, aku hanya benci kelakukannya itu. Dan aku juga minta maaf, Ma. Karena mungkin aku akan memilih untuk mengakhiri hubungan ini,"
__ADS_1
"Enggak papa, Nak. Silahkan kamu gugat suamimu itu. Mama dan Papa akan dukung semua keputusan kamu. Mama gak akan bella Ariel, walaupun dia adalah putra Mama. Mama gak akan bella karena Mama sadar, dia sangat bersalah di sini dan pantas untuk kamu ceraikan. Kamu berhak mendapatkan yang terbaik buat masa depan kamu," balas Mama Ila yang berusaha untuk tersenyum, karena ia gak mau Luna sedih karenanya dan mengakibatkan efek buruk buat cucunya.
Luna pun merasa lega karena sampai detik ini, mertuanya masih terus mendukung dirinya. Ia semakin yakin dan semakin mantap untuk menggugat cerai Ariel secepatnya dan memutuskan tali pernikahan ini. Ia ingin bebas dari rasa sakit ini.
"Aku juga minta maaf, Ma. Karena menyebabkan Mas Ariel masuk rumah sakit," ujar Luna, ia tau jika lintang, adiknya sudah memukul Ariel sampai dia luka parah dan tak sadarkan diri.
"Gak papa, dia pantas mendapatkan semua itu. Rasa sakit yang di rasakan oleh Ariel, masih tidak sebanding dengan rasa sakit yang kamu rasakan selama ini. Mama malah bersyukur karena Ariel mendapatkan pukulan itu, karena jikapun dia gak di pukul sama orang lain, Mama dan Papa sendiri yang akan menghajarnya sampai dia kapok," ucap Mama Ila, lagi dan lagi ia terus mendukung keputusan Luna.
"Apa yang di katakan Mamamu benar, jika Ariel gak dapat pukulan dari saudaramu, mungkin Papa yang akan menghajar dia habis-habisan, karena sudah menjadi laki-laki pengecut, dan suka selingkuh. Papa gak akan memanjakan dia setelah apa yang terjadi, bahkan Papa juga gak akan membantu dia, jika dia datang meminta bantuan Papa," sambung Papa Ardi.
Luna senang, senang karena mendapatkan banyak dukungan dari keluarganya dan dari keluarga suaminya itu.
"Mas Ariel sama siapa di rumah sakit?" tanya Luna.
"Ada Noah, sepupunya yang menjaga dia. Katanya dia bawa mobil kamu ya?" tanya Mama Ila.
"Iya, Ma."
"Maafin Noah ya, belum mengembalikan mobil kamu sampai sekarang."
"Enggak papa, Ma. Lagian itu juga mobil Mas Ariel, dia yang beli pakai uang dia sendiri."
"Tapi bagi Mama, itu mobil kamu. Sesuai perjanjian dulu, jika terbukti Ariel selingkuh hingga menyebabkan perceraian, maka hartanya akan jatuh ke tangan kamu. Dan Mama dukung itu, Mama lebih rela jika resto, mobil, rumah dan isinya jatuh ke tangan kamu, karena kamu jauh lebih berhak akan hal itu. Dan lagi ada cucu Mama di perut kamu, anggap aja itu investasi buat cucu Mama nanti setelah dewasa."
Mendengar hal itu, Luna tak menolak. Karena memang semua harta itu akan jatuh padanya jika perceraian terjadi, terlebih penyebabnya adalah Ariel yang sudah mengkhianati Luna dan pernikahan yang mereka jalani selama ini.
__ADS_1
Mereka pun terus mengobrol, berbincang bersama. Hingga akhirnya Bunda Naira, datang dan mengajak mereka makan siang bersama karena ini sudah memasuki jam makan siang. Ayah Lukman dan Lintang juga sudah ada di ruang keluarga, menunggu kedatangan mereka. Yah mereka akan makan secara lesehan sambil mengobrol santai tentunya.