
Seminggu sudah Ariel di rawat di rumah Ardi. Dan selama seminggu itu, Ariel sudah mau makan bubur, walaupun cuma dua sampai tiga sendok. Tapi setidaknya ada kemajuan walaupun sedikit. Setiap hari, Ardi akan menceritakan masa lalu mereka.
Menceritakan kebahagiaan dirinya bersama sang istri, perjuangan mereka agar bisa hami. Lalu membahas masalah istrinya yang ngidam hingga Ariel lahir ke dunia. Membahas masalah kenakalan Ariel saat masih kecil, tak lupa Ardi menunjukkan album foto mereka saat Ariel lahir ke dunia dan banyak sekali foto kenangan di album itu. Dari Ariel yang belajar terkurang, merangkak, duduk, berjalan, belajar bicara, belajar makan sendiri, dan saat pertama masuk sekolah, dan banyak lagi lainnya. Tak heran, sampai ada tiga album yang terkumpul di mana satu album aja, ada seribu foto di dalamnya.
"Kamu ingat cerita ini, Nak?" tanyanya sambil memperlihatkan foto Ariel yang berumur delapan tahun.
"Ini saat kamu di suruh su-nat, tapi kamu gak mau. Karena takut. Kamu bahkan demam sampai satu minggu. Papa dan Mama sangat khawatir sekali, takut kamu kenapa-napa, dan setelah itu, Papa dan Mama memutuskan untuk tidak memaksa kamu untuk su-nat lagi. HIngga akhirnya di umur kamu yang sepuluh tahun, kamu mau su-nat karena kamu malu sama teman-teman kamu di kelas, karena mereka hampir semuanya sudah su-nat semua. Di situ, Mama dan Papa langsung bikin pesta besar karena bersyukur anak papa yang tampan ini berinisiatif sendiri untuk di su-nat."
"Ah ya, ini foto kamu saat umur tiga belas tahun, waktu itu kamu sudah SMP. Papa ingat sekali, dulu kamu pulang sekolah dengan wajah cemberut bahkan kamu sampai menangis di pelukan Mama karena kamu dapat coklat dan surat dari seorang wanita. Kamu lucu banget deh, di saat yang lain berharap bisa seperti kamu, kamu malah merasa risih dan malu di perlakukan seperti itu. Kamu bahkan mengatakan membuang surat dan coklatnya ke tempat sampah dan memusuhi teman wanitamu. Dan setelah itu, kamu minta pindah sekolah karena gak ingin satu kelas sama wanita yang sudah menyatakan perasaannya sama kamu. Sejak saat itu, kamu mulai menghindari yang namanya wanita."
"Dan ini saat kamu pindah sekolah, nyatanya di sekolah kamu yang baru, kamu semakin populer karena wajah kamu yang tampan dan selalu juara dikelas. Bahkan kamu juga pernah ikut olimpiade mewakili sekolah dan kamu memenangkan juara satu. Dan sejak saat itu, nama kamu semakin tenar. Namun bukannya seneng, kamu malah semakin merasa tertekan. Bahkan setiap pulang sekolah, kamu akan melampiaskan amarah kamu ke Mama karena kamu merasa kesal. Kamu selalu bilang ke Mama, kalau kamu benci makhlum perempuan karena mereka mendekati kamu karena ada maunya. Itu yang sering kamu bilang sama Mama. Iya kan? Papa masih ingat loh, karena Mama selalu melaporkan semua kegiatann kamu ke Papa, Mama juga selalu menceritakan isi hati kamu sama papa."
"Bahkan sampai ada yang ngasih boneka dan bunga, kan? Tapi kamu lagi-lagi membuang semua itu bahkan di hadapan orangnya. Kamu emang gak punya hati. Mama sampai ngeluh loh, dan Mama juga sempat takut kalau kamu itu g.a.y karena kamu selalu menghindari perempuan. Bahkan saat kamu masuk SMA pun, kamu malah bersikap dingin sama yang namanya perempuan. Kamu kenapa sih? Padahal kan mereka baik. Untungnya setelah kamu lulus kuliah, kamu mulai menyukai seseorang yang sekarang jadi istri kamu. Mama sampai sujud syukur tau gak, karena kamu mau menikah. Dan saat Luna tak kunjung hamil, Mama juga membiarkan. Karena bagi Mama, kamu mau nikah aja sudah syukur Alhamdulillah, jadi Mama gak akan nekan kamu sama Luna untuk segera memberikan cucu. Mama sangat menyayangi kamu dan Luna, Nak. Bahkan setiap malam, Mama selalu mendoakan kalian berdua."
Ardi menutup album fotonya lalu melihat ke arah Ariel.
"Papa ingin kamu segera sembuh. Setelah itu, ayo kita ciptakan kebahagiaan kita sendiri, tanpa kehadiran orang lain. Jika pun kelak, kamu ingin menikah lagi. Carilah perempuan seperti Mamamu. Dia wanita yang sangat baik, sholehah, pengertian dan selalu menjadi istri yang penurut. Suka duka selalu di hadapi bersama. Jika ada masalah, selalu mengajak musyawarah. Tidak suka menentang jika suami bilang 'tidak' dan yang penting, istrimu kelak tidak akan memasukkan wanita lain ke dalam rumah tangga kamu, kecuali dia siap untuk di poligami atau sakit hati. Karena tidak ada rumah tangga yang baik-baik aja, jika ada orang ketiga masuk dalam kehidupan kamu dan istri kamu." tuturnya.
"Oh ya, gimana kalau nanti sore kita ke makam Mama. Kamu pasti ingin ke sana, kan? Papa tau kamu pasti merasa bersalah. Tapi yang saat ini, di butuhkan Mama, bukan kamu yang diam seperti ini. Tapi Mama butuh doa dari kita, Nak. Mama butuh itu. Jadi, tolong lawan diri kamu sendiri. Kamu harus bisa melawan rasa sakit kamu. Papa yakin, kamu anak yang kuat. Kamu bisa mengatasi semuanya. Ingatlah! Mulai hari ini, Papa akan selalu ada buat kamu. Papa akan selalu menjadi superhero buat kamu. Kamu adalah putra kebanggan Papa, terlepas dari apa yang sudah kamu perbuat, kamu adalah darah daging Papa. Tidak ada asap jika tidak ada api, dan Papa tau, ini bukan seratus persen kesalahan kamu. Jadi, Papa tidak bisa menyalahkan kamu sepenuhnya. Kamu sudah menolak sedari awal, namun kamu selalu di paksa, jadi Papa gak akan menyalahkan kamu lagi. Kecuali dari awal, kamu emang menerima kehadirannya dengan suka rela."
__ADS_1
"Kita ke taman ya, kamu tau kebun Mama di belakang. Sekarang sudah ada yang berbuah, bahkan bunganya juga sudah bermekaran. Ayo kita lihat."
Ardi mengambil kursi roda, lalu ia menggotong Ariel dan menaruhnya di kursi roda. Lalu setelah itu, ARdi pun membawa Ariel ke taman.
"Mau kemana, Om?" tanya Noah melihat Ardi dan Ariel keluar dari kamar.
"Ke taman belakang. Kamu mau kemana?" tanyanya.
"Aku ada janji sama teman, mungkin pulang jam delapan malam."
"Iya sudah, hati-hati di jalan."
Dan setelah itu, Noah pun pergi. Sejak Ariel sakit, Noah seakan gak mau lepas dari Ariel, bahkan ia memilih untuk menjaga Ariel dari pada harus kembali ke keluarganya. Karean menurut Noah, mereka juga ikut andil membuat TAnte Ila meninggal dan membuat kondisir Ariel terpuruk seperti ini. Jadi, Noah berusaha menjaga jarak dari mereka. Dan memilih untuk tinggal bersama ARdi.
Di taman belakang, Ardi memperlihatkan hasil tanaman Mamanya dulu, yang sampai saat ini masih terawat.
"Lihatlah bungannya, bagus kan? Di sini juga segar banget udaranya. Nanti kita ambil bungannya beberapa buat di taruh di makam Mama ya," tuturnya. WAlaupun Ariel tidak menanggapinya, namun Ardi terus berusaha mengajak Ariel bicara.
"Oh ya ini ada melon madu, sudah matang kayaknya. Kamu mau, kalau mau Papa akan petik satu buat kamu." ujarnya namun tetap tak mendapatkan respon. Ardi pun mengambil satu melon madu yang sudah matang dan menaruhnya di pangkuan Ariel.
__ADS_1
"Kamu tau kan, kalau melon madu ini adalah buah kesukaan Mama. Karena sangking sukanya, Mama bahkan sampai menanam sendiri. Kamu juga suka kan?" tanyanya.
"Nanti kita bikin melon ini jadi bubur ya, biar kamu bisa menelannya."
Ardi terus mengajak Ariel bicara, sehingga setelah cukup lama berada di sana, Ardi pun membawa ARiel ke kamar dan memintanya untuk tidur siang.
\==
Sore hari, barulah Ardi membawa Ariel ke pemakaman istrinya. Namun sebelum pergi, Ardi sudah memandikan Ariel dan mengganti bajunya. Lalu ia juga membawa Ariel ke taman belakang dan mengambil beberapa bunga. Barulah setelah itu mereka berangkat ke pemakaman. Ardi mendorong kursi roda karena Ariel bahkan tidak bisa berdiri, apalagi berjalan.
Ardi pernah dengar dari Noah, jika Ariel di fonis struk, tapi entah kenapa saat mamanya meninggal, Ariel tampak baik-baik aja walaupun berwajah pucat. Namun sayangnya itu tak bertahan lama, karena setelah itu kondisi Ariel malah semakin drop dan berakhir seperti ini.
Di pemakaman, Ardi membersihkan makam istrinya.
"Sayang, maaf aku baru datang. Karena kemaren-kemarennya aku masih belum siap untuk datang ke sini. Hatiku masih sakit dan bahkan aku masih belum rela untuk menerima kepergian kamu. Namun sekarang, aku sudah berusaha untuk belajar ikhlas, walau berat namun aku berusaha untuk menerima semua ini. Oh ya hari ini aku datang bersama putra kita. Kamu senang, kan? Aku sudah memaafkan Ariel, aku harap, kamu pun sama. Saat ini, Ariel tengah sakit. Aku gak tau, kamu denger curhatan aku apa gak. TApi juju, sebagai orang tua tunggal, aku sedih melihat putra kita seperti ini. Aku sedih karena Ariel seperti tidak punya semangat hidup. Aku juga takut, dia akan meninggalkan aku seperti kamu yang memilih pergi dari pada bertahan di sisi aku. Sayang, ... " Ardi terus mengungkapkan isi hatinya. Sedangkan Ariel ia hanya melihat makam Mamanya. Lagi-lagi ia menangis tanpa suara.
Ardi yang mengetahui hal itu pun langsung mengusap air mata putranya.
"Papa tau, Nak. Papa tau kamu mendengar apa yang ada di sekeliling kamu. Tapi kamu memilih untuk bersembunyi karena kamu takut akan kenyataan yang menyakitkan. Tapi Papa mohon, tolong jangan seperti ini terus menerus. Ayo kita hadapi semuanya bersama-sama. Papa yakin, kita bisa melalui semua ini dan meraih kebahagiaan di masa depan." Ardi terus memotivasi putranya agar Ariel mau keluar dari rasa takutnya.
__ADS_1
Setelah cukup lama berada di makam, Ardi pun memutuskan untuk membawa Ariel pulang karena berlama-lama di makam juga tidak baik apalagi dalam keadaan kondisi Ariel yang seperti ini.