
Seminggu kemudian, Ardi dan Ariel pun berangkat ke Dubai. Yah, awalnya mereka ingin pergi ke Turki, namun entah kenapa, mereka memutuskan untuk pergi ke Dubai saja. Noah sendiri yang mengantar mereka ke bandara. Ardi juga meminta Noah untuk tinggal di rumahnya agar tidak kosong dan Noah pun setuju akan hal itu.
Sedangkan di rumah sakit keadaan Luna pun sudah semakin membaik. Dia juga sudah diperbolehkan melihat putrinya yang ada di NICU. Keadaan putrinya juga semakin hari semakin membaik dan kemungkinan besar, besok atau lusa sudah di perbolehkan pulang.
Lintang, Ayah Lukman dan Bunda Naila masih stay di rumah sakit, begitupun dengan Dion yang seakan tak ingin jauh dari Luna. Namun sesekali, LIntang akan pulang ke rumah Luna untuk tidur di sana, begitupun dengan Ayah Lukman dan Bunda Naila. Walaupun saat ini, Luna di pindahkan di ruang VVIP, di mana di sana tempatnya sangat luas, tetap saja, mereka tak mungkin tidur satu ruangan dengan Dion. Ada kalanya mereka merasa risih dan malu. Jadi mereka memutuskan untuk pulang jam delapan malam dan pagingya mereka akan kembali sambil membawa sarapan pagi yang di buatkah khusus oleh Bibi Imah untuk Luna dan Dion.
Ayah Lukman, Bunda Naira dan Lintang pun cukup dekat dengan Bibi Imah dan Bibi Neni. Bahkan kadang Bunda Naira mengobrol dengan mereka berdua di ruang tengah.
Ayah Lukman dan Lintang sebelum berangkat kerja akan bantu Bibi Neni seperti menyapu dan menyiram tanaman.
Ayah Lukman bagian menyapu halaman depan dan belakang rumah, Lintang bagian menyiram tanaman. Dan Bunda Naira akan membantu Bibi Imah memasak.
Mereka seakan bahu membahu agar pekerjaan rumah cepat terselesaikan, barulah setelah mereka sarapan pagi, dan sudah mandi, mereka akn berangkat menggunakan mobil milik Aril yang ada di garasi. Yah, Lintang memutuskan untuk memanfaatkan mobil itu dari pada cuma di buat pajangan aja, sedangkan pajaknya tetap bayar pertahun. Mending di pakai aja, biar gak rugi rugi banget. Untungnya Lintang sudah tau menyetir dan masalah jalan, tinggal pakai google maps.
Dari kemaren, Bunda Naira masih terus menerus menjelek-jelekkan Ariel dan mantu besan cowoknya karena belum datang padahal sudah seminggu lebih.
__ADS_1
Sedangkan Ariel dan Ardi memutuskan untuk tidak ke rumah sakit lagi karena ada Dion di sana. Ardi gak mau, putranya terus menerus menahan rasa sakit dan cemburu yang mengakibatkan fikirannya semakin stres dan memperburuk keadaannya. Ardi mencegah agar hal itu tidak terjadi. Andai gak ada Dion di sana, mungkin mereka masih mau datang ke sana tiap hari, bahkan jika perlu mereka rela untuk menginap di rumah sakit.
Tapi Ardi saat ini lebih fokus kesehatan Ariel aja, dari pada harus menelan luka hanya demi melihat cucu kesanganya itu. Ada yang harus ia prioritaskan untuk saat ini dan itu adalah kesehatan putranya sendiri. Kalau Ariel sehat, ia yang akan datang sendiri untuk menemui putrinya itu. Toh yang penting untuk bulanan, Ariel tetap akan bertanggung jawab. Bahkan Ardi punĀ juga ikut menyumbang memberikan uang yang cukup banyak ke rekening Luna. Jadi walaupun mereka tidak datang, tapi uang terus mengalir ke rekenging Luna dan mereka juga terus mendoakan Luna dan putrinya.
Dan kini, Ardi dan Ariel sudah tak ada lagi di Indonesia. Yah, mereka memutuskan untuk ke dubai demi mengobati Ariel dan mencari hiburan di negara itu. Setidaknya Ardi berharap, di negara itu, Ariel bisa memulai semuanya dari nol dan bisa menjernikah fikirannya sehingga tidak terus menerus merasa tertekan. Ardi juga butuh hiburan setelah ia kehilangan istrinya dan kini di hadapkan dengan kondisi putranya yang tidak baik baik saja. RAsanya ia pun cukup stres menghadapiinya, belum lagi tekanan, cibiran dan juga caci maki dari keluarganya yang sampai detik ini, kadang masih ia dapatkan.
"Bunda tuh heran, punya calon besan gak pengertian banget. Apa dia itu gak penasaran ingin lihat cucunya?" tanya Bunda Naira, saat ini ia bersama putranya dan suaminya lagi dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Ariel juga, dia mentang-mentang sudah cerai, bahkan tidak mau menjenguk anaknya walaupun hanya sebentar. Emang dia sebagai seorang ayah, tidak punya keiginan sama sekali untuk mengendongnya. Huh, untung anakku cerai dengannya, kalau gak bisa makan hati, putriku punya suami seperti dia," ujar Bunda Naira.
Ayah Lukman juga sudah tau jika dua dus besar yang ternyata setelah di bongkar isinya perlengkapan Luna dan Dede Bayi Diana, Ayah Lukman langsung bungkam melihat begitu banyak yang mereka beri untuk putri dan cucunya itu.
Sedangkan dirinya ke Jakarta hanya membawa badan saja.
Memang dua hari lalu dus besar itu akhirnya di bongkar dan Bibi Neni menatanya di ruang bayi namun di pisahkan dengan pemberian Dion, agar nantinya Luna bisa lihat, bahwa itu pemberian dari Ayah kandung Diana. Bukan dari orang lain.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Bunda Naira diam. Lintang pun juga ikut diam, entah karena malu dan menyadari kesalahannya atau karena tidak mau berdebat dengan Lukman yang merupakan kepala rumah tangga di keluarga mereka.
"Ayah gak tau sejak kapan Bunda julit, Lintang juga. Kayaknya sejak Dion datang ke keluarga kita. Sikap Bunda dan Lintang berubah, gak kayak dulu lagi. Apa karena Dion lebih kaya dan bisa membelikan apa yang kalian mau?" tanyanya masih dengan intonasi tinggi.
"Jangan sampai karena harta, kalian di butakan. Ayah gak pernah ngajarin kalian kayak gitu. Dan bisa jadi, Ariel tidak datang karena ada Dion di rumah sakit. Atau bisa jadi, Ariel tengah sakit saat ini, siapa yang tau. Bukankah kalian sendiri mendengar dari ceritanya Bibi Imah mengenai kondisi Ariel. Apa bunda gak kefikiran ke situ? Gara-gara putri kita yang seenaknya dalam menyelesaikan masalah, efeknya besar. Besan kita meninggal, Ariel lumpuh, apa itu gak cukup buat kalian, untuk terus menghukum Ariel?" tanyanya.
"Padahal putri kita ikut andil di dalamnya, dia yang mendatangkan Laras ke Jakarta hingga rumah tangga mereka berantakan dan berakhir dalam sebuah perceraian. Jangan cuma lihat kesalahan orang lain, lihat juga kesalahan putri kita, biar adil dan tidak berat sebelah. Ayah bahkan masih ingat, cerita Bibi tadi malam. Bagaimana Ariel siang malam menunggu putri kita pulang karena khawatir sampai masuk rumah sakit dan putri kita malah menginap di rumah pria lain. Malu bun, Malu Ayah denger cerita Bibi. Belum lagi kita denger omongan para dokter di sana, bagaimana Dion berlagak kayak seorang suami, manggil sayang di hadapan mereka sambil meluk putri kita, padahal di luar ada suaminya. Padahal Ariel jauh lebih berhak menemani istrinya berjuang dari pada pria lain. Rasanya Ayah bahkan sudah gak punya muka jika bertatapan dengan Ariel dan Papanya. Luna gembar gembor membuka aib suaminya, tapi dirinya berlakuan sama, apa bedanya Luna dan Ariel. Toh mereka sama sama membiarkan tubuh mereka dalam pelukan orang lain yang bukan mahramnya. Walaupun Ariel melakukan sampai ke tahap hubungan badan, tapi tetap saja dosanya besar. Dan kita masih menutup mata dengan apa yang di lakukan oleh putri kita dan masih bersikap layaknya tidak ada apa apa, padahal setiap kita keluar dari kamar Luna, kita sering mendengar bisik bisik dokter dan suster yang ada di sana. Dan kali ini aib putri kita tersebar, bukan karena Ariel yang menyebarkannya tapi karena Luna sendiri yang menampakkannya di hadapan mereka secara langsung," ujar Ayah Lukman yang melampiaskan emosinya yang ia simpan dari seminggu yang lalu.
"Lintang juga, sejak kenal dengan Dion. Sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat, baru di belikan ini ini sudah kelepek-kelepek, padahal tanpa kamu tau, Ariel lah yang membantu Ayah membayar uang sekolah. Kamu fikir Ayah dapat dari mana bayar SPP kamu yang mahal itu, sedangkan Ayah cuma kerja jadi petani?" tanyanya dengan raut wajah kesal.
"Kalian itu sudah di butakan oleh harta. Dan jujur Ayah kecewa sama bunda dan juga kamu Lintang, Ayah juga kecewa sama Luna. Rasanya Ayah gagal mendidik kalian semua," ujar Ayah Lukman menitikkan air mata.
Di saat itu juga, Lintang dan Bunda Naira menyadari kesalahannya. Benar, jika bukan karena Ariel yang dulu kerja keras, tak mungkin Luna bisa seperti sekarang, punya rumah mewah di Jakarta lengkap dengan dua ART, punya resto, punya mobil mewah, punya berlian yang harganya bahkan ada yang milliaran, semua barang barangnya juga brender, punya tabungan yang tidak sedikit. Dion bahkan tidak memberikan seperempatnya, tapi aRiel, dia sudah membuktikan semuanya.
Hanya karena tau, Dion itu anak sultan, Bunda Naira terus berharap LUna segera menikah dengan Dion tanpa memperdulikan perasaan Ariel yang dulu pernah menjadikan putrinya seorang ratus sebelum akhirnya badai rumah tangga menerjang mereka.
__ADS_1