Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Ariel Menemui Laras


__ADS_3

Habis maghrib, Ariel minta diantar ke tempat Laras dengan menggunakan kursi roda, karena kakinya sangat sakit sekali jika dibuat jalan. Lintang emang tidak kira-kira saat memukul Ariel hingga babak belur, sampai-sampai seluruh tubuhnya dari ujung kaki sampai ujung kepala pun terasa sakit semua. Noah hanya mencibir saat Ariel mengeluh karena kesakitan, tak ada rasa kasihan, karena bagi Noah, itu hal yang pantas untuk di dapatkan oleh saudaranya itu karena sudah bermain api. Coba jadi pria baik-baik, mana mungkin ia akan kesakitan seperti itu, yang ada ia akan senang bersama Luna, hidup bahagia ,terlebih akan ada anak di antara mereka yang akan membuat hubungan mereka semakin harmonis dan hangat. Sayangnya, kebodohannya membuat semuanya jadi hancur berantakan. Dan kini hanya tinggal penyesalan belaka.


Noah mendorong kursi roda itu dengan pelan, sesungguhnya ia malas untuk bertemu Laras, wanita yang menyebabkan semua ini terjadi. Yah, dirinya tidak hanya menyalahkan kebodohannya Ariel, ia juga menyalahkan Laras karena dialah saudaranya seperti ini. Laras itu wanita busuk, hatinya sangat busuk sekali. Sudah tau, Ariel itu suami sahabatnya, masih dengan santainya dia menggoda suami sahabatnya sendiri. Entah wanita macam apa yang tega melakukan hal itu.


Apa dia tak ingat, saat Luna membantunya, memberikan apa yang dia mau. Padahal jika dia memang pengen jadi wanita kaya, dia tinggal mencari pemuda tajir yang belum menikah atau duda kaya yang bisa membuat dia menjadi wanita tajir melintir. Atau dia bisa bekerja keras untuk mendapatkan banyak uang, ada banyak hal yang bisa dia lakukan, sayangnya ia melakukan dengan cara instan, apa yang ada di depan mata, itulah yang dia embat. Sangat bodoh, padahal jika sampai Ariel berpisah dengan Luna, Ariel gak dapat apa-apa.


Sepanjang jalan, Noah terus menggerutu dalam hati. Ia benar-benar benci harus bertemu dengan Laras, tapi ia juga yang meminta Ariel untuk bertemu dengannya, karena bagaimanapun di dalam perut Laras saat ini ada anak hasil kebejatan mereka berdua. Anak tak berdosa yang hadir karena kesalahan orang tuanya. Noah cuma berharap, kelak anak itu berjenis kelamin laki-laki sehingga jika pun menikah tak butuh wali. Berbeda jika anak itu lahir seorang perempuan, Ariel gak akan bisa menjadi walinya dan itu pasti akan menyakitkan buat calon keponakannya nanti.


Saat sampai di depan pintu, Ariel meminta Noah untuk berhenti. Ariel menghela nafas berulang-ulang, ia berusaha menghilangkan rasa sesak di dada. Entah kenapa rasa sayang untuk Laras seakan lenyap begitu saja. Yang ada, hanyalah sebuah penyesalan kenapa ia terjatuh akan godaan Laras yang memang dari awal sudah punya niat untuk menghancurkan pernikahan dirinya dan Luna.


Yah, Laras pasti punya niatan seperti itu, kalau tidak punya niat seperti itu, gak mungkin Laras terang-terangan menggoda dirinya hingga membuat dirinya jatuh akan pesonanya hingga ia dengan sangat sadar diri sudah mengkhianati Luna, menyakiti Luna sangat dalam.


"Sudah?" tanya Noah, karena ia berdiri di sana sudah lebih dari lima menit.


"Iya," jawabnya sambil menganggukkan kepala.


Dan setelah itu, dengan mengucap basmallah, Noah membuka pintu itu, mendorong kursi roda itu memasuki ruangan Laras yang terasa panas, padahal ruangan berAC, atau karena ada Laras di dalamnya, sehingga ruangan yang dingin itu terasa panas untuknya.


Melihat kedatangan Ariel, tentu Laras merasa bahagia, sudah dari kemaren dia menghubungi Ariel, namun tak bisa terhubung, chat pun gak di balas karena memang pesannya hanya centang satu, yang artinya Hp Ariel gak aktiv sejak kemaren.

__ADS_1


"Mas Ariel," gumamnya senang. Walaupun ia kaget melihat Ariel yang duduk di kursi roda, tapi ia tetap aja merasa senang, dari kemren ia sendirian dan gak ada yang menemani. Laras melihat tampilan Ariel yang terlihat sangat kacau sekali, ia juga melihat baju Ariel yang memakai baju pasien sama seperti dirinya. "Apakah Mas Ariel dari kemaren juga di rawat di rumah sakit ini? Ah, andai aku tau, aku pasti sudah nyamperin Mas Ariel sejak kemaren," ucapnya dalam hati.


Melihat raut wajah bahagia Laras, membuat Ariel melengos. Ia benci, benci bahkan di saat seperti ini, Laras masih tampak tenang dan terlihat biasa-biasa aja, sedangkan dirinya sejak kemaren, merasa begitu sesak memikirkan ini semua. Bahkan semalaman pun, ia gak bisa tidur karena terus memikirkan keadaan Luna, bagaimana ia meminta maaf dan mempertahankan pernikahannya yang sudah di ujung tanduk itu.


"Aku akan meninggalkan kalian berdua," ujar Noah membuat Ariel melihat ke arahnya.


"Aku gak mau kamu ninggalin aku," sahutnya tak suka, ia gak mau hanya berdua dengan Laras di ruangan ini.


"Tapi kamu harus menyelesaikan masalahnya, aku hanya ingin memberikan kalian waktu untuk ngomong berdua saja agar bisa lebih leluasa, lagian aku akan berdiri di depan pintu itu jadi jika sudah selesai, kamu bisa panggil aku kembali," balasnya, berusaha memberikan Ariel pengertian.


Lagian Noah gak mungkin jadi obat nyamuk di antara mereka, ia lebih suka di luar aja, main Hp sambil nunggu Ariel selesai bicara. Ia juga gak betah lama-lama di ruangan ini, karena menurutnya ruangan ini sangat panaas.


"Baiklah, tapi kamu harus segera masuk, jika aku panggil."


Setelah Noah keluar, Ariel menatap wajah Laras yang berbinar. Yah, wajah Laras berbinar setelah Ariel datang, sebelumnya, wajahnya pun sangat kusut sekali karena ia sendirian, tak ada yang menemani, terlebih Ariel seakan menghilang begitu saja.


"Mas," panggil Laras mencoba untuk membuka percakapan terlebih dahulu.


"Aku akan bertanggung jawab atas janin yang ada dalam kandungan kamu, tapi maaf aku gak bisa menikahi kamu," ucap Ariel tenang namun kata-kata itu, cukup membuat Laras sok, karena bukan itu yang ingin ia dengar, ia berharap Ariel datang untuk melamarnya dan menikahinya. Bukan malah seperti ini.

__ADS_1


"Tapi Mas, apa kata orang tua dan keluarga aku. Kamu gak kasihan sama anak kita? Kamu tega membiarkan dia lahir tanpa ada Ayah di sampingnya? Kamu tega, membiarkan anak kita akan jadi cemohan banyak orang?" tanya Laras dengan suara tinggi.


"Aku akan menemani kamu saat kamu lahir nanti, dan kamu bisa tinggal di tempat lain yang sekiranya orang gak tau jika kamu hamil di luar nikah. Tapi yang jelas, aku gak bisa menikahi kamu. Aku hanya akan bertanggung jawab dengan memberikan kamu uang buat memenuhi gizi kamu selama kamu mengandung anakku, dan memberikan kamu uang buat merawat dia sampai dewasa," ujarnya sekali lagi, tak ada rasa kasihan atau apapun. Ia hanya ingin bertanggung jawab atas anak yang hadir tanpa ia duga. Walaupun misalkan semua hartanya akan jatuh ke tangan Luna, tapi ia masih ada pemasukan lain. Ia merasa beruntung karena selama ini, ia selalu membeli saham di beberapa perusahaan besar, dengan uang itu ia bisa menghidupi dirinya tanpa merasa kekurangan dan bisa membeli rumah lagi dan membangun usaha dari nol lagi. Ia juga masih bisa memberikan uang buat Luna dan Laras sebagai pertanggungjawaban darinya karena saat ini, mereka berdua tengah hamil buah hatinya, darah dagingnya.


"Aku gak mau, Mas fikir aku menggoda Mas hanya butuh uang saja. Okay, aku akui. Awalnya aku menggoda Mas ARiel karena memang aku terbuai dengan kekayaan yang Mas Ariel miliki, terlebih Mas Ariel sangat tampan dan membuat aku terpana. Aku iri sama kehidupan Luna yang begitu sempurna, mempunya suami tampan dan mapan. Entah setan apa yang merasuki aku, hingga aku berfikir ingin mencicipi kebahagiaan yang Luna miliki. Aku ingin Luna berbagi kebahagiaannya untukku. Lagian aku yakin, Luna pasti memaafkan kesalahan aku karena aku adalah sahabat dia satu satunya, aku sudah di anggap saudara baginya. Aku gak tau, kalau ternyata Luna merencanakan ini semua dan menghancurkan kita. Aku gak menyangka jika Luna akan berbuat seperti ini. Maafin aku, karena aku gak memikirkan sampai sejauh ini. Tapi percayalah Mas, seiring berjalannya waktu, aku mulai menyukai kamu, aku menyayangi kamu dan aku mencintai kamu. Aku gak bohong, aku benar-benar jatuh cinta sama kamu, Mas. Kamu harus percaya itu. Bahkan aku juga gak papa, misal kita harus hidup miskin karena harta kamu akan jatuh ke tangan Luna, asal kita bisa bersama dan hidup bahagia. Kita bisa memulai semuanya dari nol bersama-sama, aku akan mendampingi kamu Mas, sampai kamu sukses nantinya," ucap berusaha meyakinkan Ariel lagi. Namun apa yang di ucapkan olehnya, benar-benar dari hati, kali ini ia gak berbohong. Tapi sayangnya, Ariel sudah tak lagi mempercai semua ucapannya, bagi Ariel apa yang di ucapkan oleh Laras, itu hanya tipuan belaka.


"Aku gak mempercayai apa yang kamu katakan, kamu mau sama aku hanya karena aku kaya dan banyak uang. Misal aku jelek, cacat dan miskin, aku yakin kamu akan pergi dari aku. Sudahlah, Laras. Sudah untung aku mau menanggung sembua biaya anak itu, jadi jangan minta lebih," pangkas Ariel yang tak ingin ngomong panjang lebar.


Mendengar hal itu, membuat hati Laras sangat sakit. Ia memegang perutnya yang masih datar itu. "Oh Anakku, bantu Ibu sayang, bantu Ibu untuk bisa meluluhkan hati ayah kamu, Nak," gumamnya dalam hati sambil mengusap perutnya itu dengan kasih sayang.


"Terserah Mas percaya atau enggak, tapi yang jelas aku sudah ngomong jujur, jika aku tulus mencintai Mas Ariel. Maafin aku, karena aku sudah membuat hidup Mas Ariel berantakan. Maafin aku karena aku sudah masuk ke dalam rumah tangga kalian dan membuat semuanya kacau balau. Maafin aku, Mas," ucapnya menitikkan air mata. Saat ini, Laras akan mengalah. Tapi ia akan menyusun rencana agar ARiel bisa jatuh ke dalam pelukannya. Ia gak akan menyerah begitu saja, terlebih saat ini ada anak yang akan mengikat Ariel untuk tak bisa jauh darinya. Ia harus menjaga anaknya sebaik mungkin. Ia benar-benar mencintai Ariel, ia gak mau kehilangan laki-laki yang sudah membuat dirinya nyaman, ia juga akan memperjuangkan Ariel demi anak yang kini ada dalam kandungannya.


"Percuma kamu minta maaf, karena hidup aku sekarang benar-benar kacau. Aku menyesali kehadiran kamu dalam rumah tangga aku. Seharusnya saat Luna meminta izin membawa kamu ke Jakarta, aku mencegahnya, bukan malah mengiyakan dan mengizinkan Luna membawa kamu lalu menumpang hidup sama kami. Seharusnya aku lebih tegas sama kamu dari awal, bahwa kamu itu hanya benalu dalam rumah tangga aku dan Luna. Kamu itu hanya orang luar yang menumpang, tapi sayangnya gak tau diri. Aku juga yang salah dari awal, aku salah sudah mengizinkan istriku membawa benalu dalam rumah tangga kami, memeliharanya hingga akhirnya benalu itu menghancurkan rumah tanggaku dari dalam," ucap Ariel lirih, ya dia menyalahkan dirinya sendiri yang sudah lengah dan karena rasa cintanya yang begitu besar kepada Luna, hingga ia mengizinkan Luna yang saat meminta dan memohon untuk membawa Laras tinggal bersama mereka dan memberikan Laras pekerjaan. Andai ia menolak dari awal, maka sampai detik ini hubungan dirinya dan Luna pasti baik-baik aja, bukan malah di ambang kehancuran seperti ini.


Yah, andai dia juga tak terpengaruh saat Laras menggoda dirinya, mungkin hidupnya masih bahagia dan menanti kehadiran anak yang ia tunggu-tunggu selama ini. Seharusnya kehamilan Luna membawa kebahagiaan untuknya, dan ia akan menjadi papa yang baik dengan selalu ada di dekat Luna, memenuhi semua ngidam sang istri dan menjadi suami dan ayah yang siaga buat Luna dan calon buah hatinya.


Sayangnya, semuanya itu tak bisa kembali sepeti semula. Ia hanya bisa berandai, namun kenyataannya sudah hancur berantakan. Nasi sudah jadi bubur, dan kini ia hanya bisa menyesalinya. Dan sekarang, ia cuma bisa berharap untuk memperbaikinya, berusaha untuk melakukan yang terbaik buat buah hati yang kini ada dalam kandungan Laras dan berusaha menjadi yang terbaik buat Luna dan buah hati mereka berdua.


Jika pun pada akhirnya ia kalah dan Luna bersikeras untuk menggugat cerai dengannya, ia pun tak bisa berbuat apa-apa, selain hanya bisa pasrah dan menuruti semua kemauan Luna.

__ADS_1


Mendengar ucapan Ariel yang menganggap dirinya hanya benalu, entah kenapa membuat hati Laras teriris. Namun nyatanya, ia memang benalu untuk rumah tangga sahabatnya itu. Dan ia sadar, dirinyalah yang membawa kehancuran itu. Tapi ia juga tak bisa berhenti di tengah jalan, ia harus memperjuangkan apa yang sudah ia mulai. Ia gak bisa berhenti hanya karena rasa bersalah dan rasa kasihan untuk Luna. Toh Luna juga sudah menghancurkan dirinya dengan mempermalukan dirinya di tempat umum. Jadi sudah sewajarnya jika Laras sekalian mengambil apa yang harusnya jadi miliknya. Toh nama baiknya juga sudah hancur dan tak bisa di perbaiki lagi.


Setelah puas mengatakan isi hatinya, Ariel memanggil Noah dan meminta Noah untuk membawanya kembali ke kamarnya. Ia juga sudah muak berada di ruangan ini. Yang penting ia sudah mengatakan bahwa ia akan bertanggung jawab walau ia gak bisa menikahi Laras. Ia hanya ingin bertanggung jawab kepada calon anaknya itu, selebihnya ia gak akan peduli.


__ADS_2