
Aku mulai fokus membakar jagung manis bersama Laras, aku dan Laras posisinya ada di tengah-tengah, Mas Ariel dan Mas Dion ada di samping aku, dan mereka tengah sibuk memanggang bagian dagingnya. Bibi Imah dan Bibi Neni di sebelah Laras, mereka sibuk memanggang ikan yang di beli Bibi Imah tadi pagi. Yang tentunya sebelum di bakar, sudah di cuci bersih semuanya. Bahkan juga sudah di kasih sedikit perasan jeruk agar tidak amis.
Semuanya pada sibuk dan tak ada satu pun yang menganggur.
Rasanya sangat romantis sekali, bakar malam-malam seperti ini, di temani musik dan tempatnya yang terang menderang membuat suasana menjadi menghangat. Sayangnya sedari tadi, tak ada yang ngobrol dan fokus sama apa yang mereka lakukan.
"Seharusnya barbeque itu di adakan minimal sebulan sekali, iya kan? Biar kompak kayak gini," tutur Luna mengawali bicara, karena dari tadi pada diem dan tak ada yang mau angkat bicara.
"Iya, Bibi setuju. Dengan begini akan menjalin hubungan semakin erat, dan kita bisa bersantai sejenak sambil menikmati hidup," jawab Bibi Imah.
"Kalau gitu mulai bulan depan kita adakan aja sebulan sekali, atau satu bulan dua kali juga gak papa," tutur Ariel yang juga menyetujui ucapan istrinya itu.
"Baiklah, berarti dua minggu dari sekarang, akan ada barbeque lagi ya di sini," ucap Luna dan mereka semua pun mengangguk setuju.
"Oh ya Laras, nanti kamu nginep ya di sini," pinta Luna pada Laras.
"Emmm gak bisa, Lun," tolak Laras pura-pura.
"Kenapa?" tanya Luna.
"Besok aku harus kerja," jawabnya.
"Kan kamu bisa pulang besok setelah sarapan pagi, nanti di kontrakan tinggal mandi, pakai baju langsung berangkat kerja, sama ajalah," balas Luna.
"Hmm iya sih, tapi ...."
"Aku gak nerima penolakan ya, aku dan kamu kan sudah jarang ketemu. Jadi aku ingin nanti malam kita ngobrol panjang lebar. Mau ya," pinta Luna memohon.
"Baiklah, nanti aku akan menginap," sahut Laras pura-pura seperti orang keberatan, padahal dalam hati, ia merasa bahagia banget bisa menginap karena itu artinya ia bisa bertemu dengan Ariel lebih lama lagi. Karena tadi pagi walaupun sudah ketemu, rasanya masih kangen banget. Apalagi dua hari kemaren, mereka gak ketemu sama sekali.
"Mas Dion, juga nginep ya," ujar Luna pada Dion.
"Kenapa saya harus nginep juga, Non?" tanya Dion.
"Ya gak papa, biar adil aja. Jadi bukan cuma Laras aja yang menginap tapi kamu juga. Nanti kamu bisa menempati kamar di samping Bibi Imah, masih ada satu kamar yang kosong kok. Dan tempatnya juga bersih karena Bibi Neni selalu membersihkan setiap hari walaupun gak di tempati."
"Tapi Non ...."
"Hey, aku gak menerima penolakan. Aku pastikan Mas Dion nyaman tidur di sana. Walaupun kamarnya ada di belakanag, tapi cukup luas kok, tiga kali tiga meter, tempatnya juga bersih dan harum. Kalau gak percaya, Mas bisa cek dulu nanti sebelum di tempati."
"Masalahnya, saya gak terbiasa Non menginap di sini."
__ADS_1
"Kalau gitu harus di biasakan sejak sekarang. Lagian aku ingin kita nanti ngobrol dulu setelah selesai barbeque, ngobrol apa aja deh, yang penting happy dan gak ada yang galau."
"Emang ada yang galau Non?" tanya Dion.
"Ya gak ada sih," jawab Luna terkekeh.
"Mas Ariel, gak papakan kalau Laras dan Mas Dion nginep? Nanti Laras bisa nempati kamar tamu, Mas Dion kamar belakang yang gak di tempati itu," ucap Luna sambil melihat ke arah Ariel.
"Enggak papa, Sayang. Aku malah seneng kalau rumah ini rame," jawab Ariel tersenyum ceria, membuat Luna pun ikut senang karena Ariel tak menolaknya. Dion dan Laras pun juga ikut bahagia dengan permintaan Luna buat menginap di rumah ini, setidaknya Laras bisa berduaan dengan Ariel dan Dion akan bantu Luna buat menghancurkan mereka berdua, siapa lagi kalau bukan Ariel dan Laras yang sudah main di belakang Luna.
"Oh ya, Mas. Nanti aku juga mau tidur di kamar sebelah aja," ujar Luna.
"Loh kenapa?" tanya Ariel terkejut.
"Biar semua kamar terisi, lagian Bibi Imah tidur sendiri, Bibi Neni juga, Mas Dion juga tidur sendiri, Laras juga. Masak kita tidur bareng, kan gak adil. Jadi biar adil kita tidur di kamar masing-masing, aku akan tidur di kamar sebelah aja," ucapnya.
"Tapi sayang, kita tidur bareng kan wajar, kita suami istri. Berbeda sama Laras dan Dion, mereka kan masih single. Kalau Bibi Imah dan Bibi Neni kan pasangan mereka jauh, jadi gak bisa tidur sama suaminya. Aku gak mau pokoknya," rajut Ariel tak suka.
"Gak boleh gitu, kita itu harus adil, harus ikut merasakan tidur sendiri-sendiri, jadi gak ada yang bermesraan. Atau gini aja deh, kita jodohkan aja yuk Laras sama Mas Dion," ucapnya membuat mereka bertiga kaget. Siapa lagi kalau bukan Laras, Ariel dan juga Dion.
Dion kaget karena Luna mempunyai pemikiran seperti itu, ya kali dirinya di jodohkan sama Laras, mana mau. Apalagi setelah ia tahu, jika Laras itu orang bermuka dua, dari depan tampak ramah, tapi di belakang sudah seperti iblis yang bisa menghancurkan siapa saja. walaupun dirinya ingin menikah, tapi gak sama Laras juga, bahkan jika di dunia ini hanya ada Laras pun, ia gak akan mau menikah sama wanita yang hanya manis di bibir saja, tapi bisa menerkam siapapun demi memenuhi egonya.
Laras sendiri juga mana mau di jodohkan dengan Dion, walaupun Dion ganteng, tetap saja hanya seorang sopir, sedangkan Laras tak ingin menikah jika orang itu hanya mengandalkan ketampaanan saja. Ia menginginkan suami seperti Ariel, yang tampan nan kaya sehingga ia bisa hidup bahagia tanpa memikirkan materi lagi. Cukup sibuk shopping dan juga mempercantik diri.
"Gak boleh gitu sayang," ucap Ariel lembut.
"Kenapa? Toh Laras masih single, Mas Dion juga," jawab Luna.
"Tapi kita gak boleh menjodohkan dua orang yang tidak saling mencintai, biarkan mereka mencari pendamping sendiri. Kita gak perlu ikut campur masalah percintaan mereka. Itu masalah privasi mereka dan kita gak bisa melanggarnya. Kamu mau, mereka menerima perjodohan ini hanya karena gak enak sama kamu. Bagaimana jika mereka pada akhirnya menikah namun tak ada cinta dalam pernikahan mereka. Lalu jika mereka sampai bercerai di usia muda, apa kamu gak merasa bersalah. Jangan memaksakan kehendak, jangan mengurus percintaan orang lain. Fokus aja sama kehidupan kita sendiri, masalah jodoh, biar mereka cari sendiri. Aku tau niat kamu baik, tapi kadang apa yang menurut kita baik, belum tentu baik buat mereka," ucap Ariel menjelaskan dan Luna pun mengangguk mengerti.
"Baiklah, aku gak akan menjodohkan mereka lagi. Maafin aku ya Mas Dion, Laras. Aku cuma berharap semoga Tuhan segera mempertemukan kalian dengan jodoh kalian masing-masing dan setelah itu kita bisa double date. Pasti seru deh," ujar Luna dan mereka pun bernafas lega karena Luna tak lagi menjodohkan mereka berdua.
Setelah selesai bakar-bakar, mereka pun istirahat sejenak karen mereka lelah sedari tadi berdiri.
"Aku mau makan jagung bakar dulu, enak keknya. Manis," tutur Luna sambil mengambil jagung bakar yang ia bakar barusan.
"Bibi mau makan nasi sama ikan bakar aja, enak kayaknya apalagi ada kerupuk sambal sama lalapannya," ucap Bibi Imah sambil mengambil piring dan mengisinya dengan nasi, ikan, sambal, lalapan dan mengambil dua kerupuk dari toples besar.
"Bibi juga sama deh kayak Bibi Imah," tutur Bibi Neni ikut-ikutan.
"Aku mau makan jagung aja, lihat Non Luna makan kayaknya sedep banget," ujar Dion.
__ADS_1
"Sini kalau mau makan jagung bakar, enak banget loh." Luna menggeser tempat duduknya sehingga Dion bisa duduk di sampingnya sambil mengambil jagung bakar yang masih panas itu.
"Kamu mau makan apa? Biar aku ambilkan," ucap Ariel dengan suara pelan, namun masih di dengar oleh mereka semua. Maklum karena ini sudah malam, jadi agak hening sehingga walaupun bicara dengan suara rendah pun tetap akan terdengar.
"Daging aja sama bumbu dan kerupuk," jawabnya.
"Aku ambilkan buat kamu ya," tutur Ariel dan Laras pun menganggukkan kepala.
"Mas Ariel mau makan daging?" tanya Luna.
"Iya, kamu mau sayang?" tanyanya sambil melihat ke arah luna.
"Enggak, aku nanti aja, masih menikmati jagung bakar dulu," tolaknya dan Ariel pun mengangukkan kepala.
"Ya sudah nanti kalau mau, bilang ya, aku ambilkan."
"Enggak ah, aku ambil sendiri aja, biar bisa milih dagingnya," ucap Luna dan Ariel pun hanya diam, tak mau memaksa. Ariel mengambil daging bakar itu dengan bumbu kacang kecap yang agak pedas.
Dia mengambil dua piring, satu untuknya dan satu untuk Laras.
Luna dan Dion pura-pura sibuk, mereka makan sambil mengobrol, tapi mereka menajamkan telinga merek untuk mendengarkan apa yang di bicarakan oleh Ariel dan Laras.
Sedangkan Bibi Imah dan Bibi Neni walaupun mereka sok sibuk makan, namun matannya sesekali melirik ke arah Ariel dan Laras.
Melihat Luna dan Dion sibuk sendiri, Bibi Neni dan Bibi Imah juga sibuk menikmati makanannya. Ariel pun bernafas lega, ia yang duduk berdua dengan Laras pun sesekli menyuapi Laras dengan cepat. Laras pun hanya senyam senyum, ia merasa senang dengan perhatian Ariel, Laras juga sesekali melakukan hal yang sama, ia menyuapi Ariel juga, walaupun terkesan cepat karena takut ketahuan. Rasanya deg-degan, namun entah kenapa hal ini memacu adrenalin mereka untuk melakukan hal yang lebih.
"Aku mau ke kamar mandi," ucap Ariel, entah dia bicara sama siapa.
Tak lama kemudian, Laras juga ikut berdiri dan pergi dengan alasan yang sama.
Sedangkan mereka berempat mencoba untuk pura-pura gak dengar.
"Mereka cukup berani ya Non," ucap Dion dengan suara berbisik.
"Iya, biarlah. Aku sudah memasang banyak CCTV, termasuk di halaman ini, di ruang tamu, di kamar tamu, di dapur dan juga di kamar mandi," ujar Luna membuat Bibi Imah terbatuk. Pasalnya tadi dia juga pergi ke kamar mandi dapur, astaga untung tadi dia cuma cuci muka di sana. Karena kalau mandi, buang air kecil, ia lebih suka melakukannya di kamar mandi yang ada di kamarnya. Lebih privasi aja.
"Wah Non hebat, pantas Non gak perlu mengikuti mereka."
"Yalah, aku cukup melihatnya di hp nanti, apa yang mereka lakukan," balas Luna yang berlagak sombong karena ia merasa dirinya pintar.
Bahkan di tempat yang agak gelap sekalipun, juga saudah di taruh CCTV.
__ADS_1
"Enggak sia-sia Non beli banyak kemaren CCTV dan Perekam suara," ucap Dion dan Luna pun hanya mengangkat bahunya dan menikmati jagung bakarnya. Bahkan ia sudah menghabiskan dua, karena memang enak dan manis, jadi cepat habisnya. Untung Luna dan Laras membakar cukup banyak, jadi gak akan habis kalau cuma di makan oleh mereka berdua.