Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
19 Bab Menuju Tamat


__ADS_3

Dion dan Luna sudah sampai di apartemen Ariel. Ariel yang sebelumnya sudah di kasih tau, langsung membersihkan apartemennya dan membeli minuman serta beberapa camilan untuk menyambut tamunya. Saat ini Ariel hanya bersama dengan Diana, karena Dania kini di bawa oleh Noah sekitar sejam yang lalu. Awalnya Noah ingin mengajak  Diana sekaligus. Tapi karena Ariel bilang Luna dan suaminya mau datang ke apartemen, jadi ya udah. Noah cuma bisa jalan bareng Dania.


Setelah semuanya bersih, Ariel dan Diana mandi gantian. Awalnya Ariel mandikan Diana, baru setelah itu dirinya. Ariel juga menggunakan baju couple, karena memang semua baju yang ia miliki, kebanyakan baju couple. Sejak di Dubai sampai akhirnya balik lagi ke Jakarta, Ariel lebih suka memakai baju couple dengan Diana, karena menurutnya biar terlihat lebih kompak.


Kemaren juga pas di Mall, Ariel juga membeli baju couple buat Dania juga, jadi misal mereka jalan bertiga, mereka memakai baju yang sama. Entahlah, kenapa Ariel melakukan hal itu. Mungkin karena dulu dia melihat sebuah keluarga setiap harinya memakai baju couple, jadinya dirinya ikut-ikutan. Ternyata memang ada kebanggan tersendiri saat memakai baju yang sama dengan buah hatinya.


Setelah mandi, pakai baju yang sama, kini Ariel dan Diana duduk santai nonton tivi. Setengah jam kemudian, barulah terdengar sebuah bell berdering. Ariel langsung berdiri dan berjalan untuk membuka pintu.


"Assalamualaikum," sapa Dion dan Luna bersamaan.


"Waalaikumsalam," balas Ariel sambil berjabat tangan dengan Dion, sedangkan dengan Luna, Ariel hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat. Lalu setelahnya, Ariel menyuruh mereka masuk.


"Duduk dulu ya, saya panggilkan Diana dulu," ucapnya dengan bahasa formal.


"Iya," balas mereka.


Setelah itu, Ariel pun berjalan ke ruang keluarga dan menyuruh Diana untuk menyapa Dion dan Luna, sedangkan Ariel ia mengambil minuman dan makanan yang emang sudah ia siapkan dari tadi.


"Loh, Diana. Kok masih di sini. Ayo sama dulu Papa sama Mama di depan," ajaknya.


"Alu," ucapnya dengan wajah merona.


"Enggak usah malu. Ayo, bareng Papa." balasnya. Diana menganggukkan kepalanya.


Lalu mereka berdua pun berjalan ke ruang tamu.


"Diana, Ya Allah kamu sudah besar sekarang." Luna benar-benar terharu, setelah berbulan bulan bahkan hampir satu tahun, ia tak bertemu langsung. Sekarang ia bisa melihat Diana ada di depannya. Diana yang makin cantik dan imut. Pipinya juga chubby, namun tubuhnya tidak terlalu gemuk juga tidak terlalu kurus. Diana benar-benar terlihat seperti boneka berbie.


Apalagi memakai gamis dan hijab dengan warna senada serta kaos kaki coklat membuat Diana sangat menggemaskan sekali. Luna langsung berdiri dan menghampiri putrinya, namun Diana malah sembunyi di belakang Ariel.


"Loh kok sembunyi, ini Mama, Nak." Tentu, Luna merasa kecewa karean Diana seperti menghindarinya. Ariel yang sudah menaruh makanan dan minuman di atas meja, langsung duduk, mengimbangi tinggi putrinya.


"Diana kenapa, hemm?" tanyanya lembut sambil mengelus pipi chubby putrinya.


"Akut," jawabnya sambil memegang leher Ariel.

__ADS_1


"Takut kenapa, ini mama kamu sayang," tutur Ariel dengan lemah lembut membuat Luna merasa minder, karena ia sendiri tak bisa melakukan hal seperti itu pada putrinya.


"Mama?" ulang Diana.


"Iya, Mama yang sudah mengandung kamu dan melahirkan kamu. Diana lupa?" tanyanya, memang untuk ukuran anak kecil, jika lama tidak bertemu, akan mudah melupakannya.


"Padahal Diana suka vidio call sama Mama lo. Kok lupa?" tanya Ariel lagi sambil menatap wajah putrinya yang seperti berfikir keras.


"Mama?" tanyanya lagi.


"Iya, Mama Luna. Sudah ingat?" tanyanya. Diana menganggukkan kepalanya.


"Sekarang, peluk Mama ya. Diana kangen kan sama Mama?" tanyanya sekali lagi.


"Angen."


"Iya udah peluk Mama ya, Nak. Gak boleh takut lagi. Okay."


"Ote, Papa," ucapnya membuat Ariel tersenyum, ia mencium pipi Diana. Dan setelahnya, Diana melepaskan tangannya yang tadi melingkar di leher Ariel. Lalu ia menatap Luna yang sedari tadi terus melihatnya.


"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Luna dengan suara serak.


"Aik," jawabnya dengan senyuman khasnya.


"Syukurlah, Mama senang mendengarnya," ucap Luna sambil mengelus punggung Diana.


Luna dan Diana mereka seakan asyik dengan dunianya sendiri.


"Bagaimana kabarmu, Bro?" tanya Dion sok akrab.


"Alhamdulillah, baik," jawab Ariel dengan canggung.


"Maaf ya, dulu saat Om Ardi meninggal. Aku dan Luna gak bisa datang," tuturnya dengan wajah menyesal.


"Enggak papa, aku mengernyit kok. Lagian semua itu sudah berlalu, dan aku sudah berusaha untuk ikhlas dengan kepergian Papaku," jawab Ariel tersenyum ramah.

__ADS_1


"Hemm ya, bagaimanapun manusia, tidak selamanya hidup abadi. Bahkan kita sendiri pun, seakan menunggu giliran, kapan akan menghadap ilahi. Semuanya masih menjadi teka-teki untuk kita semua."


"Ya, kamu benar. Dan semoga, jika sudah tiba giliran kita, kita sedang melakukan hal yang positif dan amal kebaikan kita pun sudah cukup untuk menemani perjalanan kita selanjutnya,"


"Ya, semoga aja."


"Rencana kamu, bagaimana setelah ini?" tanyanya.


"Aku hanya ingin memperbaiki diri aja, sambil menjaga putriku. Aku sudah gak mau aneh-aneh lagi. Aku hanya ingin fokus dengan masa depan kedua putriku."


"Enggak ada niatan nikah lagi?" tanya Dion hati-hati.


Mendengar hal itu, Ariel tersenyum.


"Biarlah waktu yang menjawabnya. Aku serahkan semuanya kepada yang di atas. Biar Allah yang menentukan apa yang terbaik buat aku."


Kali ini, Dion mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Sebelumnya aku minta maaf, jika kata-kata ku kali ini mungkin akan membuat kamu sedih dan kecewa. Tapi jujur aja, aku ingin membahagiakan istriku. Apakan boleh jika Diana tinggal bersama kami untuk sementara waktu? Setidaknya satu Minggu." ujarnya dengan pelan.


"Boleh. Bagaimanapun Luna juga punya hak untuk tinggal bersama dengan Diana."


"Tapi bagaimana dengan kamu?" tanya Dion.


"Aku akan menghabiskan waktu bersama dengan Dania."


"Dania?"


"Ya kebetulan dia juga tinggal bareng aku selama beberapa hari ke depan. Hanya saja, saat ini Dania tengah di bawa jalan-jalan oleh Noah."


"Oh. Syukurlah. Jadi kamu gak kesepian," balas Dion, merasa senang karena tadinya ia berfikir jika Ariel akan kesepian jika Diana tinggal bersama mereka. Tapi mendengar Ariel masih ada Dania, Dion punya sedikit merasa lega


"Iya, Alhamdulillah."


Saat berbincang, Ariel masih menatap ke arah putrinya yang tampak bahagia bermain sama Luna. Melihat Diana tertawa, hati Ariel menghangat. Sejujurnya, ia sedikit kesepian misal jauh dari putrinya, tapi ia gak mau egois. Karena Luna juga berhak akan Diana.

__ADS_1


__ADS_2