
Di kamar sebelah, Laras hanya sendirian di sana, tak ada yang menemani. Karena saudaranya yang tadi mengantarkan dia ke rumah sakit langsung pulang setelah membayar administrasinya dan setelah tau jika Laras gak kenapa-napa dan kandungannya pun aman walaupun tadi sempat pendarahan cukup banyak, tapi masih tertolong.
Di kamar itu, Laras hanya bisa menangis, ia kesepian karena tak ada satu orang pun yang datang menemaninya, ia juga malu kepada semua oranga atas apa yang ia lakukan. Ia juga gak punya muka lagi untuk bertemu mereka semua terutama pada Luna dan keluarganya sendiri.
Laras yakin mereka pasti sangat membencinya karena dirinya sudah menghancurkan rumah tangga sahabatnya sendiri, yang sudah banyak menolongnya.
"Maafin aku, Lun. Aku benar-benar minta maaf. Aku menyesal sudah menikamĀ kamu dari belakang, tapi aku hanya ingin mencicipi sebagian kebahagiaan yang kamu miliki. Aku tau caraku salah, tapi aku gak punya cara lain, hanya ingin yang ada dalam fikiranku. Hanya dengan menggoda Mas Ariel, aku bisa menikmati kekayaannya, memiliki dia seutuhnya. Memiliki tubuhnya dan juga cintanya. Aku ingin merasakan apa yang kamu rasakan selama ini. Aku sadar, aku salah. Aku minta maaf hiks hiks ...."
Laras menangis, ia menyesali apa yang sudah terjadi. Ia sadar, perbuatanya seratus persen salah, dan wajar jika ia mendapatkan perlakuan tidak baik dari semua orang. Siapa yang akan diam aja, jika ada wanita dengan teganya menghancurkan wanita lainnya. Apalagi dirinya itu pelakor buat sahabatnya sendiri.
"Sekarang aku harus kemana? Aku gak mungkin kembali ke Jakarta setelah apa yang terjadi, Luna pasti gak akan mengizinkan aku tinggal di rumah itu. Dia pasti akan mengusir aku. Aku juga sudah berhenti dari resto, jika pun aku gak berhenti, Luna pasti akan memecat aku dari sana. Oh Tuhan ... apa yang harus aku lakukan ke depannya? Bapak sama Ibu juga pasti akan marah sama aku, entah hukuman apa yang akan mereka berikan sama aku, setelah apa yang terjadi. Aku sudah mempermalukan mereka, aku juga sudah banyak bohong padanya."
__ADS_1
Laras berbicara sendiri, ia juga mengingat kebohongan-kebohongan yang ia selalu ia lontarkan setiap kali mereka vidia call. Yah, Laras bilang gajinya untuk bayar rumah dan buat kebutuhan yang lain. Gajinya juga sedikit, sehingga Laras gak bisa mengirim uang buat mereka, padahal rumah sudah di bayar oleh Luna. Dan uangnya buat foya-foya. Malah ia mendapatkan banyak uang dari Ariel, dan semua uang itu, selalu buat mempercantik dirinya, semakin mahal perawatannya maka akan semakin bagus hasilnya. Terbukti sekarang, kulitnya putih bersih, mulus. Tak lagi kusam seperti dulu. Dari rambut, sampai ujung kaki semuanya terlihat cantik dan menawan. Karena memang sekali perawatan, Laras bisa menghabiskan puluhan juta. Tentu uang itu dari Ariel, jika bukan Ariel yang membayarnya, dia gak akan sanggup untuk melakukan perawatan itu.
Dulu sebelum ia belum bisa memikat hati Ariel, ia hanya menggunakan perawatan biasa aja yang tidak menguras kantong, dan hasilnya walaupun bagus tapi agak lambat, berbeda saat ia menggunakan perawatan spesial dari salon ternama. Hasilnya amat sangat jauh berbeda.
Laras lalu ingat dengan kandungannya, ia mengelus perutnya dengan pelan. "Mama harus berjuang mendapatkan hakmu, sayang. GAk papa, walaupun semua orang membenci Mama, asal saat kamu sudah lahir, kamu punya orang tua yang lengkap. Ya, aku harus berjuang sekali lagi, tapi kali ini aku harus memikirkannya matang-matang. Mungkin aku harus meminta maaf sama Luna agar dia mau berbagi suami denganku. Walaupun aku kecewa sama Luna karena dia sudah mempermalukan aku di depan banyak orang, tapi aku gak bisa berbuat apa-apa saat ini. Yang penting Luna mau menerima keadaaanku, dan mau menjadikan aku madunya. Aku gak mungkin kehilangan Mas Ariel, karena aku terlanjut menyukainya terlebih saat ini aku tengah hamil buah hatinya. Tuhan ... semoga Luna mau menerima aku menjadi bagian dari keluarganya," ucap Laras memohon sama Tuhan.
Laras melihat di mejanya, ada hp dan dompetnya di sana. Ada secarik kertas juga yang ditujukan padanya.
Hanya itu kata-kata yang ditulis, ia tau itu tulisannya lestari, adiknya.
Ia bersyukur masih ada yang peduli padanya walaupun cuma satu orang, setidaknya ia tau, dari banyanya orang yang menghina dan mencaci maki dirinya, masih ada satu orang yang peduli padanya.
__ADS_1
Laras mengambil HPnya dan mengirim pesan pada Ariel.
"Mas, ada di mana? Aku di rawat di rumah sakit. Kamu ke sini ya," ketiknya. Laras emang belum tau jika Ariel tengah ada di rumah sakit juga bahkan mereka ada di rumah sakit yang sama hanya beda ruangan saja.
Namun sayangnya, chatnya gak di balas dan hanya centang satu. Ia lalu menelfonnya, namun nomernya gak aktiv.
"Mas Ariel kemana sih, apa dia gak tau kalau aku sakit?" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Apa dia gak khawatir sama aku dan janin yang ada dalam kandungan aku. Apa dia membenciku saat ini sampai dia pun enggan buat ngabarin aku, dan jenguk aku ke sini. Apa mungkin Mas Ariel tengah bersama Luna dan mereka baikan?" Laras merasa hatinya begitu sakit, jika apa yang ada dalam fikirannay itu benar adanya jika Ariel dan Luna sudah berbaikan dan saling memaafkan.
"Tapi apakah Luna dengan mudahnya memaafkan Ariel. Tapi yang aku lihat terakhir kali, Ariel bahkan tidak diperbolehkan untuk menemui Luna. Bahkan Ariel juga mendapatkan pukulan dari Lintang. Apa yang sebenarnya terjadi. Aku harus bisa segera keluar dari rumah sakit agar aku tau, di mana Mas Ariel berada, dia gak boleh ninggalin aku aja, jika dia gak peduli sama aku, setidaknya dia harus peduli sama anak yang ada dalam kandungan aku."
__ADS_1
Laras terus berusaha menelfon Ariel, tapi percuma saja, jika nomernya gak aktiv. Akhirnya Laras hanya mengirim banyak pesan dan berharap, jika nomernya sudah aktiv. Ariel membaca semua pesan darinya.