Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
15 Bab Menuju Tamat


__ADS_3

Sesampai di apartemen Ariel langsung memandikan Diana dan memakai baju terbarunya. Setelah Diana selesai mandi, memakai baju warna navy dan duduk santai di depan tivi, barulah gantian Ariel yang mandi dengan super cepat. Yang penting bersih dan gak bau, toh ia mandi sehari kadang lebih dari tiga kali, jadi ia yakin, tubuhnya gak akan kotor atau bau. Karena ia juga tidak berkeringat, hanya saja ia emang risih setelah perjalanan jauh dan tidak segera mandi.


Setelah selesai mandi dan ganti baju, Ariel menemani putrinya nonton tivi di kamar.


Namun baru aja duduk, hpnya berbunyi ada telfon dari Luna. Ariel pun langsung mengangkatnya.


"Assalamualaikum."


" .... "


"Alhamdulillah aku dan Diana sudah sampai rumah."


" .... "


"Iya."


" .... "


"Oke, Waalaikumsalam."


Setelah selesai telfonan dengan Luna, Ariel menaruh hpnya di meja samping tempat tidur, lalu ia mematikan tivinya dan menyuruh Diana untuk tiduran di sampingnya.


Lalu Ariel mengambil buku cerita yang menceritakan tentang kisah 25 Nabi. Di apartemen itu ada banyak buku cerita, sengaja Ariel beli banyak agar setiap malam, Ariel bisa menceritakan cerita yang berbeda-beda. Sedangkan buku yang sudah pernah di ceritakan, akan di tumpuk dan setiap bulannya, akan di kirim ke panti asuhan agar mereka pun juga bisa merasakan seperti yang Diana rasakan.


Diana pun mendengarkan cerita yang ceritakan oleh Papanya. Sesekali Diana bertanya, memang Diana tidak faham sepenuhnya, namun mendengar Papanya cerita, seperti bunga tidur untuknya.


Dan belum selesai Ariel membaca buku ceritanya, Diana pun sudah tidur terlelap.


Ariel menaruh buku ceritanya dan mencium kening Diana. Baru setelah itu, ia menyusul Diana pergi ke alam mimpi.


Jam empat sore, Noah datang bersama dengan Dania. Saat Noah datang, Ariel tengah membuatkan kue lapis seperti yang Diana mau. Sebenarnya Ariel tinggal beli aja, tapi karena Diana ingin kue buatannya, jadi Ariel bikin sendiri, caranya sangat mudah. Apalagi dengan adanya media sosial membuat semuanya menjadi lebih mudah.


Setelah kue lapis jadi, Ariel menaruhnya di meja. Sambil nunggu dingin, Ariel di bantu oleh Diana membersihkan tempat yang kotor, yang tadi di pakai untuk bikin kue.


Sebenarnya Diana tidak bantu dalam artian yang sebenarnya, dia hanya main air di wastafel. Bahkan saat tadi Ariel bikin kue pun, Diana cuma main tepung hingga dapurnya sedikit berantakan. Tapi tak apa, masalah dapur kotor, tinggal di bersihkan asal dirinya bisa lihat tawa bahagia Putrinya.


Saat Ariel dan Diana ingin menyantap kue lapis yang sudah dingin, tiba-tiba bell apartemen berbunyi.


"Bentar Papa buka pintu dulu ya," tutur Ariel lembut sambil mengelus kepala Diana yang tertutup hijab.


"Iya, Papa." balasnya.

__ADS_1


Diana menunggu dengan diam, walaupun dia sangat ingin memakan kue lapis yang ada di hadapannya, namun ia tak akan memakan sendirian. Ia akan bersabar menunggu Papanya datang.


Tak lama kemudian, Diana mendengar suara Dania dan Om Noah.


"Oom, ia," panggil Diana dengan wajah cerianya.


"Wah, Diana sudah pulang ya. Oom sangat kangen sama Diana," ujar Noah sambil mencium pipi chubby Diana.


Diana turun dari kursi dan memeluk saudara beda Ibu itu. Dania pun membalas pelukan Diana. Walaupun anak kecil, mereka sangat akrab sekali. Mungkin karena batin mereka yang seakan mengerti jika mereka itu satu saudara, atau karena rasa nyaman hingga membuat mereka semakin akrab.


Setelahnya, mereka makan kue lapis bareng-bareng. Rasanya tidak terlalu manis karena Diana kurang suka yang manis-manis. Bahkan tadi Ariel juga tidak memakai gula, melainkan susu dengan merk ternama.


Dan rasanya sangat pas, apalagi bentuknya yang lucu, warna putih, pink, kuning dan hijau. Membuat kue lapis itu semakin mengunggah selera.


Setelah menghabiskan makanannya, Noah pamit pulang karena hari ini, ia akan pulang ke rumah utama. Rumah kakek neneknya.


Setelah Noah pergi, Ariel pun menemani kedua putrinya itu untuk bermain. Namun lima belas menit setelah Noah pulang, Dion dan Lestari datang. Ternyata mereka sudah pulang dari kampung dan kedatangan mereka tentu untuk menjemput Dania. Karena Dion dan Lestari sudah sangat merindukan putri kecilnya itu.


Ariel tampak kecewa, baru beberapa menit mereka bersama lagi, tapi kedua orang tua angkat Dania sudah datang. Mau gak mau, Ariel pun menyerahkan Dania pada mereka.


Emang susah rasanya buat mereka bertiga menikmati waktu bersama dengan waktu yang cukup lama karena akan ada aja gangguannya.


Setelah Dion, Lestari dan Dania pergi. Apartemennya kembali sepi, karena mereka hanya berdua.


--


Ariel tentu tak ingin melewatkan pengajian itu, apalagi pengajian itu di isi oleh ustadz favoritnya.


Saat tiba di Masjid Ar Rahman, saat Ariel menuntun Diana untuk masuk ke dalam. Tiba-tiba ia melihat dompet berwarna coklat muda.


"Ini dompet siapa?" tanya Ariel merasa heran.


Karena takut dompet itu jatuh ke tangan orang yang salah, Ariel pun mengamankannya. Nanti setelah habis pengajian, dia akan memberikan dompet itu kepada pihak pengurus masjid, agar nanti misal ada yang nyari, mereka bisa pergi ke pengurus masjid. Karena biasanya misal kehilangan sesuatu, cukup mereka datang ke pengurus masjid, nanti akan di bantu oleh pihak pengurus.


Namun baru beberapa melangkah, Ariel melihat seseorang yang seperti tengah mencari sesuatu.


Ariel pun menghampirinya.


"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya Ariel. Mendengar suara seseorang yang ia kenal, la langsung mendongak.


Wanita itu merasa devaju, karena laki-laki yang ada di hadapannya ini, adalah laki-laki yang ia temui di masjid kemaren.

__ADS_1


Dan laki-laki yang datang di mimpinya tadi malam. Lalu sekarang Tuhan mempertemukan mereka kembali di depan masjid.


"Halo, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Ariel karena merasa jika perempuan itu malah bengong menatapnya.


"Astaghfirullah. Maaf, Mas. Saya lagi cari dompet," tuturnya merasa malu.


"Dompet? Warna apa?"


"Warna coklat muda."


"Seperti ini?" tanya Ariel sambil memperlihatkan dompet yang ia pegang.


"Benar, Mas. Itu dompet saya," ucapnya.


"Baiklah, ini saya kembalikan. Bisa di cek dulu dalamnya, takutnya ada yang hilang," ucap Ariel sopan.


Wanita itu pun segera mengeceknya dan Alhamdulillah, semuanya masih aman.


"Ada yang hilang?" tanya Ariel.


"Alhamdulillah, enggak Mas," balasnya sambil melihat ke arah Diana yang dari tadi ada di samping Ariel.


"Halo dede manis, siapa namanya?" tanya wanita itu sambil berjongkok.


Namun Diana malah bersembunyi di belakang Ariel.


"Maaf, putriku pemalu," ucap Ariel tak enak hati karena Diana malah bersembunyi. Alih alih membalas sapaan wanita yang ada di hadapannya, Diana malah seperti orang ketakutan.


"Gak papa, Mas. Sekali lagi terima kasih ya, dan maaf sudah merepotkan."


"Iya gak papa."


Dan setelah itu, wanita itu pun pamit pergi. Ariel dan Diana pun juga pergi dari sana, mereka berjalan memasukin pintu masjid khusus pria. Sebelah kanan khusus wanita dan sebelah kiri, khusus pria. Jadi emang di bedakan, sehingga tidak campur aduk.


Ariel duduk di pinggir jendela, sehingga puntrinya bisa duduk di pangkuannya dan jika lelah bisa berdiri sambil melihat pemandangan di luar jendela. Ariel juga sudah menyiapkan alat tulis sehingga Diana bisa sekalian belajar menullis, jadinya ia tidakĀ  hanya duduk diam mendengarkan ceramah. Ariel tau, jika Diana pasti akan bosan jika hanya duduk diam tanpa melakukan apa-apa, jadi sebelum pergi, Ariel sudah menyiapkan semuanya, ia rela membawa tas kecil ke sana kemari, dan semua itu berisi keperluan Diana, dari tiga dot yang berisi susu, beberapa mainan kesukaan Diana, buku tulis, pensil dan buku gambar. Semuanya di sediakan.


--


Jam setenah sebelas akhirnya selesai, banyak orang yang memilih untuk langsung pulang, ada juga yang memilihd iam di sana sambil mengobrol satu sama lain, mungkin karena hari Minggu, jadi banyak yang nyantai di masjid. Juga ada yang memilih untuk menghabiskan waktunya untuk berdzikir dan membaca Al Qur'an.


Ariel sendiri memilih untuk menunggu adzan dhuhur sambil menemani putrinya yang masih fokus corat coret buku gambarnya.

__ADS_1


Sedangkan tampa sepengetahuan Ariel, seseorang tengah menatap mereka berdua sedari tadi, memang Ariel dan Diana ada di depan masjid, di teras. Sedangkan orang itu melihat dari dalam masjid, karena kacanya putih, jadi orang itu bisa melihat dengan jelas bagaimana Ariel begitu telaten dengan anak yang ada di sampingnya.


Andai dirinya tidak malu, mungkin ia akan memilih menghampirinya, tapi ia gak bisa. Karena ia takut jika Ariel itu suami orang, ia takut jika dirinya di tuduh pelakor. Bagaimanapun ia tak ingin menghancurkan kebahagiaan wanita lainnya dengan merusak rumah tangga mereka. Jadi ia memilih diam dan melihatnya dari jauh.


__ADS_2