
Hari ini Luna datang lagi ke apartemen Ariel karena sejak tadi malam, Diana terus memanggil Papanya. Luna yang tidak tega pun langsung mengantarkan Diana ke apartemen Papanya pagi harinya.
"Maaf ya Mas, sudah nganter Diana pagi-pagi sekali," tutur Luna tak enak hati.
"Tak apa, lagian aku sangat merindukan Diana." ucapnya dengan wajah lesu karena akhir-akhir ini kurang tidur.
"Bagaimana? Sudah ketemu sama Laras dan anaknya?" tanya Luna dengan hati-hati.
Ariel menggelengkan kepalanya, "Belum."
"Kamu gak ke rumah orangtuanya?"
"Sudah tapi Laras gak ada di sana."
"Kemana ya kira-kira?"
"Entahlah. Semuanya berantakan seperti ini. Aku bingung."
"Sabar ya Mas." Luna tak tega sebenarnya tapi mau bagaimana lagi, ia juga gak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
"Mm. Kamu bagaimana sama Dion?"
"Aku sudah menerimanya."
"Owh. Lalu kapan nikah?"
"Aku memutuskan untuk tunangan dulu. Nanti misal umur Diana sudah genap satu tahun, baru aku nikah sama Mas Dion."
"Oh." Nyesek, pasti. Tapi Ariel berusaha untuk sabar dan ikhlas. Toh Luna bukan lagi miliknya jadi wajar jika dia menikah dengan pria lain yang lebih baik darinya.
"Minggu lalu aku membawa Diana ke Bandung."
"Lalu gimana tanggapan mereka?"
"Iya sudah gak papa. Kita gak bisa memaksa Diana buat menyukai orang lain yang gak dia suka. Kamu sudah ngasih tau orang tua kamu tentang lamaran Dion?"
"Sudah, dan dalam waktu dekat ini. Aku akan pulang ke Jember. Soalnya Mas Dion dan kedua orang tuanya mau berkunjung ke rumah orang tua aku buat melamar secara resmi sekalian tunangan di sana. Sama bahas masalah tanggal pernikahan nanti."
"Semoga semuanya berjalan dengan lancar ya."
__ADS_1
"Aamiiin. Oh ya Mas kapan mau ke rumah? Bibi Imah sama Bibi Neni kangen. Anak-anak resto juga kangen," tanya Luna
Mendengar hal itu, Ariel hanya bisa menghela nafas kasar.
"Aku gak tau." balas Ariel.
"Kenapa?" tanya Luna melihat wajah Ariel yang sendu.
"Aku malu.
"Malu kenapa?"
"Malu sama mereka semua. Malu sama Bibi Neni, malu sama Bibi Imah. Malu sama anak-anak resto juga. Aku malu buat ketemu mereka. Sejak kejadian itu hidupku bener-bener hancur Lun. Harga diriku seperti di injak-injak, di permalukan dan seperti di telan-jangi ramai-ramai di depan publik. Aku malu, sangat-sangat malu. Kamu memutar semua vidio itu bukan hanya di depan keluarga, tapi di depan seluruh keluarga besar aku yang ikut datang, aku juga malu sama keluarga besar kamu, malu sama orang tua dan keluarga besar Laras. Malu sama semua orang yang ada di dunia ini. Aku benar-benar merasa gak punya muka rasanya. Terlebih saat bertemu teman aku. Aku malu sama mereka semua. Apalagi vidio yang kamu putar ternyata ada yang merekamnya dan menguploadnya di sosial media. Sehingga rekan kerja aku, teman aku, sahabat aku, dosen aku dulu, guru aku dulu, dan semua orang bisa melihat dengan jelas aib aku, kejelekan aku. Aku malu. Bahkan jika bukan karena Diana sakit, aku mungkin memilih untuk tetap di Dubai. Di sini aku merasa tertekan, aku lebih nyaman tinggal di sana. Hatiku merasa damai. Aku juga belum ketemu sama keluarga besar aku baik dari pihak Mama atau dari pihak Papa. Karena mereka masih membenci aku dan menganggap aku itu seperti bangkai, hama yang harus di jauhi." Ariel mengungkapkan isi hatinya sambil menitikkan air mata.
Mendengar ucapan Ariel, Luna menyesali perbuatannya. "Maaf ya Mas. Maaf sudah bikin kamu malu seperti ini."
"Aku gak nyalahin kamu kok, wajar kamu melakukannya karena kamu sakit hati. Aku gak papa, aku ikhlas." balas Ariel dengan tersenyum getir.
"Tapi gara gara aku .... "
__ADS_1
"Semua sudah terjadi, menyesal pun percuma. Yang penting ke depannya kita harus hati-hati. Jangan sampai karena rasa ego dan ingin balas dendam, malah bikin banyak hati terluka dan ikut kena dampaknya. Misal kamu gak suka sama sikap seseorang, semuanya bisa dibicarakan dengan baik-baik. Atau kamu bisa pilih untuk pergi dan meninggalkan orang itu. Tak perlu sampai bongkar aib segala. Setiap manusia itu pasti pernah berbuat salah, setiap orang pasti punya aibnya masing-masing. Hanya saja kita tidak tau karena Tuhan menyembunyikannya. Kita tidak perlu menjadi sok suci, merasa paling benar hingga menganggap orang lain lebih rendah dari kita." tutur Ariel dan Luna pun menganggukkan kepalanya.
Mereka mengobrol sampai sejam lamanya dan setelah itu, Luna pamitan pulang. Sedangkan Diana, kini mulai tinggal bersama Ariel lagi.