Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Harapan Ariel


__ADS_3

Ariel memilih menginap di rumah sakit, sedangkan orangtuanya Luna, Lintang dan Dion memilih untuk pulang. Awalnya Dion ingin menemani Luna di sana tapi karena Luna tidak mengizinkan, akhirnya ia pun terpaksa pulang ke penginapan yang sudah ia sewa untuk beberapa hari ke depan.


Ariel juga sudah memberitahu Noah dan Ardi jika dirinya belum bisa pulang. Ariel juga meminta maaf karena tidak bisa menghadiri pernikahan Ardi dan Lestari yang akan di adakan besok setelah selesai mengurus semua berkasnya di KUA setempat.


Diana juga setiap kali bangun, yang ia cari adalah Papanya. Dan setelah itu, seperti anak yang manja seusianya, Diana akan minta untuk di peluk terus. Mungkin Diana takut jika Ariel akan menghilang lagi.


Luna pun hanya bisa diam, jujur ia sakit melihat putrinya yang seperti memilih Ariel ketimbang dirinya yang sudah melahirkannya.


Diana lebih nyaman berada di pelukan Papanya ketimbang dirinya.


Apakah emang benar jika anak perempuan itu lebih dekat dengan Papanya ketimbang Mamanya?


Entahlah, memikirkan hal itu hanya membuat kepala Luna jadi pusing sendiri.


"Papa," panggil Diana.


"Iya sayang," jawab Ariel sambil mengelus rambut lebat Diana.


"Aus," ujarnya.


"Mau minum susu apa air putih?" tanya Ariel lembut.


Di usianya yang bahkan belum genap satu tahun, Diana di kasih kepintaran yang luar biasa. Dan Ariel sangat bangga akan hal itu.


"Air," jawabnya dengan nada manja membuat Ariel terkekeh melihatnya. Ia sangat gemas sekali, melihat sikap Diana yang seperti itu. Ia menoel hidung Diana membuat Diana cemberut namun pada akhirnya ia tertawa, mungkin ia berfikir Papanya lagu ngajak bercanda.


Luna memberikan air putih pada Ariel. "Terimakasih," tutur Ariel sambil mengambil air itu dari tangan Luna.


Lalu Ariel pun membantu Diana untuk minum sampai tiga tegukan, setelah selesai Ariel menaruh air itu di meja samping brankar.


"Ain oneka," ujarnya.


"Baiklah." Ariel mencari boneka namun ternyata tak ada boneka di sana.


"Aku gak bawa boneka ke sini, tadi buru-buru jadi gak kepikiran buat bawa boneka," ucap Luna memberitahu.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Ariel menunduk mengerti.


Lalu ia mengambil hpnya dari saku celananya sambil memeluk Diana, tanga kirinya memeluk Diana sedangkan tangan kanannya mengetik sesuatu di hp yang super duper mahal itu.


"Sabar ya, Nak. Ntar lagi bonekanya sampai." ucap Ariel, ia menaruh hpnya kembali. Lalu mengajak Diana mengobrol santai. Sedangkan Luna hanya diam memperhatikan keduanya.


Ada rasa sesak melihat kebersamaan mereka berdua. Seharusnya ia ikut bergabung, bercanda bersama mereka. Bukan hanya diam memperhatikan.


"Andai, Mas Ariel masih jadi suamiku. Apakah mungkin aku akan mendapatkan kebahagiaan bersama mereka? Diana juga tidak akan menjadi anak broken home lagi. Dan tentunya aku bisa ikut bermain, bukan cuma diam memperhatikan. Tapi aku sudah bertunangan dengan Mas Dion, dan bentar lagi aku juga akan menikah dengannya. Aku tidak bisa mengabaikan hubungan aku dengan Mas Dion hanya demi kembali sama laki-laki yang sudah menorehkan luka yang cukup dalam di hati aku. Walaupun aku menginginkan kebahagiaan putriku, tetap saja aku tidak mungkin membiarkan kebebasan aku terenggut dan kebahagiaan aku jadi tergadaikan." batin Luna. Ia terus memperhatikan Ariel dan Diana. Mereka terlihat sangat bahagia walau tanpa dirinya.


Tak lama kemudian ada yang mengetuk pintu, Luna pun segera membuka pintunya dan ternyata ada kiriman paket. Tapi kenapa cepat sekali, bahkan tak sampai dua puluh menit sejak Diana menginginkan boneka.


Luna pun mengambilnya dan mengucap terimakasih, Luna gak perlu bayar karena orang itu mengatakan, jika semua pesanan itu sudah dibayar.


Setelah orang itu pergi, Luna memberikan boneka itu pada Diana.


Diana tentu bahagia sekali, melihat tumpukan boneka yang ada di hadapannya.


Ada lima belas boneka dengan berbagai ukuran dan juga berbagai macam pilihan. Ada hellokitty, Doraemon, kelinci, beruang, berbie dan banyak lagi lainnya.


Dan semua boneka itu di taruh di atas brankar, di hadapan Diana.


"Kamu mau mesen apa? Soalnya aku mau beli makanan?" tanya Luna memecahkan keheningan.


"Enggak usah belum, aku sudah mesen makanan barusan. Mungkin bentar lagi sampai."


Baru juga bicara, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Dan benar saja, ada seorang pria berumur tiga puluhan mengantar banyak makanan serta beberapa minuman kesukaan Luna.


Melihat hal itu, Luna berkaca-kaca. Karena Ariel bahkan masih ingat dengan sangat jelas makanan, cemilan dan minuman kesukaannya.


"Terimakasih," ujarnya sambil memberikan sebagian makanan itu buat Ariel.


Ada juga camilan buar Diana, semuanya lengkap tanpa kurang satu pun.


"Hem," balas Ariel.

__ADS_1


Dan setelah itu, Luna dan Ariel pun makan dalam diam. Jika Luna makan dengan hati yang sesak, berbeda dengan Ariel, ia makan sambil memperhatikan putrinya yang asyik main boneka.


Ariel sudah menawarkan Diana camilannya, sayangnya Diana menolak dan Ariel tidak memaksanya. Jika Diana lapar atau gangguk, dia pasti akan minta sesuatu padanya.


Selesai makan, Ariel langsung ambil wudhu dan sholat. Selama sholat, Ariel meminta Luna buat duduk di samping brankar buat jaga-jaga takutnya Diana akan jatuh lagi.


Ariel berdizkir sebentar, baru setelah itu ia gantian menjaga Diana. Dan memberikan waktu buat Diana untuk sholat juga.


Karena sesibuk apapun kita, jangan pernah meninggalkan sholat apalagi dengan sengaja.


Sehabis sholat, Luna duduk kembali dan memainkan hpnya. Karena ia juga bingung kalau cuma duduk diam tanpa ada yang bicara.


Jam setengah sepuluh malam, barulah Diana selesai main. Dan ia meminta Ariel memeluknya. Ariel pun dengan senang hati menaruh Diana di pangkuannya lalu mengelus punggung Diana dengan pelan.


Tak lama setelah itu, Diana tertidur nyenyak. dengan hati-hati sekali, Ariel menaruh Diana di atas brankar.


"Kamu gak ngantuk?" tanya Ariel.


"Enggak," jawab Luna.


"Kamu kalau mau tidur, tidur aja di sofa panjang itu."


"Lalu kamu?"


"Aku akan tidur di sini aja sambil jaga Diana. Aku gak bisa jauh-jauh dari Diana takutnya tengah malam Diana merengek mencari aku." balasnya. Ya, Ariel memilih tidur sambil duduk asal bisa berdekatan dengan Diana. Ia rela tidur dengan posisi itu yang penting ia bisa memastikan Diana tidur dengan sangat nyenyak.


"Baiklah."


Luna tidak membantahnya, dan langsung merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang tak jauh dari brankar.


Sedangkan Ariel yang memang belum ngantuk, hanya diam memperhatikan wajah putrinya itu.


Ia mengelus rambut Diana, sambil mendoakan dalam hati. Yah, ia berharap jika Diana akan terus di kasih kesehatan, umur panjang, kebahagiaan, menjadi anak yang Sholehah, berbakti sama orang tua, terutama taat pada semua ketentuan Allah dan juga menjadi anak yang bisa bermanfaat buat dirinya sendiri, dan untuk banyak orang di luar sana.


Jangan sampai Diana tumbuh menjadi anak yang membangkang. Nauzubillah, jangan sampai itu terjadi pada Diana maupun Dania.

__ADS_1


Setiap selesai sholat, tak banyak yang ia minta selain doa untuk Mamanya yang sudah tiada. Kesehatan buat Papanya dan kebaikan buat putra-putrinya.


Karena baginya mereka jauh lebih penting dari apapun. Ia tidak minta harta banyak, karena ia sudah punya itu. Ia hanya ingin putri-putrinya tumbuh menjadi anak yang membanggakan dan hidup tanpa neka neko. Selalu di jalan yang lurus dan takut pada Tuhan. Hanya itu.


__ADS_2