
Habis sholat dhuhur, Dion meminta Bibi Imah untuk pulang saja, padahal Bibi Imah bahkan belum masuk ke dalam sama sekali dan mengucapkan selamat pada Luna. Namun karena tak ingin membantah, setelah memberikan dua tas besar yang ia pegang dari kemaren, Bibi Imah langsung pergi dari sana dengan rasa kecewa yang teramat besar.
Sejak kemaren, Bibi Imah bahkan tidak di perdulikan keberadaannya, cuma duduk diam di luar, lalu buat apa dirinya di ajak, jika bahkan dirinya aja di kesampingkan oleh mereka dan hanya di suruh jaga tas saja.
"Kenapa aku menyesal ya memilih Nak Dion untuk jadi pendamping Non Luna? Mending Tuan Ariel, walaupun cuek, namun Tuan Ariel dulu tidak pernah mengacuhkan aku dan Neni. Walaupun terkesan dingin, tapi dia diam-diam selalu memperhatikan para ART nya. Setiap pulang dari luar kota atau luar negeri, Tuan Ariel juga tidak pernah lupa membelikan oleh oleh buat aku dan Neni. Dia selalu memberikan bonus yang besar buat aku dan Neni setiap akhir bulan. Bahkan saat ada keluarga aku yang sakit di kampung, Tuan Ariel juga memberikan uang pengobatan buat mereka."
"Walaupun sedikit mengekang dan banyak aturan ini itu, tapi Tuan Ariel tidak pernah sampai merendahkan para ART nya. Dia juga tidak protes dan selalu makan apa yang di sajikan di atas meja. Serta tidak menyulitkan para ARTnya. Aaa ... kenapa setelah kejadian ini, semua kebaikan Tuan Ariel seakan termpampang nyata di depan mataku. Memang benar ya, penyesalan itu ada di belakang. Dari awal aku selalu bela Non Luna, tapi sekarang Non Luna seakan pro ke Nak Dion. Dan tak lagi peduli sama ART gak kayak dulu lagi," keluh Bibi Imah.
Bahkan sepanjang jalan ia naik bus umum pun, Bibi Imah terus menggerutu.
Sesampai di rumah pun, Bibi Imah terus mengerutu
"Sudah pulang, bagaimana keadaan Non Luna?" tanyanya.
"Gak tau," jawab Bibi Imah.
"Loh gak tau, tapi sudah melahirkan?" tanya Bibi Neni kepo.
"Hmm ... sudah."
"Kok kamu dari rumah sakit badmood gitu, ada apa?" tanya Bibi Neni karena tidak biasanya Bibi Imah itu badmood, karena Bibi Imah terkenal sabar luar biasa.
__ADS_1
"Kamu tau kan, aku berangkat itu dari kemaren pagi, bahkan sampai gak sarapan pagi. Iya kan?" tanyanya.
"Iya, terus."
"Aku tuh dari kemaren pagi, jaga di luar kamar Non Luna. Awalnya sendirian sampai malam kayak orang bodoh, duduk sambil jaga dua tas. Gak ada tuh Nak Dion menawarkan aku makanan atau apapun, dia sempat keluar sebentar kemaren, beli sesuatu. Gak ada tuh aku di tawarin. Bahkan sampai malam, sampai perutku kerongcongan. Akhirnya aku pergi ke kantin buat beli makanan sambil bawa tas besar itu, takut hilang. Berat, tapi tetap aku bawa. Setelah itu aku balik lagi duduk sendirian, sambil di lihatin ama dokter dan suster yang lewat di depan aku." ucap Bibi Imah dengan kesal.
" Aku baru ada temannya setelah aku memberi kabar pada Tuan Noah tentang Non Luna yang mau melahirkan. Awalnya aku fikir, mereka sudah di beritahu, ternyata gak. Parah banget Non Luna. Tau gitu aku dari kemaren pagi atau kemaren siang, ngasih tau Tuan Noah. Aku sampai ngerasa bersalah banget, kok untungnya aku curiga tadi malam, karena sampai malam, Tuan ARiel dan Tuan Noah gak datang-datang makanya aku ngasih tau mereka, ternyata benar, mereka gak tau apa-apa."
"Setelah Tuan Ariel, Tuan Noah dan Tuan Ardi datang barulah aku ada temannya. Tapi setelah tadi pagi mereka pulang dan Nak Dion masuk ke dalam aku sendirian lagi, dan barusan Nak Dion baru nyapa aku, cuma mengambil dua tas dan menyuruh pulang gitu aja. ENggak ada tuh pura pura bilang, mau lihat Non Luna bentar sebelum pulang atau apa kek? Padahal aku juga penasaran pengen lihat keadaan Non Luna secara lagsung mengingat tadi malam keadannya kritis. Apa gak jengkel aku. Dari kemaren pagi sampai sekarang, aku gak di hiraukan sama sekali, di tanya sudah makan apa gak? Nak Dion cuma mikir diri sendiri dan fokus mencari perhatian Non Luna."
"Jadi kamu gak lihat keadaan Non Luna dan dede bayinya?"
"Enggak."
"Dulu bukannya Nak Dion itu baik sekali ya?" tanyanya.
"Iya saat Non LUna masih istri orang, dia baik banget, biar Non LUna memperhatikan dia kali, sekarang Non Luna dan Tuan ARiel sudah resmi bercerai, jadi sifat jeleknya mulai tampak dikit-dikit. Emang manusia itu gak ada yang sempurna ya, gak ada manusia yang gak punya sifat buruk. Ini baru permulaan. Entah bagaimana nasib Non Luna kalau sudah nikah sama Nak Dion. Apalagi Non LUna, janda anak satu. Semoga aja Nak Dion beneran tulus menyayangi mereka berdua," ujar Bibi Imah dan Bibi Neni pun mengamini.
"Keadaan Tuan ARiel gimana?"
"Huh, kasihan lihat hidup Tuan Ariel yang sekarang. Lumpuh, gak bisa bicara, karena tubuhnya kaku. Dia cuma diam aja di kursi. Tuan besar Ardi dan Tuah Noah pun juga sepertinya tidak respek lagi sama aku, mungkin karena mereka tau, aku pro ke Non Luna. Jadi, wajar mereka bersikap sseperi itu. Dan aku tidak mempermasalahkannya, Toh, setidaknya mereka masih mau negur aku dan tidak diam diaman kayak ornag asing."
__ADS_1
"Anaknya Non Luna perempuan apa laki?" tanya Bibi Neni.
"Aku denger-denger sih anaknya perempuan." sahut Bibi Imah.
"Hmm ... kalau perempuan, dia seharusnya menjadi cinta pertama ayahnya. Kelak Tuan Ariel juga kan yang jadi wali nikahnya. Jadi, Non Luna gak bisa memutus hubungan darah antara anak dan ayah." ujar Bibi Neni
"Jika pun laki, tetap Non Luna gak boleh memutus hubungan mereka, karena sampai mereka mati pun, ikatan di antara mereka tidakk akan pernah bisa terputus." papar Bibi Imah
"Jangan-jangan yang ngasih nama anaknya, Nak Dion. Dan Non Luna iya iya aja, Non LUna kayak bucin ke Nak Dion ya," tuturnya. Entah kenapa, mereka berdua malah bergosip tentang majikannya sendiri.
"Yang selingkuh siapa, yang nikah duluan siapa? Katanya aku dengar-dengar juga, mereka akan menikah setelah masa iddah selesai. Toh tadi pagi Non Luna juga sudah dapat surat cerai. Tinggal nunggu masa iddahnya aja." ucap Bibi Imah
"Jangan-jangan mereka sama-sama selingkuh dan kita tidak tahu, hanya saja Non Luna dan Nak Dion main cantik, sehingga tidak ada yang menyadarinya. Kamu ingat gak dulu waktu kita ikut ke Jember, mereka lengket banget kan, apalagi saat berhenti di beberapa tempat wisata, mereka terus bergandengan tangan, makan dan minum bareng pakai satu tempat, itu kan sebelum Non Luna membongkar aib Tuan Ariel. Nah di depan kita aja, mereka kayak gitu, apalagi di belakang kita. Apalagi setelahnya, Nak Dion jemput Non Luna dari jember, di bawa ke Bandung. Selama perjalanan dari jember ke Bandung, Non LUna juga bilang mereka menginap di hotel. Yakin gak ngapa ngapain? Belum lagi di Bandung, seminggu lebih satu hari, baru setelah itu, di antara ke Jakarta." ujar Bibi Neni yang semakin panas.
Makhlum cewek, kalau sudah cerita, jiwa semangatnya langsung berkobar-kobar jika sudah menceritakan aib orang lain. Tak peduli itu aib majikannya sendiri.
"Hmm aku juga dengar dari dokter yang ada di sana, mereka kayak suami istri saling manggil sayang dan berpelukan di dalam." ucap Bibi Imah.
"Kamu kok bisa denger gitu?"
"Waktu itu dokternya bisik bisik, kebetulan mereka lewat depan aku, dan ketika melihat ke arah kamar Non Luna, barulah mereka bergosip, Mereka sempat berhenti bentar di depan kamar Non Luna. Makanya aku denger, kalau Non Luna dan Nak Dion udah lengkat sampai semua dokter ngira mereka suami istri. Untungnya semuanya terungkap setelah Non LUna mengalami kritis parah, Nak Dion langsung di keluarkan dari sana, dan Tuan ARiellah yang di suruh masuk ke dalam ruangan. Jadi gantian. Dan setelah itu, barulah Non Luna bisa melewati kritisnya. Bisa jadi, Non Luna kritis juga karena sudah durhaka sama suaminya. Dari dulu kita sering menyalahkan Tuan ARiel, tapi kita lupa bahwa Non Luna juga salah di sini," balas Bibi Imah yang baru menyadari kesalahannya.
__ADS_1
"Hmm ... tapi nasi sudah jadi bubur. Semoga Tuan Ariel mendapatkan pengobatan terbaik di luar sana dan cepat sembuh hingga bisa menata kembali kehidupannya yang sudah morat marit dan semoga Tuan Ariel bisa mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik, yang bisa menghargai dirinya. Dan jika memang Nak Dion adalah pilihan Non Luna. Kita cukup doakan saja yang terbaik buat mereka dan lihat, apakah Non Luna jauh lebih bahagia sama Nak Dion atau sama Tuan Ariel dulu, sebelum Laras datang ke rumah ini," tutur Bibi Neni dan Bibi iMah pun menyetujuinya.
Sebagai ART, mereka cuma bisa menonton bagaimana kisah selanjutnya kehidupan Luna dan Ariel setelah mereka berpisah. Dan siapa yang hidupnya akan bahagia setelah ini, Luna, atau Ariel. Atau dua duanya bahagia, atau dua duanya akan sama sama menderita. Entahlah!