
Dua Minggu sudah Laras berada di rumah orang tuanya, selama dua minggu tidak ada yang menyapa Laras kecuali Lestari. Laras juga tak di izinkan untuk keluar, bahkan satu langkah aja keluar dari pintu, maka Rahman tak akan segan-segan memukulnya hingga tubuh Laras penuh lebam sana sini. Setiap malam, Laras akan menangis, mengeluh kesakitan, karena rasa sakit yang kemaren-kemarennya aja belum sembuh, tapi di tambah lagi dengan rasa sakit yang baru. Bahkan pernah dua hari kemaren, Laras gak di kasih makan, karena ketahuan menghubungi Ariel, dan akhirnya Rahman pun mengambil Hp itu dan membantingnya ke lantai hingga hpnya tak lagi bisa di hidupkan karena layarnya pecah.
Laras hanya bisa menangis meraung-raung, karena dari Hp itu ia bisa menghubungi Ariel dan memberitahu keadaannya saat ini yang tengah di siksa oleh ayahnya sendiri, bahkan sang Ibu pun enggan untuk menolongnya dan hanya melihatnya sekilas lalu pergi ke kamarnya atau pergi keluar untuk bekerja.
Lestari juga tak bisa menolong banyak, karena jika ia membantu Laras, maka Rahman tak segan-segan memukulnya juga dan itu membuat Lestari takut untuk membantu Laras. Lestari hanya bisa membantu membawakan makanan dan camilan untuk Laras, bagaimanapun saat ini, Laras tengah hamil dan jika Laras kelaparan, bisa membuat janin yang ada dalam kandungannya ikut kena dampaknya.
Setiap hari, Laras hanya bisa menangis, menahan rasa sakit baik secara fisik maupun batin. Sakit fisik karena di siksa ayahnya, sakit batin karena sampai detik ini Ariel seakan tak peduli padanya, bahkan nomernya juga di blokir, sampai hpnya di banting pun, Laras belum bisa menghubungi Ariel sama sekali. Pernah ia memakai hp Lestari, namun beberapa detik kemudian, nomer Lestari pun ikut di blokir.
"Mbak, makan dulu ya," ucap Lestari, ia merasa kasihan dengan saudaranya itu, baru dua Minggu tinggal di rumah ini, tapi Laras sudah kehilangan berat badannya, bahkan Laras terlihat Kurus, mungkin karena ia sering kali menangis siang malam, menangisi Ariel yang tak lagi peduli padanya, menangisi nasibnya, masa depannya, dan juga menangisi fisiknya yang sakit seluruh tubuh terutama bagian punggung. Bahkan Laras tak bisa tidur terlentang, harus tidur miring karena jika tidur terlentang akan terasa sakit dan perih.
Lestari setiap hari, beberapa kali mengompres memar itu biar cepat hilang dan yang luka, di kasih obat merah, biar cepat kering dan sembuh. Laras pun tak menolak kebaikan Lestari, karena memang ia butuh perhatian Lestari untuk membantu dirinya mengatasi rasa sakit dan panah di sekujur tubuhnya. Untungnya sampai detik ini, kandungannya baik-baik aja, karena Laras selalu melindungi perutnya sehingga tak sampai kena amukan Rahman-Bapaknya.
__ADS_1
"Makasih ya." Laras mengambil nasi dari Lestari, hanya nasi aja, tanpa lauk pauk. Karena Rahman tak mengizinkan Laras makan dengan lauk pauk. Sebenarnya Lestari kasihan, tapi mau bagaimana lagi. Pernah ia nyuri beberapa lauk pauk, eh ketahuan dan akhirnya Lestari pun di maki habis-habisan bahkan ia juga mendapatkan tamparan keras dari Rahman. Bahkan sang Ibu pun hanya tersenyum sinis saat melihat Lestari di pukul. Lestari gak pernah menyangka, bahwa orang tuanya tega bermain kasar seperti ini hanya karean Laras sudah mempermalukakn mereka.
Memang apa yang di lakukan oleh Laras salah, tapi tak bisakah jika mereka tak menyiksa Laras sampai seperti ini. Lestari sendiri bahkan tak tega, andai ia punya keberanian dan punya banyak uang, ia pasti akan membawa Laras pergi dari rumahnya yang bak nerakan ini.
Laras makan dengan lahap, walaupun hanya nasi, setidaknya bisa menghilangkan rasa perih dan janin yang ia kandung baik baik aja, bagaimanapun janin itu sangat penting baginya buat menjerat Ariel. Ia sudah melangkah jauh seperti ini, rela mengkhianati sahabatnya, memberikan kehomatannya yang ia jaga selama ini hanya buat Ariel seorang, di permalukan di dunia nyata maupun dunia maya, mendapatkan hinaan dan cacian dari banyak orang, rela mendapatkan pukulan dari Rahman dan juga rela menderita seperti ini, siang dan malam. Lalu haruskan ia berhenti di tengah jalan setelah apa yang terjadi. Enggak, dia gak akan menyerah begitu saja, ia emang merasa bersalah pada Luna, tapiĀ nasi sudah jadi bubur. Toh Luna gak akan mungkin mau kembali ke Ariel, jadi sudah pasti Ariel akan menjadi miliknya, seutuhnya. Ia rela berkorban apa saja, asal bisa mendapatkan apa yang dia mau.
"Pelan-pelan, Mbak. Nanti tersedak," tutur Lestari mengingatkan. Ia juga mengambil dua gelas air agar Laras bisa kenyang.
"Enggak papa, Bapak gak ada maksud buat mukul Mbak Laras. Bapak seperti itu karena dia tertekan sama seperti Ibu. Di luar sana, banyak warga, tetangga yang terus menghina Bapak dan Ibu, jangankan mereka, aku pun juga kena. Dan kata-katanya itu loh pedes banget dan bikin hati panas. Bahkan di dunia maya, juga masih rama postingan Mbak Laras dan Mas Ariel. Bapak dan Ibu benar-benar sangat tertekan, aku pernah melihat Bapak dan Ibu menangis sehabis sholat malam, aku juga ikut menangis mendengar percakapan mereka. Aku gak tau harus bela siapa, aku marah dan juga kecewa sama Mbak Laras, gara-gara Mbak Laras, kehidupan aku dan orang tua kita jadi gak bisa damai seperti dulu, aku bahkan gak berani masuk sekolah karena temen-temen aku terus menghina aku, makanya aku milih bolos beberapa kali hingga memilih untuk gak masuk sama sekali. Aku gak sanggup jika seharian terus mendengar hinaan dari mereka, bahkan temen-temen cowok aku sampai bilang mau bayar aku agar aku mau tidur bareng mereka. Padahal aku gak tau apa-apa, tapi aku ikut kena dampaknya. Makanya aku mau berhenti sekolah aja, aku mau ikut kejar paket C, toh sama aja kan. Aku aja rasanya gak sanggup, apalagi Bapak sama Ibu. Kalau bukan karena harus kerja, mungkin mereka juga memilih untuk tetap diam di rumah agar tak mendengar hinaan dari mereka semua. Tapi melihat Mbak Laras di pukul sampai lebam gini, aku juga gak tega. Ingin rasanya aku bawa Mbak Laras kabur dari rumah ini agar gak di pukulin lagi, tapi aku bisa apa. Sungguh, aku pun delima, semuanya kini merasakan rasa sakit. Andai waktu bisa di putar ulang, aku pasti akan mencegah Mbak Laras pergi ke Jakarta, atau biar aku aja yang ke Jakarta buat cari uang," ucap Lestari menitikkan air mata.
Mendengar hal itu, Laras pun merasa bersalah.
__ADS_1
"Maafin aku ya, gara-gara aku kamu di bully di sekolah," ujar Laras meminta maaf.
"Gak papa, mungkin sudah takdir aku kayak gini," balas Lestari sambil menghapus air matanya.
"Tapi apa kamu yakin mau berhenti sekolah, tinggal beberapa bulan lagi loh kamu lulus."
"Aku yakin, dari pada aku stres dan gila menghadapi mereka. Mending aku berhenti aja dan ikut paket C."
Mereka terus mengobro satu sama lain, Laras merasa bersalah atas apa yang menimpa adik dan orang tuanya, tapi sekali lagi, Laras gak bisa mundur dari apa yang menjadi tujuannya. Ia masih berharap bisa mengubah alur kehidupannya, ia ingin bersatu dengan Ariel, laki laki pertama yang sudah mengambil kehormatannya dan laki-laki pertama yang Laras cintai.
Ia akan memperjuangkan sampai titik darah penghabisan, ia yakin selama dia mau berusaha dan berdoa, ia bisa mendapatkan Ariel dan setelah itu mereka akan hidup bahagia bersama anak-anak mereka.
__ADS_1