
Noah yang mendapat kabar jika Luna kembali ke Jakarta bersama Dion, langsung memberitahu Ariel. "Riel, bangun," ucapnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Ariel yang tengah tidur.
"Ada apa?" tanyanya dengan mata tertutup. Dari kemaren ia hanya tiduran dan hanya makan jika di ingatkan oleh Noah.
"Luna balik ke Jakarta hari ini," ucapnya yang membuat Ariel langsung membuka mata.
"Kamu kata siapa?" tanya Ariel, ia bahkan langsung duduk dan menghadap ke arah Noah.
"Kata orang kepercayaan akulah. Emang aku dirimu, yang taunya cuma buat masalah dan bingung mau ngapain. Ujung ujungnya cuma ngurung diri di kamar dan malas keluar," sindir Noah.
"Luna pulang naik apa?" tanyanya lagi tanpa menghiraukan ucapan Noah.
"Naik mobil online."
"Pulang bareng siapa?"
"Dion, sopir pribadinya."
"Dion? Bukannya dia sudah aku pecat?" tanyanya bingung.
"Kayaknya Dion ada rasa sama istrimu. Bahkan dia pulang dari luar negeri, langsung pergi ke sini menemui Luna. Kamu tau gak, kalau Dion juga mentransfer uang ke istrimu seratus juta kemaren buat pengajian anakmu yang masih dalam perut Luna itu? Enggak tau kan?" tanyanya menyindir.
"Belum lagi tadi dia datang membawakan banyak oleh oleh buat Luna, Lintang dan orang tuanya. Gila, kan? Belum jadi mantu dah, dia mau memanjakan Luna dan keluarganya. Beda sama kamu, kalau kamu boro boro ngasih barang brandet, lah Luna mau pulang kamupung aja, kamu tahan tahan, mau nelfon pun, kadang kamu larang. Tapi Dion, dia bahkan cuma bertemu beberapa kali, langsung akrab dengan keluarganya Luna, bahkan Dion dan Lintang pun sangat lengket kayak adik kakak," ucapnya membuat hati Ariel memanas.
"Makanya kalau punya banyak uang itu jangan buat foya foya atau kasih ke wanita lain, mending kasih ke istrimu atau keluarga istrimu, biar makin deket dan makin sayang. Lihatlah sekarang, kamu bahkan kayak orang asing di mata keluarga Luna, tapi Dion, yang orang asing, malah kayak keluaganya sendiri, sangking akrabnya," tutur Noah membuat dada Ariel kembang kemping menahan rasa amarah.
"Jangan-jangan selama ini, Dion yang sudah bantu Luna buaat bongkar perselingkuhan aku dan Laras," ujarnya membuat Noah mengernyitkan dahi.
"Ih apaan sih, gak nyambung deh. Kenapa kamu malah menyalahkan Dion? Rahasia kamu kebongkar ya karena emang sudah waktunya, lah kamu ngapain kikuk kikuk di rumah sendiri, di saat Luna ada di rumah itu. Kamu yang bikin salah, kok orang lain yang kamu salahkan. Bukannya memperbaiki diri, malah cari kambing hitam," ujar Noah membuat Ariel bungkam.
"Mereka berangkat jam berapa?" tanyanya.
__ADS_1
"Sejam yang lalu," balasnya kesal. Karena Ariel gak sadar sadar akan kesalahannya.
Ariel segera beranjak dari tempat tidurnya, lalu pergi ke kamar mandi untuk sikat gigi dan cuci muka, ia gak perlu mandi karena ia terlalu malas untuk mandi.
Setelah itu, ia mulai beres-beres karena hari ini ia akan balik juga ke Jakarta.
"Kamu mau kemana?" tanya Noah.
"Ke Jakarta." jawabnya cuek.
"Sekarang?" tanyanya lagi.
"Hm," ujarnya malas buat menjawab pertanyaan Noah.
"Lah ,sia lan. Kalau kamu balik ke Jakarta hari ini, terus aku gimana?" tanyanya kesal. Ia segera beres beres juga, ya kali dia di sini sendirian. Emang mau ngapain.
Padahal Noah rela tinggal di Jember, menginap berhari-hari di penginapan demi menemani saudaranya, dan sekarang Ariel mau balik ke Jakarta, dirinya gak di ajak. Emang saudara sia lan, pancen. Bukannya terima kasih malah dirinya mau di tinggal.
"Aku gak tau," sahutnya membuat Noah yang mendengarnya menjadi geram.
"Kamu gak mau lihat Laras dulu sebelum kembali ke Jakarta?" tanyanya.
Ariel menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Aku takut, jika Laras tau aku balik ke Jakarta, ia akan merengek untuk minta ikut."
"Ya kalau dia merengek, ya biarin aja. Emang dia anak kecil, yang harus di didiemin. Yang penting kan niat kamu baik datang ke sana ingin lihat keadaan Laras tuk terakhir kalinya, sebelum kamu ke Jakarta. Setidaknya kamu harus tau jika saat ini Laras baik baik aja. Bagaimanapun di dalam perutnya Laras, ada darah daging kamu, buah hati kamu, anakmu. Yang gak bisa di putus gitu aja," ucap Noah memberitahu, ia takut Ariel menyesal karena pergi tanpa pamitan dulu ke Laras.
"Sudahlah, aku malas jika harus memikirkan dia. Aku yakin dia baik baik aja," ucapnya berusaha meyakinkan dirinya. Walaupun beberapa kali ia mimpi Laras datang padanya dengan tubuh yang penuh luka. Namun Ariel mengabaikan mimpi itu dan percaya jika Laras gak mungkin terluka karena dia bersama keluarganya. Ia yakin, Laras gak mungkin di siksa sampai berdarah-darah.
__ADS_1
"Iya sudah, yang penting aku sudah mengingatkan kamu. Jika kamu nanti menyesal, itu bukan urusan aku lagi," ujarnya. Noah gak mau ambil pusing, toh itu bukan masalahnya. Yang penting sebagai saudara, dia sudah mengingatkan. Agar Ariel tak lagi mengalami penyesalan di akhir.
Setelah beres-beres, Ariel dan Noah pun bergegas untuk pergi ke Jakarta naik mobil. Sebelum itu, Noah mengembalikan kunci kepada sang pemilik penginapan sekalian pamit dan juga masalah biaya biaya, sudah di bereskan semuanya. Jangan sampai mereka pergi, meninggalkan hutang, sedikit apapun hutangnya, tetaplah akan menjadi hutang dan akan di tagih di akhirat jika tidak segera di selesaikan di dunia.
Sepanjang jalan, Ariellah yang menyetir karena Noah terlalu malas. Mungkin ia akan menyetir nanti gantian jika Ariel sudah merasa lelah dan mengantuk. Karena gak mungkin Ariel nyetir sendiri dari Jember ke Jakarta. Bisa bisa akan terjadi kecelakaan karena menahan rasa lelah dan ngantuk.
Sepanjang jalan, Ariel hanya diam, gak mengeluarkan suara sama sekali, bahkan saat Noah mengajak bicara pun, Ariel hanya menjawab dengan deheman membuat Noah merasa kesal saja.
Noah akhirnya memutar musik, untuk menemani perjalanan mereka. Sambil menikmati musik pop, Ariel juga membuka sosial medianya dan menscrolll mencari postingan yang menarik dari teman-temanya.
Sedangkan Ariel hanya sesekali melirik ke arah Noah yang sibuk sendiri dengan dunianya.
"Seharusnya aku yang pulang bareng Luna, bukan malah dia pulang bareng cowok lain," ujarnya yang sedari tadi bungkam. Mendengar kata kata Ariel, Noah menoleh.
"Kenapa? Cemburu? Bukannya pas datang ke Jakarta, kamu juga datang berdua sama Laras. Anggap aja impas, lagian walaupun Luna berdua sama Dion pulangnya, tapi ingat, di dalam mobil itu juga ada sopir, dan mungkin sopirnya juga bawa temen karena gak mngkin sopirnya itu nyetir sendirian berjam jam lamanya, jadi mereka gak berdua di mobil. Tapi ada orang lain juga," balasnya membuat Ariel tak bisa berkata kata karena memang kenyataannya seperti itu.
"Sakit, kan? Saat tau Luna dekat dengan laki laki lain, itu yang di rasakan Luna saat kamu dekat dengan Laras. Apalagi sampai berhubungan layaknya suami istri. Huh, kalau aku jadi Luna mungkin aku akan frustasi berat. Sayangnya, Luna wanita yang tegar, dia bisa menyikapi masalahnya dan tau cara membalas seorang pengkhianat dan pelakor. Bahkan Luna sudah seperti di film ikan terbang. Bagaimana seorang istri memviralkan suami dan selingkuhannya. Ais, jangan jangan Luna emang mengambil ide dari kisah nyata di film ikar terbang?" tanyanya menduga duga.
"Oh ya by the way, kamu pulang ke Jakarta pulang kemana?" tanyanya.
"Enggak mungkin pulang ke rumah itu, kan?" imbuhnya membuat Ariel diam.
"Bukankah sesuai perjanjian rumah dan resto itu sudah jadi milik Luna. Walaupun belum ada keputusan dari pengadilan, tapi tetap saja, siapa yang ingkar janji, maka saat itu juga rumah dan resto itu jadi milik Luna, iya kan?" tanyanya sambil menoleh ke arah Luna.
"Aku gak tau, aku akan coba pulang ke rumah itu dulu, tapi jika Luna mengusir aku, aku akan menginap di hotel di dekat sana," jawabnya dengan wajah datar.
"Hhh, baiklah. Itu artinya aku juga akan menginap di hotel yang sama denganmu. Nanti bayarin ya hotel aku, aku rela loh ikut kamu ke sana ke sini demi nemenin kamu. Aku gak mau, kalau kamu sampai lepas dari pengawasan aku, lalu melakukan hal bodoh yang menyakiti diri kamu sendiri, ataupun menyakiti orang lain. Biasanya kan kalau orang lagi patah hati itu kadang fikirannya buntu, makanya aku gak bisa ninggalin kamu gitu aja, walaupun sebenarnya aku juga sudah bosan dua puluh empat jam bareng kamu," tuturnya blak-blakan, tanpa memikirkan perasaan Ariel.
"Iya ya, dari tadi kamu cerewet banget kayak cewek," ucap Ariel yang telinganya panas mendengar ocehan sepupunya itu.
"Astaga, tega banget kamu ngomong gitu, baiklah aku diam." Noah mengunci mulutnya, dan tak bersuara lagi hingga suasana kembali sepi. Hanya suara lagu yang tetap terdengar untuk menemani perjalanan mereka.
__ADS_1
Noah dan Ariel bersyukur karena adanya jalan tol, sehingga perjalanan akan lebih cepat. Mereka gak kebayang jika tidak ada jalan tol, mungkin untuk sampai jakarta bisa membutuhkan lebih banyak waktu.