Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
11 Bab Menuju Tamat


__ADS_3

Jam setengah delapan malam, saat Ariel ingin memesan makanan di resto di lantai bawah, tiba-tiba ia mendengar suara bell berbunyi. Ariel pun segera berjalan ke arah pintu dan membukakanya.


"Assalamualaikum," sapa wanita itu sopan.


"Waalaikumsalam. Ada apa ya, Mbak?" tanya Ariel tanpa basa basi.


"Ini tadi saya masak kebanyakan. Mungkin masnya mau," tutur wanita itu tanpa menatap ke arah Ariel. Sedangkan di tangannya, ia memegang nampan yang berisi makanan.


"Ah ya, terima kasih Mbak." Ariel tak mungkin menolak rezeki, ia pun menerimanya dengan senang hati.


"Semoga Mas dan putrinya suka ya, itu gak pedes kok. Sengaja gak bikin pedes, karena biar bisa di makan oleh putrinya juga," tuturnya dengan sopan. Wanita itu berfikir jika Ariel duda, mengingat mereka hanya tinggal berdua saja.


"Sekali lagi terima kasih. Entah bagaimana saya harus membalasnya," balas Ariel sopan.


"Kalau gitu, Mas bisa nikahi saya."


"Ha!" Ariel kaget, tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh wanita yang ada di hadapannya.


"Ya, apakah Mas duda?" tanya wanita itu terus terang.


"Iya, saya duda." akunya.


"Kalau gitu, apakah saya bisa melamar Mas untuk jadi suami saya?" tanyanya sekali, masih berbicara di depan pintu,


"Hah?" Ariel masih tidak tau harus berbuat apa, dia tidak kenal dengan wanita di hadapannya dan tiba-tiba saja dia di lamar gitu aja.


"Ini kartu nama saya, Mas bisa simpan. Jika mas setuju, saya akan kirim biodata saya secepatnya," tuturnya.


"Saya pamit, Assalamualaikum." Wanita itu segera pergi setelah memberikan nomer kontaknya. Mungkin ia pun merasa grogi, namun demi kepuasan hati, ia memilih untuk memberanikan diri mengajukan lamaran pada laki laki yang diam diam telah membuat dirinya kagum.


Setelah wanita itu pergi, barulah Ariel merasa kembali ke dunia nyata.


"Ini hari apa sih, kenapa kau di buat terkejut seperti ini?" tanyanya. Tak ingin lama-lama, Ariel segera menutup pintunya, menaruh nomer kontak wanita itu di atas meja, dan setelahnya, ia membawa nampan berisi nasi dan lauk pauk itu di hadapan Diana, agar mereka bisa makan malam bersama. Tak lupa sebelum makan, Ariel menyiapkan air terlebih dahulu agar tidak tersedak saat makan.


---


Jam sembilan malam, saat Diana sudah terlelap, suara bell apartemen berbunyi lagi, jadi Ariel segera pergi untuk membuka pintu.


"Noah, tumben jam segini datangnya?" tanya Ariel melihat wajah kusut Noah.


"Aku kesel di rumah," ujarnya sambil nyelonong masuk ke dalam dan duduk di sofa.


"Kesel kenapa?" tanya Ariel sambil menutup pintu kembali dan duduk di samping Noah.


"Papa dan Mama menjodohkan aku tanpa sepengetahuan aku, bahkan mereka tidak ajak aku rundingan."


"Kenapa gak nolak?"


"Andai aku bisa, pasti sudah aku tolak. Nyatanya aku gak bisa. Mereka terus nekan aku." ujarnya kesal.


"Om sama Tante kenapa sih? Kok bisa nekan kamu gitu, lagian kan yang mau nikah itu kamu, kenapa malah mereka yang menentukan seenaknya?" entah kenapa, Ariel ikut ikutan kesal. Bagaimanapun ia sangat menyayangi Noah, bahkan ia menganggap Noah seperti saudara kandungnya sendiri.


"Entahlah, mentang mentang Mama yang melahirkan aku, Mama terus memaksa aku seenaknya. Aku capek banget, Riel. Aku bahkan bukan anak kecil lagi, aku sudah dewasa. Tapi kenapa, Mama terus memperlakukan aku kayak gini, bahkan memaksa aku untuk melakukan sesuatu yang tidak aku sukai. Mau sampai kapan Mama memperlakukan aku kayak boneka, mereka bahkan tidak pernah menyakan kabar aku, jika pun nelfon, pasti butuh uang. Aku sudah seperti sapi perah mereka." Noah mengungkapkan isi uneg unengya, Ariel yang gak tega pun hanya bisa menghela nafas.


"Kalau kamu kekurangan uang, aku bisa banatu kamu."


"Bukan uang yang jadi masalah aku, Riel. Aku hanya ingin di sayangi sama mereka, tapi nyatanya apa. Mereka selalu aja pada egois sendiri, bahkan setelah aku bisa mencari uang sendiri, mereka setiap minggu nelfon aku dan selalu minta isikan uang mereka dengan nominal besar. Aku tidak masalah dengan uang, tapi bisakah mereka sedikit aja memberikan aku perhatian? Dan sekarang, mereka nyuruh aku pulang dan tiba tiba mereka meminta aku menikahi seseorang. Dan parahnya, wanita itu sudah hamil dua bulan."

__ADS_1


"APA?!" Ariel di buat kaget dengan ucapan Noah barusan.


"Ya, dia hamil. Dia sudah mengakui semuanya ke aku. Dia hamil karena di perko-sa saat pulang sekolah."


"Emang dia umur berapa?"


"Baru tujuh belas tahun, dia masih kelas dua SMA."


"Oh Tuhan, kasihan sekali."


"Hemm, waktu itu dia nunggu papanya di depan gerbang. Sampai setengah jam lamanya tidak muncul juga, lalu katanya ada ketua kelas yang kebetulan lewat di depannya dan berencana untuk mengantarkan dia ke rumahnya. Tanpa fikir panjang, dia langsung mengiyakan, karena dirinya juga lelah dan juga lapar. Tapi sayangnya ketua kelas itu malah membawa wanita itu ke tempat yang sepi dan memperko-sanya, sayangnya wanita itu gak langsung bilang ke orang tuanya dan memilih untuk menutup diri hingga sebulan lebih, saat wanita itu tidak datang bulan, barulah dia merasa curiga dan membeli tespack, dan tiba tiba Mamanya datang dan mengetahui semuanya. Wanita itu sempat di tampar beberapa kali sampai jatuh pingsan. Sedangkan ketua kelas itu sudah pindah ke luar negeri. Ternyata setelah insiden itu, dia dan orang tuanya pindah ke luar negeri dan melanjutkan sekolah di sana. Dan alasan kenapa Mama dan Papa mau menerima menantu yang hamil di luar nikah, itu yang aku bingung. Padahal dulu mereka bahkan benci setengah mati saat tau kamu membuat hamil wanita lain, tapi kenapa sekarang aku malah di jodohkan dengan wanita yang juga sudah hamil. Bukankah ini seperti lelucon?" tanya Noah frustasi.


"Ya, seharusnya kan mereka mencari calon menantu dari wanita yang berpendidikan tinggi seperti yang mereka mau?"


"Nah itu tuh, bukankah mereka ingin aku menikah dengan wanita yang sepadan bahkan kalau bisa lebih dari aku. Tapi kenapa ini malah sebaliknya."


"Sudahlah, jangan di fikirkan. Mungkin memang dia itu jodoh kamu."


"Tapi aku gak mau nikah sama wanita yang sudah di sentuh pria lain."


"Terus maumu gimana, apa kamu ingin membantah omongan orang tua kamu sendiri?"


"Jujur, iya. Tapi aku juga tidak punya keberanian melakukan itu, terlebih perjodohan itu sudah di dengar oleh banyak orang, termasuk keluarga besar ktia, hanya saja masalah kehamilan, hanya aku dan orang tua aku aja yang tau. Karena aku gak mungkin menceritakan aib ini pada orang lain, kan?"


"Hmm kamu benar."


"Andai aku bisa menggantikan posisi kamu, mungkin akan aku lakukan." ujar Ariel tak tega melihat saudara sepupunya yang seperti tengah frustasi berat.


"AkuĀ  juga tidak akan memberikannya walaupun kamu mau, aku gak ingin kamu menganggung semuanya karena aku." tutur Noah.


"Tapi kenapa harus kamu yang menjalaninya, Noah. Kamu orang baik, sedangkan aku, aku sudah melakukan dosa besar hingga membuat Laras hamil. Seharusnya aku yang ada di posisi kamu, bukan malah sebaliknya."


Ariel pun hanya bisa diam, apa yang bisa ia lakukan, sedangkan Noah sudah berkata seperti itu.


"Noah, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan padamu. Hanya saja, mendengar kisahmu, aku jadi bimbang," tuturnya.


"Emang kamu mau ngomong apa?" tanya Noah penasaran, ia melihat ke arah Ariel yang menghela nafas dalam seakan, dia juga tengah mempunyai masalah yang lebih berat dari dirinya.


"Tadi seseorang melamar aku," tuturnya dengan nada rendah, namun Noah masih cukup mendengar dengan jelas.


"Melamar gimana, melamar kerja maksudnya, mau jadi babbysitternya Diana atau asissten rumah tangga?" tanya Noah yang salah tanggap.


"Bukan itu maksud aku."


"Terus?"


"Dia melamar aku pengen jadi istri."


"Hah!" Mulut Noah sampai terbuka karena sangking kagetnya.


"Hei, ngapain sampai buka mulut lebar lebar," kesal Ariel membuat Noah langsung menutup mulutnya pakai tangan kanannya.


"Hehe maaf, aku sok banget. Kayaknya telingaku lagi bermasalah deh," ujarnya sambil membersihkan telingannya yang mungkin lagi kotor.


"Telinga kamu gak bermasalah."


"Jadi beneran, ada wanita yang terang terangan lamar kamu?"

__ADS_1


"Hmm, makanya aku bingung. Harus gimana. Ini pertama kalinya aku di lamar wanita. Lagian kan seharusnya, pria yang lamar wanita, ini malah sebaliknya. Mana dadakan lagi, aku sampai bingung rasanya."


"Wanitanya cantik, gak?" tanya Noah penasaran.


"Aku mana tau."


"Loh, kok kamu bisa gak tau?"


"Kan dianya tertutup."


"Tertutup gimana?"


"Dia pakai cadar."


"Wah, sama seperti wanita yang aku kagumi, dia juga pakai wanita cadar, sayangnya sampai detik ini aku belum tau, wajah dan namanya seperti apa, orang orang yang aku suruh malah seringkali kehilangan jejak, sepertinya dia wanita yang cerdik. Sehingga orang orang aku tidak bisa mencari tau tentangnya. Dan kini, di saat aku ingin memperjuangkan wanita yang mampu membuat hatiku bergetar, tiba-tiba aku malah mendapatkan kenyataann yang menyakitkan."


"Kenapa kamu gak memperjuangkan dia saja? Dan menolak permintaan orang tuamu."


"Kamu seperti gak tau orang tua aku saja."


"Hmm ... "


Mereka terus berbincang, membicarakan masalah wanita.


"Terus bagaimana, kamu akan menerima dia?"


"Aku gak mungkin gegabah, NOah. Aku harus sholat istikhoroh dulu, meminta petunjuk sama Allah. Jujur, jika aku di tanya, apakah aku siap menjalani rumah tangga lagi, maka jawabannya, NO. Tapi jika Tuhan sudah mendatangkan jodoh aku lebih cepat, aku bisa apa. Bisa jadi wanita itu, Allah datangkan untuk bantu aku mendidik putriku. Siapa yang tau, bahwa mungkin di balik aku nikah lagi. Allah menyiapkan kejutan tak terduga untukku, iya kan?"


"Iya sih, emang dia orang mana?"


"Sebelah aku."


"Sebelah mana?"


"Sebelah apartemen aku."


"What, berarti dia orang kaya dong."


"Mana aku tau."


"Pasti dia orang kaya karena yang tinggal di sini kan pasti orang dari kalangan atas. Orang kayak aku, mana mampu beli apartemen di sini. Jangankan beli, nyewa aja, kayaknya aku gak akan mampu."


"Ck, kamu itu selalu aja merendah."


"Bukan merendah, tapi emang kenyatannya begitu," ujar Noah yang membuat Ariel geleng geleng kepala. Tapi apa yang di ucapkan oleh Noah, adalah kebenaran. Sekeras apapun ia bekerja, nyatanya, ia gak akan bisa menandingi Ariel yang kerjaannya siang malam bersenang senang dengan putrinya.


Jika Noah bekerja pakai tenaga dan otak. Berbeda dengan Ariel, yang memilih untuk bekerja pakai otak saja, sedangkan tenaganya untuk hal lain.


"Tapi jika aku boleh ngasih saran, lebih baik kamu terima aja, Riel. Kasihan Diana, dia juga pasti butuh sesosok seorang Ibu yang selalu mendampinginya dua puluh empat jam. Dan seperti kata kamu kemaren, dengan kamu menikah, Luna tidak lagi berharap sama klamu. Dia akan fokus sama pernikahannya, dan tidak lagi mengenang kenangan manis di antara kalian."


"Huefft, entahlah. Tapi aku gak bisa ceroboh begitu saja. Aku harus mencari tau dulu tentangnya, sholat istikhoroh dan berfikir dengan matang. Aku gak ingin ada perceraian lagi untuk kedua kalinya."


"Ya sih, jangan sampai nanti istri yang ini hamil, melahirkan anak, eh cerai lagi. Kan gak lucu, misal kamu punya anak banyak dengan ibu yang berbeda semua." goda Ariel membuat Ariel kesal.


"Fikiran kamu itu loh,' ucap Ariel cemberut.


"Haha, tapi sumpah sih aku gak bisa bayangkan jika itu terjadi. Diana dan Dania aja, mereka anak anak kamu dengan ibu yang berbeda, misal kamu nikah lagi dan punya anak lalu cerai, bukannya itu artinya kamu punya tiga anak dengan tiga ibu yang berbeda."

__ADS_1


"Kamu ngomong apa sih, kok malah makin ngelantur. Sudahlah, aku mau tidur dulu, ngantuk," tutur Ariel dan pergi dari sana. Sedangkan Noah masih tertawa melihat wajah cemberut Ariel.


__ADS_2