
Di saat Luna memilih mengurung di kamar karen merasa bersalah, dan Papa Ardi mengurung di kamar karena terlalu malas bertemu banyak orang yang ada di rumahnya, berbeda dengan Ariel. Saat ia bangun dari pingsannya. Ia begitu histeris. Ia terus meronta untuk bertemu Mamanya. Sayangnya Mama Ila sudah tiada, bahkan Mama Ila sudah di kubur beberapa jam yang lalu. Mendengan hal itu, Ariel berteriak bak kesetanan. Ia menghancurkan semua benda yang ada di sekitarnya. Noah membiarkan itu terjadi, karena ia tau saat ini Ariel tengah frustasi dan mencoba untuk melampiaskan amarahnya.
Noah tau, Ariel pasti kecewa. Ia sudah merasa bersalah karena Mamanya meninggal karenanya, di tambah orang-orang tadi menghalang-halangi Ariel bertemu Mamamanya tuk terakhir kalinya. Siapa yang tidak akan marah, siapa yang tidak akan kecewa. Ariel sebagai putra satu satunya, tidak diperbolehkan bertemu Mama kandugnnya sendiri. Bahkan kini Mamanya sudah berada di dalam tanah tanpa menunggu Ariel sadar dari pingsannya.
Ariel terus mengambuk dan berteriak seperti orang kesetanan, ia memanggil mamanya dan terus meminta maaf. ARiel menyakiti dirinya sendiri, ia menonjok dinding, kaca dan apa saja hingga tangannya terluka dan mengeluarkan darah. Melihat hal itu, Noah berusaha untuk menenangkanya tapi ARiel seperti orang yang sudah di kuasai hawa nafsu. ARiel keluar dan mengusir semua orang yang ada di sana.
Bagi Ariel, mereka semua munafik. Mereka sok sedih padahal mereka juga menjadi penyebab Mamanya tiada.
Ariel mengusir mereka, bahkan Ariel gak segan memukul siapa saja yang ada di rumahnya, menyiram minuman yang ada di meja ke arah mereka dan melemparkan gelas ke mereka yang masih bertahan berada di rumahnya. Melihat Ariel yang seperti orang kesurupan, akhirnya mereka memilih untuk pulang ke rumah masing-masing. Apalagi di antara mereka ada yang terluka karena kena lemparan gelas.
Bahkan Laila pun juga ikut kena lemparan gelas, Laila yang tadinya sangat garang di depan Luna, kini menciut di depan Ariel. Apalagi Ariel mengatakan mereka sok suci dan menganggap mereka juga menjadi penyebab kematian Mamanya.
Mereka sadar, mereka salah dan mereka akui itu. Jadi, mereka gak akan membalas ucapan Ariel dan memilih untuk pergi dari sana.
Setelah rumah kembali sepi, Ariel lagi-lagi berteriak kesetanan, ia memanggil Mamanya berkali-kali. Papa ARdi yang mendengar putranya histeris membiarkannya saja. Ia gak mau peduli dan memilih untuk tetap diamm di kamar.
__ADS_1
Art yang bekerja di rumah itu pun memilih untuk diam di dapur membersihkan area dapur yang kotor, mereka gak berani untuk pergi ke ruang tamu karena takut kena imbas dari kemarahan Ariel.
Sedangkan Noah, ia terus berusaha menenangkan Ariel namun Ariel tak peduli padanya karena Ariel juga terlanjut kecewa terhadap Noah, yang memilih diam dari pada membantu dirinya bertemu sang Mama.
Noah yang mengerti kekecewaan ARiel pun hanya bisa diam, ia sadar dirinya salah. Noah juga kecewa pada orang tuanya, karena mereka sok menghalang-halangi Ariel bertemu Mamanya, padahal mereka juga ikut andil dalam kematian Mama Ila, yang merupakan Tantenya sendiri.
Ariel berlari tanpa alas kaki, ia berlari ke arah TPU yang tak jauh dari rumahnya. Lalu ARiel mencari kuburan yang masih baru, dan ia melihat kuburan itu berada di pingir pohon yang rindang. Ariel mendekati kuburan itu, di batu nisan itu ada nama Mamanya.
Di atas kuburan itu, Ariel menangis meraung-raung, tangisannya bahkan menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.
"Mama, maaafin aku, Ma. Aku menyesal, Ma. Aku menyesal, Ma," teriak Ariel dengan air mata yang bercucuran.
"Maafin aku, Ma. Aku salah, Ma. Aku salah, jangan tinggalin aku, Ma. Jangan tinggalin aku. Aku menyesal melakukannya, aku sangat menyesal." Ariel terus meracau tidak jelas. Ia menepuk nepuk tanah kuburan Mamanya itu. Ia juga mencium batu nisan itu berulang-ulang.
"Mama, aku gak mau ditinggal. Aku belum sempat meminta maaf sama Mama. Maafin aku, Ma. Maaf sudah bikin Mama malu. Maaf sudah mengecewakan Mama. Mama bisa hukum aku, tapi, jangan tinggalin aku, Ma. Aku menyesal sudah berzi na. Aku menyesal sudah mengkhianati istriku. Aku menyesal, Ma. Sekarang hidupku hancur, Ma. Aku sudah gak punya siapa-siapa lagi. Aku sendiria, Ma. Aku sendirian. Papa pasti benci aku, karena aku sudah bikin Mama meninggal. Aku harus apa, Ma. Aku harus apa? Aku takut, Ma. Aku takut menghadapi dunia ini sendirian. Aku takut, Ma. Hiks hiks .... " Ariel terus saja menangis, Noah hanya diam dan ikut menangis di belakangnya.
__ADS_1
"Aku hancur, Ma. Aku hancur oleh keserakahannku sendiri. Aku hancur, karena aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Aku hancur, Ma. Aku hancur karena aku terbuai akan rayuan wanita itu. Aku hancur, Ma. Aku hancur karena aku akan kehilangan istriku, Luna. Aku hancur, karen aku akan kehilangan orang-orang yang aku sayang. Aku hancur, Ma. Aku hancur sekarang." Ariel terus berbicara, ia bahkan memeluk kuburan mamanya seperti ia memeluk Mama Ila."
Saat Ariel menangis dan terus meracau di depan pusara Mamanya, tiba-tiba air hujan jatuh begitu deras di sertai dengan petir. Ya, sekarang emang lagi musim hujan. Bahkan sebenarnya sudah mendung sejak tadi sore, namun baru turun hujan sekarang.
Noah mendekati ARiel dan meminta Ariel berteduh, namun Ariel menolak, ia gak ingin jauh dari Mamanya. Padahal hari juga sudah malam. Yah, saat ini sudah pukul setengah delapan malam.
Akhirnya Noah pun ikut hujan-hujanan karena ia gak bisa membiarkan Ariel sendirian di saat dia lagi frustasi seperti ini. Noah gak mau, jika Ariel nekat dan menyusul Mamanya. Jadi ia memilih untuk berdiri di bawah guyuran air hujan, tak apa kedinginan, asal ia bisa menjaga saudaranya itu.
"Mama, apakah Mama kedinginan? Aku akan peluk Mama. Mama jangan khawatir, aku gak akan ninggalin Mama sendirian. Aku akan nemenin Mama. Aku sayang Mama. Aku akan terus di sini dan menemani Mama, biar Mama gak kesepian."Ariel terus meracau dengan suara yang bergetar.
Noah tau, tubuh Ariel tidak sehat. Ia bahkan seharusnya tidak boleh keluar dari rumah sakit. Namun karena mendengar Mamanya meninggal, Ariel memaksa dokter untuk mencabut infusnya. Ariel gak ingin melewatkan untuk bertemu Mamanya tuk terakhir kali, tapi sayangnya, orang-orang tidak mengerti dirinya. Mereka malah tidak mengizinkan Ariel bertemu Mamanya. HIngga akhirnya Mamanya di makamkan pun, Ariel tidak bisa melihatnya. Dan kini ia hanya bisa memeluk pusara Mamanya.
Ariel terus berbicara dengan suara gemetar. Bahkan tubuhnya pun sudah menggigil kedinginan.
Noah berusaha keras meminta Ariel berteduh, tapi Ariel malah memarahi Noah karena Noah ingin memisahkan dirinya dengan sang Mama.
__ADS_1
"Oh Tuhan, kenapa semuanya jadi seperti ini." gumam Noah dalam hati. Ia juga ikut frustasi melihat saudaranya seperti ini.