
Saat ini Luna dan Dion sudah berada di dalam mobil, Luna meminta Dion untuk tak langsung pulang, melainkan jalan-jalan. Karena sudah tiga kali berputar tak tentu arah, akhirnya Dion pun mengajak Luna ke Taman Impian Jaya Ancol. Luna pun tak protes, ia hanya bisa pasrah Dion mengajaknya ke mana. Dion memarkirkan mobillnya dan setelah itu, ia dan Luna pun turun dari mobil.
"Mau duduk dulu, jalan, makan atau mencoba semua permainan?" tanya Dion karena ia gak mau mengambil langkah tanpa menanyakan kemauan Luna.
"Terserah Mas Dion aja deh, aku lagi suntuk banget sekarang. Gak bisa mikir," jawabnya membuat Dion menganggukkan kepala. Lalu Dion mengajak Luna untuk cari makan dulu karena Luna belum makan siang.
"Makan dulu ya, mau mesen apa?" tanyanya namun lagi dan lagi, Luna menjawanya dengan terserah. Biasalah penyakit cewek, setiap di tanya, jawabannya ya selalu terserah.
"Okay, aku yang pesankan tapi wajib di makan," ujarnya dan Luna menganggukkan kepala.
Lalu Dion memesan dua mangkok mie ayam dan juga es teh. Sambil nunggu pesanan datang, Dion memainkan HPnya sedangkan Luna hanya diam menikmati musik galau yang di putar oleh pihak penyelenggara.
Tak terasa Luna menitikkan air mata membuat Dion yang tak sengaja melihatnya jadi tak tega. Ia mengambil tisu yang ada di atas meja, lalu membantu Luna mengelap air mata yang jatuh.
"Jangan nangis," ujar Dion. Luna menatap Dion dan entah kenapa, Luna bukannya berhenti menangis malah semakin mewek.
"Aku sakit hati," katanya memberitahu.
"Kenapa?" tanya Dion dan Luna pun menceritakan apa yang ia lihat tadi saat di ruangan suaminya. Entah kenapa, ia merasa nyaman saat bercerita dengan sopirnya itu. Padahal mereka tidak lama kenal, namun Luna sudah merasa nyaman berada di dekat Dion.
"Ya Tuhan, aku gak menyangka jika Tuan Ariel akan melakukan hal seperti itu," ujar Dion membuat Luna mengangguk-anggukkan kepala.
__ADS_1
"Aku pun tak menyangka," jawabnya.
"Terus gimana, kamu langsung minta cerai?" tanya Dion, dalam hati ia berharap Luna menggugat cerai Ariel agar dirinya bisa segera melamar Luna, sebelum Luna di lamar oleh orang lain karena wanita cantik dan baik hati seperti Luna, sudah jarang ia temui. Dan jika ia sudah menemukan orang yang tepat, jadi buat apa dia nunggu-nunggu lagi.
"Enggaklah, rugi aku. Aku ingin ngasih mereka pelajaran dulu. Lagian aku belum punya bukti yang kuat buat menggugat mereka. Aku harus mengumpulkan banyak bukti, dan memberikan mereka pelajaran biar kapok. Baru setelah itu, aku akan menggugat cerai Mas Ariel," jawabnya sambil menghapus air matanya sendiri.
"Hmm ... tapi aku seneng sih kalau Mas Ariel selingkuh."
"Kenapa?" tanya Dion kaget.
"Karena dulu saat aku nikah, aku dan Mas Ariel buat perjanjian pernikahan. Kalau sampai Mas Ariel selingkuh, resto dan rumah itu akan jadi milik aku. Makanya aku harus punya bukti yang kuat agar resto dan rumah itu jadi milikku."
"Bukan. Tapi karena aku ingin membuat Mas Ariel kapok, karena Laras mau sama Mas Ariel pasti selain ketampannya juga karena hartanya. Aku gak butuh rumah mewah atau harta banyak, Mas. Yang aku butuhkan itu cinta, kesetiaan, kejujuran, perhatian, itu yang aku mau. Harta masih bisa di cari. Aku bahkan juga masih sanggup cari uang sendiri. Aku juga tidak terlalu suka barang brandet. Aku yang penting nyaman di pakai aja, aku juga gak suka makan makanan mewah, aku makan di pinggir jalan juga okay. Aku juga gak butuh perawatan mahal, karena asal rutin pakai perawatan yang ada di dapur juga, hasilnya pasti maksimal. Aku gak gila harta, tapi aku juga gak akan diam aja, jika harga diriku di injak-injak, apalagi jika mereka harus bahagia di atas deritaku. Jika aku gak bisa membalas berkali-kali lipat, setidaknya mereka tau apa yang aku rasakan," jawabnya membuat Dion mengerti. Memang sejak dia bekerja sebagai sopir Luna, Luna juga tak hampir tak pernah beli barang-barang brandet, makan makanan di resto mahal atau yang lainnya. Ia malah lebih suka kumpul sama asisten rumah tangganya dan rujaan bersama.
Coba kalau orang kaya lainnya, pasti mereka akan beli barang super mahal, makan di tempat yang mahal, ikut arisan dengan nominal yang tak sedikit, jalan-jalan terus lalu upload di media sosial agar mendapatkan banyak pujian dan pengakuan dari orang lain, jika mereka kaya dengan semua barang yang melekat di tubuhnya serta jalan-jalan terus. Aish, bagi Dion itu basi.
Dia yang merupakan seorang pebisnis, malah yang ia tau, orang yang benar-benar kaya itu malah tak mau menampakkan dirinya jika ia benar-benar kaya. Ia sering melihat rekan kerjanya yang hartanya berlimpah, sering jalan-jalan pakai mobil dengan harga murah dan juga baju kaos biasa serta tampilan yang tidak mencolok, benar-benar terlilhat seperti orang biasa, padahal hartanya berlimpah dan ada di mana-mana. Namun ia memilih untuk berpenampilan biasa, makan di pinggir jalan kadang jalan kaki sama pasangan.
Berbeda jika orang kaya yang hartanya tak seberapa, tapi sudah tampilan sangat wah sekali. Bahkan Dion samapi muak sendiri melihatnya, entah apa yang mereka cari. Pamer kecantikan kah, atau pamer kekayaannya itu. Jika mereka pamer kecantikan, di luar sana banyak yang jauh lebih cantik, tapi mereka biasa-biasa aja. Kalau pamer kekayaan, bahkan banyak di luar sana yang jauh lebih kaya, tapi malah memilih hidup sederhana. Kadang tak heran, Dion malah tertawa miris melihat mereka semua.
Saat Dion dan Luna mengobrol, pesanan mereka pun datang. Tanpa mau buang-buang waktu, Dion dan Luna menikmati hidangannya. Sesekali Luna menyeka keringatnya karean mie ayam yang ia makan terlalu pedas. Bagaimana tidak pedas jika tadi ia menaruh lima sendok cabe. Sedangkan punya Dion hanya di kasih saos, kecap dan satengah sendok sambal sehingga tak terlalu pedas. Tak tegas melihat Luna kepedaasan, akhirnya Dion pun menukar mie mereka.
__ADS_1
"Loh kok di tukar?" tanya Luna heran.
"Makan punya aku aja, punyaku gak terlalul pedas," jawabnya.
"Tapi .... " Luna merasa gak enak.
"Sudahlah, makan aja," jawabnya. Dan Luna pun tak menolaknya.
Akhirnya Luna makan punya Dion yang tak terlalu pedas, dan Dion makan punya Luna yang sudah seperti makan cabe doang sangking pedasnya. Setelah menghabiskan mie ayamnya, Dion langsung menghabiskan minumannya, bahkan Luna juga memberikan minuman miliknya yang masih sisa setengah, tanpa ada rasa jijik. Dion juga menghabiskan minuman milik Luna. Dan syukurlah, rasa pedasnya gak terlalu sehebat tadi.
Namun Dion juga memesan kue penutup untuk meredakan rasa pedas, dan tanpa menunggu waktu lama, pesanan terakhir pun datang. Dion dan Luna pun langsung menghabiskannya. Setelah selesai, Dion segera membayarnya, awalnya Luna yang ingin membayar, namun Dion menolak karena dirinya yang mengajak Luna ke sini, jadi Dion yang akan membayar semuanya. Luna awalnya merasa heran, karena Dion seperti tak mempermasalahkan uang yang keluar begitu saja, tapi Luna gak mau berfikir aneh-aneh. Ia menganggap Dion mungkin lagi banyak uang, jadi Dion ingin mentraktir dirinya.
Selesai makan, Dion dan Luna jalan-jalan santai dulu, lalu duduk di bawah pohon sambil melihat orang-orang yang sibuk sendiri, ada yang sibuk jalan-jalan ke sana kemari, sibuk foto, dan yang lainnya.
"Padahal bukan hari libur ya, Mas. Tapi kok masih ramai ya?" tanya Luna.
"Ya mungkin karena mereka jenuh di rumah, jadi pada ke sini. Lagian kan gak semuanya kerja kantoran, Non. Ada yang punya pekerjaan lain, jadi hari liburnya gak harus nunggu hari Minggu," jawabnya membuat Luna mengangguk mengerti.
Setelah lima belas menit duduk santai di sana, barulah Dion mengajak Luna untuk mencoba setiap permainan yang ada, tentu Dion terus mendampinginya karena keselamatan Luna adalah yang utama. Luna pun sangat menikmatinya hingga melupakan sejenak masalahnya. Memang kalau lagi banyak masalah dan lagi patah hati itu, harus di ajak liburan. Agar bisa tertawa lepas lagi. Setidaknya setelah liburan, Luna tak akan segalau tadi.
Luna dan Dion pulang dari sana sekitar jam lima sore. Mereka benar-benar merasa puas, terutama Dion karena sesekali ia memegang tangan Luna, takut jika luna kenapa-napa. Mereka bahkan sudah seperti sepasang kekasih yang tengah liburan.
__ADS_1