Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Luna Nantang Si Ariel


__ADS_3

Sesampai di rumah, Luna meminta Dion untuk segera pulang karena Luna juga gak mau kemana-mana lagi. Terlebih sebenarnya Luna takut, karena ia melihat mobil Ariel yang sudah tersimpan di garasi. Ia takut jika Dion kena marah karena Luna sampai sini jam enam sore. Padahal Luna izin pulang itu tadi siang. Untuk itulah, dari pada nanti bertengkar sambil tonjok-tonjokan maka Luna memilih untuk Dion langsung segera pulang.


Dion yang mengerti pun langsung pulang mengendarai sepeda motor milik Ariel yang sampai saat ini masih setia di pakai untuknya.  Sebenarnya Dion ingin bantu menjelaskan ke Ariel agar Luna gak kena di marahi, bagaimanapun Dion lah yang mengajak Luna jalan-jalan ke Ancol, tapi ia juga takut, takut jika Ariel akan marah karena dirinya ikut campur, jadi dari pada semakin runyam, Dion memilih untuk pulang saja dan mempercayakan semuanya ke Luna.


Saat Luna membuka pintu, ia langsung kaget melihat Ariel yang duduk di kursi ruang tamu sambil menatap tajam ke arahnya. Luna hanya bisa menghela nafas, ia menutup pintunya dan mengucap salam.


"Assalamualaikum," ucapnya sambil menghampiri Ariel dan mencium punggung tangan suaminya.


"Dari mana?" tanyanya dingin tanpa menjawab salam Luna.


"Jalan-jalan," jawabnya sambil duduk di kursi yang bersebelahan dengan Ariel. Tanpa merasa bersalah, Luna duduk santai dan menaruh tasnya di meja.


"Kamu itu pulang dari resto jam satu, Lun. Sampai sini jam enam. Kemana selama beberapa jam?" tanyanya yang mulai meninggikan suaranya. Namun Luna tak takut sama sekali, kalau dulu mungkin ia takut, tapi setelah tahu sifat asli suaminya. Ia malah terlihat sangat santai sekali.


"Aku jalan-jalan, Mas. Bukankah Mas Ariel yang mengizinkan aku jalan-jalan kemanapun aku mau. Mas Ariel juga yang memberikan aku kebebasan, iya kan?" tanya Luna dengan suara datar.


"Tapi bukan berarti kamu keluyuran sampai lupa waktu, Lun," bentaknya membuat Luna memutar bola matanya malas.


"Baru kali ini, aku pulang telat. Mas marah, terus bagaimana dengan Mas Ariel yang kadang pulang jam sepuluh malam, bahkan pulang dini hari. Apa pernah aku tanya, Mas dari mana, lagi apa dan sama siapa. Aku juga memberikan kebebasan loh," balasnya.

__ADS_1


"Aku pulang malam, karena kerja. Tapi kamu? Kamu seorang Istri, Lun. Walaupun aku memberikan kamu kebebasan, tapi bukan berarti kamu seenaknya, seperti ini."


"Mas yakin, pulang malam karena kerja?" tanya Luna sinis.


"Apa curiga sama aku?"


"Enggaklah, ngapain aku curiga sama suamiku sendiri. Aku mah percaya sama suami aku seratus persen. Percaya banget aku mah sama Mas Ariel. Kalau Mas Ariel itu setia seribu persen, cinta banget ma aku. Jadi gak mungkinlah Mas Ariel ngeduain aku, iya kan? Secara aku ini cantik, ****, apalagi yang kurang dari aku? Kalau sampai selingkuh, itu mah namanya kurang beryukur. Bener gak Mas?"


"Kok nada kamu kek gitu?"


"Emang kenapa dengan nadaku?" tanya balik Luna.


"Masak sih, perasaan aku baik-baik aja deh ngomongnya. Mas aja kali yang terlalu sensitif," sahutnya mencibir.


"Iya sudahlah jangan di bahas. Kamu dari mana tadi?"


"Main ke Ancol."


"Sama siapa?"

__ADS_1


"Sama Mas Dionlah, dia kan sopir aku, yang selalu nemenin aku kemana-mana. Emang dia gak laporan sama kamu?"


"Enggak,"


"Oh mungkin dia lupa kali."


"Lain kali kalau kamu mau pergi kemana-mana izin dulu."


"Iya. Lagian Mas Ariel tumben jam segini sudah pulang."


"Emang gak boleh?" tanya Ariel tak suka.


"Ya bolehlah. Malah seneng aku. Tapi ya gak biasanya aja pulang lebih awal," jawab Luna sambil melihat jam tangannya.


"Aku mau sholat dulu. Mas sudah sholat, belum?"


"Belum."


"Iya sudah sholat dulu ayo. Kalau masih pengen marah. Lanjutin nanti lagi," ujarnya sambil mengambil tasnya dan pergi ke kamarnya. Ariel pun mengikutinya dari belakang. Walaupun mereka lagi marah, tapi jika waktunya sholat, mana mungkin bisa di tunda.

__ADS_1


__ADS_2