
Keesokan harinya, Ariel memilih untuk libur kerja. Ia ingin menghabiskan waktunya bersama Luna yang kini tengah merajuk.
Sehabis sholat shubuh, Luna menyibukkan dirinya untuk membantu Bibi Neni dan Bibi Imah. Ia sengaja mencari kesibukan agar gak deket-deket dengan suaminya itu.
Ia merasa gak nyaman, dekat dengan laki-laki yang sudah menyentuh wanita lain, sekalipun itu adalah suaminya sendiri.
Untuk itulah, Luna berusaha menjaga jarak. Ia tak sudi bersentuhan dengan laki-laki yang sudah menyentuh tubuh sahabatnya sendiri.
Dari pagi Luna sudah sibuk menyiram tanaman depan belakang, sibuk menyapu, mengepel. Lalu ikut Bibi Imah ke pasar, lalu bantu Bibi Imah memasak.
Selesai masak, dan waktunya makan. Mau gak mau, suka gak suka. Luna menemani Ariel makan. Namun Luna hanya makan sedikit karena tadi di pasar ia sudah banyak makan pisang goreng yang masih panas, makan dadar coklat isi pisang, makan risoles habis 4 yang isi sayur sama daging. Lalu makan Bikang dan juga makan terang bulan mini. Bibi Imah pun juga habis banyak, makan jajanan tradisional. Tak lupa Luna juga membelikan untuk Bibi Neni dan Dion. Sedangkan untuk Ariel, sengaja gak dibelikan.
"Kok makan sedikit yank?" tanya Ariel melihat di piring Luna hanya ada nasi yang sangat sedikit sekali, dan hanya ada telur rebus, sambal dan lalapan timun.
"Iya, gak mood," jawabnya ketus. Padahal ia sangat kenyang sekali, dan ia mau sarapab nasi hanya demi bisa menemani suaminya makan. Walau bagaimanapun Ariel masih suaminya, jadi ia masih punya kewajiban untuk melayaninya.
"Kamu gak enak badan?" tanya Ariel yang terlihat khawatir.
Luna menggelengkan kepalanya. "Aku sehat. Sudahlah, makan aja. Jangan banyak tanya."
Melihat Luna masih ketus, Ariel hanya bisa pasrah. Ia pun segera makan dan menghabiskannya.
"Kamu mau kemana hari ini?" tanya Ariel setelah selesai makan.
"Enggak kemana-mana. Di rumah aja," jawab Luna sambil menaruh piring kotor ke wastafel. Dan sisa lauk pauk yang masih tersisa banyak juga di bawa ke belakang buat Bibi Imah dan Bibi Neni nanti kalau mau sarapan.
"Aku juga hari ini gak kerja. Gimana kalau kita liburan?" ajak Ariel.
"Males, mending di rumah aja," jawabnya sambil mengambil lap dan membersihkan meja makan hingga mengkilap.
Lalu setelah itu, Luna membersihkan kamarnya dan membersihkan ruang tamu dan ruang keluarga. Apa yang salah, dia betulin. Yang kotor, ia bersihkan.
Sampai semuanya mengkilap sedangkan Ariel terus membuntutinya kemanapun Luna pergi.
"Ngapain sih bersih-bersih. Kan ada Bibi Neni," ujar Ariel.
__ADS_1
"Sekalian olah raga. Dari pada cuma diem," balasnya.
"Tapi aku pengen ngobrol sama kamu," tuturnya.
"Iya sudah ngobrol aja, aku juga denger kok." Luna terus membersihkan lemari dan sebagainya.
"Apa gak bisa ngomong sambil duduk santai gitu. Aku jarang-jarang libur."
"Mau ngomong dimana?" tanya Luna yang sudah menyelesaikan pekerjaannya.
"Kamu sukanya dimana?" tanya balik Ariel.
"Aku dimana aja juga suka," sahutnya.
"Iya udah kita ngobrol di depan rumah aja ya, enak keknya."
Luna pun menganggukkan kepala.
Lalu mereka berdua pun berjalan ke depan rumah, dan mereka melihat Dion yang tengah main Hp di kursi depan rumah.
"Iya, Non," jawabnya sambil menaruh hpnya di saku celana.
"Aku hari ini gak keluar, jadi Mas Dion pulang aja gak papa. Oh ya, sebelum pulang, Mas Dion ke Bibi Imah dulu ya. Soalnya Bibi Imah punya sesuatu buat Mas Dion," tutur Luna.
Dion menganggukkan kepalanya, Dion pamit ke Luna dan Ariel. Lalu ia menemui Bibi Imah lewat samling rumah.
"Kamu deket banget sama Dion?" tanya Ariel sambil duduk di kursi, begitupun dengan Luna.
"Ya deketlah, kan dia sopir pribadi aku. Lagian bukan hanya sama Mas Dion, sama Bibi Imah dan Bibi Nenipun aku dekat. Bagi aku, siapa aja yang kerja ke kita. Itu sudah aku anggap sebagai keluarga," jawabnya santai, tanpa ada rasa ketakutan sedikitpun karena emang tidak ada yang ia sembunyikan.
"Tapi jangan terlalu dekat juga yank."
"Kenapa?"
"Aku cemburu."
__ADS_1
"Misal aku pacaran sama Mas Dion. Mas sakit hati gak?"
"Jelaslah. Mana ada suami gak sakit hati, istrinya pacaran sama orang lain, apalagi sama sopir."
"Itu yang aku rasakan Mas. Sakit rasanya," ucap Luna sambil menekan dadanya membuat Ariel menundulkan kepalanya. Entah merasa bersalah, menyadari kesalahannya atau karena malu.
"Kamu nuduh aku, yank?"
Luna menggelengkan kepalanya.
"Aku gak nuduh, Mas. Aku percaya suamiku ini pasti setia. Tapi rasa takut dan was-was itu pasti ada. Secara Mas itu tampan dan mapan. Ujian wanita itu saat suami gak punya apa-apa. Sedangkan ujian laki-laki itu wanita. Ketika dia punya segalanya, akan banyak wanita yang mendekat. Dan aku takut Mas gak kuat iman. Aku takut Mas akan terbuai dengan kecantikan mereka, dengan rayuan mereka, dan dengan belaian mereka di luar sana." Luna mulai berdrama. Walaupun ia sudah tau semuanya, namun ia tidak punya bukti yang kuat. Jika ia terang-terangan menuduh Ariel pun, pasti Ariel akan menolak karena memang bukti yang Luna pegang, emang belum kuat.
Jadi Luna memilih diam aja dan pura-pura polos dan bodoh.
"Aku gak akan terbuai sama siapapun yank, apalagi bagi aku, kamulah wanita paling cantik dan ****. Aku gak mungkin tergoda sama wanita di luar sana," ucapnya berusaha meyakinkan Luna.
"Yah, aku percaya. Mas gak mungkin tergoda," tutur Luna tersenyum. Namun senyuman itu seakan menyiratkan ada banyak luka dimatanya. Ariel yang tak sengaja melihatnya hanya bisa menghela nafas.
Wanita emang pandai menutupi kesakitannya, kecemburuannya. Berbeda dengan laki-laki, yang akan langsung menjatuhlan talak jika tau pasangannya selingkuh. Sedangkan istri, ia harus memendam rasa sakitnya.
Melihat kesakitan di mata Luna, membuat hati Ariel pun terasa sakit. "Oh Tuhan ... Apa yang sudah aku lakukan?" gumam Ariel dalam hati.
Ariel menghampiri Luna dan memeluknya. Di saat Ariel memeluk erat, Luna sedikitpun tak membalasnya bahkan Luna merasakan pelukan itu begitu hambar. Berbeda dengan dulu, jika dulu pelukan Ariel seakan menjadi candunya. Tapi sekarang, ia bahkan merasa jijik di peluk seperti ini.
Saat sadar Luna tak membalas pelukannya, Ariel melepaskan diri. Ia menatap mata Luna yang tak lagi menyiratkan cinta. Namun di mata itu seakan hanya ada kekosongan, kebencian dan kehampaan.
"Tuhan ... Apakah cinta itu tak lagi untukku?" tanya Ariel frustasi.
Luna membiarkan saja Ariel yang menjambak rambutnya sendiri dan terkesan frustasi.
Luna malah bersikap acuh tak acuh, tak peduli bahkan jika Ariel kesakitan.
"Kalau gak ada yang mau di omongin lagi. Aku mau masuk ke dalam," tuturnya membuat Ariel hanya bisa menghela nafas.
Entah kenpaa melihat sikap Luna yang terkesan tak lagi peduli padanya, membuat hati Ariel sakit. Sangat sakit sehingga terasa sesak.
__ADS_1
Melihat Ariel hanya diam aja tak menjawab, Luna pun bangun dan meninggalkan Ariel yang terlihat frustasi.