
Dion pergi ke taman belakang di mana Mami Ocha, Papi Dimas dan Daniell berada. Rasanya ia sangat gugup, tapi ia harus lakukan demi Luna, agar sang istri tidak terus merajuk, marah dan menangi sendirian di kama.
"Lagi apa, Mi, Pi?" tanya Dion basa basi sambil duduk di antara mereka.
"Ini lagi nemenin Daniel. Kamu ga kerja lagi, Dion?" tanya Papi.
"Enggak Pi, nanti ajalah, aku masih pengen menghabiskan waktu aku sama Daniel," tutur Dion sopan.
"Papi sendiri gak kerja?" tanya balik Dion.
"Nanti ajalah, maslah pekerjaan urusan belakangan. Sekarang Papi ingin fokus mengurus cucu dulu. Toh kalau pekerjaan dari Papi remaja sampai tua, gak ada habisnya, bahkan sampai menutup mata pun, kerjaan akan selalu ada. Selama ini juga Papi gak pernah cuti, jadi untuk saat ini, Papi ingin cuti panjang. Papi ingin menghabiskan waktu bersama cucu Papi dulu," ujarnya dengan binar wajah bahagia.
Melihat hal itu, Dion seperti merasa ragu untuk mengambil Daniell dari Mami Papinya.
"Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" gumam Dion dalam hati.
"Luna sudah bangun, Nak?" tanya Mami Ocha.
"Sudah, Mam," balas Dion.
"Enggak di suruh makan dulu?' tanya Mami Ocha lagi.
"Luna pengen makan sama sayur bening bayam, Mam. Sama dadar jagung juga. Aku sudah nelfon pelayan untuk membuatkannya," jawabnya menjelaskan.
"Hmmm, sebenarnya kalau ada pelayan walaupun cuma satu, enak. Bisa bantu bantu masak, nyuci piring, nyuci baju, nyapu, ngepel, beres-beres, jadinya gak capek. Bukan maksudnya ingin ngatur, tapi kasihan aja sama istri kamu nantinya, harus ngurus kamu, harus ngurus rumah dan jika Mami sama Papi pergi dari sini, dia juga harus ngurus anaknya. Sekarang lihat, sejak dia melahirkan, makanan gak ada, alasannya masih capek, sakit dan lain sebagainya. Padahal sudah sebulan dia melahirkan. Akhirnya harus kamu yang turun tangan beli makanan secara online, padahal makanan di luar belum tentu higenis," omel Mami Ocha. Dion hanya diam mendengarkan, tak mau membantah, takut Maminya akan marah.
Tapi apa yang di katakan Mami Ocha benar, misal ada satu asisten rumah tangga, setidaknya, Luna tidak terlalu bekerja keras untuk menyelesaikan semuanya, karena ada yang membantunya. Tapi Dion juga tak mungkin melanggar perjanjiannya, sudah dari awal ia berjanji, bahwa dirinya gak akan memakai jasa ART lagi agar membuat Luna nyaman tinggal di rumah ini.
"Dion , kamu denger gak sih apa yang Mami omongin dari tadai?" geram Mami Ocha karena dari tadi Dion malah merenung dan gak mendengar ocehannya yang sudah seperti berbusa karena terlalu banyak kata yang di keluarkan.
"Apaan sih, Mi. Sini gantian, Daniel biar aku dulu yang gendong. Aku kangen banget sama Daniel, MI. Sejak lahir, baru sekali aku gendong putraku sendiri," tutur Dion sopan agar tidak menyinggung perasaan orang tuanya.
"Jadi kamu gak rela kalau Daniel, Mama yang gendong?" tanya Mami Ocha kesal.
"Bukannya gak rela, Mi. Hanya saja, sebagai seorang Ayah, aku juga pengen dekat sama putraku sendiri. Aku bahkan tidak pernah tidur dengannya, gendong pun cuma sekali, itu pun bentar banget. Aku bahkan hampir tidak pernah menghabiskan waktuku bersamanya." ucap Dion mengungkapkan isi hatinya.
"Jadi sekarang kamu protes karena Daniel selalu bersama Mami sama Papi. Kamu tau kan, Mami sama Papi sudah pengen cucu dari dulu, dari beberapa tahun lalu. Sayangnya kamu malah lama nikahnya, dan wajar jika sekarang Mami sama Papi ingin menghabiskan waktu bersama cucu pertama. Toh kalau Mami sama Papi pulang dari sini, Mami sama Papi pasti jarang bertemu Daniel lagi. Apa salahnya, jika Mami sama Papi ingin bersama Daniel walaupun hanya sebentar, biarkan Mami sama Papi meluapkan semua kasih sayang dan perhatian kami pada putramu." omel Mami Ocha yang tak suka dengan ucapan dion barusan.
__ADS_1
"Hmm, tapi kan Dion juga pengen Mi gendong Daniel walaupun bentar, nanti kalau Dion sudah selesai melupakan rasa kangen, baru Dion kasih ke Mami lagi." Dion ngomong seperti anak kecil, berharap Maminya itu mengerti dan kasihan padanya.
"Okey, bentar beneran tapi ya."
"Iya, Mi. Janji."
Dan setelah itu, Mami Ocha pun memberikan Daniel yang lagi tidur di pangkuan Dion. Dion pun akhirnya bisa memangku dan menggendong putranya. Akhirnya rasa rindu yang menggebu gebu seakan terobati.
Dion mencium pipi Daniel hingga Daniel menangis, mungkin ia merasa terganggu karena Dion terus menciumnya tanpa henti.
"Jangan di cium terus, nah kan bangun." omel Mami Ocha. Yah, Daniel yang tadinya tertidur pulas, kini bangun dan menatap Dion dengan waktu yang lama.
"Kenapa, Sayang? Kenapa lihat Papa sampai segitunya? Daniel kangen ya sama Papa." tuturnya. Dion seakan lupa pada Luna yang sedari tadi menunggu kedatangannya.
Luna keluar dari kamar dan melihat suami, kedua mertuanya dan putranya yang seperti keluarga harmonis, sedangkan dirinya seperti orang asing di sini.
Luna tersenyum miris, ia berfikir Dion mengambil Daniel untuknya, tapi sayangnya, Dion melupakan janjinya dan malah bersenang-senang sendirian.
Luna menitikkan air mata, "Mas Dion bahkan tidak lebih baik dari Mas Ariel. Andai waktu bisa berputar kembali, aku mungkin memilih Mas Ariel ketimbang Mas Dion," gumamnya sambil masuk ke dalam lagi.
Luna menangis sesegukan, lallu ia menelfon Ariel.
"Assalamualaikum, Lun."
"Waalaikumsalam, Mas. Diana mana?" tanyanya dengan suara serak.,
"Kamu kenapa? Kamu nangis?" tanya Ariel cemas. Bukan karena cinta, tapi ya wajar dirinya cemas, karena bagaimanapun Luna dulu pernah menjadi cinta pertamanya dan hidup seatap dengan waktu yang cukup lama, terlebih Luna sudah memberikan seorang putri untuknya. Walaupun tidak cinta, tapi bukan berarti ia menghilangkan rasa kasihan terhadap sesama.
"Aku capek Mas, aku capek tinggal di sini. Rasanya batin aku tersiksa." ujarnya dengan terisak isak, ia bahkan sudah tak peduli Ariel menganggap dirinya apa. Dulu dirinya yang menghancurkan kehidupan mantan suaminya, tapi sekarang, ia malah berharap Ariel mau membantu dirinya.
"Kamu capek kenapa? Dion mengkhianati kamu, atau dia melakukan KDRT?" tebaknya.
"Enggak,"
"Terus kenapa?"
Dan akhirnya Luna pun menceritakan semuanya dari awal sampai akhir, sedangkan Ariel hanya diam mendengarkan.
__ADS_1
"Kamu harus sabar, Lun. Itu kan pilihan kamu. Lagian kenapa kamu gak coba mengakrabkan diri sama mereka. Orang tua Dion juga orang tua kamu, dan wajar jika mereka sampai seperti itu, namanya juga cucu pertama, siapapun pasti ingin slalu ada di dekatnay dan ingin terus bersamanya. Kamu maklumi aja. Dulu juga pas aku mempertemukan Diana dengan papa aku, mereka terus dekat sampai berhari hari lamanya, tapi ya aku malah senang. Karena itu artinya, putri kita di terima oleh papa aku dan sangat menyayangiya. Kamu seharusnya bersyukur bukan malah berkeluh kesah seperti ini, di luar sana, banyak loh orang tua yang benci pada cucunya, ini malah kamu sebaliknya. Bukannya seneng malah kesal. Seharusnya dengan mereka menginap di rumah kamu, kamu bersyukur banget, karena ada orang yang mau bantu kamu jaga putramu. Jadi kamu bisa mandi dan beres beres serta bisa melayani suamimu. Bukan malah hanya diam di kamar dan malas ngapa ngapain," tutur Ariel menjelaskan.
"Tapi aku kesel, aku kesel gak bisa deket sama putraku sendiri, Mas."
"Ngapain kamu kesel, coba sekarang kamu mandi, pakai baju bagus, pakai make up, lalu samperin mertua kamu, kamu bisa ajak mereka mengobrol apa saja, coba kamu dekati mereka lebih dulu, dengan gitu kamu akan terus dekat dengan putramu. Jangan gengsi, jangan angkuh kalau ikut orang. Walaupun kamu ikut suamimu sendiri, tapi cobalah untuk rendah diri dan bersikap ramah pada semua orang termasuk mertua kamu. Ambil hati mereka, agar mereka pun juga nyaman sama kamu dan kalian bisa akrba seperti ibu dan anak. Kalau seperti itu kan kayak orang lagi musuhan, kasihan suamimu, karena dia pasti bingung, harus memilih antara kamu dan orang tuanya."
Ariel terpaksa ngomong keras, biar Luna sadar, dan gak ngeluh terus. Dari dulu, dikit dikit ngeluh, dikit dikit ngeluh. Ariel sendiri bahkan muak rasanya mendengar keluhan Luna tentang suami dan mertuanya.
Gak dulu, gak sekarang. Sama aja, ngeluh terus kerjaannya.
"Mas marah sama aku?" tanya luna mendengar nada mantan suaminya seperti sedang marah.
"Aku gak marah, aku hanya menasehati kamu aja, agar kamu bisa belajar untuk beradaptasi dengan lingkungan dan berfikir positif. Belajar untuk nerima orang lain dan tidak meninggikan ego kamu sendiri."
"Mas, bilang aku egois? Akui egois dari mananya?" tanya Luna tak terima.
"Semuanya, kamu buat suami mu tertekan, kamu bikin dia memilih antara kamu dan orang tuanya. Kamu gak mau ngerti posisinya, padahal kamu bisa mengalah dan berdamai dengan sekitarnya, termasuk mertuamu sendiri."
"Jadi aku salah?"
"ya," jawab Ariel tegas.
"Padahal di sini aku korbannya, tapi aku tetap salah?" tanya Luna lagi untuk memastikan.
"Gak ada korban, gak ada tersangka. Cobalah untuk saling memahami satu sama lain, cobalah untuk saling mengerti, jangan berjalan di jalan masing masing. Ajak suamimu berdiskusi untuk membahas masalah ini enaknya gimana. Tapi jangan tekan suamimu. Masak kayak gini kamu gak faham." tutur Ariel gemas.
"Tapi intinya Mas nyalahin aku kan?" tanyanya dengan ngeyel.
"Sudahlah percuma ngomong sama kamu, kalau kamu tidak mau di salahkan. Kita udahin dulu, aku gak bisa lama lama megang hp jika ada di dekat Diana."
"Hm," ucap Luna kecewa.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam ."
Setelah itu, Ariel mematikan hpnya secara sepihak. Ia bahkan sudah tak lagi peduli dengan perasaan Luna yang kini tengah menangis tersedu sedu.
__ADS_1