
Dion menatap ke atas seperti sedang memikirkan sesuatu, sedangkan Ariel menunggu sampai Dion mengutamakan isi hatinya. Karena sejak tadi, ia melihat Dion seperti sedang resah dan ingin mengatakan banyak hal padanya.
"Maaf," ucap Dion. Dari tadi walaupun mereka mengobrol, namun Dion belum minta maaf secara langsung.
"Aku juga. Aku minta maaf mungkin selama ini, ada sikap dan kata-kataku yang menyakiti kamu." balas Ariel. Bagaimanapun ia hanya manusia biasa, ada kalanya ia pun juga melakukan kesalahan tanpa ia sadari.
"Hemm, aku malu."
"Kenapa?" tanya Ariel sambil menoleh ke arah Dion.
"Karena saat Luna masih sah jadi istri kamu, aku yang antar jemput dia dari Jember ke Jakarta. Membawa dia nginep di hotel, walaupun tidak tidur bersama. Lalu membawa dia jalan-jalan, melihat banyak wisata, seperti layaknya sepasang kekasih. Aku juga kadang lancang memegang tangannya dan memeluknya. Aku benar-benar minta maaf. Aku juga sudah menahan Luna untuk tinggal di kediaman orang tua aku seminggu lebih, padahal tak seharusnya aku melakukan hal itu. Aku juga memberikan perhatian yang berlebihan, mengirim pesan, Vidio call dan menelponnya hampir siang malam."
"Aku sudah memaafkan kamu. Lagian itu sudah masa lalu. Dan sekarang kamu sudah jadi tunangannya dan bentar lagi kalian akan menikah. Aku malah ingin mengucapkan terimakasih, karena saat Luna terpuruk, kamu selalu ada untuknya. Aku gak tau bagaimana jadinya, misal tidak ada kamu yang menguatkan Luna waktu itu. Kesalahan aku sangatlah fatal, bahkan aku pun sangat menyesali apa yang sudah terjadi di masa lalu. Namun aku juga tidak bisa memutar waktu, yang bisa aku lakukan, hanya minta maaf dan menebus kesalahan dan dosa-dosa aku selama ini. Tapi aku harap, jika kamu menikah dengan Luna, kamu bisa membahagiakannya. Karena aku merasa saat Luna menikah denganku, aku terlalu mengekang dia. Dulu aku sangat bucin, hingga aku tidak ingin dia berdekatan dengan pria lain bahkan aku juga tidak rela jika ada pria lain yang menatap ke arahnya. Dulu aku berfikir, Luna adalah milikku hingga aku bisa melakukan apa saja. Aku juga membatasi pergaulannya dan semuanya. Aku ingin Luna melakukannya apapun yang aku mau dan menuruti keinginanku. Dan Luna cukup patuh untuk itu. Dan bisa jadi kedatangan Laras ke Jakarta, mungkin karena Luna jenuh karena aku selalu mengekangnya hingga dia berfikir dengan kedatangan Laras, ia bisa punya temen ngobrol dan tak lagi merasa jenuh." Ariel bercerita panjang lebar
"Ada banyak kesalahan yang sudah aku lakukan, hingga puncaknya aku menghianati Luna, istriku, wanita yang aku cinta. Tapi kamu tenang aja, saat ini aku sudah bisa mengontrol perasaan aku. Bahkan aku merasa jika aku tidak lagi mencintainya. Tak ada lagi debaran seperti yang aku rasakan dulu. Aku hanya menganggap Luna sebagai Ibu dari putriku. Tidak lebih."
__ADS_1
Saat Ariel berbicara seperti itu, ada Luna yang mendengarkannya. Awalnya ia ingin masuk tapi saat mendengar Ariel cerita, entah kenapa ia malah memilih untuk berdiri di depan pintu. Untungnya pintunya tidak tertutup rapat sehingga Luna bisa mendengar dengan jelas ungkapan hati mantan suaminya itu.
Dan tiba-tiba saja hatinya begitu sakit. "Apakah masih ada setitik rasa untuknya, kenapa aku merasa tidak terima, Mas Ariel ngomong seperti itu," batin Luna dengan menitik kan air mata.
Luna gak jadi masuk, dan memilih untuk pergi dari sana dan menenangkan hatinya yang sekan tertusuk ribuan jarum.
Luna bahkan tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Kenapa ia bisa tidak terima dengan ungkapan hati Ariel barusan. Bukankah seharusnya ia biasa aja. Tapi kenapa ia merasa sakit saat Ariel mengatakan jika dirinya tak lagi mencintainya dan hanya menganggap Luna sebagai Ibu dari anaknya, tidak lebih.
Sedangkan di ruangan, Ariel dan Dion masih mengobrol dengan santai.
"Terimakasih sudah mau mengerti. Aku janji, aku akan jadi ayah terbaik buat Diana."
"Hemm aku percaya itu." balas Ariel tersenyum ramah.
Dan akhirnya mereka pun saling akrab dan tak ada lagi rasa canggung di antara mereka.
__ADS_1
Ini pertama kalinya untuk Dion dekat dengan Ariel, sebagai mantan suami dari calon istrinya dan sebagai mantan atasannya.
Dan ternyata Ariel tidak seburuk yang ia kira, Ariel malah terlihat santai dan mau berfikir dengan terbuka. Selama ini Dion berfikir, Ariel itu selain pengkhianat juga suami yang diktator.
Tapi dugaannya salah, di balik sikap Ariel yang pernah melakukan kesalahan yang tak termaafkan namun Ariel juga punya sifat baik, lembut dan ramah pada semua orang.
Ternyata benar, setiap manusia itu punya sisi baik dan buruk. Hanya saja kebanyakan, yang terlihat itu sisi buruknya, sedangkan sisi baiknya seringkali terlupakan.
"Sebenarnya sampai detik ini, aku belum bisa mendekatkan diri dengan Diana. Entah kenapa sejak keciL Diana seakan enggan untuk berdekatan denganku. Setiap kali aku gendong, dia selalu menangis dan meronta-ronta. Kadang aku berfikir, apa aku tidak layak menjadi Ayah sambungnya hingga Diana enggan berdekatan denganku," ujarnya lirih.
"Jangan berfikir seperti itu, mungkin Diana masih belum terbiasa. Bukankah Diana juga tidak dekat dengan Ayah Lukman dan Lintang. Jadi bukan hanya sama kamu aja, Diana tidak dekat. Jangan berfikir negatif. Kamu sangat layak kok jadi Papa sambung putriku. Mungkin kamu cuma butuh usaha lebih keras lagi untuk mengambil hatinya, agar dia mau sama kamu dan tak merasa asing dan takut lagi," saran Ariel.
"Iya kamu benar, mungkin selama ini usahaku kurang, makanya Diana gak mau sama aku."
Mereka terus mengobrol layaknya teman. Ah, bukan layaknya tapi karena memang saat ini mereka sudah resmi menjadi teman dan mungkin suatu saat akan beralih jadi sahabat. Entahlah, Ariel tak mau memikirkan sampai sejauh itu, ia hanya ingin menikmati apa yang ada tanpa mau mikir yang ribet-ribet
__ADS_1
"Jangan merasa pesimis,