Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Kebaikan Luna


__ADS_3

Keesokan harinya, Luna bangun jam tiga pagi. Ia segera mandi dan sholat malam, lanjut ia baca Qur'an sambil adzan shubuh terdengar. Luna menatap ke arah suaminya yang masih tertidur pulas, sebenarnya ia gak tega untuk bangunin, tapi ini sudah waktunya adzan shubuh dan lagi sebentar lagi suaminya itu harus berangkat ke luar kota.


"Mas, bangun. Sudah shubuh," ujarnya pelan agar suaminya tak kaget. Tak lama kemudian, Ariel-sang suami pun membuka matanya. Melihat sang istri yang memakai mukenah dengan wajah yang terlihat cantik membuat Ariel tersenyum. Ia emang selalu bangga dengan Luna, karena Luna selalu tampil cantik, tak pernah sekalipun ia melihat Luna tampil kusam atau berantakan. Luna selalu terlihat perfect dan itu membuat Ariel semakin mencintai Luna setiap harinya.


"Katanya mau keluar kota. Ayo bangun, mandi dulu terus sholat bareng," tutur Luna lembut. Membuat Ariel menganggukkan kepala. Ia pun bangun dari tidurnya. Lalu berjalan ke arah handuk yang bergantung di samping lemari. Setelah itu, ia pun berjalan ke kamar mandi. Sambil nunggu suaminya selesai mandi, Luna pun mengmbilkan sarung dan baju koko untuk Ariel.


Lalu ia duduk di atas sejadahnya dan wiridan.


Lima belas menit kemudian, Ariel keluar dari kamar mandi, ia melihat Luna yang duduk di atas sajadah sambil memegang tasbih, melihat itu. Lagi-lagi Ariel di buat kagum dengan sifat Luna yang tak kunjung berubah dari dulu sampai sekarang. Mungkin jarang di luar sana yang seperti Luna, cantik luar dalam. Setia dan penurut. Dan tak pernah membuat dirinya kecewa. Luna juga selalu mengalah dan tak pernah membantah ucapannya.


Ariel berjalan ke arah kasur dan mengambil sarung dan baju koko yang sudah di siapkan. Setelah itu, ia menaruh handuk basah ke tempat semula. Lalu berjalan ke arah sajadah yang ada di hadapan Luna. Melihat Ariel sudah siap, Luna menaruh tasbihnya, lalu ikut berdiri.


"Sudah siap, Sayang?" tanya Ariel dan Luna pun menganggukkan kepala.


Setelah itu, mereka pun melaksanakan sholat shubuh berjamaah.


Selesai sholat, Luna langsung melipat sajadahnya dan mengambilkan kemeja, CD, celana panjang milik suaminya.


"Mas ganti baju dulu ya," ujarnya.


"Iya, Sayang." Ariel mengganti lagi bajunya, dengan baju yang di siapkan oleh Luna. Sebenarnya bisa aja, tadi Ariel langsung memakai kemeja dan celana panjang, namun entah kenapa jika sholat, Ariel lebih suka pakai sarung dan baju koko, kecualli terpaksa pakai celana, baru ia akan pakai itu.


"Oh bajunya sudah aku masukkan ke koper ya sama kebutuhan Mas Ariel selama di sana," ujar Luna. Memang tadi malam sebelum tidur, setelah melakukan hubungan suami istri. Luna langsung menyiapkan kebutuhan suaminya agar gak keteteran. Karena kalau menyiapkan dadakan, kadang ada aja yang tertinggal.


"Makasih ya." Ariel memeluk Luna dan mencium kening luna.


"Kamu hati-hati ya di rumah, kalau ada apa-apa, chat aku atau telfon aku. DanĀ  nanti bilang aja ke sahabat kamu itu, langsung suruh ke resto aja, aku sudah menghubungi karyawan aku di sana. Dan jika bisa, kamu kasih aja uang buat sahabat kamu itu, agar tidak tinggal satu atap dengan kita. Bukan apa-apa, aku hanya menjaga hubungan romantis kita. Walaupun kamu yakin, dia gak akan merusak hubungan kita, tapi tetap aja kita harus jaga-jaga, iya kan?" ujar Ariel dan Luna pun menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Baiklah, Mas. Nanti aku akan kasih dia uang untuk cari kontrakan di luar sana."


"Iya sudah, Mas berangkat dulu. Jika kamu masih ingin tidur, tidur aja gak papa. Kamu pasti capek kan, karena tadi malam sudah main lama. Tapi ingat, jangan sampai lupa olah raga, terus jangan makan sembarangan," ucap Ariel mengingatkan.


"Iya, Mas."


Setelah itu, Luna mengantarkan suaminya sampai depan rumah. Ariel memasukkan koper kecilnya ke bagasi. Lalu setelah itu, ia masuk ke dalam mobilnya. Kali ini Ariel memilih untuk menyetir sendiri karena sopirnya tengah cuti. Dan Ariel gak bsia cari sopir dadakan, apalagi bagi Ariel mencari ART, Sopir, Satpam gak bisa sembarangan. Harus melewati seleksi yang ketat, karena Ariel tak ingin seperti sahabatnya, yang rumahnya kemalingan dan kehilangan barang berharga, dan parahnya yang nyuri adalah orang kepercayaannya. Kepala pelayan yang ada di rumahnya, padahal sudah bertahun-tahun mengabdi, tapi tetap aja kalau sudah hilang akal, bisa menghianati majikannya yang sudah menampungnya dan memberikan pekerjaan dengan gaji tinggi. Ariel gak mau itu terjadi, dan jika sopirnya cuti, ia memilih untuk nyetir sendiri dari pada harus cari pengganti.


Ariel bukan type orang yang mudah percaya gitu aja ke orang, kecuali mereka sudah lolos seleksi, barulah Ariel akan menerimanya dengan tangan terbuka.


"Aku berangkat dulu."


"Hati-hati di jalan. Nanti kalau sudah sampai, jangan lupa kabari aku."


"Siap, Nyonyaku," goda Ariel membuat Luna tersenyum.


Setelah Ariel tak terlihat, Luna masuk ke dalam dan ia melihat Bibi Imah dan Bibi Neni tengah ada di ruang tengah.


"Bibi ngapain?" tanya Luna heran.


"Itu Non tadi Bibi denger suara mobil, makanya keluar," jawab Bibi Imah tanpa ada yang ditutup-tutupi.


"Oh itu, Mas Ariel mau pergi keluar kota, Bi," sahut Luna memberitahu.


"Oh, Bibi fikir siapa," balas Bibi Imah.


"Tapi Non, kok tumben dadakan?" tanya Bibi Neni.

__ADS_1


"Iya, Bi. Ada urusan mendadak katanya. Mas Ariel juga tiga hari di sana, jadi kita bebas selama tiga hari, kan?" tanya Luna. Bibi Imah dan Bibi Neni pun juga ikut tersenyum senang.


Karena jika Ariel gak ada, Luna sedikit bebas tanpa aturan ini dan itu yang harus ia dengar. Setidaknya, mungkin ada satu dua aturan yang akan ia langgar.


"Oh ya, Bibi Imah mau ke pasar pagi ini?" tanya Luna.


"Iya, Non. Kenapa? Non mau ikut?" tanya Bibi Imah. Luna pun menggelengkan kepala.


"Enggak, Bi. Aku cuma mau nitip buat melon madu ya. Beli aja dua, nanti kita makan bareng."


"Siap, Non"


"Bibi Neni kalau mau ikut ke pasar gak papa, mumpung gak ada Mas Ariel. Bibi Neni pasti bosen kan di rumah terus, nanti habis dari pasar, baru bersih-bersih. Oh ya bentar." Luna pergi ke kamarnya dan mengambil dompet. Ia membuka dompet itu dan mengambil uang seratusan sebanyak lima lembar, lalu ia kembali menghampiri Bibi Neni dan Bibi Imah.


"Ini uang buat kalian Bibi Neni dan Bibi Imah, buat beli apa aja, jangan takut, ini gak akan motong gaji kalian kok. Mungkin Bibi Neni sama Bibi Imah mau beli baju daster atau beli apa aja, terserah kalian," ujar Luna sambil memberikan uang itu kepada Bibi Neni dan Bibi Imah.


"Makasih ya, Non," ujar mereka berdua bersamaan.


"Sama-sama, iya sudah sana gih pergi nanti kesiangan. Apa aku pesankan taxi online?" tanya Luna.


"Enggak usah, Non. Naik bentor aja, kasihan Pak Ikhan yang nangkring di pangkalan. Sekalian bagi-bagi rezeki sama dia," tolak Bibi Imah.


"Iya sudah, kalian hati-hati ya. Lama dikit juga gak papa kok," tutur Luna yang memberikan kebebasan untuk asisten rumah tangganya itu, yang sudah ia anggap seperti keluarga sendiri.


"Siap, Non. Kalau gitu Bibi berangkat dulu ya."


"Iya, Bi."

__ADS_1


Dan setelah itu, Bibi Imah dan Bibi Neni pun berangkat menuju pasar. Untuk uang belanja, Bibi Imah seringkali di kasih uang Mingguan. Biasanya akan di kasih setiap Senin, tapi misal ada lebih, lebihnya untuk Bibi. Tapi misal kurang, Bibi akan bilang ke Luna dan Luna akan dengan senang hati memberikannya. Luna emang gak pelit, begitupun Ariel, hanya saja bedanya kalau Luna itu baik banget sedangkan Ariel selalu menuntut kesempurnaan.


__ADS_2