
Keadaan Ariel semakin hari semakin memburuk, seminggu sudah, Ariel tak sadarkan diri sejak pingsan beberapa hari yang lalu. Dan itu membuat Noah khawatir, hingga ia memutuskan untuk membawa Ariel ke rumah sakit. Dan benar saja, keadaan Ariel sangat kritis. Akibat terlalu stres membuat sebagian tubuh Ariel tidak berfungsi, alias Ariel mengalami strok ringan. Namun masih bisa di sembuhkan dengan menjalani beberapa terapi.
Memang benar, bahwa sembilan puluh persen penyakit itu datang dari fikiran. Seperti Ariel contohnya, karena tidak bisa mengelola emosinya dengan baik dan banyak beban yang harus di fikirkan membuat tubuh Ariel tak bisa menopangnya hingga ia harus ambruk dan terpaksa di rawat di rumah sakit selama beberapa hari ke depan.
Bibi Imah dan Bibi Neni pun merasa kasihan dengan kondisi majikannya itu. Sesekali Bibi Imah dan Bibi Neni pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Ariel dan membawa baju buat Ariel serta membawakan makanan untuk Noah yang terus berjaga di rumah sakit.
Ariel seakan menekan alam bawah sadarnya untuk tidak bangun, hingga ia terus memejamkan mata membuat Noah, Bibi Imah dan Bibi Neni mengkhawatirkan keadaannya. Noah juga sudah memberitahu Ardi-Papanya Ariel. Namun Ardi hanya menitipkan putranya itu kepada Noah karena keadaan istrinya juga tidak baik baik saja. Siapa lagi kalau bukan Ila-Mamanya Ariel yang sampai detik ini, jiwanya masih tergoncang akibat masalah yang Ariel timbulkan.
Ardi hanya mentransfer sejumlah uang ke rekening Noah untuk membiayai semua perawatan Ariel selama di rawat di rumah sakit. Noah benar-benar bingung. Di saat seperti ini, bahkan orang tuanya dan keluarga besarnya pun tak mau menjenguk Ariel walaupun sebentar. Mereka masih kecewa karena Ariel sudah mencoreng nama baik keluarga besar mereka.
"Inilah efek dari selingkuh, berat," gumam Noah kesal. Sambil menatap Ariel dengan tatapan sendu.
"Andai, kamu gak neko-neko, pasti sekarang hidup kamu bahagia bersama Luna, apalagi kalian akan segera punya anak. Lima bulan lagi, yah lima bulan lagi Luna akan melahirkan dan kamu akan menjadi seorang ayah. Seharusnya kamu senang, bukankah itu yang kamu inginkan dari dulu, mempunyai anak dari Luna. Tapi kenapa malah seperti ini?" tanya Noah berbicara sendiri.
__ADS_1
"Kenapa kamu gak bisa menahan nafsu kamu itu? Jika pun kamu kepengen berhubungan badan, kamu bisa melampiaskan ke Luna yang sudah halal untuk kamu, tapi kenapa malah kamu melampiaskan ke sahabat istri kamu sendiri. Aku aja kepengen di tahan karena memang belum ada yang halal, aku aja bisa menahannya, tapi kenapa kamu enggak? Padahal hidup kamu lebih enak dariku, karena kamu sudah punya yang halal, sehingga jika ingin bisa langsung membawa Luna ke kamar. Berbeda denganku, yang harus olah raga berat atau memilih puasa untuk bisa menghilangkan rasa keinginanku yang teramat kuat. Aku memilih menyiksa diriku sendiri dari pada harus melakukan dosa besar. Hhh ... " Noah menghela nafas besat. Ia terus menatap Ariel yang enggan membuka mata. Tangannya juga terpaksa di infus karena gak ada makanan yang masuk, gimana ada makanan masuk jika Ariel sendiri tak mau buka matanya. Alam bawah sadarnya seakan memberikan perintah agar Ariel tak perlu bangun, karena jika bangun pun, Ariel hanya bisa merasakan rasa sakit yang terama sangat.
"Kamu harus bangun, Riel. Jika kamu emang pengen memperbaiki kesalahan kamu, kamu harus sehat dan kamu bisa meminta maaf secara langsung pada Luna, aku yakin dia akan memaafkan kamu. Dia wanita yang sangat baik, dia gak mungkin tega membiarkan kamu menderita. Ingatlah, kamu akan menjadi seorang ayah, kamu akan punya anak dari Luna dan Laras. Kamu gak boleh lemah seperti ini, kamu gak boleh menyerah sama keadaan. Kamu harus sehat kembali dan menjadi ayah yang baik buat anak anakmu kelak." Noah terus memberikan semangat buat Ariel. Ia gak mau Ariel menyerah dengan keadaan hingga memilih untuk tidur selamanya. Noah belum siap, jika harus kehilangan Ariel untuk selamanya.
Saat Noah mengajak Ariel bicara, tiba-tiba saja tubuh Ariel kejang-kejang membuat Noah panik seketika. Ia langsung berlari mencari dokter yang menangani Ariel. Oh Tuhan, kenapa lagi dengan Ariel?
Noah kembali beberapa menit dengan dua dokter yang ada di belakangnya. Dua dokter itu pun langsung memberikan penanganan ke Ariel. Sedangkan Noah hanya bisa diam, tak terasa ia menitikkan air mata. Ia takut, takut jika Ariel kenapa-napa.
"Lun, kamu dimana? Suamimu sakit, Lun. Kenapa kamu belum pulang juga?" tanyanya dengan meremas ponsel yang ia pegang.
Cukup lama Noah menunggu hingga akhirnya pintu ruangan Ariel di buka. Noah langsung mendekati sang dokter untuk menanyakan keadaan Ariel.
"Dok, gimana keadaan saudara saya?" tanyanya.
__ADS_1
"Untuk saat ini, tolong diajak bicara yang baik-baik aja ya, jangan diajak bicara yang membuat beban Tuan Ariel semakin berat. walaupun Tuan Ariel tidak membuka mata, namun ia mendengar apa yang dibicarakan oleh orang di sekitarnya. Tadi mungkin Tuan Ariel cukup mengalami stres berat sehingga membuat tekanan darah meningkat, pembuluh darah menyempit dan bernafas lebih cepat. Tolong, dijaga emosi Tuan Ariel, karena jika ia terlalu stres, tubuhnya bisa melepas hormon korisol dan adrenalin yang membuat kerja tubuh jantung menjadi ebih cepat sehingga menimbulkan efek kejang-kejang," ucapnya memberikan Noah pengertian, agar tidak membicarakan hal hal yang membuat pasiennya semakin stres hingga memperburuk keadaannya.
Noah tidak mengerti apa yang di bicarakan oleh dokter, karean fikirannya tengah kacau. Namun yang bisa ia tangkap, ia gak boleh ngomong sesuatu yang membuat fikiran Ariel semakin stres. Yah, itulah yang ia tangkap dari omongan dokter yang ada di hadapannya.
"Baik, Dok," sahut Noah mengiyakan saja, ia juga bingung mau nanya apalagi. Fikirannya seakan kosong karena terlalu kaget melihat tubuh Ariel yang kejang-kejang tadi.
Setelah itu, dua dokter tadi pun pamit pergi. Noah masuk lagi ke dalam dan melihat keadaan Ariel yang tak lagi kejang-kejang. Noah duduk di kursi samping brankar. Dan melihat wajah Ariel yang masih pucat.
"Maafin aku ya, jika omongan aku terlalu keras tadi. Aku menyesal," tutur Noah meminta maaf.
"Kamu harus sembuh, aku gak ingin kamu meninggalkan aku secepat ini, nanti aku akan bantuin kamu agar Luna bisa maafin kamu dan memberikan kamu kesempatan. Tapi kamu harus janji sama aku, kalau kamu akan sembuh dan kembali sehat seperti dulu," ucap Noah sambil menatap wajah Ariel.
Noah begitu setia mendampingi Ariel, percayalah di saat kamu sakit atau bahkan sekarat sekalipun, yang ada di sisimu itu pasti salah satu keluargamu. Bukan temanmu atau pun sahabat kamu. Untuk itu, jangan sampai kamu bertengkar dengan saudaramu dan memilih untuk mengakrabkan diri dengan teman, karena sebaik apapun teman, tetap aja mereka itu orang asing. Mereka hanya ada saat kita senang aja, tapi saat sedih, mereka seakan menghilang begitu saja. Jika dekat sama teman hanya karena ingin cari hiburan, mungkin tak apa. Tapi jangan sampai kelewat batas, jangan terlalu memanjakan teman, karena jika kita kenapa-napa atau terkena musibah, percayalah mereka akan memberikan seribu alasan agar terhindar dari masalah kita. Karena mereka gak mau ikut kena dampaknya.
__ADS_1