
Sesampai di rumah, Luna langsung masuk ke kamarnya. Ia segera mandi, sholat lalu istirahat. Ia merasa lelah, di tambah fikirannya saat ini tengah kacau, ia memikirkan suaminya yang pergi entah kemana. Ia juga memikirkan Laras yang katanya sedang sakit, tapi saat di datangi rumahnya malah kosong. Dan dua-duanya noemernya gak ada yang aktiv.
"Mereka pada kemana sih?" tanya Luna sambil meremas bantal guling sebagai pelampiasannya.
"Kemana mereka menghilang secara bersamaan gini? Enggak mungkin jika mereka tengah pergi berdua kan?" tanyanya pada diri sendiri.
"Ya Tuhan, kenapa fikiran aku negatif terus. Aku kenapa?" keluh Luna sambil menatap langit-langit kamar. Ia menitikkan air mata, ia merasa khawatir dan takut, namun anehnya ia juga bingung kenapa merasakan hal seperti ini.
Luna mengambil lagi hpnya dan mencoba untuk menelfon Laras dan Ariel namun nomer mereka masih tidak ada yang aktiv. "Haruskah aku menyuruh seorang detektif, tapi apa itu gak keterlaluan. Lagian mungkin saja Mas Ariel ada pekerjaan lain dan karena ia terburu-buru jadi lupa ngasih kabar aku dan karena hpnya drob, jadi gak aktiv. Dan Laras bisa jadi dia pergi ke rumah sakit berobat dan lupa bawa HP. Atau mungkin hpnya juga tengah drop, iya kan?" Luna berusaha untuk berfikir positif, ia tak ingin berburuk sangka kepada suami dan sahabatnya itu. Ia tak mau karena fikiran negatifnya membuat dirinya
Karena fikirannya yang semakin kacau dan ia gak bisa tidur, akhirnya Luna pergi keluar kamar. Namun sebelum itu, ia mencuci muka agar tidak ketahuan jika habis menangis.
Luna pergi mencari Bibi Neni dan Bibi Imah, sayangnya hanya ada Bibi Imah saja di belakang.
"Bibi Neni mana, Bi?" tanya Luna sambil duduk di samping Bibi Imah.
"Tidur siang, Non. Ada apa, Non?" tanya Bibi Imah sambil menoleh ke arah Luna.
"Enggak papa, Bi. Bibi gak tidur?"
"Enggak, Non. Enggak ngantuk soalnya. Non sendiri kenapa gak tidur?"
"Sama, Bi. Aku juga gak ngantuk."
"Enggak rujaan, Bi?"
__ADS_1
"Males, Non. Libur dulu. Non mau kah, kalau mau Bibi buatkan?"
"Enggak, Bi. Aku cuma nanya aja."
"Oh, gimana tadi di resto, Non?" tanya Bibi, mendengar pertanyaan itu membuat wajah Luna sendu.
"Mas Ariel dan Laras gak ada di resto, Bi."
"Kok bisa, Non?"
"Entahlah, Bi. Kalau Laras, katanya dia sakit. Kalau Mas Ariel, gak tau dia pergi kemana. Mungkin ada urusan di luar."
"Laras sakit, kok gak ngasih tau Non Luna?"
"Iya itu, Bi. Apa mungkin lupa ya, Bi."
"Udah tadi, tapi rumahnya kosong."
"Loh terus kemana? Non gak nelfon?"
"Sudah, Bi. Tapi nomer mereka gak aktiv."
"Jadi nomer Tuan Ariel dan Non Luna sama-sama gak aktiv."
"Iya, Bi."
__ADS_1
"Kok fikiran Bibi. Emmm ... jadi gini ya," ucap Bibi membuat Luna penasaran.
"Kenapa, Bi?" tanya Luna, gak mungkin pemikiran mereka sama kan?
"Maaf ya, Non. Bukan maksud Bibi lancang. Tapi apa Non gak curiga sama mereka? Sama Tuan Ariel dan Non Laras, bukan apa-apa, tapi ini kek kebetulan banget gitu loh. Dua-duanya menghilang dan nomernya sama-sama gak aktiv," jawab Bibi Imah tak enak hati. Tapi ia juga gak bisa memendam perasaannya sendiri, ia ingin Luna tau, apa yang saat ini tengah ia fikirkan.
"Sebenarnya fikiran kita sama, Bi," sahut Luna dengan suara lemasnya.
"Bagaimana kalau kita jadi detektif dadakan, Non," ujar Bibi Imah.
"Maksudnya, Bi?"
"Non ngawasin Tuan Ariel, dan Bibi yang ngawasin Non Laras."
"Ngawasih gimana, Bi. Laras aja berangkat pagi sampai malam. Pulang paling tidur, Mas Ariel juga gitu."
"Non sadap aja Hpnya Tuan, Non."
"Enggak berani aku, Bi. Takut ketahuan. Bahaya kalau ketahuan. Mas Ariel kalau marah, bikin aku takut."
"Iya juga sih, terus enaknya gimana? Apa Non buntutin aja pas Tuan Ariel keluar."
"Kalo ketahuan gimana?"
"Ya jangan pakai mobil milik Non Luna tapi pakai taxi atau yang lainnya, yang sekiranya gak ketahuan sama Tuan."
__ADS_1
"Baik deh, nanti aku fikikin lagi."
Luna dan Bik Imah pun mengobrol santai di belakang sambil menghirup udara segar, sedangkan Dion, ia kamar tamu, karena Luna tadi meminta Dion untuk istirahat di kamar itu. Dan Dion pun tak menolaknya karena ia merasa lelah dan pengen istirahat.