
Sambil memakan jagung bakar manisnya, Luna membuka hpnya dan melihat semua rekaman yang ada di rumahnya, ia mencari keberadaan Laras dan juga Ariel yang ternyata kini tengah berada di kamar mandi dapur. Yah, awalnya Ariellah yang masuk sendirian, dan gak lama kemudian, Laras pun ikut masuk.
Tak perlu di ceritakan apa yang mereka lakukan, tentunya semua orang pasti tau, seorang perempuan dan seorang laki-laki berada di kamar mandi, tak mungkin mereka tengah bermain game, atau mengobrol biasa. Tentu ada adegan panas hingga suara desa han yang keluar.
Entah kenapa melihat adegan itu, tak lagi membuat hati Luna panas. Mungkin karena ia sudah memprediksinya dari awal, bahwa mereka sudah banyak melakukan hal seperti itu, jadi saat ia melihat secara langsung, Luna hanya menatap sinis. Ia menaruh kembali hpnya di saku, ia tak akan menonton terlalu lama, karena ia pun sangat jijik melihatnya.
"Kamu kenapa?" tanya Dion melihat wajah Luna yang seperti tengah menahan rasa jijik.
"Gak papa, perutku gak enak aja, kayak pengen mual gitu," jawab Luna.
"Kamu kebanyakan makan jagung bakarnya, kita makan daging yuk. Enak kayaknya makan sama nasi, sambal sama lalapan timu juga. Apalagi ada kerupuknya itu." ajak Dion.
"Baiklah, kita pindah makan nasi."
"Kamu mau daging apa? Sapi, Kambing atau Ayamnya?" tanya Dion.
"Sapi aja deh, kayaknya lebih matang ya, irisanya tipis banget, harum juga," sahut Luna. Dion pun mengambilkan nasi dan daging sapi lalu memberikannya ke Luna. Luna pun menerima piring itu lalu menambahkan nasi satu centong, sambal, dan lalapan terong yang di goreng setengah matang, timun mentah, kemangi mentah sama kerupuk tiga biji.
Dion sendiri mengambil daging ayamnya sama daging kambing lalu seperti Luna, ia juga mengambil nasi, sambal dan lalapan gubis putih yang kalau di makan krenyes krenyes sama kemangi mentah dan kerupuk. Lalu Luna dan Dion pun makan bareng.
"Bibi Imah, Bibi Neni, dagingnya jangan lupa di makan. Ini banyak loh," ucap Luna.
"Iya, Non. Ini masih ada ikanya, nanti saya ambil dagingnya juga, tapi mau ngabisin ikannya dulu," jawab Bibi Imah.
"Iya, jangan makan sedikit, ini masih banyak banget, harus di habisin, kalau di makan besok, sudah pasti beda rasanya, gak seenak sekarang," tutur Luna.
"Iya, Non," jawab Bibi Neni dan Bibi Imah bersamaan.
"Dagingnya enak, empuk," ucap Luna.
"Iya, kan. Bakarnya lama, terus di kasih bumbu berapa kali selama ada di atas panggangan, makanya empuk, rasanya lezat dan aromanya pun bikin mengunggah selera. Bibi Imah emang pandai kalau bikin bumbu," puji Dion. Bibi Imah yang mendengar hal itu pun hanya diam. Dia tidak haus akan pujian, jadi ia bersikap biasa seakan-akan gak mendengar apa-apa.
"Bibi Imah emang juara kalau suruh masak, bikin bumbu apapun. Entah itu bumbu rujak, makanan, dan yang lainnya. Makanya aku sayang sama Bibi Imah, dan misalkan nanti aku keluar dari rumah ini. Aku akan bawa Bibi Imah sama Bibi Neni. Karena Bibi Neni jago bersih-bersih, semua pekerjaan yang dia lakukan rapi, bersih dan patut di acungi dua jempol. Bibi Imah dan Bibi Neni gak bisa di pisahkan, mereka jago dalam bidang masing-masing," ucap Luna bercerita, sedankan orang yang menjadi tokoh ceritanya hanya diam mendengarkan.
"Emang kamu akan keluar dari rumah ini?"
"Iya, tapi gak tau kapan. Yang jelas, aku akan segera keluar dari rumah ini karena gak cocok lagi buat aku. Dan aku akan bawab Bibi Imah dan Bibi Neni, aku gak mau cari pembantu lain. Aku sudah cocok sama Bibi Imah dan Bibi Neni, mereka bukan hanya asisten rumah tangga, tapi mereka sudah aku anggap seperti keluarga," ujar Luna.
"Dan belum tentu aku bisa mendapatkan ART yang lebih baik dari mereka di luar sana, kan. Jadi dari pada aku susah payah, aku akan bawa mereka kemanapun aku pergi."
"Emang Tuan Ariel memperbolehkan kamu bawa mereka?"
__ADS_1
"Itu kan hak Bibi Neni sama Bibi Imah, kalau mereka mau ikut aku, emang ada yang bisa melarangnya, gak ada kan? Mereka berhak memilih kepada siapa mereka ingin bekerja," jawab Luna. Mendengar ucapan Luna, Bibi Imah dan Bibi Neni pun merasa tersanjung, mereka emang akan selalu ikut kemanapun Luna pergi. Karena mereka juga gak mau kehilangan majikan sebaik Luna.
Saat mereka tengah mengobrol, Laras datang dengan baju yang sedikit berantakan dan rambut yang sedikit acak-acakan.
"Kamu dari mana, Laras. Kok baju kamu kusut banget gitu, kayak habis melakukan hubungan badan aja, sampai sekusut itu?" tanya Luna dengan wajah polosnya sambil memasukkan nasi dan lauk pauknya ke dalam mulutnya.
Sedangkan yang di tanya pun merasa deg-degan, tak menyangka jika kedatangannya akan di lihat secara langsung oleh Luna. Apesnya lagi, Luna menanyakan hal yang memang itulah yang ia lakukan barusan.
"Ah itu aku tadi dari kamar mandi, perutku sakit banget. Jadi aku memegang baju dan rambut aku sampai akhirya kusut kayak gini,"
"Ah gitu ya. Aku baru tau, orang sakit perut, tapi tampilan sudah seperti habis perang di atas kasur aja," ucapnya lagi membuat Laras semakin gugup.
Ia mengambil piring yang tadi ia tinggalkan gitu aja dan duduk gak jauh dari Luna dan Dion.
"Mas Ariel di mana?" tanya Luna lagi, masih terlihat santai, bahkan ia menikmati makanannya.
"Aku gak tau, emang dia kemana?" tanyanya pura-pura bodoh.
"Loh mana aku tau, kan kalian pergi barengan. Aku fikir Mas Ariel bareng kamu," sahutnya membuat Laras berkeringat.
"Enggaklah, emang ngapain pergi bareng," ujar Laras terkekeh, namun ia mengeluarkan keringatnya sangking gugupnya.
"Ya siapa tau kan, soalnya barengan sih dan sampai sekarang Mas Ariel belum juga muncul."
"Nanti aja deh aku cari kalau udah selesai makan, nanggung ini, lagi enak-enaknya soalnya." Luna terus makan, seakan tak terjadi apa-apa. Sedangkan Dion menatap Luna yang kelewat santai. Baru ini ia tau, ada wanita terlihat biasa aja melihat suaminya selilngkuh dengan sahabatnya. Kalau yang ia tau, seharusnya Luna melabrak Laras, saling jambak-jambak an, atau mempermalukannya di media sosial seperti yang lagi viral akhir-akhir ini tapi ini Luna malah biasa aja, seakan-akan tak terjadi apa-apa.
Luna emang cewek aneh, entah apa yang ada dalam fikirannay itu hingga Luna bisa sehebat ini dan sekuata ini. Akankah Luna pernah merasakn rasa sakit yang lebih pedih dari ini, sehingga saat ia tengah di khianati, mentalnya sudah kuat dan tak lagi merasa tertekan akan masalah yang ia hadapi.
Nasi dan lauk pauk Luna sudah habis, namun bukannya berhenti. Luna mengambil satu centong nasi lagi, sambal, kemangi dan timun yang di iris miring itu. Lalu ia pergi mengambil ikan yang tadi di bakar oleh Bibi Imah dan Bibi Neni.
"Bibi, ayo kalau mau nambah. Itu dagingnya masih banyak loh, jagung bakar juga belum ada yang makan kecuali aku dan Mas Dion, ayo nambah, jangan merasa malu atau taku, nasinya juga masih banyak itu," ucap Luna.
"Iya, Non. Ini juga mau nambah." Bibi Neni dan Bibi Imah pun kompak menambah nasi, sambal, lalapan kerupuk dan mengambil daging sapi. Bibi Imah mengambil daging sapi sama daging ayamnya. Sedangkan Bibi Neni mengambil daging kambiingnya aja.
"Nah gitu dong," ucap Luna senang.
Bibi Imah dan Bibi Neni pun hanya geleng-geleng kepala karena Luna sudah tak lagi seperti dulu. Jika dulu hanya makan makanan hambar aja dan makan makanan yang sehat. Tapi sekarang, Luna malah seperti mereka yang makan apa aja dan dengan porsi banyak.
"Laras gak mau nambah?" tanya Luna.
"Enggak ini aja aku sudah kenyang," jawabnya.
__ADS_1
"Jangan makan dikit, jarang-jarang kita makan bareng gini kan sambil barbeque,"
"Iya sih, tapi aku beneran sudah kenyang. Aku makan jagung bakar aja deh," ucap Laras. Ia menaruh piringnya gitu aja, lalu cuci tangan dan membersihkannay dengan tisu. Dan setelah itu, ia mengambil jagung bakar dan memakannay dengan pelan.
"Mas Dion gak nambah?" tanya Luna.
"Enggak, aku kenyang," jawabnya sambil mengelus perutnya yang terasa sesak karena banyak makan.
"Oh gitu, yakin kenyang beneran, nanti karena malu sama aku, jadi gak mau nambah lagi. Kalau di sini mah jangan malu-malu, gak perlu sungkan juga, kita ini kan keluarga, jadi makan aja apa yang mau di makan, gak perlu gengsi atau apapun," ucap Luna dan Dion pun hanya menganggukkan kepala.
"Aku beneran sudah kenyang, takutnya kalau di paksa, malah muntah," ujar Dion. Mendengar hal itu, Luna pun tak memaksanya lagi.
Saat Luna lagi makan, ia melihat Ariel datang. Luna mengernyitkan dahinya.
"Dari mana, Mas. Kok ganti baju?" tanya Luna, lagi ia pura-pura seperti orang bodoh, padahal ia tau bahwa suaminya itu habis main kuda-kudaan dengan sahabatnya sendiri.
"Gerah habis bakar-bakar daging, jadi aku langsung pergi ke kamar, mandi dan ganti baju. Karena baju aku yang tadi bau keringat," jawabnya sambil mengambil jagung bakar dan memakannya.
"Oh, aku fikir dari mana. Itu nasinya gak di habisin?" tanya Luna smabil menunjuk piring yang masih ada sisa nasi sedikit sama lauk pauknya.
"Enggak deh, males. Aku makan jagung bakarnya aja," jawab Ariel, setelah main kuda-kudaan ia emang males nerusin makannya, jadi ia makan jagung bakar aja seperti Laras.
"Oh ya udah. Lain kali kalau makan habisin dulu, baru melakukan kegiatan yang lain, biar gak mubazir," ucapnya seperti mengandung tanda tanya besar.
"Ya lain kali gak gitu, aku beneran sumuk banget tadi, makanya pengen cepat-cepat mandi."
"Padahal udaranya seger loh, aku aja yang dari tadi bakar jagung juga gak sumuk-sumuk banget," ujar Luna yan sudah selesai makan dan kini tengah menumpuk piring kotor, di jadikan satu dan menaruhnya di wastafel yang ada di dapur.
Lalu ia kembali dan duduk di samping Dion.
Ariel tak menjawab ucapan Luna dan fokus makan jagung bakarnya.
"Hidup ini penuh teka teki ya," tutur Luna lagi, dari tadi dialah yang paling cerewet. Mungkin karena yang lain diam dan merasa sungkan jika banyak bicara, atau karena ini pertama kali kumpul bareng kayak gini untuk barbeque. Jadi belum terbiasa.
"Kok bisa yank?" tanya Ariel.
"Ya, bisa aja. Karena kenyataannya setiap manusia itu punya rahasia tersendiri. Hidupnya penuh teka teki, kadang baik, kadang jahat, entah apa yang dia sembunyikan," jawabnya membuat yang lain tak mengerti kenapa tiba-tiba Luna bicara seperti itu.
"'Ah ya, aku punya kata-kata yang aku ambil dari google. Kata-katanya sih simple tapi ngena banget, 'Jangan merasa penting dalam kehidupan orang lain. Ingat! Hati manusia itu mudah berubah. Hari ini kamu berharga, mungkin esok kamu tak lagi berguna'. Entah kenapa kata-kata ini seperti yang aku rasakan saat ini. Dulu aku merasa begitu berharga di matanya, namun sekarang, aku sadar aku tak lagi berguna untuknya. Miris memang, tapi itu yang aku rasakan," ucap Luna tertawa getir.
"Kamu kenapa yank, apa makan banyak bikin kamu jadi suka ngomong ngelantur gini?" tanya Ariel tak suka melihat wajah Luna yang seperti menahan rasa sakit.
__ADS_1
"Entahlah, mungkin benar, efek kenyang bikin aku ingin bicara ngelantur," jawab Luna tersenyum sambil melihat ke arah Ariel.
Sedangkan Laras sedari tadi memilih diam, ia takut, takut jika Luna tau apa yang ia lakukan barusan. Namun jika memang tau, kenapa Luna bersikap biasa aja dan tak terjadi apa-apa. Tapi jika mendengar kata-kata Luna, ia bisa meraskan jika Luna kini tengah menyembunyikan sesuatu. Karena ia tau betul, Luna tidak akan mengeluarkan kata-kata itu jika hatinya baik-baik aja.