Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Firasat Luna Yang Tidak Enak


__ADS_3

"Siang Mbak Nani," sapa Luna ramah. Saat ia sudah tiba di depan kasir, ia sengaja pergi ke kasir dulu untuk menemui Laras, namun sayangnya, Laras tak ada di sana dan hanya ada Nani saja di sana.


"Laras mana ya, Mbak?" tanya Luna sambil berdiri di sana. Nani yang di ajak ngobrol pun menjawab dengan ramah, karena untuk bisa mengobrol dengan Luna, tidaklah mudah. Mengingat bosnya yang suka posesif. Semua karyawan tau, bahwa Luna ingin mengobrol sama mereka semua, sayangnya, Ariel selalu melarangnya dan selalu menyembunyikan Luna di ruangannya setiap kali Luna pergi ke resto.


"Laras tidak masuk, Bu," jawabnya.


"Loh kenapa?" tanya Luna penasaran.


"Katanya sih sakit, Bu."


"Sejak kapan gak masuk?"


"Baru hari ini saja sih, Bu."


"Oh, kalau Mas Ariel ada?"


"Tadi sih ada, sekarang lagi keluar."


"Kemana?"


"Kurang tau, Bu."


"Sudah lama keluarnya?"


"Sekitar sejam yang lalu," jawabnya lagi. Untungnya kasir sepi, jadi Nani bisa mengobrol dengan leluasa dengan Luna yang cantik bak boneka itu. Nani aja terpesona dengan kecantikan Luna, apalagi suaminya dan para kaum adam.


"Oh, gitu ya."


Nani pun menganggukkan kepala, karena bingung mau ngrespon gimana.


"Hari ini sepi ya?" tanya Laras melihat kursi masih banyak yang kosong.


"Iya, Bu. Gak seperti biasanya."


"Hmmm, kamu sudah makan? Kalau belum makan siang dulu, nanti sakit loh."

__ADS_1


"Terus yang jaga kasir?"


"Biar aku dulu. Santai ajalah, lagian aku bosen di rumah," jawab Luna santai. Nani pun menganggukkan kepala, akhirnya ia menggantikan posisi Nani untuk menjaga kasir sementara waktu. Sambil menunggu, Luna menelfon Dion untuk masuk ke dalam.


"Ada apa, Non?" tanya Dion setelah sampai di depan Luna.


"Kamu pesen makanan dan minuman gih, nanti biar aku yang bayar. Tuh mumpung banyak kursi kosong, dari pada nunggu aku di luar, aku kayaknya juga lama di sini."


"Loh Non gak ketemu sama Tuan Ariel?"


"Enggak, keluar katanya," jawab Luna lesu.


"Iya sudah gak papa, Non. Mungkin Tuan lagi ada kesibukan di luar," ucap Dion memberikan perhatian pada Luna.


"Iya, kamu pesen sana dah."


"Iya, Non."


Mumpung di traktir, Dion pun mengambil kursi kosong dekat jendela dan memesan makanan dan minuman. Padahal uang Dion tak kalah banyaknya dari Ariel, karena ia pemilik perkebunan teh dan bahkan punya pabrik teh sendiri. Produknya pun juga sudah tersebar di mana-mana, bukan hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri. Tapi sampai sekarang masih aja, jika ada yang mentraktir dirinya, Dion gak akan sungkan untuk menolaknya. Karena ia pencinta gratisan. Karena baginya, rasanya beda antara bayar sendiri, sama di bayar oleh orang lain.


Jam satu, Nani kembali ke kasir menghampiri Luna.


"Maaf ya Bu, lama. Soalnya tadi habis makan, ngobrol bentar sama Mbak Felly. Setelah itu sholat, tapi malah ketiduran," ucap Nani merasa tak enak hati, sudah mending Luna datang dan mau membantu dirinya, tapi dirinya malah gak tau diri meninggalkan Luna terlalu lama.


"Gak papa, santai aja. Ya sudah aku mau ke yang lain dulu ya," ucap Luna sambil mengambil tasnya.


Lalu Luna pergi ke dapur menyapa  Alfin, Cika dan Shella yang mengurus bagian makanan. Luna mengbrol sebentar dengan mereka. Lalu setelah itu, Luna juga menyapa Tyo dan Felly yang mengurus bagian minuman. Luna ingin akkur sama semua karyawan suaminya, jadi walaupun bentar, Luna berusaha untuk menghampiri mereka dan mengajak mereka mengobrol.


Luna juga menyapa Andi dan Reyhan yang bagian mengantar pesanan, tak lupa mereka juga menyapa Fita dan Friska, bagian mencatat pesanan. Luna juga menyapa Ibu Laila dan Ibu Fatimah bagian pencuci piring, serta Ibu Luluk bagian bersih-bersih. Terakhir Luna pergi ke ruangan Anggi dan mengobrol dengan Anggi di sana.


"Hallo Mbak Anggil," sapa Luna agak kaku.


"Silahkan duduk, Bu," ucap Anggi ramah.


"Mbak Anggi, aku mau nanya. Kamu tau gak, kemana suamiku pergi?" tanya Luna to the point.

__ADS_1


"Kurang tau, Bu. Soalnya Bapak gak bilang apa-apa," jawab Anggi.


"Apa suamiku sering keluar?"


"Iya, Bu."


"Terus Laras katanya sakit?"


"Iya, Bu. Bapak yang bilang tadi kalau Laras sakit."


"Jadi Laras gak izin sendiri?"


"Enggak, Bu. Laras izin melalui Bapak," ucap Anggi sambil memperhatikan raut wajah Luna yang sendu.


"Kenapa, Bu?" tanya Anggi.


"Enggak papa. Ya sudah Mbak Anggi, aku keluar dulu ya. Kapan-kapan kita ngobrol lagi."


"Iya, Bu."


Setelah itu, Luna pun mengajak Dion pergi dari sana. Tak lupa sebelum itu, Luna membayar tagihan makanan dan minuman Dion. Walaupun ini resto suaminya, tetap saja ada harga yang harus di bayar. Dan Luna pun tak mempermasalahkannya, toh harganya juga tak sampai seratus ribiu. Hanya delapan puluh sembilan ribu.


Saat di dalam mobil, Luna memilih diam. Sedangkan Dion fokus menyetir. Dion melihat raut wajah Luna seperti menahan banyak beban, namun Dion tak berani bertanya karena ia termasuk orang luar, jadi ia gak mau kepo tentang urusan majikannya itu.


"Dion, kita ke rumah Laras ya, gak jauh dari rumah aku kok," pinta Luna.


"Baik, Non." Dion hanya bisa mengikuti kemauan Luna, karena dirinya hanya sebagai sopir yang hanya bisa menurut, tanpa bisa menolak apalagi membantah. Luna memberikan petunjuk hingga membudahkan Dion untuk pergi ke rumah Laras.


Sesampai di depan rumah Laras, Luna dan Dion turun dari mobil dan mengetuk pintu Laras. Sayangnya tak ada yang mau buka pintunya itu, bahkan rumahnya terlihat sepi.


"Kayaknya gak ada orang, Non," ucap Dion memberitahu.


"Tapi kata Mbak Nani tadi, Laras gak masuk kerja karena sakit, tapi kenapa malah gak ada di rumah ya. Apa Laras tengah di rawat di rumah sakit?" tanya Luna, dan Dion pun hanya menggelengkan kepala. Karena ia juga tak tau, di mana Laras berada.


"Mending kita pulang dulu, Non. Nanti malam kita ke sini lagi, siapa tau nanti malam, Non Laras sudah ada.

__ADS_1


"Baiklah." Akhirnya Luna dan Dion pun pulang, tapi nanti malam ia akan ke sini lagi untuk bertemu Laras. Luna juga gak bisa menelfonnya karena nomernya tidak atkiv, bahkan dia chat pun hanya centang satu.


__ADS_2