
Pagi ini rumah Luna sudah mulai ramai, bahkan tempt duduk kursi pun sudah di tata di depan rumah Luna, bukan hanya di depan rumah Luna saja tapi juga di depan rumah beberapa warga yang halamannya di pinjam buat tempat pengajian Luna. Tetangga di sana pun tak keberatan, malah mereka membantu keluarg Luna yang tengah sibuk saat itu. Apalagi makanan dari resto mulai berdatangan dan di turunkan di depan rumah Luna. Makaan itu di tata sampai ke atas karena tempatnya yang sangat sempit, bahkan bukan hanya di ruang tamu, di kamar pun juga penuh dengan makanan, begitupun di depan teras.
Para tetangga yang di mintai tolong juga tak ada yang tinggal diam, mereka sibuk mengatur semuanya. Sehingga saat bus datang dari beberapa panti, anak-anak mulai berhamburan, mereka di buat grup, agar nantinya para pengurus tetap bisa memantau semua anak-anak panti agar nantinya tidak ketuker saat pulang.
Jadi ada sepuluh kursi dengan warna yang berbeda, jadi kursi yang warna merah dari Panti An-Nur, begitupun dengan yang lainnya. Sehingga pengurus panti lebih enak mengatur mereka karena jika di campur jadi satu, sungguh susah buat mengaturnya apalagi mereka kecil kecil, nanti asal masuk bus aja. Tanpa tau bus mana yang tadi membawa mereka ke sini.
Luna, Bunda Naila dan Ayah Lukman berada di depan untuk menyambut kedatangan mereka, dan mereka yang datang, langsung di kasih bingkisan kue dan air putih agar sambil menunggu pengajian siap di lakukan, mereka bisa makan dan minum agar tidak kelaparan dan kehausan.
Lagu sholawat juga terdengar nyaring, ya Luna memutar lagu sholawat agar memeriahkan pengajian hari ini.
Luna yang tengah capek memilih untuk duduk karena jika lama berdiri, perutnya seperti kram.
Luna juga mengundang Ibu Nyai yang terkenal di kota itu, Ibu Nyai sendiri yang nanti akan membimbing langsung pengajiannya dan sedikit memberikan ceramah di akhir.
Di tempat lain, Noah baru mendapat kabar tentang pengajian itu. Ia pun langsung memberitahu Ariel.
"Riel," panggil Noah, karena Ariel masih malas-malasan di kasur. Ia bahkan gak ngapa ngapain, selain hanyam diam di kasur seperti ayam yang habis di sembelih.
"Kamu gak mau ke rumah Luna?" tanyanya.
"Ngapain ke sana? Luna aja gak mau ketemu aku lagi," jawabnya dengan hati yang berdenyut sakit.
"Tapi hari ini pengajian bayi kamu loh, kamu yakin gak mau datang?"
"Pengajian apa?" tanya Ariel menatap wajah sepupunya itu.
"Pengajian empat bulanan, bentar lagi acaranya akan di mulai, kalau kamu mau ayo ikut. Enggak usah datang ke rumah Luna, dari jauhan juga gak papa, paling gak kamu hadir saat pengajian itu dan ikut mendoakan," balas Noah.
"Kenapa gak ngomong dari tadi?" tanya Ariel kesal, ia langsung beranjak dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi, gak lama hanya sekitar sepuluh menit, ia sudah keluar.
"Astaga, kamu mandi bebek? cepet banget?" sindir Noah.
"Yang penting kan bau sabun," sahut Ariel enteng. Sekarang Ariel sudah kurusan, karena jarang makan, jika pun makan bawannya pengen di muntahin terus, ia bahkan gak selera untuk mencicipi hidangan apa saja yang di bawa oleh Noah.
__ADS_1
Ariel sudah seperti orang ngidam, tapi entah dia ngidam karena bayi yang di kandung oleh Luna, atau bayi yang di kandung oleh Laras. Ariel tidak mengerti.
Setelah memakai baju koko putih dan celana hitam, barulah ia dan Noah pergi dari sana.
"Ini, kamu yang nyetir," ucap Ariel. Sampai sekarang mobil itu masih di bawa oleh Ariel dan tidak di kembalikan ke Luna. Toh Luna sendiri juga sampai sekarang tidak ada nyuruh buat ngembalikan mobilnya, jadi Ariel pun diam saja. Mungkin jika luna butuh mobilnya, akan ia kasih saat itu juga.
Noah menyetir sambil sesekali melirik ke hpnya yang terus menyala.
"Sibuk banget hp mu, dari tadi nyala terus," sindir Ariel.
"Ya maklumlah, namanya juga anak muda, wajar jika banyak yang chat,"
"Jangan main, hati. Nanti kebakar sendiri, baru tau rasa," ujar Ariel mengingatkan.
"Tenang aja, aku bukan kamu. Jadi, aku gak akan melakukan hal segila kamu. Aku masih takut dosa," balas Noah membuat Ariel bungkam seketika.
"Kamu gak mau cari tau kabar Laras?"
"Buat apa?"
"Terus aku harus apa, toh dia sekarang lagi sama keluarganya, pasti baik baik aja."
"Kamu yakin Laras baik baik aja sama keluarganya setelah apa yang terjadi?"
"Yakinlah. Sejahat-jahatnya anak, juga pasti gak akan di bunuh, kan?"
"Gila pemikiran kamu, sudah gak waras," ujar Noah yang tak habis fikir dengan jalan fikiran Ariel.
"Di bunuh mungkin gak, tapi gimana kalau di siksa lahir batin?" tanyanya.
"Ya sudah terima aja, anggap aja itu sebagai karma setelah apa yang dia lakukan ke aku. Andai dia gak godain aku, gak mungkin dia di siksa sama orang tuanya, dan aku pasti akan baik baik aja sama Luna, gak kek gini."
"Gimana kalau itu sampai membahayakakn kandungannya?"
__ADS_1
"Aku yakin Laras gak akan sebodoh itu membiarkan anaknya terluka."
"Kenapa kamu seyakin itu?"
"Karena Laras gak mau lepas dari aku, dan bayi itu akan jadi kekuatan dia buat menjerat aku agar jatuh dalam pelukannya dan menikahinya. Jadi, aku yakin bayiku baik baik aja."
"Kamu sesantai itu, tanpa memikirkan beban yang harus Laras alami saat ini?" tanya Noah.
"Sebenarnya kamu itu ada di pihak siapa sih, aku, Laras atau Luna?" tanyanya.
"Aku sih ada di pihak Luna ya, karena dia yang jadi korban di sini dan kamu pelaku utamanya, dan kenapa aku bahas Laras, aku hanya takut aja dia gila jika sampai di siksa oleh orang tuanya karena sudah menimbulkan aib keluarga. Belum lagi hinaan dan caci maki, aku takut itu akan membuat dia stres dan berakibat fatal pada janin yang ada dalam kandungannya. Bagaimanapun janin itu kan anak kamu, yang artinay dia keponakan aku, jadi wajar kalau aku memikrikan keponakan aku yang belum lahir itu."
"Sudahlah, jangan bahas Laras, biar otakku gak panas pagi pagi gini. Dari pada aku mikir hubungan aku dengan Laras, mending aku mikir hubungan aku dengan Luna dan mikir hubungan aku sama orang tua aku."
"Oh ya kamu tau gak, kalau Mama kamu sekarang lagi terguncang jiwanya?" tanya Noah.
"Tau, makanya aku merasa bersalah banget, aku pengen nemuin Mama dan bersujud di kakinya. Tapi aku gak boleh ke sana lagi. Papa mengharamkan aku menginjakkan kaki ke rumah itu lagi," ucap Ariel sedih.
"Gara-gara kelakuan kamu banyak yang jadi korbannya," tutur Noah dan Ariel mengangguk setuju.
"Iya, andai aku tau akan jadi seperti ini jadinya, pasti aku akan memperkuat imanku agar tidak goyah saat Laras goda aku."
"Tapi sayang semuanya, sudah terlambat, kamu hanya bisa menyesalinya dan memperbaikinya."
"Hmm, dan aku gak tau harus memperbaiki gimana."
"Mending kamu perbaiki dulu hubungan kamu sama Tuhan, dekatkan diri kamu sama Tuhan, biar Tuhan yang kasih jalan buat kamu, nantinya kamu harus gimana. Biar masalah ini gak berlarut-larut," tutur Noah dan Ariel pun menganggukkan kepala.
Mereka tiba di depan rumah Luna tapi agak jauh karena banyak bus jadi parkirnya cukup jauh. Noah dan Ariel turun dari mobil dan melihat kursi yang hampir penuh karena ada banyak para anak yatim yang hadir, dan lagi para tetangga juga ikut hadir di acara itu.
Ariel dan Noah gak mau mendekat karena takut nantinya malah bikin masalah, jadi mereka duduk agak menjauh dari sana agar bisa ikut mendengar yang Ibu Nyai katakan. Untungnya pakai mic, jadi suaranya terdengar dengan sangat jelas sekali.
Ariel dan Noah ikut berdzikir mengikuti ibu Nyai, bahkan ikut baca qur'an lewat aplikasi di Hp yang mereka sudah download sebelumnya. Cukup lama berdzikir dan mengaji, lalu setelah itu mereka mendengarkan Ibu Nyari ceramah, hingga setelah itu di akhiri dengan doa doa untuk dede bayi yang kini berada di dalam kandungan Luna.
__ADS_1
Ariel mengamini doa yang Ibu Nyai ucapkan, sebagai ayahnya, tentu ia juga berharap yang baik baik buat anak yang ada dalam kandungan Luna. Anak yang sudah ia inginkan selama ini, anak hasil percintaannya dengan Luna. Bukti kerja kerasnya dengan Luna di malam hari. Berbagi keringat hingga akhirnya kerja keras mereka membuahkan hasil dan lima bulan lagi, anaknya akan lahir ke dunia, ia bahkan gak sabar untuk menggendongnya.
Setelah pengajian berakhir, Ariel dan Noah segera pergi dari sana, sebelum mereka menyadari kedatangan mereka berdua. Sebelum pergi, Ariel menatap ke arah Luna yang tersenyum manis kepada anak-anak yatim, senyumannya begitu teduh, seharusnya ia berdiri di sampingnya, bukan malah datang sembunyi-sembunyi seperti ini.