Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Pelangi Setelah Hujan


__ADS_3

Sejak pindah ke rumah yang sederhana, rumah tangga Dion dan Luna berjalan harmonis. Setiap pagi, mereka akan bangun dan mandi bergantian. Lalu sholat subuh berjamaah. Lanjut, mereka akan jalan-jalan pagi sambil pergi ke pasar, sengaja gak bawa sepeda agar bisa menikmati waktu pagi bersama, sekalian olah raga biar tubuh tetap sehat.


Di pasar, kadang mereka akan membeli jajanan tradisional untuk di makan bersama. Kadang saat pulang dari pasar, mereka mampir ke taman untuk duduk santai menikmati hidup. Tak lama hanya sekitar sepuluh sampai lima belas menit saja.


Setelah merasa puas, barulah mereka pulang.


Sesampai di rumah, biasanya Luna akan membuatkan kopi susu buat Dion. Setelah buat kopi susu, barulah Luna memasak. Kadang jika Dion gak sibuk, dia akan bantu Luna memasak.


Seperti membantu motong sayuran atau bantu cuci piring. Kehidupan mereka benar-benar sangat harmonis sekali, Luna seakan ingin menebus kesalahannya dengan melakukan yang terbaik untuk sang suami.


Selesai masak, biasanya mereka akan mandi bersama, lalu sarapan pagi bersama, sesekali mereka saling menyuapi layaknya pengantin baru.


Selesai makan, Luna akan mengantar suaminya sampai depan rumah, dia akan mencium tangan sang suami, dan nantinya Dion akan membalasnya dengan memberikan kecupan di kening sang istri. Kadang mereka juga berpelukan seakan memberikan semangat untuk bisa menjalani aktivitas dengan semangat empat lima.


Setelah memastikan suaminya pergi, barulah, Luna akan bersih-bersih rumah, mencuci baju, jemur baju, bersihan dapur, nyapu, ngepel, dan yang lainnya. Jam sebelas, Luna akan memasak lagi, dan setelah itu, dirinya akan pergi ke kantor suaminya untuk mengantar makan siang.


Luna mengantar dengan memakai mobil, yah kecuali ke pasar sendirian, baru memakai sepeda motor. Kalau ke kantor suaminya, tentu pakai mobil, mana betah Luna panas panasan di jalan. Bisa-bisa, saat sampai kantor suaminya, ia sudah bau keringat.


Kadang jika Luna tak menemukan Dion di kantor, biasanya Luna akan ke pabrik, dan jika di pabrik, gak ada, Luna pasti akan pergi ke kebun. Karena kebun tehnya yang berhektar-hektar, kadang Luna harus menelfon lebih dulu agar Dion yang datang menghampirinya dan setelah itu, mereka akan makan siang di kebun teh, sekalian jalan-jalan.

__ADS_1


Rasanya sangat puas, jalan-jalan di kebun teh, apalagi misal di sore hari, angin yang sepoi-sepoi membuat Luna kadang betah lama-lama di sana.


Tak terasa dua bulan telah berlalu, hubungan Luna dan Dion semakin erat. Dion juga mulai bahagia dengan kehidupannya yang sekarang, setiap malam, ia tak lagi kesepian, karena ada sang istri yang menemaninya. Ia dan Luna juga sering mengobrol sebelum tidur, rasanya mereka benar-benar sangat bahagia sekali.


Saat ini, Luna tiba-tiba merasa gak nyaman. Perutnya terasa bergejolak dan ia terus memuntahkan cairan bening.


Dion yang melihat raut wajah pucat Luna pun merasa was was. Ia takut, jika sang istri tengah sakit.


Dion memijit leher belakang Luna, agar sedikit bisa meringankan rasa gak nyaman yang Luna rasakan.


Setelah merasa agak enakan, Luna langsung berkumur-kumur, dan saat ia ingin berbalik menghadap suaminya, tiba-tiba dirinya merasa semua gelap dan langsung tak sadarkan diri.


Sialnya dia gak ada sopir, akhirnya ia yang mengantarkan sendiri ke rumah sakit. Sepanjang jalan, ia berusaha memakai kecepatan tinggi, sungguh ia merasa takut, sangat takut. Baru saja, dirinya bahagia dengan Luna. Tapi sekarang, tiba-tiba Luna jatuh pingsan seperti ini. Bagaimana mungkin, Dion baik-baik saja, melihat istrinya terkulai lemah seperti ini.


"Ya Tuhan, selamatkan istriku. Jangan biarkan dia kenapa-napa," gumam Dion dengan rasa takut.


Sesampai di rumah sakit, ia langsung berteriak bak kesetanan memanggil dokter. Dokter yang mendengarkan teriakan Dion pun langsung menyuruh Dion menaruh Luna di ruangan yang tak jauh dari pintu utama. Agar bisa segera du tangani.


Dion meletakkan Luna di atas brankar dengan sangat hati-hati sekali. Dan setelah itu, barulah sang dokter memeriksa keadaan Luna.

__ADS_1


"Bagaimana, Dok?" tanya Dion merasa khawatir.


"Istri Mas gak kenapa-napa," jawabnya tersenyum.


"Tapi kenapa dari tadi istri saya mual-mual terus, Dok. Dan tiba-tiba pingsan," ujarnya.


"Karena Istri Mas tengah hamil."


"Ha ... hamil?" tanya Dion terkejut


"Iya. Selamat ya Mas." tuturnya dengan sopan. Sedangkan Dion, ia masih tercengang, masih gak percaya jika bentar lagi ia akan jadi seorang Ayah.


Melihat respon Dion, sang dokter hanya geleng-geleng kepala dan pergi dari sana. Ia memberikan waktu buat Dion untuk merasakan kebahagiaan yang tak lama lagi, akan resmi menjadi seorang ayah.


"Luna hamil? Aku akan jadi Ayah? Oh Tuhan, setelah ujian rumah tangga yang aku jalani, kini Engkau berikan aku kebahagiaan yang tak terkira." Dion sujud syukur, dulu ia berfikir untuk melepaskan Luna karena ia merasa lelah dengan pernikahan yang ia jalani. Namun siapa sangka, pernikahan itu sampai saat ini, masih terus berjalan dan bentar lagi, dirinya akan menjadi Ayah dari darah dagingnya sendiri.


"Sayang, terima kasih. Terimakasih sudah hamil anakku." Dion mencium kening sang istri, yang masih belum sadarkan diri.


Ia saat ini teramat bahagia, sangat bahagia hingga akhirnya ia bahkan bingung harus berekspresi seperti apa.

__ADS_1


__ADS_2