Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Firasat Seorang Ibu


__ADS_3

Saat Luna dan Ariel baru selesai rujaan, tiba-tiba Bibi Imah datang dan memberitahu jika orang tua Ariel sudah datang. Dan sudah duduk di ruang tamu. Mereka juga membawa banyak hadiah dan sudah di taruh di ruang keluarga oleh Bibi Imah, karena ia juga bingung mau di taruh dimana.


"Bibi buatkan minuman ya, aku dan Mas Ariel mau menemui Mama dan Papa mertua aku dulu," ucap Luna dan Bibi Imah pun menganggukkan kepala.


"Iya, Non." Dan setelah itu, Bibi Imah pun pergi ke dapur untuk membuatkan minuman. Sedangkan Luna dan Ariel, mereka cuci tangan terlebih dahulu, baru setelah itu mereka pergi menemui Mama Ila dan Papa Ardi.


"Mama, Papa," ucap Luna lembut yang langsung menghampiri mereka dan mencium punggung tangan Papa Ardi lalu lanjut mencium punggung tangan Mama Ila dan memeluknya sebentar. Ariel pun melakukan hal yang sama cuma bedanya, tak ada pelukan seperti yang Luna dan Mama Ila lakukan barusan.


Setelah itu, Luna dan Ariel pun duduk di hadapan mereka.


"Gimana tadi perjalanannya, Pa, Ma?" tanya Luna.


"Lancar, tanpa hambatan," jawab Papa Ardi.


"Kalian gimana sehat?" tanya Mama Ila.


"Sehat, Ma. Alhamdulillah," sahut Ariel.


"Gimana sudah ada kabar baik?" tanya Mama Ila lagi.


"Belum, Ma. Doakan saja," balas Luna yang mengerti maksud ucapan Mama mertuanya itu.


"Enggak papa, belum waktunya mungkin. Yang penting hubungan kalian baik-baik saja," tutur Mama Ila.


"Alhamdulillah Ma, baik." Ariel menjawab mewakili Luna yang memilih diam.


"Beberapa hari yang lalu, Mama mimpi buruk bahkan tiga hari berturut-turut. Mimpinya sangat mengerikan. Mama mimpi baju pengantin Luna terbakar, bahkan Mama juga mimpi ada darah yang keluar dari kaki Luna seperti darah orang yang tengah keguguran. Mama juga mimpi Ariel yang dengan wajah pucatnya seperti tak ada semangat hidup hingga terus menginginkan kematian. Jujur Mama merinding rasanya. Mama harap, hubungan kalian baik-baik aja. Jujur, Mama takut. Takut jika terjadi apa-apa sama hubungan kalian," kata Mama Ila yang melihat wajah menantunya itu tak seceria biasanya. Berbeda dengan wajah Ariel yang tampak ketakutan dan seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Walaupun mereka gak jujur, kadang firasat orang tua itu gak salah dan jarang  meleset. Mama Ila merasa ada masalah yang kini tengah menghantui mereka, namun Mama Ila gak mungkin ikut campur kecuali ada di antara mereka yang mau bercerita dan meminta tolong bantuannya.


"Itu hanya mimpi buruk, Ma. Tak perlu di ceritakan," ucap Papa Ardi.


"Tapi, Pa. Firasat seorang Ibu tidak pernah salah. Dan masak iya mimpi buruk tapi sampai terulang tiga kali berturut-turut," balas Mama Ila.


"Iya, mungkin karena Mama kecapean makanya mimpi buruk kayak gitu. Atau Mama lupa kali baca doa sebelum tidur."

__ADS_1


"Mana ada Mama lupa baca doa, Mama selalu ingat bahkan sebelum tidur juga Mama selalu ambil wudhu." Mama Ila tak mau jika mimpinya itu di remehkan. Ia percaya bahwa mimpi itu hadir karena mungkin ingin memberi tahu dirinya jika saat ini pernikahan putranya itu sedang tidak baik-baik saja.


"Apa yang di katakan Papa benar, Ma. Itu hanya mimpi. Jangan di buat beban, nanti Mama sakit. Lagian sampai detik ini hubungan aku sama Luna baik-baik aja, iya kan Sayang?" tanya Ariel dan Luna pun menjawabnya dengan anggukan kepala dan tersenyum.


"Iya, Ma. Hubungan kami baik-baik aja kok. Jadi Mama gak perlu khawatir," ucapnya namun lagi-lagi Mama Ila merasa jika senyuman Luna itu berbeda. Tidak tulus, tapi seperti dipaksa buat tersenyum untuk menenangkan hatinya.


"Baiklah, Mama percaya. Ariel, Mama harap kamu menjadi pria sejati, pria yang bertanggung jawab. Mama ingin kamu seperti Papa kamu, setia pada satu pasangan dan jangan sampai menyakiti istrimu, apapun alasannya," ujar Mama Ila manasehati.


"Ia, Pa. Doakan saja semoga aku selalu setia sama istriku," sahut Ariel tersenyum.


Saat mereka tengah mengobrol, Bibi Imah datang membawa empat minuman dan kue kering serta beberapa buah.


"Makasih ya, Bi," tutur Luna sopan.


"Sama-sama, Non," jawab Bibi Imah dan pergi untuk menyiapkan makan siang. Karena pastinya Mama Ila dan Papa Ardi akan makan siang di rumah ini, jadi Bibi Imah harus masak lebih banyak dan tentu butuh waktu lebih lama.


"Silahkan di minum dulu, Ma, Pa," tutur Luna dan mereka pun mengangguk lalu meminum minuman yang dibawa oleh Bibi Imah tadi.


"Mama sama Papa harus nginep ya, kita sudah jarang tidak bertemu. Luna ingin mengajak Mama dan Papa jalan-jalan nanti sore jika sudah gak capek, dan besok kita bisa ke Ancol bareng-bareng," ucap Luna antusias.


"Baiklah, Papa juga setuju," jawabnya karena mengerti akan tatapan istrinya itu, yang mengharuskan dirinya berkata iya.


"Aaa ... senangnya, nanti kita bisa dinner di luar juga sekalian. Di resto milik Mas Ariel," ujar Luna yang sudah merencanakan banyak agenda selama mertuanya ada di sini.


"Wah senangnya, pasti makanan di sana semakin enak dan banyak menunya ya?" tanya Mama Ila.


"Iya, Ma. Alhamdulillah." jawab Ariel.


"Gimana resto, masih rame?" Papa Ardi bertanya.


"Akhir-akhir ini mulai sepi, Pa. Enggak tau kenapa," sahut Ariel lesu.


"Kamu ada salah sama istri kamu?" tanyanya membuat Ariel dan Luna menatap wajah Papa Ardi.

__ADS_1


"Maksud Papa apa?" tanya Ariel tak mengerti.


"Kadang usaha kita sepi itu karena kita tanpa sengaja menyakiti hati istri. Ingat, rezeki kita lancar itu karena ada doa seorang istri, dan ketika Allah mencabut rezeki atau membuat rezeki kita seakan menjauh, maka selain kita kurang bersedekah, bisa jadi kamu menyakiti hati istri kamu. Sehingga rezeki kamu itu semakin sulit. Jangan pernah sampai merendahkan istri kamu, apalagi menyakitinya. Ingat, Nak. Rezeki lancar enggaknya itu tergantung doa seorang istri. Semakin kamu membahagiakan istri kamu, maka Papa bisa pastikan, rezeki kamu akan berlimah ruah." Papa Ardi mencoba menjelaskan, ia dulu pernah menyakiti istri di awal awal nikah hingga membuat usahanya hampir bangkrut dan untungnya ada seseorang yang manasehatinya dan membuat dirinya sadar akan satu hal. Ia terlalu sibuk mengurus duaniawi hingga lupa membahagiakan istri di rumah bahkan membuatnya kesepian dan itu membuat istrinya merana dan sakit hati.


Saat Papa Ardi mencoba mengubah kebiasaanya dan meminta maaf, lalu mengutamakan kebahagiaan istrinya, membelikan apa yang dia mau, selalu memberikan hadiah-hadiah kecil. Benar saja, usahanya yang tadinya mau bangkrut, sedikit demi sedikit mulai merangkak ke atas lagi dan kini usahanya pun masih berjalan lancar.


Sebenarnya jantung keluarga itu istri, jadi misal rezeki sulit, kita harus mengingat kembali, bagaimana perlakukan suami kepada istrinya. Sudah baik, kah? Atau malah sebaliknya? istri itu adalah jantung rumah tangga. Jika hati seorang istri sedang tidak baik-baik saja, maka selain rezeki sulit, seisi rumah pun tampak seperti kuburan, sepi karena tak ada lagi canda tawa, manja dan perhatian.


"Iya, Pa Aku faham. InsyaAllah aku sudah berusaha memperlakukan istriku dengan sangat baik selama ini," ucap Ariel menyembunyikan kebohongannya.


"Dan satu lagi, jangan sampai kamu selingkuh. Ibnu Qayyim pernah berkata, empat hal yang menghambat datangnya rezeki yaitu, tidur di waktu pagi, sedikit sholat, malas, dan bekhianat. Jadi, jangan sampai kamu melakukan hal hina itu. Karena jika itu terjadi, percayalah, bukan hanya rezeki yang sudah kamu dapatkan, ketenangan jiwa pun juga sulit kamu raih. Bahka kebahagiaan pun akan menjauh dari kamu. Bukannya Papa ingin menakut-nakuti, Papa hanya gak ingin kamu salah langkah. Papa ingin rumah tangga kamu baik-baik aja dan selalu dalam lindungan Allah, sehingga kelak pun kia bisa berkumpul dalam surganNya bersama-sama," ujar Papa Ariel menasehati.


"Iya, Pa," jawab Ariel yang semakin merasa bersalah setelah mendengar nasihat papanya itu.


Melihat Ariel yang terlihat gusar membuat Papa Ardi menaruh curiga, apalagi Mama Ila. Dia yang mengandung, melahirkan, menyusui dan merawat Ariel sedari bayi hingga dewasa. Tentu ia hafal betul sikap Ariel bagaimana. Dan melihat kegusaran Ariel, ketakutan Ariel, membuat Mama Ila pun semakin yakin, jika putranya lah yang bermasalah.


"Kamu gak selingkuh kan, Riel?" tanya Mama Ila membuat Ariel terhenyak.'


"Maksud Mama apa, gak boleh berfikir seudzon gitu, jatuhnya dosa. Apalagi mama seperti menuduh aku gitu, nanti kalau Luna percaya, rumah tangga aku bisa berantakan loh," jawab Ariel sambil melengos.


"Ya habis, kamu dari tadi gelisah gitu saat Papa bilang tentang pengkhianatan, kayak kamu sudah berkhianat aja. Ingat loh, jika kamu sampai berkhianat dan menyakiti menantu Mama, Mama gak akan pernah memaafkan kamu. Camkan itu, Mama benci pengkhianatan, Mama benci laki-laki tak setia dan selingkuh sana sini, Mama juga gak pernah  mengajarkan kamu menjadi pria pengecut, yang bisanya cuma nyakiti istri. Jadi jangan mempermalukan orang tua kamu apalagi melempar kotoran ke muka Mama dan Papa," ucap Mama Ila tegas. Maksud melempar kotoran ke wajah itu adalah jangan bikin malu dan bikin aib yang membuat Mama Ila dan Papa Ardi gak punya muka lagi untuk bersitatap dengan orang.


"Iya, Ma. Tenang aja, aku setia kok, gak mungkinlah bersikap yang aneh-aneh," tuturnya sambil tersenyum yang di paksakan yang membuat terlihat seperti tertekan.


"Oh ya, Ma. Gak lama lagi kan ulang tahun aku, aku ingin merayakan di kampung aku. Jadi aku ingin mengudang Mama, Papa, dan keluarga besar Mas Ariel buat datang ke acara aku. Aku harap Mama dan Papa ada waktu luang buat hadir di pesta aku," ucap Luna memberitahu.


"Mama dan Papa pasti datang. Bahkan Mama dan Papa, akan membawa keluarga besar kami buat merayakan ulang tahun kamu, menantu kesayangan Mama. Kamu jangan khawatir, tapi kenapa harus di kampung Ibu sayang?" tanya Mama Ila.


"Aku kan jarang pulang, Ma. Aku ingin merayakan ulang tahun di sana, sekaligus ingin sedekah sama orang-orang di sekitar, ada banyak hadiah yang akan aku bagi bagi sama mereka. Dan ada banyak kejutannya juga," jawab Luna tersenyum tulus.


"Oh gitu, ya sudah, nanti kamu kasih tau aja, hari apa, tanggal berapa, Mama dan Papa pasti akan datang. Mama akan menyewa bus panjang biar bisa membawa banyak orang buat hadir di acara ulang tahun kamu nanti."


"Makasih, Ma," tutur Luna tulus.

__ADS_1


"Sama-sama Sayang."


Mereka pun berbincang sampai adzan dhuhur terdengar. Setelah itu, mereka pun sholat dhuhur lebih dulu, baru makan siang. Selesai makan, Mama Ila dan Papa Ardi langsung masuk ke kamar tamu untuk tidur siang. Tubuhnya juga lelah setelah perjalanan jauh. Sedangkan Luna sibuk membongkar oleh-oleh yang di bawa oleh Mama mertuanya itu dan menaruhnya di kamarnya, sebagian ia bagi-bagikan untuk Bibi Imah dan Bibi Neni. Untuk bagian Dion pun juga ada dan sudah di titipkan ke Bibi Imah.


__ADS_2