
Tak terasa usia Diana sudah delapan bulan. Ia sudah bisa duduk, merangkak dan berdiri sambil berpegangan. Hanya saja untuk jalan masih belum bisa.
Diana juga sudah bisa memanggil Mama, namun lebih banyak celotehan yang masih kurang di mengerti oleh kebanyakan orang.
Sampai detik ini, Diana masih minum susu Enfamil A+ dan juga MPASI.
Ya, sejak dua bulan ini, Diana mulai mengonsumsi MPASI. Dan kadang juga seringkali makan biskuit untuk camilannya.
Kemarin saat di periksa, tingginya sudah 70cm dengan berat badan 8,5 kg. Cukup ideal untuk anak perempuan berumur delapan bulan.
Hanya saja, sudah tiga hari ini Diana demam. Mual, muntah, diare, pilek dan batuk. Bawaannya pengen tidur terus dan sudah dari kemarin, Diana tidak pipis atau buang air kecil.
"Non, mending Non Diana di bawa ke dokter aja, sudah tiga hari soalnya seperti ini terus. Takutnya malah kenapa-kenapa," ucap Bibi Imah.
Sebenarnya sudah dari kemarin Bibi menyuruh Luna untuk bawa ke dokter, hanya saja Luna tidak mau mendengarnya, dan mengatakan Diana hanya demam biasa. Sebenarnya ini ketiga kalinya Diana demam, cuma sekarang yang paling parah.
"Tapi, Bi. Diana cuma demam biasa," ujarnya sambil menggendong Diana.
"Walaupun demam biasa, tetap aja harus diperiksa Non. Mencegah lebih baik dari pada mengobati. Jangan sampai Non menyesal, karena terlambat membawanya ke dokter," tutur Bibi Imah gemas.
Luna masih aja keras kepala dan susah di nasehati.
__ADS_1
"Apa yang di katakan Bibi Imah bener, Non. Mending bawa aja ke dokter. Alhamdulillah kalau Non Diana cuma demam biasa, tapi bagaimana misal penyakitnya parah," papar Bibi Neni.
"Jangan nakut-nakutin dong, Bi," balas Luna tak suka.
"Bukan nakut-nakutin Non, tapi waspada. Lagian kan Non tinggal pesen mobil online, kalau malas nyetir. Tinggal bawa aja ke rumah sakit anak, gak sampai dua jam juga periksa sama pulang perginya," omel Bibi Neni yang sudah gregetan.
"Kalau Non gak mau, biar Bibi aja yang bawa Non Diana ke rumah sakit," imbuh Bibi Neni.
Mendengar omongan dua ART nya, sebenarnya bikin Luna kesal. Namun, akhirnya mau gak mau, dia pun segera mandi dan bersiap-siap lalu membawa Diana ke rumah sakit anak.
Sepanjang jalan, Luna menggendong putrinya sambil main Hp. Luna memotret Diana dan mengirimkannya ke Ariel.
Luna mengirim foto Diana yang berwajah pucat.
Setelah selesai di kirim, Luna pun menaruh Hpnya.
Di tempat yang berbeda, melihat wajah putrinya semakin pucat, membuat hati Ariel sakit.
Sudah tiga hari Luna mengirim foto putrinya yang tengah sakit.
"Pa, aku mau pulang ke Indonesia," ucap Ariel tiba-tiba.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu gak betah di sini?" tanyanya.
"Diana sakit, Pa. Sudah tiga hari demam, mual, muntah, wajahnya pucet juga. Aku gak tega lihatnya. Sekarang Luna membawanya. ke rumah sakit."
"Iya sudah langsung pulang aja, kasihan. Takut kenapa-napa. Apa Papa harus pulang juga?" tanyanya.
"Kalau Papa masih betah di sini, mending di sini aja. Lagain di rumah, mental Papa pasti terganggu di sana. Aku juga akan cari perumahan yang tetangganya tidak terlalu kepo. Biar aku juga bisa menjalani hidup dengan tenang. Mungkin aku akan tinggal di apartemen aja."
"Baiklah, tapi misal sakit Diana serius, Papa akan pulang. Papa sejujurnya sangat merindukan cucu Papa. Cuma Papa belum siap dengan ocehan keluarga dan saudara-saudara kita di sana. Belum lagi tetangga yang sepertinya sangat kepo sama kehidupan kita."
"Ya, makanya mending di sini aja. Kalau keadaan Diana lebih baik, mungkin aku juga akan balik ke sini. Tapi kalau serius, nanti aku akan langsung ngasih info sama Papa."
"Baiklah, kamu hati-hati di jalan. Kalau sudah sampai, jangan lupa langsung kabari Papa."
"Siap, Pa."
Saat itu juga, Ariel langsung berkemas dan mengambil tiket paling cepat. Tak apa mahal, yang penting ia bisa segera sampai di Indonesia.
Walaupun Ariel sebenarnya juga belum siap buat pulang, tapi sebagai seorang Ayah, ia tidak mungkin diam aja melihat putrinya sakit.
"Diana, putriku. Semoga kamu baik-baik aja, Nak," gumam Ariel dalam hati.
__ADS_1