Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Ariel Balik ke Indonesia


__ADS_3

Ariel dan Diana sudah sampai di apartemen, mereka membawa dua koper besar yang berisi pakaian dan mainan milik Diana, sedangkan punya dirinya sendiri hanya seperempat dari isi koper itu. Noah membantu Ariel untuk beres-beres dan menata baju Ariel dan Diana di lemari. Noah sudah seperti seorang istri yang membantu semua kebutuhan Ariel dan Diana.


"Kamu sudah tau?" tanya Noah yang kini duduk sambil mengambil air dingin yang ada di kulkas. Yah, di kulkas sudah berisi banyak minuman, buah, sayur dan daging segar. Tentu, semua itu NOah yang mengisinya dengan uang yang di kirim oleh Ariel. Sehinngga saat Ariel datang, semua kebutuhan dapur sudah tersedia. Dan Ariel gak perlu lagi belanja.


"Tau apa?" tanya Ariel sambil melihat ke arah Diana yang sibuk menonton tivi yang menayangkan film upin dan ipin.


"Nenek sakit," jawabnya.


"Oh," balas Ariel acuh tak acuh.


"Kamu gak mau jenguk Nenek?" tanyanya lagi melihat respon Ariel yang tampak biasa aja.


"Buat apa? Kehadiran aku aja, belum tentu di harapkan. Bahkan bisa jadi, aku baru datang, langsung di usir,"


 tandas Ariel.


"Iya juga sih, sampai sekarang, aku belum menemukan iktikad baik dari mereka untuk minta maaf."


"Nah itu, aku aja minta maaf lewat chat, nomerku langsung di blok, tapi sebelum di blok, aku malah di caci maki sampai nama binatang pada keluar semua. Bukannya aku membeberkan kejelekan mereka, hanya saja, kehadiran aku, membuat mereka muak. Jadi aku harus sadar diri, agar tidak menampakkan wujudku lagi di hadapan mereka semua, aku cuma bisa mendoakan kesembuhan nenek aja dari sini," pungkas Ariel menjelaskan.


"Yah, kamu benar. Dari pada datang dan malah kisruh, mending saling menghindari dulu aja," tutur Noah membenarkan ucapan saudara sepupunya itu.


"Hmm ... bagaimana tanggapan mereka saat tau, aku menghapus nama besar mereka di belakang namaku?' tanya Ariel penasaran.


"Mereka marah, karena mereka menganggap kamu tidak tau diri, karena membuang nama yang sudah melekat dalam diri kamu sedari kamu lahir di dunia ini. Tapi setelahnya, aku lihat mereka sepertinya bersyukur, kamu tidak lagi jadi bagian dari mereka. Itu aku lihat dari sisi pandangan aku, tapi entahlah, bagaimana aslinya, karena bisa jadi, pandangan aku salah."


Mendengar hal itu, Ariel hanya bisa menghela nafas.


"Oh ya, aku ingin memperkenalkan kamu dengan seseorang," ujarnya memberitahu.


"Siapa?" tanya Ariel penasaran.


"Seseorang yang mampu menarik perhatian aku," balasnya membuat Ariel tercengang.


"Kamu menyukai dia?"


"Ya."


"Syukurlah, itu artinya kamu akan segera menikah dalam waktu dekat ini?"


"Untuk itu, aku belum tau."


"Kenapa?"


"Aku masih menunggu seseorang mencari tau tentangnya, aku hanya takut, misal dia sudah di lamar oleh orang lain atau mungkin sudah punya kekasih, dan lebih parahnya, dia sudah bersuami."

__ADS_1


"What? Emang kamu kenal dia di mana?" tanyanya lagi.


"Di masjid."


"Syukurlah kalau di masjid, aku fikir di tempat lain. Terus sudah tau namanya?"


"Belum."


"Lah? Tau wajahnya?"


"Enggak."


"Alamat rumahnya?"


"Enggak juga."


"Astagfirullah, kamu gak tau namanya siapa, alamatnya di mana, wajahnya seperti apa, tapi kamu sudah mau memperkenalkan aku dengannya. Kamu bercanda?"


"Hehe. Tapi aku yakin kok, bentar lagi aku pasti akan mendapatkan info tentang dia, dan kalau dia masih single, aku akan langsung mengajak kamu untuk lamar dia."


"Loh ngapain ngajak aku, kenapa gak ngajak orang tuamu. Om dan Tante jauh lebih berhak loh dari pada aku."


"Mereka gak mau tau lagi tentang aku."


"What? Kenapa?"


"Astagfirullah, aku gak tau kalau apa yang aku lakukan di masa lalu, akan berdampak besar seperti ini. Bahkan aku merusak hubungan kamu sama kedua orang tua kamu, Noah. Maafin aku."


"Sudahlah, aku gak papa. Aku santai aja. Toh misal emang aku ingin nikah, aku tetap akan mengabari mereka, hanya saja, misal mereka benar benar gak peduli, maka aku akan tetap menikah, walau tanpa restu mereka. Toh aku dari pihak laki-laki dan aku bisa menikah tanpa wali."


"Bener sih, tapi bagaimana tanggapan dari keluarga pengantin perempuan misal kamu menikah tanpa ada orang tua dan keluarga kamu yang datang."


"Kan ada kamu sebagai keluarga aku, dan juga ada Ardi yang akan menemani aku. Aku akan mengundang mereka yang emang masih care sama aku dan mau datang ke pernikahan aku, tapi misal mereka gak mau datang, ya gak papa. Masak iya aku harus paksa mereka untuk hadir, iya kan? Mereka berhak untuk memilih antara mau datang apa gak."


"Heh, kenapa kita sudah bahas pernikahan aja, padahal kamunya aja belum tau dia itu siapa, umur berapa dan apakah dia mau untuk jadi makmum kamu kelak," tutur Ariel menggoda Noah yang wajahnya mulai tampak sendu.


"Iya juga sih, kita kayaknya terlalu jauh bahas ini," ucap Noah terkekeh.


"Oh ya, kamu sudah tau belum kalau mantan istri kamu itu tengah hamil dan kini usia kandungannya, kalau gak salah sudah tujuh bulan," tanya Noah sambil menatap ke arah Ariel yang tampak biasa aja, tidak ada raut wajah kecewa, marah, sedih atau apapun itu.


"Aku sudah tau,"


"Kamu masih berhubungan dengannya?" tanya Noah kaget.


"Berhubungan gimana dulu?" tanya Ariel.

__ADS_1


"Ya chatan, telfonan atau vidio call gitu."


"Kalau itu, iya. Tapi cuma sesekali aja, kadang sebulan sekali atau dua kali."


"What!" Noah memekik kaget.


"Tapi Luna vidio call karena kangen sama Diana, bukan ke aku. Jadi kamu jangan salah faham dulu. Bagaimanapun Luna itu Ibu kandung Diana, sudah tentu dia merindukan putrinya. Dan ingin mengobrol langsung dengan Diana," tutur Ariel menjelaskan. Ia tak ingin Noah salah tangkap dan berakhir salah faham dengan apa yang ia ucapkan.


"Oh gitu, aku fikir kamu masih chatan, seperti pasangan kekasih."


"Kamu fikir, aku apaan. Aku gak akan menjadi pebinor, apalagi merusak rumah tangga Luna. Lagian aku sudah gak mencintainya lagi, bagi aku, dia tidak lebih sebagai Ibu kandung Diana saja."


"Syukurlah. Terus kamu gak kangen sama Dania?"


"Kangen dong. Makanya besok aku mau ke rumah Ardi buat ketemu Dania."


"Sekarang Dania sangat lincah sekali, Ardi dan Lestari sangat bisa di andalkan dalam hal mengasuh Dania."


"Alhamdulillah, aku ikut senang mendengarnya."


"Ya, aku juga setiap weekend, misal mereka ada di rumah, aku akan ke sana agar bisa main bareng Dania. Kadang kalau Ardi dan Lestari ingin kencan berdua, tak jarang mereka juga menitipkan Dania ke aku."


"Makasih ya, entah bagaimana hidup aku misal gak ada kamu. Kamu sangat membantu aku."


"Hemm, kita kan saudara, sudah seharusnya saling membantu, kan."


"Kamu benar."


Yah, sampai detik ini, Noah emang bisa di andalkan dalam hal apapun. Dia masih bisa menjaga Dania dalam kesibukannya dan juga bisa terus memantau perkembangan kesehatan Dania untuknya. Bukan Ariel gak percaya sama Ardi dan Lestari, hanya saja, ia jauh lebih tenang misal Noah ikut membantu mengawasi perkembangan Dania setiap harinya.


"Papa," panggil Diana sambi berjalan menghampiri Ariel.


"Iya, Nak," jawab Ariel lembut.


"Cakit erut," ucapnya sambil memegang perutnya.


"Diana mau pup?" tanya Ariel lagi.


Dengan polosnya, Diana menganggukkan kepalanya membuat Ariel tersenyum.


"Bentar ya, aku mau nganter Diana dulu."


"Iya."


Ariel menuntun Diana pergi ke toilet. Walaupun umurnya baru dua tahunan, tapi Diana sudah bisa pup sendiri, tapi masalah ce-bok, Diana emang belum bisa dan masih butuh bantuan Ariel. Dulu Diana suka pup di pampers, tapi sekarang, misal ingin pipis atau buang hajat alias BAB, pasti Diana akan bilang sakit perut.

__ADS_1


Ariel dengan telaten membuka celana Diana, lalu membantu Diana duduk di atas toilet khusus anak kecil. Setelahnya, Ariel akan diam di sana menunggu Diana sampai menyelesaikan buang hajatnya. Dulu sebelum punya anak, rasanya ia begitu jijik melihat orang lain mencebo'i atau membersihkan itunya. Tapi setelah dia menjadi seorang Ayah, rasa jijik itu seakan hilang dan lenyap begitu saja. Ia malah merasa bangga, karena bisa seperti ini, karena tidak semua Ayah mampu melakukannya.


Namun lambat laun, Ariel juga ingin mengajari putrinya itu untuk membersihkan seorang diri, namun untuk saat ini, Ariel masih berfikir, jika Diana masih belum bisa dan belum faham bagaimana cara membersihkan dengan benar. Semua itu butuh waktu, dan Ariel akan bersabar menunggu waktu itu tiba. Waktu di mana, nanti Diana mampu melakukan semuanya sendiri dan dirinya cukup melihat bagaimana putrinya tumbuh menjadi anak yang mandiri


__ADS_2