Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Dion, Luna dan Ariel


__ADS_3

Kehamilan Luna sudah delapan bulan, tinggal sebulan lagi ia akan melahirkan. Dan tinggal sebulan pula, ia akan resemi bercerai dengan sang suami. Entah mana yang paling lebih dulu, dirinya yang melahirkan, atau surat cerai yang akan segera keluar.


Luna masih setia menemani Ariel, sejak kemaren Noah menceramahi dirinya, Noah tidak lagi datang untuk menjenguk Ariel. Salahnya juga yang salah bicara hingga memancing kemarahan Noah. Wajar Noah ceramah panjang lebar di hadapannya, karena ia sudah membanding-bandingkan mental dirinya dan Ariel yang menurutnya tidak sekuat dirinya dulu.


Saat Luna tengah melihat ke arah Ariel ,Hpnya berbunyi, ada telfon dari Dion. Kali ini Luna memilih mengangkatnya, karena sudah belasan kali Dion nelfon gak pernah ia angkat.


"Hallo, Assalamualaikum Mas," sapa Luna lembut.


" ... "


"Iya, aku masih ada di rumah sakit. Kenapa?"


" ... "


"Oh, Alhamdulillah aku baik-baik saja. Mas Ariel juga sudah sadar tapi ya gitu, gak mau ngomong. Diem terus sudah hampir tiga Minggu keadaaanya gak berubah. Sering melamun dengan tatapan kosong."


" ... "


"Iya, Mas. Aku gak lupa. Tapi kalau bisa jangan ke sini ya, aku gak enak sama Noah. Aku takut dia salah faham lagi, dan terus nuduh aku. Lebih baik kita jaga jarak dulu. Nanti kalau aku sudah melahirkan, sudah cerai dan masa Iddah aku sudah habis, baru temui aku. Sumpah aku gak enak sama Noah."


" ... "


"Iya."


" ... "


"Loh ngapain Mas ke rumah orang tua aku?"


" ... "


"Jadi, Lintang ada di rumah Mas sekarang?"


" ... "


"Maaf ya, Mas. Jika Lintang ngerepotin. Aku jadi gak enak sendiri."


" ... "


"Iya, Ibu sama Ayah gak ngomong apa-apa. Jadi aku gak tau."


" ... "


"Aku sudah makan barusan, tadi mesen di kantin bawah."


" ... "

__ADS_1


"Alhamdulillah kandungan aku juga baik-baik aja. Dan dedek bayinya juga aktiv gerak terus," ucapnya sambil melirik ke arah Ariel yang masih belum menunjukkan reaksi apa-apa walaupun di depannya, Luna tengah telfonan dengan laki-laki lain di hadapan suaminya dengan nada lembut.


" ... "


"Iya, nanti sore jam tiga, mau USG lagi."


" ... "


"Iya, USG terakhir. Kan belum depan dah melahirkan."


" ... "


"Hehe ... Orang tua kamu perhatian banget sih."


" ... "


"Ck, calon mantu apaan? Ingat aku  masih istri orang."


" ... "


"Hehe ya sabar. Kalau jodoh, gak akan kemana."


" ... "


" ... "


"Aku yang salah sudah mancing dia, jadinya dia ngamuk dan ceramahin aku panjang lebar."


" ... "


"Enggaklah, ngapain stres. Cuma ya sedikit banyak sih, omongannya ada benernya. Aku emang salah di awal, kan."


" ... "


"Iya itu hehe."


" ... "


"Oh okay, Mas. Semangat ya kerjanya."


" ... "


"Ck, buat masa depan kita? NGehalu. Kita aja belum tentu jodoh."


" ... "

__ADS_1


"Aku cuma bercanda kali, Mas. Gak usah ngambek."


" ... "


"Iya sudah. Waalaikumsalam."


Dan setelah itu, Luna pun menaruh hpnya di atas meja lalu ia menghampiri Ariel dan duduk di brankar. Bukan di kursi lagi.


"Mas, jangan gini terus dong. Mas gak mau nemenin aku USG, nanti sore USG aku terakhir kali loh. Selama ini, gk pernah satu kali pun, Mas nemenin aku USG. Eh tapi salahku juga kan ya, Mas kan gak tau kalau aku hamil. Dan saat aku ngasih tau, hubungan kita sudah gak baik-baik saja dan sejak saat itu, kondisi Mas pun juga tidak bisa di katakan baik, suka sakit-sakitan." ucap Luna ngomong sendiri.


"Tadi aku telfonan sama Mas Dion, sopir pribadi aku. Yang Mas carikan buat aku. Untung dulu aku minta di carikan sopir kan, biar bisa jalan-jalan. Eh gak taunya Mas malah cari sopir yang muda. Akhirnya aku malah dekat dengan mantan sopir aku sendiri. Dan mungkin dia yang akan gantikan posisi Mas setelah kita cerai. Gak papa, kan?"


"Sakit ya, denger aku sama Mas Dion akan menikah setelah kita cerai. Sama, aku juga sakit, saat Mas merencanakan menikah sama Laras di belakang aku. Bahkan Laras juga terang-terangan kan mau melamar Mas di hadapan aku dan mau menjadi istri kedua. Ck ... aku mana sudi di poligami. Maaf aja, cowok gak cuma satu, tapi banyak. Jadi aku gak akan setia ma suami yang gak bisa setia sama satu istri."


"Aku gak mau membanding-bandingkan Mas Ariel dan Mas Dion. Karena dulu sebelum Mas Ariel nikah sama aku, Mas Ariel juga baik, sangat baik malah. Bahkan setelah menikah pun, Mas Ariel juga menjadikan aku ratu di hati dan di istana kita. Mas Ariel bahkan sangat sangat memanjakan aku."


"Aku tau, setiap orang itu pasti punya kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Yah, seperti Mas Ariel, di satu sisi Mas Ariel itu seperti mengekang aku, tidak mengizinkan aku keluar sendirian, harus rutin olah raga, makan makanan sehat dan bergizi, diam di rumah dan hanya boleh kluar saat bersama Mas Ariel. Jadi aku seperti terkekang di burung sangkar emas."


"Tapi di sisi lain, Mas Ariel itu sayang sama aku, cinta sama aku, dan aku bisa merasakan itu. Cuma cintanya kadang terlalu berlebihan dan bikin aku gak nyaman. Mas Ariel juga perhatian, manjain aku, semua kebutuhan aku di penuhi, kadang juga sering ngabarin aku kalau di luar rumah, selalu beliin aku barang barang mewah, bahkan tanpa aku minta, Mas Ariel pasti akan membelikan aku banyak barang, entah itu berlian, pakaian brandet, parfum mahal dan lain sebgainya. Mas Ariel juga gak pernah main tangan, jangankan ngangkat tangan, bahkan bicara dengan nada tinggi pun juga tidak pernah. Kecuali aku yang sudah keterlaluan dan membantah terus. Iya, kan? sampai bikin Mas Ariel jengkel sama tingkah laku aku. Hehe."


"Aku juga tau Mas Ariel suka di godain wanita lain, kan waktu itu aku gak sengaja lihat isi chat di Hp Mas Ariel, tapi sayangnya Mas Ariel bahkan mengabaikan mereka, dan tak sedikit nomer mereka yang Mas Ariel blokir. Ya walaupun pada akhirnya, Mas Ariel selingkuh sama si Laras. Misal aku waktu itu gak maksa Laras buat tinggal di tempat kita, atau tidak menyuruh dia tinggal di Jakarta, dan kerja di resto kita. Mungkin hubungan kita masih baik-baik aja ya, dan kita akan menunggu kelahiran anak pertama kita. Mama pasti juga masih ada di sini  dan pasti Mama yang paling antusias, buat membelikan semua kebutuhan anak kita."


"Hufft ... tapi Mama sekarang sudah gak ada. Mas Ariel juga sakit, aku juga belum membelikan baju buat anak kita, bahkan keperluan anak kita pun, belum aku beli. Padahal sebulan lagi, anak kita lahir," ucap Luna dengan nada sedih.


"Aku juga sebenarnya ragu dekat sama Mas Dion. Mas Ariel aja yang baiknya minta ampun di awal nikah, bisa berubah kayak gini, sejak aku mendatangkan perempuan lain di rumah kita."


"Apakah Mas Dion juga akan melakukan hal yang sama, misal aku sekali lagi mendatangkan perempuan lain? Ataukah dia akan mengusirnya secara terang-terangan?"


"Aku juga takut, kalau sikap Mas Dion gak sebaik saat ngedeketin aku. Kan semua orang kalau masih status PDKT, Pacaran, Tunangan atau apalah, pasti yang di tampakkan sifat baiknya. Tapi setelah menikah, barulah semua sifat akan kebongkar satu persatu. Dan aku belum tau, sikap buruk apa yang Mas Dion miliki. Tapi aku harap, Mas Dion orang baik dan tidak menyakiti aku, baik itu secara fisik maupun batin aku."


"Aku bingung. Bener kata Noah, jika dia emang laki-laki baik. Mas Dion gak mungkin ngedeketin aku di saat aku bahkan masih hamil dan masih status istri orang. Tapi kan, walaupun kami dekat, kami gak melakukan hal lebih, paling cuma ya kalau ketemu, sekedar ngobrol. Dan saat jarak jauh, ya paling cuma chat, telfon. Iya kan?"


"Maaf ya, aku bicara laki-laki lain di saat Mas Ariel bahkan masih sakit kayak gini. Aku tuh bingung, takut salah ambil langkah. Aku gak mau sampai gagal dua kali dalam pernikahan. Aku tuh ingin menikah dan bertahan samapi maut memisahkan. Bukan nikah lalu gagal, nikah lagi, gagal lagi, nikah lagi, gagal lagi dan terus seperti itu. Pasti akan capek kalau ngulang terus, dari awal dengan orang yang baru."


"Mas, coba deh pegang, anak kita gerak lagi nih." Luna mengambil tangan Ariel dan menaruh di perutnya.


"Kerasa gak? Anak kita lagi nendang, lihat ini gerakannya."


Luna begitu antusias, tapi tidak dengan Ariel yang tetap diam. Walaupun mata terbuka, tapi jiwanya seakan kosong. Ia cuma diam layaknya boneka, bahkan dia tidak memberi respon saat memegang perut Luna, di mana kini anaknya tengah aktiv menendang.


Melihat hal itu, Luna sedih.


"Mau sampai kapan Mas Ariel kayak gini? Mas Ariel gak mau nemenin aku berjuang buat melahirkan buah hati kita?" tanyanya.


"Aku mohon, ayo sembuh. Aku ingin Mas Ariel yang dampingin aku, saat aku melahirkan, aku ingin Mas Ariel yang mengadzani anak kita saat lahir nanti. Tolong jangan seperti ini terus menerus." pinta Luna, tapi sayangnya, permintaan Luna seakan tidak didengar oleh Ariel. Ariel benar-benar seperti raga tanpa roh.

__ADS_1


__ADS_2