
Hari ini Luna pulang ke Jakarta setelah seminggu lebih berada di rumah orang tua Dion. Dion sendiri yang mengantarkan Luna ke kediamannya yang ada di Jakarta. Luna sebenarnya masih berat buat pulang ke Jakarta karena masih betah tinggal di Bandung. Namun ia juga sadar diri, itu rumah orang tua Dion, dan sebagai tamu, tak mungkin Luna berlama-lama di sana, walaupun ia merasa betah dan nyaman tinggal di sana. Dirinya sadar, bahwa Luna bukan siapa-siapa mereka, jadi harus tau diri. Jika memang sudah seminggu lebih, harus angkat kaki dari sana. Kecuali jika kelak dirinya berubah menjadi istri Dion, mungkin selamanya tinggal di rumah itu pun, tak akan ada masalah.
Namun, bagi Luna seminggu lebih liburan, sudah cukup. Dan sudah saatnya ia kembali ke dunia nyata, di mana masalah akan datang menghampirinya. Masalah yang akan menguras fisik dan mentalnya. Luna cuma berharap ia bisa melaluinya sampai suatu saat nanti, ia lepas dari pernikahan ini dan mencoba untuk hidup bahagia tanpa ada Ariel di cerita hidup selanjutnya.
Sepanjang perjalanan menuju Jakarta, Luna memilih untuk tidur, karena ia merasa ngantuk, mungkin karena efek kenyang karena sarapan banyak tadi, sehingga mudah mengantuk. Dion pun membiarkan Luna tidur, walaupun ia merasa kesepian, karena gak ada temen ngobrol, tapi setidaknya ia merasa senang karena perjalanan ini dilalui bersama Luna, wanita yang ia suka.
Setelah tiga jam berada di jalan, akhirnya mereka pun sampai di kediaman Luna.
Dion membangunkan Luna, "Lun, bangun. Sudah sampai," ucapnya dengan suara pelan, takut jika Luna akan kaget. Bagaimanapun membangunkan orang tidur, tidak boleh pakai suara keras agar jantungnya gak berdetak kencang, lagian gak baik juga bangunin orang tidur dengan tergesa-gesa atau terburu-buru. Harus pakai suara pelan.
Luna membuka matanya dengan pelan, lalu ia menoleh ke arah Dion yang tersenyum ke arahnya. Luna pun membalas senyuman itu, lalu Luna melihat ke luar jendela mobil dan benar saja, mereka sudah sampai di depan rumah Luna.
Dion pun segera turun dari mobil dan membuka pintu mobil Luna. Mendapatkan perhatian seperti itu, mustahil jika jantung Luna biasa aja, ia malah merasa berdebar-debar berada di dekat Dion, apalagi mendapatkan perhatian darinya.
Dion dan Luna berjalan menuju pintu utama dan memencet bell yang berada di samping pintu. Dan tak lama kemudian, pintu pun terbuka lebar.
"Non Luna," Bibi Imah merasa seneng melihat Luna yang sudah tiba di rumah itu dengan keadaan yang sangat sehat. Bahkan wajahnya pun cerah, tak lagi seperti dulu yang di selimuti dengan wajah sendu, tak ada cerianya sama sekali.
"Assalamualaikum, Bibi. Bibi gimana kabarnya?" Luna memberikan pelukan buat Bibi Imah.
"Waalaikumsalam, Alhamdulillah baik, Non. Kenapa pulangnya lama, Non?" tanyanya.
"Betah Bi, di Bandung," jawabnya sambil melepas pelukannya. Lalu Dion pun menyapa Bibi Imah dan menjabat tangan Bibi Imah dan menciumnya karena Dion sudah menganggap Bibi Imah seperti orang tua sendiri.
"Bibi Neni, mana Bi?" tanya Luna sambil masuk ke dalam, beigtupun dengan Dion.
"Ada di dalam, bentar Bibi panggilkan dulu ya," ucapnya lalu masuk ke dalam sekalian mau buat minuman untuk Luna dan Dion.
"Iya, Bi."
Setelah itu, Bibi Imah pun masuk ke dalam untuk memanggil Bibi Neni. Sedangkan Luna, ia duduk di sofa, melihat ruang tamu itu dengan seksama, dan tak ada yang berubah. Sama seperti dulu.
__ADS_1
"Mas Dion," panggil Luna saat Dion mau duduk juga di sofa.
"Iya," jawab Dion sambil menatap Luna.
"Oleh-olehnya kan masih ada di mobil, sama koper aku juga ada di sana," ujar Luna.
"Astaga aku lupa. Bentar aku ambilkan dulu." Dion pun akhirnya gak jadi duduk.
"Mau aku bantu?" tanyanya.
"Enggak usah, kamu duduk aja, pasti capek setelah perjalanan jauh. Lagian kamu lagi hamil, gak boleh ngangkat yang berat-berat," ucapnpya penuh perhatian. Luna pun menganggukkan kepala, ia tak lagi membantah ucapan Dion. Lagian ia juga emang lelah, walaupun di dalam mobil cuma duduk aja, tetap aja ia capek.
Dion pergi keluar dan mengambil koper milik Luna dan menaruhnya di ruang tamu, begitupu dengan oleh-oleh, camilan dan kue khas Bandung, serta buah yang Luna ambil sendiri di kebun milik Dion. Serta ada teh juga buat Bibi Imah dan Bibi Neni, siapa tau mau minum teh di pagi hari. Biasanya kalau pagi-pagi paling enak minum teh hangat.
Semuanya Dion taruh di ruang tamu, biar nanti Bibi Imah dan Bibi Neni aja yang membereskan. Setelah menaruh semuanya di ruang tamu, barulah Dion kembali duduk di dekat Luna.
Namun gak lama kemudian, Bibi Neni datang dan menyapa Dion serta Luna.
"Kok baru pulang, Non?" tanya Bibi Neni.
"Oh ya, Bi. Itu ada oleh-loleh buat Bibi Neni sama Bibi Imah, yang ada di kardus itu isinya camilan dan kue. Sedangkan yang di keranjang itu isinya buah, aku loh Bi yang metik sendiri," pamernya membuat Dion yang mendengarnya jadi terkekeh.
"Wah, pantas jika Non Luna betah, pasti lagi pesta Buah ya di sana," ucap Bibi Neni.
"Iya, Bi. Kalau pengen makan buah, tinggal ke kebun aja, metik sendiri, terus makan. Rasanya enak makan langasung dari pohonnya gitu, apalagi makan sambil duduk di bawah pohonnya, rasanya benar-benar nikmat, Bi," ujar Luna cerita dengan semangat.
"Wah, kapan kapan Bibi mau kesana lagi deh. Dulu pas ke rumah Mas Dion, Bibi gak di ajak ke Kebunnya ya?" tanyanya.
"Iya, Bi. Kapan-kapan kalau ke Bandung, aku ajak ke sana ya, Bi," ujar Dion dan Bibi Neni pun menganggukkan kepala.
"Ini kue dan buahnya, Bibi bawa ke dalam ya," tuturnya.
__ADS_1
"Iya, Bi. Sekalian minta tolong bawakan koper aku ya Bi, taruh di kamar aku. Tapi gak usah di bawa semuanya, bawa satu-satu aja, biar gak berat," balas Luna dan Bibi Neni pun mengangguk setuju.
Bibi Neni membawa kardus yang berisi kue dan camilan itu ke dapur. Lalu kembali lagi membawa buah yang di bungkus pakai keranjang tapi luarnya di tutupi plastis hitam biar rapi. Dan terakhir, Bibi Neni membawa koper milik Luna ke kamar Luna.
Saat Bibi Neni menaruh koper ke kamar Luna. Bibi Imah datang membawa teh hangat sama kue kering.
"Oh ya, Bi. Itu di dalam kardus juga ada teh, nanti bisa di coba. Teh itu dari pabriknya Mas Dion lo, Bi. Harus di coba deh, rasanya beda sama yang beli di toko toko gitu," ucap Luna memberitahu.
"Wah padahal sama-sama teh ya, kok bisa beda rasanya?" tanya Bibi Imah sambil duduk. Tak lama kemudian, Bibi Neni pun bergabung sama mereka dan duduk di samping Bibi Imah.
"Karena kan cara pengemasannya beda, Bi," sahut Dion yang sedari tadi diam.
Mereka pun mengobrol santai, Bibi Imah dan Bibi Neni belum memberitahu kondisi Ariel yang kini berbaring di rumah sakit. Karena menurut mereka, ini bukan waktu yang tepat.
Setelah setengah jam mengobrol, Luna menyuruh Dion untuk istirahat di ruang tamu, sebelum nanti kembali ke Bandung. Dion pun setuju, lagian ia buruh istirahat, untuk merebahkan tubuhnya yang dari pagi duduk terus.
Dion tidur di kamar tamu, kamar yang dulu di tempati oleh Laras dan Ariel untuk melakukan hubungan terlarang. Namun sekarang, sprai dan semuanya sudah di ganti oleh Bibi Neni, sehingga banyak yang berubah.
Sambil menunggu Dion tidur, Bibi Imah pun siap siap untuk memasak buat makan siang, sedangkan Bibi Neni yang menata camilan dan kue di rak, sedangkan buahnya sebagian di taruh di kulkas, sebagian lagi di taruh di rak. Sedangkan Luna, ia pergi ke kamarnya untuk menata barang-barang miliknya sekalian merebahkan tubuhnya juga di kasur.
Jam setengah satu, Luna bangun. Ia segera mandi, sholat dhuhur lalu keluar kamar dan ia melihat di ruang tamu, Dion tengah menonton tivi.
"Maaf ya, aku duduk di sini sambil nonton tivi," ucap Dion gak enak hati.
"Enggak papa, santai aja. Sudah makan?" tanya Luna.
"Belum, aku nunggu kamu."
"Iya sudah ayo makan bareng," ujarnya dan Dion pun mematikan tivinya. Lalu ia dan Luna pergi ke ruang makan buat makan siang.
Luna mengajak Bibi Neni dan Bibi Imah buat makan bersama, tapi mereka menolak karena sudah kenyang. Tadi mereka makan kue dan camilan yang di bawa oleh Luna dan Dion dari Bandung.
__ADS_1
Akhirnya Luna dan Dion pun makan cuma berdua. Setelah makan siang, Dion pun memutuskan untuk pulang. Dion juga sudah sholat dhuhur tadi sebelum Luna keluar dari kamarnya, bahkan sudah mandi juga. Jadi, Dion sudah gak merasa ngantuk lagi karena sudah segar habis mandi, apalagi ia sudah istirahat sejam lebih, jadi Dion bisa pulang dengan wajah segar, tanpa merasa ngantuk.
Luna mengantarkan Dion sampai depan rumahnya, setelah memastikan Dion pergi, barulah Luna masuk ke dalam rumah dan tak lupa mengunci pintu dari dalam.