Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Jangan Memaksa Aku, Mas


__ADS_3

Sesampai di rumah, Ariel menenteng tasnya dan juga terang bulan di tangan kanannya. Saat ia membuka pintu, ia melihat Luna berada di ruang tamu di temani Bibi Imah dan Bibi Neni. Pasti Luna menunggu dirinya dari tadi.


"Sudah pulang, Mas?" tanya Luna sambil mengambil tas kerja suaminya.


"Iya, ini aku bawain kamu terang bulan, kasih Bibi juga ya. Aku beli tiga kok," ucap Ariel sambil memberikan terang bulan itu ke Luna. Namun Luna mengernyitkan dahi sambil mengambil terang bulan itu dari tangan kanan suaminya. Lalu Luna memberikan terang bulan itu kepada Bibi Neni dan Bibi Imah juga. Sedangkan satunya di pegang dirinya sendiri.


"Kamu kenapa, Sayang? Kok kayak gak suka gitu?" tanya Ariel melihat Luna tak ada antusiasnya sama sekali, berbeda dengan dulu. Jika di belikan jajan, Luna akan mengucapkan terima kasih berulang-ulang sambil memeluk dan mencium pipinya. Tapi sekarang sikap Luna biasa aja, ada rasa bahagia atau apapun. Benar-benar terlihat hambar.


"Mas Ariel tumben belikan aku terang bulan?" tanya Luna menatap curiga.


"Aku hanya ingin memberikan oleh-oleh buat istriku, apa aku salah?" tanya Ariel balik.


Mendengar itu, Luna hanya terkekeh.


"Mas lupa ya, kalau aku sudah lama gak makan makanan kayak gini," ujar Luna, membuat Ariel semakin merasa bersalah. Bibi Imah dan Bibi Neni yang tak ingin menganggu mereka berdua pun, diam-diam pergi membawa terang bulan yang di berikan oleh Luna tadi.


"Maaf, sayang," ucap Ariel menitikkan air mata.


"Kenapa minta maaf, Mas ada salah sama aku?" tanya Luna pura-pura bodoh.


"Maaf karena selama ini aku sudah terlalu mengekang kamu, Sayang. Melarang kamu makan ini dan itu. Aku benar-benar minta maaf," jawab Ariel dengan raut wajah penuh penyesalan.


"Santai aja kali, Mas. Aku gak papa, kok. Lagian lidah aku sudah tidak terbiasa makan makanan seperti itu lagi. Aku lebih suka makan makanan sehat sekarang. Jadi gak perlu merasa bersalah," tutur Luna, namun jika di lihat lebih spesifik lagi, di mata Luna ada rasa terluka yang begitu dalam. Namun Luna begitu pandai bersandiwara, menutupi luka itu dengan senyuman, seakan-akan tak terjadi apa-apa.

__ADS_1


"Maaf, Sayang. Aku menyesal, sangat menyesal."


"Sudahlah, ayo ke kamar. INi nanti terang bulannya buat Mas saja ya. Aku sudah gak suka makan makanan seperti ini. Lain kali gak usah belikan aku makanan," ujar Luna sambil memegang tangan Ariel dan membawanya ke kamar.


Sesampai kamar, Luna menaruh tas kerja dan juga terang bulan itu di atas meja. Lalu Luna membantu Ariel membuka kaos kaki dan bajunya. Serta menyiapkan baju ganti setelah Ariel selesai mandi nanti.


"Sana mandi dulu, Mas," ucap Luna karena kini Ariel hanya memakai ****** ***** saja. Sedangkan semua baju dan celana panjang sudah Luna buka dan menaruhnya di keranjang baju yang kotor.


"Maaf," ucap Ariel lagi.


"Sudahlah, jangan di bahas lagi. Aku gak papa kok. Aku sudah menerima semua peraturan yang Mas buat. So, jangan buat aku menjadi istri pembangkang karena melanggar apa yang sudah kita sepakati di awal," ungkap Luna dan mendengar hal itu membuat Ariel hanya bisa menghela nafas kasar.


"Kamu tidak akan menjadi istri pembangkang hanya karena peraturan yang sudah aku buat dulu. Aku akan mencabut peraturan itu, Sayang. Mulai sekarang lakukanlah apapun yang kamu suka, yang penting kamu tetap jaga kesehatan kamu dan tubuh kamu. Aku gak akan peduli lagi, kamu mau makan apa. Karena aku yakin, kamu pasti bisa mengontrol diri kamu sendiri," tutur Ariel sambil menghampiri Luna dan memeluknya.


"Sudah telat, Mas. Aku lebih suka kehidupan aku sekarang dari pada dulu. Memang awal-awalnya susah dan aku hampir putus asa, tapi aku sudah mulai terbiasa sekarang. Its okay gak papa, aku faham kenapa Mas lakuin ini untukku," papar Luna berusaha untuk tegar.


"Sudahlah, jangan di bahas. Okay, lebih baik Mas mandi terus sholat, lalu kita istirahat."


"Terus gimana dengan terang bulannya, aku kan beliin buat kamu," ujar Ariel sambil melirik terang bulan yang ada di atas meja.


"Kalau Mas mau, Mar Ariel aja yang makan, tapi kalau gak mau, besok pagi bisa aku kasih ke Bibi Imah atau Bibi Neni."


"Yahhh ... padahal aku belikan khusus buat kamu loh. Apa kamu gak bisa mencicipi sedikit saja," pintanya memohon.

__ADS_1


Luna menggelengkan kepalanya.


"Aku gak mau."


"Kenapa?"


"Aku takut ketagihan dan menghabiskannya, belum lagi jika enak, aku bisa meminta Mas Ariel untuk belikan makanan itu lagi."


"Enggak papa, kok. Aku bisa bawakan terang bulan setiap malam buat kamu."


"Enggak, Mas. Aku gak mau. Tidak mudah buat aku untuk berada di posisi ini. Untuk membiasakan lidah aku tidak lagi makan-makanan itu. Tidak mudah buat aku melewatkan itu semua, membuang jauh-jauh fikiran aku setiap kali ingat makanan kesukaanku. Aku berusaha keras untuk tak lagi memakan hal apa yang aku suka. Di tambah aku juga takut, berat badan aku naik. Jadi please, jangan paksa aku. Terlebih aku juga gak mau makan malam dengan makanan berat seperti itu. Tolong hargai aku, biarkan seumur hidup aku, aku makan makanan sehat aja."


"Tapi itu bisa bikin lidah kamu mati rasa, Sayang."


"Enggak papa, kok. Aku sudah memikirkan itu semua."


"Sayang .... " rengek Ariel, ia masih ingin menembus dinding pertahanan istrinya itu, agar ia bisa sedikit menghilangkan rasa bersalahnya. Karena dirinyalah penyebab utama, Luna bisa seperti ini.


"Sekali enggak, tetap enggak. Jangan bikin aku marah, Mas. Atau kita pisah ranjang hari ini," ancam Luna membuat Ariel takut.


"Baiklah. Aku mengalah."


Ariel pun segera pergi ke kamar mandi dengan peraaan yang campur aduk, sedangkan Luna, ia duduk di pinggir kasur sambil menghela nafas kasar.

__ADS_1


"Kenapa kamu baru sadar sekarang, Mas? Kenapa kamu baru sadar, setelah aku mengalami banyak kesulitan. Dan setelah aku berhasil, kamu menyuruh aku untuk memakannya tanpa mau tau, bagaimana aku dulu mati-matian agar tak lagi memakan makanan kesukaanku. Aku bahkan menangis karena aku ingin makan di pinggir jalan seperti dulu, tapi aku gak bisa melakukannya karena kamu menentang keras keinginan aku.


Aku bahkan menolak setiap kali Bibi Imah dan Bibi Neni makan banyak di hadapan aku, makan lahap dan makan apa aja yang mereka mau. Aku hanya bisa menelan ludah dan melihat betapa nikmatnya makanan itu. Terlalu banyak kehidupan aku yang kamu kekang, walaupun itu sangat menyakitkan, tapi kini aku sudah berhasil melewatinya. Dan aku harap, kamu sama seperti dulu, tegas akan peraturan yang harus aku jalani. Bukan malah membiarkan aku seperti ini, menyuruh aku makan di saat aku sudah tak lagi selesa dan tak lagi menyuakai makan-makanan seperti itu." Luna hanya bisa membatin, karena ia tak bisa mengeluarkan uneg-uneg di hatinya. Ia tak mau, Ariel tau apa yang ia rasakan saat ini. Biarlah semuanya Luna simpan rapat-rapat di hatinya, cukup dia yang tau, bagaimana ia harus jatuh bangun, agar bisa seperti sekarang. Menjadi penurut dan melakukan apa yang di perintah oleh suaminya, tanpa menanyakan dulu kesukaannya dan apakah dirinya mau melakukan itu atau tidak.


__ADS_2