Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Ardi Vs Luna


__ADS_3

Keesokan harinya, Ardi-Papanya Ariel datang ke rumah sakit, ia sudah tau tempatnya karena memang sebelum Noah menemui dirinya secara langsung. Noah sudah memberitahu kondisi putranya bahkan juga memberitahu di mana Ariel di rawat, lengkap dengan nomer kamar rawat inapnya.


Sepanjang jalan, Ardi hanya diam, sejujurnya ia belum siap jika harus menemui anak dan menantunya. Namun sebagai seorang ayah, ada hati yang tidak tega mendengar kondisi Ariel yang semakin hari semakin parah. Bagaimanapun ia tak ingin kehilangan orang yang ia sayang untuk kedua kalinya. Sebe-jat be-jatnya Ariel, dia tetaplah anak kandungnya, dia tetaplah darah dagingnya, dan dia tetap adalah buah hati cintanya dengan sang istri.


Sesampai di rumah sakit, ia berjalan dengan tegak. Tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia seperi tak peduli akan hal apapun. Ia terus berjalan, hingga akhirnya kini ia berdiri di depan pintu kamar dimana Ariel di rawat.


Ardi mengetuk pintu, bagaimanapun ia tidak bisa masuk sembarangan. Ada privasi anak dan menantu yang harus ia jaga.


Setelah mengetuk pintu, tidak lama kemudian pintu terbuka. Ardi menatap ke arah Luna yang semakin berisi dengan perut yang semakin membesar.


"Papa, aku seneng Papa akhirnya datang ke sini," ujarnya sambil menci-um punggung tangan papa mertuanya.


Ardi hanya diam, ia seakan merasa enggan untuk membalas sapaaan menantunya itu, yang bentar lagi akan jadi mantan menantu karena ia juga sudah mendengar jika Luna dan Ariel dalam proses perceraian dan kemungkinan besar, bulan depan mereka sudah resmi bercerai.


"Ayo masuk pa." Luna tau, jika Papanya mungkin masih kecewa padanya, namun Luna masih berusaha untuk bersikap baik dan ramah.


Ardi masuk ke dalam dan langsung melihat ke arah brankar, di mana di sana, putranya hanya terbaring dengan mata terbuka.


Ardi langsung menghampirinya.


Jujur, pertama kali lihat Ariel dalam kondisi seperti ini, hatinya seakan tercubit. Sakit, sesak itulah yang ia rasakan.


Ardi berdiri di samping brankar. Ia langsung memeluk putranya. Air mata menetes tanpa bisa ia cegah. Luna yang melihat hal itu pun ikut menitikkan air mata.


"Maafin Papa, Nak. Maafin Papa, karena Papa baru datang. Maaf karena Papa masih belum bisa mengiklaskan semuanya, hingga Papa mengabaikan kamu." ucapnya dengan suara yang bergetar.


Namun seperti biasa, Ariel tetap tidak mau merespon.


Ardi melepaskan pelukannya dan menatap wajah Ariel, yang pucat, seperti tak ada semangat hidup. BEnar kata Noah, bahkan hidupnya sudah seperti raga tanpa nyawa.


Walaupun mata terbuka, namun seperti kosong.


Lagi-lagi Ardi menangis melihat putranya seperti ini.


"Kita pulang ya, Nak. Biarkan Papa yang akan menjaga dan melindungi kamu." ujar Ardi membuat Luna mengernyitkan dahinya. Tak mengerti apa maksud dari perkataan papa mertuanya itu.


"Maksud Papa apa?" tanya Luna.


"Papa akan bawa dia pulang ke rumah. Jadi kamu juga bisa pulang ke rumah kamu sendiri, dan tidak perlu repot-repot untuk menjaga Ariel lagi mulai hari ini," tuturnya.

__ADS_1


"Tapi, Pa. Aku masih sah jadi istrinya Mas Ariel dan aku masih berhak atas suamiku."


"Iya, tapi bulan depan kamu dan Ariel sudah resmi berpisah. Biarkan Ariel terbiasa dengan ketidak hadiran kamu di sisinya. Biarkan dia belajar untuk mengiklaskan kamu pergi. Setidaknya saat ia sadar akan lingkungannya, ia sudah tak lagi berharap sama kamu. Papa gak mamu membiarkan Ariel terus menderita. Jangan sampai, ia terus berharap, dan membuat batinnya semakin menderita."


"Tapi aku ingin merawat Ariel Pa." Luna masih kekeh tak ingin berpisah dari suaminya itu.


"Biarkan Papa yang merawatnya, Lun."


"Aku gak setuju."


"Maumu apa, Lun? Kamu belum cukup menghancurkan kehidupan dan karir anakku. Belum cukup kamu membuat anakku menderita seperti ini. Kamu sadar gak sih, bahwa semua masalah ini berawal dari kamu. Jika dulu kamu nurut apa kata suamimu, gak mungkin akan jadi masalah sebesar ini. Ariel gak mungkin seperti orang yang kehilangan semangat hidupnya. Istriku mungkin masih hidup sampai detik ini. Aku juga tidak akan kehilangan muka di depan keluarga besar aku dan semua orang yang menatap aku dengan tatapan hina. Sudah cukup Lun, sudah cukup semua orang menyalahkan anakku tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi. Sudah cukup derita yang di tanggung oleh putraku. Biarkan dia hidup tenang. Papa mohon!" pinta Ardi dengan wajah memelasnya.


"Tapi aku ingin merawat Mas Ariel, Pa. Aku ingin merawatnya."


"Kamu ingin merawatnya, lalu setelah Ariel sembuh. Kamu akan siksa lagi dengan siksaan yang lebih parah."


"Apa maksud Papa?" tanya Luna tak mengerti.


"Papa sudah tau semuanya. Coba kamu bayangkan, misal Ariel sembuh, lalu dia tau, kamu dan Ariel resmi bercerai dan kamu menikah dengan mantan sopir pribadi kamu. Bagaimana perasaaan Ariel. Mungkin dia akan hancur Lun, akan hancur. Kamu gak kasihan dengannya? Kamu gak kasihan Lun, sama Ariel. Walaupun dia pernah mengkhianati kamu, tapi setidaknya dia pernah berbuat baik sama kamu. Jadi tolong, tolong berhenti menyiksa putraku."


"Aku gak bermaksud menyiksa Mas Ariel Pa?"


"Tapi kenyataannya memang seperti itu. Kamu yang menciptakan masalah, dan Ariel hanya mengikuti arus yang kamu ciptakan. Lalu setelah ARiel salah jalan, seluruh dunia menghinanya, mencaci maki dia, dan menganggap seolah-olah putraku seringkali melakukan kejahatan. Padahal kejahatan itu tidak akan pernah ada, misal kamu tidak terus menerus memberikan peluang dan terus menerus mendorong suamimu untuk dekat dengan dosa. Dan setelah putraku benar-benar terjerumus ke lembah zi-na, kamu seakan berbalik. Bukannya menolong, kamu terus membiarkan perzi-nahan itu terjadi di depan mata kamu. Kamu tidak memberitahu Papa, agar Papa memberikan hukuman dan Ariel stop melakukan perzi-nahan itu, tapi kamu malah mengumpulkan banyak vidio dan memperlihatkan ke semua orang. Jika memang kamu tidak menyukai tindakan suamimu, cukup kamu gugat dia, tidak perlu berkoar-koar. Kamu bisa pisah dengan baik-baik tanpa melakukan drama panjang." ujarnya mengungkapkan isi hati.


"Aku cuma ingin memberikan pelajaran aja, Pa. Tidak lebih."


"Memberikan pelajaran? Allah, kamu ingin memberikan pelajaran untuk putraku. Lalu bagaimana dengan kesalahan kamu. Hmm ... kamu yang memaksa sahabat kamu hadir dalam pernikahan kamu, dalam rumah tangga kamu. Bagimana kamu bisa menyikapinya. Jangan hanya kamu melihat kesalahan suami kamu. Coba kamu lihat juga, kesalahan yang kamu lakukan."


"TApi Mas Ariel sudah berzi-na."


"Kamu yang bikin anakku berzi-na. Aku tau anakku, dia tidak mudah berbaur dengan wanita lain. Selama hidupnya, dia tidak pernah dekat dengan wanita lain selain mamanya dan kamu. Aku tidak pernah mendengar, putraku punya pacar selain kamu. Aku tidak pernah mendengar, putraku jalan dengan wanita lain, sebelum sahabatmu datang ke dalam kehidupannya."


"Tapi seharusnya Mas Ariel menolak dan tidak melakukan itu, jika memang dia mencintai aku."


"Bukankah anakku sudah menolak, dia bahkan tidak mau makan satu meja dengan sahabat kamu. Dia juga berusaha untuk menjauh dan menghindar. Entah itu di rumah maupun di resto. Dia juga berusaha untuk tidak memperlihatkan dirinya di depan sahabat kamu. Tapi apa? Kamu yang mendorong suami dan sahabat kamu untuk terus berdekatan. Papa sudah tau, Papa sudah mencari tau semuanya. Anakku sudah menolak berkali-kali, tapi kamu terus memaksa agar ARiel bisa menerima kehadiran sahabat kamu itu."


"Bukan gitu maksud aku, Pa. Aku hanya ingin mereka dekat, karena Laras sudah aku anggap seperti saudara aku sendiri. Aku gak ada maksud buat mereka dekat untuk menjalin hubungan."


"Tapi nyatanya apa? ini hasil kamu ingin mereka dekat, kan? Dalam islam aja, tidak diperkenankan seorang laki-laki mendekati wanita yang bukan mahramnya. Kamu kan ngerti agama. Masak kamu gak tau, kalau laki-laki itu tidak boleh berdekatan dengan lawan jenis. Masak kamu gak ngerti itu. Bahkan di saat suamimu sakit pun, kamu bukannya merasa bersalah, kamu malah berdekatan dengan pria lain, bahkan di saat status kamu itu masih istri dari anakku. Kamu juga menginap seminggu di rumah calon mertua barumu itu. Ini gila tau gak? Padahal selama ini anakku selalu memuji kamu, istriku sholehah, istriku baik, penyayang, sabar dan yang lainnya. Tapi ini apa? belum pisah, kamu sudah mencari calon suami baru. Mungkin setelah masa iddah kamu selesai, kamu akan langsung menikah dengannya. Sedangkan anakku? Anakku bahkan belum tentu sembuh. Dan di saat ia sembuh, dia malah akan mendapatkan kabar yang sangat menyakitkan. Kamu gak kasihan?" tanyanya.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Luna diam.


"Jadi tolong, tolong biarkan aku membawa anakku pulang. Aku yang akan merawat dia. Aku yang akan bantu anakku untuk pulih dan melupakan kamu serta semua masalah yang ada. Dan aku janji, Ariel akan tetap bertanggung jawab sebagai seorang ayah. JIka dia sembuh, ia akan datang untuk mengunjungi buah hatinya." tuturnya.


"Tapi, Pa. Tidak bisakah jika aku yang merawat Ariel sampai aku melahirkan nanti." pinta Luna.


"Dan di saat kamu melahirkan, surat resmi cerai juga akan keluar. Di saat anakku sudah terbiasa dengan perlakuan kamu selama ini, lalu dia di paksa untuk melupakan kamu dan meninggalkan kamu karena dia tak berhak lagi atas kamu. Kamu mau anakku gila?" ujarnya dengan suara yang cukup tinggi.


"Kamu gak lihat anakku bahkan seperti mayat hidup. Kamu gak lihat tubuhnya yang seperti tulang belulang saja. Kamu gak kasihan padanya. Kamu mau memperlihatkan, keromantisan kamu dengan calon suami kamu itu. Tidak menutup kemungkinan jika kamu melahirkan, calon suamimu juga akan datang. Lalu bagaimana dengan putraku. Bagaimana dengan mentalnya." imbuhnya.


"Tolong jangan bersikap egois. Kamu sudah baik-baik aja, kan? Kamu juga sudah berhasil membalas rasa sakit kamu ke suami dan sahabat kamu. Apa masih belum cukup kamu lihat anakku seperti ini dan aku kehilangan istriku. Apa kamu masih ingin meneruskan balas dendam kamu itu? apa harus putraku mati, biar kamu puas!" tanyanya merasa geram.


"Kenapa gak sekalian aja, kamu ambil pisau dan bunuh putraku jika itu bisa bikin hatimu lega. Setidaknya putraku juga tidak perlu merasakan tekanan batin seperti ini," ujarnya sekali lagi. Mendengar hal itu, Luna semakin diam.


Setelah Luna diam, Ardi menatap putranya sekali lagi. Ia melihat Ariel yang tengah menitikkan air mata. Ardi pun segera  menghapusnya


"Papa akan jaga dan lindungi kamu, Nak. Maafkan Papa. Maaf karena selama ini Papa sudah mengabaikan kamu. Mulai sekarang, tidak peduli semua orang menghujat kamu, Papa akan berdiri di belakang kamu. Papa akan membela kamu mati-matian. Kamu jangan khawatir, okay. Papa gak akan ninggalin kamu lagi. Maafin Papa, Boy. Maafin Papa." ujarnya menangis, ia memeluk Ariel lagi.


Boy, di sini artinya anak laki-laki.


Ariel seperti merasakan kehangatan papanya, ia menitikkan air mata walaupun masih belum merespon pelukan sang Papa.


Tak lama kemudian, Noah datang. Noah terharu melihat Ardi pada akhirnya mau mengunjungi putranya.


Melihat keberadaan Noah, Ardi langsung melepakan pelukannya.


"Noah, tolong kamu urus administrasi Ariel ya. Kita akan bawa Ariel pulang hari ini juga." ucapnya memberi perintah.


"Pulang kemana, Om?" tanyanya.


"Ke rumah, Om," sahutnya.


Mendengar hal itu, Noah diam. Lalu ia melihat ke arah Luna yang tengah menangis.


"Tapi Om, gimana dengan Luna?" tanyanya.


"Biarkan dia pulang ke rumahnya, di sana ada Bibi Imah dan Bibi Neni yang akan merawatnya. Lagian Luna sudah hamil besar, dan tinggal menunggu hari kelahirannya. Biarkan dia istirahat dan kita tidak perlu menganggunnya." tuturnya.


"Baik, Om." Noah pun segera pergi lagi untuk mengurus administrasi Ariel. Mungkin ini adalah jalan terbaik agar Ariel bisa segera sembuh karena sudah beberapa bulan, Aril di rawat oleh Luna, namun nyatanya, Ariel tidak mengalami kemajuan sama sekali. Mungkin di tangan Papanya, Ariel bisa kembali semangat menjalani hidup dan bisa beraktivitas normal seperti dulu lagi.

__ADS_1


__ADS_2