Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
14 Bab Menuju Tamat


__ADS_3

Jam setengah satu, Ariel baru sampai di apartemen karena tadi setelah pulang dari masjid, mereka masih mampir di resto untuk mencari makan, sekalian jalan-jalan. Dan setelah kenyang, barulah mereka pulang, terlebih Ariel melihat jika putrinya itu sudah mengantuk.


Sore hari, saat Ariel dan Diana keluar dari apartemennya, tiba-tiba ia di kagetkan dengan wanita yang ia temui tadi pagi, dan wanita itu keluar dari apartemen sebelah.


Wanita itu pun tak kalah terkejutnya saat melihat Ariel dan Diana, wanita itu hanya menganggukkan kepala sedikit lalu pergi dari sana melewati Ariel dan Diana begitu saja, tanpa menyapanya. Bukan tak ingin menyapa, hanya saja, wanita itu bingung harus menyapa gimana, karena dirinya bukan type wanita yang sok akrab dan mudah berabauar dengan yang lain apalagi dengan laki-laki yang hanya ia temui dua kali, tanpa tau nama dan statusnya apa.


Ariel yang melihatnya hanya diam, tak ada rasa sakit hati, dia biasa aja. Toh memang dirinya dan wanita itu gak ada hubungan apa-apa. Jadi, tidak ada pengaruhnya bahkan jika wanita itu bersikap cuek seperti tadi.


Sedangkan di tempat yang berbeda, Luna di buat sok, setelah tadi pagi dia mendapatkan telfon jika restorannya kebakaran karena konsleting listrik. Entah ujian apa lagi yang harus di lalui oleh Luna, kadang ia merasa lelah dengan apa yang harus ia lalui. Luna menangis sesegukan.


Terlebih Luna juga tidak di izinkan pergi ke Jakarta oleh Dion. Bukan apa-apa, Dion sendiri bukannya melarang, hanya saja saat ini, dia ada rapat penting dengan orang jerman yang selama ini sudah bekerja sama dengan perusahaan miliknya.


Dion tak mungkin mengabaikannya begitu saja, mengingat dia harus tetap jaga wibawanya di depan rekan bisnisnya. Jika sampai ia mengutamakan Luna dan fokus sama resto yang hasilnya tidak seberapa, tidak maenutup kemungkinan, ia bisa kehilangan ikan besar yang menghasilkman uang puluhan milliar setiap bulannya.


Sedangkan resto milik Luna, belum tentu dapat satu milliar perbulannya.


Bukan tak mau merasa kasihan, tapi dia juga harus berfikir logis, mana yang harus ia utamakan lebih dulu.  Jangan sampai karena merasa kasihan dengan bisnis istrinya, Dion malah mengabaikan bisnisnya sendiri. Jika dia fokus sama usaha milik Luna dan mengabaikan usaha milik dirinya sendiri, maka tidak menutup kemungkinan malah dua duanya yang akan gulung tikar.


Sedangkan Dion juga tak mungkin membiarkan Luna bepergian tanpa dirinya, karena jika terjadi apa apa dengan Luna dan anak yang ada dalam kandungannya, maka Dion tak akan pernah memaafkan dirinya sendiri sampai kapanpun. Belum lagi, Mami dan Papinya pasti akan menyalahkan dirinya misal ada apa apa dengan cucunya itu.


Jadi, Dion meminta Luna bersabar lebih dulu. Tunggu Dion sampai menyelesaikan urusannya, baru setelah iatu, Dion akan bantu Luna menyelesaikan masalahnya.


Jika Dion berfikir panjang masalah itu, berbeda dengan Luna, ia berfikir jika Dion tidak mengasihani dirinya. Dion lebih memilih usahanya ketimbang membantu dirinya. Luna cuma bisa menangis, sambil berkirim pesan dengan Anggi. Hanya Anggi, sekarangt yang bisa mengurus semuanya.


Luna juga mendapatkan kiriman vidio dari Anggi, seberapa parahnya resto yang terbakar itu. Walaupun sudah ada pemadam kebakaran, namun tetap saja, kerusakannya hampir seratus persen mengingat saat kebakaran, orang orang telat menelfon pihak pemadam, mereka baru nelfon setelah api itu sudah hampir memusnahkan semuanya.


Tiba-tiba, Luna ingat dengan Ariel yang ada di Jakarta. Luna pun segera menelfon Ariel.

__ADS_1


Tut ... Tut ... Tut ....


"Halo, Assalamualaikum," sapa Ariel lebih dulu.


"Waalaikumsalam, Mas."


"Kamu kenapa, Lun? Kok nangis?" tanyanya panik. Bagaimana tidak panik, Luna itu jarang menangis kecuali masalahnya emang udah gede banget dan dia tidak bisa mengatasinya sendiri.


"Mas, hiks hiks bantu aku."


"Bantu apa, kalau aku bisa, aku pasti bantu kamu kok."


"Mas, resto kita Mas. Resto kita?"


"Resto kita?" tanya Ariel tak mengerti.


"Emang kenapa dengan resto itu?"


"Kebakaran, Mas.";


"Innalillahi Wainna Ilairojiun. Kok bisa?"


"Katanya sih konsleting listrik."


"Terus kamu di mana sekarang?"


"Aku masih di rumah. Mas Dion gak ngizinin aku ke sana. Aku bingung. Makanya aku minta bantuan kamu, Mas. Aku minta tolong, aku bingung harus minta tolong ke siapa lagi kalau bukan ke kamu."

__ADS_1


"Iya udah aku akan langsung ke sana. Kamu yang sabar ya."


"Iya, Mas. Maaf, maaf."


"Sudahlah gak papa, mungkin memang itu bukan rezeki kita semua. Yang penting gak ada korban. Masalah resto terbakar, masih bisa di bangun lagi dari awal," tuturnya berusaha menguatkan mantan istrinya itu.


"Tapi gak mudah untuk bangun semuanya dari nol, Mas. Pasti butuh biaya yang tidak sedikit, padahal aku ingin resto itu buat Diana nantinya hiks hiks."


"Sabar, mungkin emang belum rezekinya. Masalah Diana, tidak perlu di fikirkan. Aku sudah menyiapkan semuanya dari dulu. Apa yang di cita-citakan oleh Diana, InsyaAllah akan Allah kabulkan. Yang penting kita sebagai orang tua, jangan lupa untuk terus berdoa dan mengajari ilmu dunia dan akhiratnya. Jika sudah punya ilmunya, Diana bisa menjadi apa aja yang dia mau di masa depan." tutur Ariel, bukan sok mengajari, hanya saja Ariel ingin menyadarkan Luna, percuma menyiapkan semuanya dari awal, jika Diana tidak punya ilmunya, bisa jadi, resto itu malah bangkrut di tangan Diana. Lagian belum tentu, Diana juga mau mengelola resto itu. Bisa jadi, di masa depan, Diana pengen jadi dokter, ustadzah, dosen atau yang lainnya.


"Tapi itu resto kenangan, ada banyak kenangan kita di sana. Terlebih kamu, aku masih ingat bagaimana kamu membantu resto itu. Aku gak mungkin membiarkan semuanya hancur begitu saja."


"Tapi kenyatannya sekarang sudah hancur, dan jika pun di bangun kembali, hasilnya pasti sudah berbeda. Bukan lagi tentang hasil jerih payahku dulu, atau pun kenangan kita di sana. Lagian mungkin Allah hancurkan itu, biar kamu tidak ingat lagi kenangan yang sudah terlewati. Mungkin Allah ingin kamu fokus sama kehidupan kamu yang sekarang, jadikan suamimu itu perioritas kamu. Jangan fikirkan apa yang sudah terjadi di antara kita. Karena jika kamu terus menoleh ke masa lalu, tidak menutup kemungkinan, Dion akan cemburu dan rumah tangga kamu jadi akan berantakan."


"Hmm, tapi aku masih belum rela jika resto itu harus hangus terbakar. Aku sudah menghabiskan banyak tenaga dan biaya untuk bisa membuat resto kembali maju, dan setelah maju, malah seperti ini hiks hiks." Luna terus saja menangis.


"Mungkin Allah gak ingin konsentrasi kamu terbelah, harus mikir usaha dan harus mikir suami dan rumah tangga. Ikhlaskan aja, InsyaAlllah Allah akan gantai dengan yang lebih baik."


"Hmm."


"Kalau gitu, aku matikan dulu telfonnya, aku akan segera ke lokasi. Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa bantu kamu."


"Terima kasih."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam.

__ADS_1


Dan setelah itu, Ariel pun mematikan hpnya. Sebelum ke lokasi, ia akan menitipkan Diana dulu ke Noah, takutnya di sana masih bahaya. Ariel tak ingin jika Diana harus terluka karena dirinya nekat membawa Diana kae sana.


__ADS_2