
Malam harinya, selesai makan malam. Ariel memutuskan untuk tidur di sofa ruang tamu, ia masih berharap jika Luna akan pulang hari ini, walaupun ia tau, itu mustahil mengingat Luna masih ada di Yogya bersama dengan Dion. Akan tetapi, tetap saja, ada harapan di hati Ariel, jika Luna tiba-tiba saja pulang dan memberikan kejutan padanya.
Noah yang sedari tadi menemani Ariel di ruang tamu pun hanya bisa berdecak kesal.
"Kamu pandangi itu pintu dari tadi, gak akan terbelah. Lebih baik kamu masuk kamar, Luna gak mungkin pulang malam ini, dia aja masih ada di hotel Yogya. Tadi kan Bibi sudah nelfon lagi, dan Luna akan pulang besok habis sholat shubuh. Itupun gak langsung pulang ke sini karena masih mau mampir ke Bandung," ujarnya kesal karena Ariel terus memandangi pintu sedari tadi, bahkan sudah dua jam lebih dia menatap pintu yang tertutup rapat.
Ariel memilih diam dan bungkam, ia mencoba untuk menulikan telingannya agar tak mendengar ocehan sepupunya yang dari tadi ngomong tiada henti. Ia lelah mendengarkan ceramahnya itu.
Noah sendiri sedari tadi merasa pusing ingin tidur, tapi ia juga gak tega meninggalkan Ariel sendiri di ruang tamu, belum lagi ia takut, takut jika Ariel akan menyusul Luna ke Yogya. Noah gak mau, Ariel nekat dan menyetir sendirian ke sana, apalagi ini sudah malam. Ariel juga belum istirahat seharian. Noah gak mau karena rasa ngantuknya, sampai ia lalai menjaga sepupunya itu. Jadi, ia memilih untuk diam di ruang tamu menemani Ariel yang sangat keras kepala. Padahal sudah di ingatkan puluhan kali juga, Luna gak akan pulang hari ini, tapi masih aja mau nunggu kedatangannya. Dasar payah!
"Mending kamu tidur aja, biar hari cepat berlalu. Kalau di tunggu, malah makin lama. Coba di bawa tidur, nanti tiba tiba sudah pagi hari. Kalau kamu nunggu gitu, akan kerasa lama jadinya. Apalagi Luna kan pulangnya masih lusa, bukan malam ini. Luna di sana juga pasti sudah tidur nyenyak, kamunya malah nungguin kayak orang bodoh," ucapnya, tak peduli jika kata katanya itu menyakiti hati Ariel. Yang penting ia ingin mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya.
Ariel tetap aja diam, tak mengeluarkan sepatah katapun membuat Noah yang dari tadi ngoceh panjang lebar merasa geram karena kata-katanya tak di tanggepi satu katapun.
Noah akhirnya memilih untuk memejamkan matanya, dari pada mengurus sepupunya yang durhaka itu.
__ADS_1
Ariel pun akhirnya bisa menghela nafas panjang setelah memastikan Noah tidur dengan nyenyak. Tak ada lagi suara suara bising yang menganggu gendang telingannya.
Ariel melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang.
"Lun, kamu dimana? Apakah kamu memilih untuk menginap di hotel dari pada pulang ke rumah? Aku menunggumu dari tadi. Tak bisakah kamu pulang? Aku khawatir sama kamu. Aku gak bisa tidur sebelum aku bisa lihat kamu dengan mata kepalaku sendiri," gumamnya khawatir.
Sejak kejadian ulang tahun Luna, Ariel emang jadwal tidurnya berantakan, walaupun ia berbaring sambil memejamkan mata, tapi sejujurnya ia tidak benar benar tidur, ia hanya malas ngapa ngapain, hingga memutuskan untuk berbaring merengungi kesalahannya yang semakin di renungi, semakin banyak kesalahan yang sudah dia lakukan pada Luna.
Bahkan bukan hanya jadwal tidurnya aja yang berantakan, tapi jadwal makannya pun sama, jika tak di ingatkan oleh Noah, maka Ariel pasti lupa makan. Bahkan jika makan pun, nasi yang masuk hanya sedikit, jika di paksa malah bawaannya pengen muntah. Untuk itulah, Noah tak memaksa Ariel buat makan banyak, yang penting ada makanan masuk ke perutnya walaupun sedikit. Setidaknya, Ariel gak akan mati karena kelaparan.
Tak heran jika berat badan Ariel pun turun drastis, mungkin karena efek banyak beban fikiran juga yang berpengaruh. Mikirin hubungannya dengan Luna, mikirin rumah tangganya yang sudah di ujung tanduk, mikirin bayinya yang ada di dalam perut Laras, mikirin nasib mamanya yang tengah sakit karenannya. Mikirin keluarga besar dari Mama dan Papanya yang sampai detik ini mereka masih terus mencaci maki Ariel hingga Ariel jarang mengaktivkan hpnya jika tidak ada keperluan. Karena sampai detik ini orang orang masih terus memburunya, menghinanya, mencaci maki dirinya dengan kata kata yang pedas.
Walaupun dari luar, Ariel tampak biasa aja, tapi siapa sangka, fikirannya siang malam penuh dengan banyak masalah. Andai ia boleh memilih, ia mungkin memilih untuk mengerjakan banyak pekerjaan dari pada harus memikirkan banyak beban masalah karena itu membuat hidupnya gak tenang, bahkan jika pun tidur, sampai di bawa ke mimpi. Belum lagi akhir akhir ini, ia gak bisa tidur, sekalinya tidur, ia malah mimpi Laras yang memohon padanya untuk mengeluarkan dirinya dari siksaan orang tuanya, tubuhnya berdarah darah. Ariel sendiri bahkan ngeri melihat tubuh Laras yang penuh dengan luka. Dan untungnya itu hanya mimpi belaka. Jadi, Ariel tak terlalu memikirkan mimpi buruk itu.
Di saat Ariel semalaman tak bisa tidur dan berharap akan kepulangan sang istri, berbeda dengan Luna. Ia malah belum tidur, tapi bukan karena memikirkan suaminya, melainkan karena ia membaca novel di Mangatoon, dan ia rela sampai lembur karena ingin baca sampai tamat. Bahkan sesekali Luna juga tertawa ngakak karena ceritanya penuh komedi. Untungnya kamarnya kedap suara, jadi gak akan ada yang mendengar suaranya ketika ia tertawa sendirian.
__ADS_1
Awalnya memang Luna sempat tidur tadi tapi hanya sebentar, sehabis dinner bareng Dion di resto di lantai dasar. Luna langsung merasa ngantuk banget, mungkin efek kekenyangan. Jadi sesampai di kamarnya, Luna langsung ambil wudhu dan sholat isya. Dan setelah itu, ia pun tertidur di atas sajadahnya, hanya saja dua jam kemudian, Luna bangun jam sepuluh lewat lima menit. Dan setelah ia pindah ke atas ranjangnya, Luna gak bisa tidur lagi dan memutuskan untuk baca novel aja di Mangatoon.
Luna selesai baca jam setengah tiga pagi. Setelah itu, ia menaruh hpnya, mematikan datanya dan mengeces hpnya agar besok pagi baterainya full. Lalu ia pun tidur karena matanya sudah ngantuk berat.
Jam stengah lima Luna bangun, ia menguap sebentar, dan mengucek matanya yang masih terasa berat. Namun ia gak bisa meneruskan tidurnay lagi karena ia harus sholat shubuh. Luna memutuskan untuk mandi agar bisa menghilangkan rasa ngantuk, habis mandi keramas, ia segera mengambil baju yang agak tebal karena ia merasa kedinginan, baru setelah itu ia sholat shubuh dan baca al quran di aplikasi yang sudah di download.
Luna mengaji sebanyak satu juz. Setelah mengaji barulah Luna beres beres dan mengirim pesan pada Dion yang ternyata Dion juga sudah siap untuk melanjutkn perjalanannya.
Luna pun segera keluar dari kamar, sebelum pergi, mereka masih menyempatkan waktu buat sarapan di hotel, agar perutnya tidak keroncongan karena lapar.
Di saat Luna sangat menikmati hidupnya, berbeda dengan Ariel yang bahkan sampai pagi pun ia belum tidur. Noah yang sudah bangun hanya bisa geleng geleng kepala karena wajah Ariel terlihat sayu bahkan ada lingkaran hitam di bawah matanya, hanya sekali natap pun, semua orang pasti tau, Ariel gak tidur semalaman.
"Kalau kamu gak istirahat, kamu bisa sakit loh," ucapnya mengingatkan sambil masuk kamar untuk mandi dan sholat shubuh.
Ariel hanya diam dan tak memperdulikan ucapan sepupunya itu. Ia kecewa, kecewa karena ternyata harapannya kosong. Luna gak pulang dan masih ada di Yogya.
__ADS_1
"Luna apakah kamu bahagia tanpa ada aku di samping kamu? Apakah kamu bahagia menikmati perjalanan kamu bersama laki laki lain? Apakah kamu tak memikirkan perasaan aku sedikitpun. Apakah kamu sudah melupakan aku? Luna, aku kangen kamu. Aku ingin kita bersama seperti dulu. Apakah tak ada kesempatan buat aku untuk kembali. Apakah tak ada maaaf untukku?" tanyanya sambil menitikkan air mata.
Ia sedih, sedih karena pada akhirnya ia hanya sendirian memikirkan istrinya yang mungkin tengah bahagia bersama laki-laki yang bukan dirinya.