Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Keadaan Ariel


__ADS_3

Noah sudah sampai di dubai, dan langsung pergi ke apartemen milik Ariel.


Apartemen itu sangat dekat dengan rumah sakit tempat Ariel di rawat. Kini keadaan Ariel sudah mulai pulih. Enam bulan menjalani perawatan, akhirnya membuahkan hasil. Ariel sudah bisa bicara normal dan jalan normal.


Melihat kedatangan Noah, Ariel dan Ardi sangat terkejut sekali. Mereka tak menyangka jika Ariel akan datang ke apartemen mereka.


"Kok gak bilang-bilang kalau mau ke sini?" tanya Ariel.


"Iya, pengen ngasih kejutan. Kamu sudah sembuh?" tanya Noah dan Ariel pun menganggukkan kepalanya.


"Ya, Alhamdulillah."


"Syukurlah, aku senang melihatnya."


Noah memeluk Ariel sebentar, lalu saat melihat Ardi, Noah pun juga memeluk Ardi, layaknya ia memeluk Papanya sendiri.


"Gimana keadaan Om?" tanya Noah setelah melepas pelukannya.

__ADS_1


"Alhamdulillah makin berisi," jawab Ardi.


Mendengar hal itu, Noah terkekeh. Ya, saat ini tubuh Ardi dan Ariel sudah kembali seperti dulu, segar bugar. Itu karena Ardi membeli vitamin penambah nafsu makan, sehingga mereka bisa makan apa saja yang ada.


Tentu sesekali harus di imbangi dengan olah raga, jangan sampai bentuk tubuh mereka malah berubah lemak semua dari atas sampai bawah.


"Ayo, masuk. Kamu sendirian ke sini?" tanya Ariel.


"Iya. Emang kamu berharap aku datang sama siapa?" goda Noah sambil duduk di kursi ruang tamu.


"Ya mungkin sama adek dan orang tua kamu."


"Hemm Zahra, Om dan Tante masih benci aku ya?" tanya Ariel dengan nada sedih.


"Mereka bukan benci, tapi hati mereka lagi tertutup saja," sahutnya.


"Sudah, jangan di fikirin. Nanti misal mereka butuh bantuan kamu lagi, pasti nyapa duluan. Kayak gak tau orang tua aku aja." imbuh Noah.

__ADS_1


"Kakek, Nenek gak ada yang ikut?"


"Mereka kan sudah tua, mana kuat perjalanan jauh ke sini," dustanya. Padahal mereka yang gak mau di ajak oleh Noah ke sini. Mereka masih sakit hati atas apa yang sudah diperbuat oleh Ariel. Namun Noah gak mungkin jujur, bisa-bisa Ariel akan sakit lagi.


"Oh, aku fikir mereka masih marah. Kamu mau minum apa, biar aku bikinin?"


"Enggak usahlah, lagian tadi sebelum datamg ke sini aku sudah mesen makanan dan minuman. Aku masih gak haus, gak lapar juga." jawab Noah.


"Om kayaknya betah banget ya di sini?" tanyanya kepada Ardi yang dari tadi diam, mendengar percakapan putranya dengan keponakannya.


"Betah, sangat-sangat betah. Di sini gak ada tetangga atau saudara yang nyinyir atau kepo sama kehidupan orang lain.. Rasanya hidup Om sangat tentram di sini. Telinga Om gak panas karena dengar perkataan buruk dari orang lain," ujar Ardi jujur. Ya, dia emang sangat betah. Bahkan ia tak ingin pulang ke negaranya, tapi sayangnya ia juga tidak mungkin selamanya tinggal di sini karena bisa-bisa uang tabungannya akan habis dalam waktu tiga tahun.


Terlebih di sini Ardi tidak bekerja, untungnya ia masih punya uang tabungan. Dan sejak Ariel sehat, semua pengeluaran, Ariel lah yang menanggungnya. Ariel juga ternyata punya banyak uang, bahkan perbulan ia masih mendapatkan uang dari saham yang ia miliki. Dan kemarin, Ariel juga membeli saham lagi dari tabungannya.


Ariel juga mengajari Ardi cara membeli saham dengan benar, agar tidak terkecoh dengan yang murahan, karena nantinya bukannya untung, malah rugi milliaran.


Ardi pun sangat senang, ia tak menyangka Ariel pandai bermain saham. Uang yang tadinya sedikit, bisa berkali-kali lipat. Tentu saham yang ia miliki halal dan sudah terdaftar. Sehingga apa yang ia dapatkan pun, halal dan InsyaAllah berkah.

__ADS_1


Kedatangan Noah membuat apartemen yang tadinya sepi jadi rame, Noah emang pandai bikin suasana menjadi sangat menyenangkan. Biasanya Ardi dan Ariep hanya bicara seperlunya aja, dan lebih banyak diam. Mereka berdua tidak ada yang pandai mencairkan suasana.


Namun walaupun begitu, mereka saling menyayangi dan sangat senang bisa bersama seperti dulu lagi. Walaupun tidak ada Ila di tengah-tengah mereka, namun Ardi dan Ariel sepakat untuk berusaha tetap kuat menjalani hidup, karena masa depan mereka masih panjang. Dan cukup doa yang mereka panjatkan untuk sang Mama Ila, yang kini telah pergi lebih dulu dari pada mereka.


__ADS_2