
Setelah Diana di nyatakan sembuh dan tidak rewel lagi, Diana pun sudah diizinkan pulang dari rumah sakit.
"Diana sekarang mau dibawa siapa?" tanya Ariel, walaupun dalam hati ia sangat ingin membawa Diana bersamanya agar hatinya lebih tenang dan lega.
"Tanya aja sama putri kita, dia maunya sama siapa," balas Luna yang tak ingin gegabah ngambil keputusan.
"Diana, mau ikut Mama apa Papa?" tanyanya. Diana tentu tidak akan mengerti maksud pertanyaan papanya itu, tapi dia menjawab Papa. Karena memang kata Papa yang seringkali diucapkan setelah dirinya bertemu dengan Ariel, papanya.
"Diana mau ikut aku," tutur Ariel.
"Iya sudah, kalau gitu Diana akan bersama kamu. Dan aku akan datang saat aku merindukannya."
"Baiklah."
Dan akhirnya, keputusan terakhir. Diana mulai saat ini akan tinggal bersama sang Papa. Sedangkan Luna, ia akan fokus menyiapkan pernikahannya dengan Dion yang tak akan lama lagi.
Ia tak ingin karena kesibukannya mengurus pernikahan, ia mengabaikan Diana lagi hingga Diana terluka.
Ia tak mau itu terjadi, untuk itu ia lebih tenang misal Diana bersama Papanya. Yang lebih pandai dalam mengurus Diana.
Setelah membayar administrasinya, Ariel dan Diana pun pulang. Karena Ariel membawa kendaraan sendiri, jadi ia menyetir sambil menggendong Diana. Ia menyetir dengan pelan-pelan, takut jika mereka kenapa-napa di jalan.
Sedangkan Luna, ia pulang naik mobil miliknya, mobil yang dulu di beli oleh Ariel. Sengaja di bawa ke Jember, agar memudahkan Luna misal kemana-mana.
Mobil itu seharga 2M lebih. Dulu Ariel membelinya karena menginginkan mobil itu, soalnya enak kalau di buat kerja.
Tapi sekarang mobil kesayangannya itu jatuh ke tangan Luna, tapi Ariel tidak mempermasalahkan karena ia bisa beli yang lebih bagus dari itu.
Masalah uang, atau benda apapun. Ariel tidak pernah mempermasalahkannya karena baginya rezeki itu sudah ada yang mengatur.
Sesampai di penginapan, kedatangan Ariel di sambut hangat oleh Noah, Ardi, Lestari dan juga Dania.
Ardi dan Lestari sudah sah menjadi suami istri, kemaren mereka menikah di KUA. Mengurus berkas hanya butuh waktu satu jam asal ada yang. Semuanya akan berjalan dengan lancar.
__ADS_1
Dan setelahnya, mereka menikah dengan di hadiri beberapa orang sebagai saksi.
Ardi juga memberikan uang mahar sebesar lima ratus juta, dan uang mahar itu, Lestari berikan pada Bapak dan Ibunya untuk membeli sawah dan buka usaha agar tidak lagi kerja ke orang.
Awalnya kedua orang tua Lestari menolaknya karena mereka berfikir uang itu hak Lestari. Namun Lestari berusaha meyakinkannya, bahwa ia ikhlas memberikan semua uang itu buat mereka. Dan akhirnya kedua orang tua Lestari pun menerimanya dan mengucapkan banyak terimakasih kepada Ardi dan juga Lestari.
Setelah sah jadi istri Ardi, Lestari pun langsung ikut suaminya tinggal penginapan yang tak jauh dari sana.
Yah, Ardi menyewa kamar satu lagi yang agak besar untuk di tempati dirinya, Lestari dan putri mereka, Dania.
Mulai sekarang, Dania harus memanggil Lestari Mama, bukan lagi Tante. Walaupun memang kenyataannya, Dania adalah keponakannya tapi Lestari sudah menganggap Dania seperti putrinya sendiri.
Dan saat melihat Ariel datang bersama balita, Lestari tercengang. Pasalnya balita mungil itu seperti wajah Dania. Mereka bahkan terlihat seperti kembar.
"Dia anaknya siapa?" bisik Lestari di telinga Ardi.
"Anaknya Ariel dan Luna," balasnya. Membuat Lestari mengangguk mengerti.
Dan kini, Ariel menggendong Diana dan Dania. Diana di sebelah kiri dan Dania di sebelah kanan.
Melihat Ariel seperti kerepotan. Noah ingin mengambil salah satu dari mereka, sayangnya mereka tak ada yang mau.
Ariel juga berusaha mengimbanginya agar tidak sampai jatuh, karena saat ini ia bersama kedua putri kesayangannya.
Mereka pergi ke taman di samping penginapan dan duduk santai di sana. Noah juga memesan minuman dan makanan ringan serta beberapa mainan buat Diana dan Dania. Sehingga mereka bisa ngobrol dengan santai.
"Gimana keadaan Diana?" tanya Ardi
"Alhamdulillah sudah baik, tinggal luka di kepalanya aja, tapi sudah kering kok. Mungkin beberapakali hari sudah sembuh seratus persen." balas Ariel.
"Kok bisa Diana di bawa kamu, Riel? Emang Luna gak mempermasalahkannya?" tanya Noah.
"Enggak, kebetulan juga Luna akan sibuk ke depannya buat menyiapkan pernikahannya dengan Dion. Jadi Diana akan di pegang aku."
__ADS_1
"Oh, mereka jadi menikah?" tanya Noah lagi
"Ya, mereka kan sudah resmi tunangan beberapa hari lalu. Dan pernikahannya juga sudah di tentukan, tinggal menyiapkan pesta mewahnya."
"Oh."
Sedangkan Lestari hanya diam mendengarkan. Ada sedikit rasa sedih sih, karena Luna sekarang hidup bahagia bersama calon suaminya sedangkan kakaknya harus meninggal dengan sangat mengenaskan. Namun ia juga sadar, itu adalah pilihan kakaknya hingga berakhir seperti itu.
Lestari juga menatap ke arah Ariel, dan ia tak melihat Ariel cemburu atau apapun. "Apa mungkin Mas Ariel bener bener sudah bisa melupakan Kak Luna. Sehingga ia bahkan terlihat sangat biasa aja," batin Lestari.
Mereka mengobrol santai hingga tak terasa sudah tiga jam lamanya. Baru setelah itu mereka masuk ke penginapan masing-masing untuk mandi dan sholat.
Dania di bawa oleh Ardi dan Lestari sedangkan Diana di bawa oleh Ariel ke kamarnya. Kamar yang di tempati dirinya dan Noah juga.
Sedangkan di sisi lain, Luna yang pulang sendirian membuat Bunda Naila bingung.
"Diana mana?" tanyanya.
"Ikut papanya," sahut Luna santai.
"Loh kok bisa?" tanya Bunda Naila heran.
"Diana mau ikut Papanya, Bun. Aku gak bisa memaksa Diana ikut aku, jika dia memilih bersama Mas Ariel. Mungkin Diana lebih nyaman sama Papanya ketimbang aku. Sudahlah toh Diana juga bukan sama orang lain, tapi sama Papa kandungnya sendiri. Dan Mas Ariel juga lebih bisa mengurus Diana ketimbang aku, yang hany bikin Diana hampir celaka beberapa hari. Aku malah lebih tenang misal Diana bersama Mas Ariel. Apalagi aku ke depannya juga akan sangat sibuk sekali, mengurus pernikahan aku sama mas Dion," balasnya. Membuat Bunda Naila diam. Karena bagaimanapun ia juga tidak berhak terlalu ikut campur, karena bagaimanapun yang menjalani semuanya adalah putrinya, bukan dirinya.
Setelah selesai mengobrol dengan sang Bunda, barulah Luna pergi ke kamarnya. Sedangkan Bunda Naila hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku putrinya yang seperti masih remaja itu, padahal sudah jadi Ibu anak satu.
"Kenapa, Bun?" tanya Ayah Lukman yang baru datang.
"Itu Diana ikut sama Papanya," balas Bunda Naira memberitahu.
"Iya sudah gak papa, lagian Ariel kan juga berhak buat mengasuh putrinya sendiri." ujar Ayah Lukman.
"Jangan sampai masalah sepele seperti ini, malah membuat semuanya jadi renggang lagi. Berusahalah untuk sabar dan mengalah. Kita baru saja baikan sama mantan menantu kita, jangan sampai hal seperti ini membuat hubungan kita sama putri kita dan Ariel jadi bermasalah. Kita sebagai orang tua, hanya bisa melihat bagaimana ke depannya. Kita gak bisa terlalu ikut campur urusan mereka. Luna juga bukan anak kecil lagi, tidak bisa kita atur seenaknya seperti saat Luna masih kecil dulu." Ayah Lukman ngomong dengan tegas membuat Bunda Naira pun hanya bisa diam. Ia tak ingin jika suaminya akan lebih murka dari ini jika dirinya terus membantah.
__ADS_1