
Pagi tadi, Luna sudah pulang bersama Diana, Dion, Lintang dan kedua orang tuanya. Mereka pakai dua mobil. Dion pulang sendirian karena Luna ikut bersama Lintang dan kedua orang tuanya. Awalnya Luna ingin ikut Dion, karena kasihan di mobil sendirian. Namun karena tatapan tajam orang tuanya membuat Luna takut dan akhirnya ia ikut pulang bersama keluarganya. Dion pun hanya bisa pasrah dan sabar, ia menyetir di belakang mobil mereka dan seperti pengiring saja.
Luna duduk di belakang dengan Bunda Naira. Ayah Lukman sendiri duduk di depan, di samping Lintang yang tengah mengemudi. Diana, di gendong oleh Bunda Naira.
"Nanti misal, Dion ingin menginap di rumah itu langsung tolak, ngerti Lun," ucap Ayah Lukman.
"Emang kenapa, Yah? Aku gak enak kalau ngusir dia. Lagian kamarnya juga kan banyak, aku juga gak cuma berdua sama Mas Dion di rumah itu, jadi gak mungkin melakukan hal yang gak gak," balas Luna membuat Ayah Lukman itu geram.
"Kamu itu, masih dalam masa iddah loh. Kamu baru cerai seminggu yang lalu, kamu gak malu bawa pria lain di rumah yang di kasih oleh mantan suamiimu. Kamu gak malu?" sarkasnya.
"Kalau kamu gak malu, ya sudah gak papa. Tapi Ayah sudah mengingatkan kamu, dan jika ada apa-apa, jangan salahkan Ayah. Ayah sudah angakat tangan. Terserah maumu aja, gimana. Ayah lelah. Lelah dengan kasus kamu dan juga dengan watak keras kepala kamu yang selalu merasa diringga paling benar," ucap Ayah Lukman.
"Kok Ayah ngomong gitu?" tanya Luna tak suka.
"Kamu di nasehatin gak mau, ya sudah, atur atur sendiri hidup kamu. Toh kamu sudah dewasa, sudah ngerti perbedaannnya mana yang baik dan mana yang enggak. Kamu juga sudah berhasil meraup semua harta dari mantan suamimu. Sekarang suka suka kamu aja, mau hidup gimana. Yang penting jika kelak nikah lagi, jangan bikin drama, dengan memasukkan wanita lain, lalu buat perjanjian yang merugikan pihak pria. Jika sampai kamu melakukannya lagi dan lagi, lalu harta orang itu jatuh lagi ke tangan kamu, sampai mati pun kamu gak akan merasakan kebahagiaan walaupun kamu hidup dalam limpahan harta sekalipun."
Mendengar hal itu, membuat hati Luna sakit.
"Ayah, mengira aku menikah hanya karena harta?" tanyanya dengan hari perih.
"Ayah gak bilang gitu, Ayah cuma bilang, jangan bikin perjanjian konyol seperti perjanjian kamu dan mantan suamimu itu. Dulu kamu di nikahi, bahkan gak bawa apa-apa, kecuali baju yang melekat di tubuh kamu, tapi setelah cerai, semua hartanya bisa kamu nikmati seorang diri, sedangkan dia yang kerja siang malam, malah gak bawa-apaa," sahut Ayah Lukman.
"Tapi kan dia yang menyetujui perjanjian itu dulu, dan salahnya kenapa berkhianat, akhirnya semua harta itu jatuh ke tangan aku."
"Mas Ariel gak akan berkhianat, misal kamu dengerin apa kata suami dan orang tua kamu dulu, Mbak," gumam Lintang dalam hati.
Mendengar kata-kata Luna, Ayah Lukman pun hanya bisa diam.
__ADS_1
Bunda Naira pun juga ikut diam dan fokus melihat wajah cucunya yang mirip sekali dengan wajah mantan menantunya itu.
"Hubungan kamu sama Nak Dion, gimana?" tanya Ayah Lukman.
"Ya gak gimana-mana," balas Luna.
"Kalian sudah pacaran?' tanya Ayah Lukman lagi, dengan nada lebih tegas.
"Enggak," sahutnya.
"Enggak? Tapi sudah manggil sayang-sayangan segala, bahkan di saat kamu belum resmi cerai pun, kamu dan Nak Dion, sudah manggil kata sayang dengan mesra." sindir Ayah Lukman.
"Itu kan hanya nama panggilan, Yah. Gak lebih," ucap Luna tak mau kalah.
"Sebenarnya Ayah gak tau, siapa yang selingkuh di sini. Ayah merasa dua duanya salah, sama-sama selingkuh," tutur Ayah Lukman memberitahu isi hatinya.
"Jalan berdua, liburan berdua, ke taman berdua, nginep dirumah prianya, makan bersama, di rumah sakit bersama, bahkan saat kamu melahirkan, cuma dia yang menemani, saling berpelukan layak suaminya istri, apakah itu bukan selingkuh? Bahkan manggil sayang juga. Kamu juga terlihat sangat manja padanya, bak seorang istri yang haus perhatian. Apakah itu cuma sekedar teman atau TTM, teman tapi mesra?" tanyanya.
"Bahkan di depan Ayah pun, kamu dan Nak Dion tak canggung lagi bersikap mesra-mesraan. Jangan-jangan saat kamu menemani suamimu dulu, saat dia sakit, kamu pun melakukan hal yang sama?" imbuhnya.
"Aku bahkan tidak bertemu dengan Mas Dion, bagaimana bisa bermesraan di depan Mas Ariel," sungutnya.
"Tapi kamu von vonan di depan suamimu kan, ngomong mesra dan manggil sayang? Benarkah?" tanyanya seakan ingin menyudutkan putrinya sendiri.
Mendengar hal itu, Luna diam.
"Pantas aja di tanganmu, suamimu bukan sembuh malah terpuruk. Suami mana yang tahan mendengar istrinya bermesraan dengan pria lain di hadapannya, walaupun ia tidak bisa bicara, tapi ia gak buta, ia bahkan bisa melihat dengan jelas, dan telingannya pun berfungsi dengan sangat baik. Bun, Ayah gagal Bun. Ayah gagal mendidik anak anak Ayah, ayah gagal mendidik keluarga kecil Ayah," keluh Ayah Lukman menitikkan air mata.
__ADS_1
"Sebenarnya Ayah ini kenapa sih, dari tadi malah bahas kemana mana?" tanya Luna kesal.
"Ayah gak suka kamu dekat dengan Nak Dion."
"Tapi kenapa? Mas Dion baik. Dia perhatian sama aku dan kalian. Dia menyukai aku dan bentar lagi, dia akan menjadi suami dan Ayah sambung dari anakku. Kenapa Ayah gak suka aku dekat dengan Mas Dion. Dia yang selalu ada buat aku, saat aku terpuruk. Dia yang menemani aku, menguatkan aku dan membuat aku tertawa, di saat hatiku menangis dan terguncang karena masalah yang di buat oleh Mas Ariel," ujar Luna, mendengar hal itu, membuat Ayah Lukman menarik nafas dalam untuk menahan emosinya.
"Kamu mau Ayah anggap jadi wanit murah-an?" tanyanya.
"Ayah kenapa sih, kok jadi marah?" tanya balik Luna.
"Dion belum resmi jadi suamimu dan kamu masih dalam masa iddah. Apakah kamu sudah gatel ingin terus ada di sampingnya? Kamu menyebar aib suamimu sampai membuat mama mertuamu meninggal, bahkan sampai membuat Ariel juga lumpuh. Kamu itu gak ada bedanya dengan Ariel. Kamu memberikan tubuhmu untuk di peluk seenaknya, memberikan wajahmu, untuk di cium. Padahal kalian belum halal. Hidup dan tinggal satu atap, lalu apa bedanya, apa karena kamu belum memberikan tubuhmu dari atas sampai bawah, jadi kamu masih mengangap dirimu jauh lebih suci?" sindir Ayah Lukman.
"Masih mending Ariel, dia tau kamu dekat dengan pria lain, tapi dia tidak koar koar dan mengumumkannya ke publik. Padahal kalau dia mau, dia bisa aja balas dendam dan menceritakan tingkah laku kamu di balik layar, bagaimana awalnya perselingkuhan itu terjadai dan saat ini kamu yang tengah dekat dengan Dion. Tapi dia memilih bungkam dan menerima perceraian itu dengan lapang dada, bahkan ia tidak mempermasalahkan, hak asuh anak jatuh ke tangan kamu dan semua harta yang dia miliki juga jatuh ke tangan kamu. Dia menerimanya dengan ikhlas. Bahkan saat kamu membiarkan pria lain yang menemani kamu lahiran, dia juga tidak marah dan memilih untuk pergi begitu saja. Tapi Dion, jika dia pria yang baik, dia tidak akan menemani kamu di dalam berdua saja, bukannya ada Bibi. Kenapa Bibi Imah malah di suruh nunggu di luar, sehari semalam. SEdangkan dia dengan seenaknya menemani kamu dan seperti suami siaga saja? Sedangkan dia bukan siapa-siapanya kamu. Kamu mikir gak sih, enggak ada pria baik yang mau membawa istri orang menginap di rumahnya sampai seminggu, gak da pria baik yang malah dengan santainya membawa kamu ke sana kemari, layaknya sepasang kekasih. Gak ada pria baik yang dengan santainnya bermesraan di depan suami sahnya, dia laki-laki loh. Seharusnya sesama laki-laki dia bisa mengerti perasaan Ariel dan mencoba untuk menjauh terlebih dahulu sampai kamu resmi cerai dan sudah selesai masa iddah," omel Ayah Lukman yang sudah tak lagi bisa menahan emosinya.
Sejak kemaren, dia ingin marah tapi tidak bisa karena ada Dion yang terus berada di samping putrinya. Dan saat ini, mumpung Dion tidak ada, dia akan menasehati putrinya dan menyadarkan putrinya itu atas perilaku yang sudah menyimpang. Dan sudah jauh dari norma-norma agama.
Ia tak ingin, Luna menjadi semakin menjauh dari jalanNya, sehingga sulit buat dirinya untuk mengingatkan putrinya agar kembali ke jalan yang benar. Mumpung, sekarang masih belum terlalu jauh, jadi Ayah Lukman berharap, Luna sadar akan kesalahannya selama ini dan stop untuk merasa bahwa dirinya lah yang paling terluka di sini.
"Tapi setidaknya aku dan Mas Dion tidak berzi-na." Luna masih membantahnya.
"Kamu fikir Zi-na itu cuma melakukan hubungan badan. Kamu salah. Pegangan tangan dengan lawan jenis yang bukan marham aja, sudah zi-na. Apalagi berpelukan. Jelas itu hukumnya HARAM. Kamu kan dulu pernah ngaji. Adakah yang menjelaskan pelukan dan pegangan tangan itu halal?" tanyanya, membuat Luna diam.
"Jangan kamu membela diri kamu sendiri, hanya ingin membenarkan tingkah laku kamu yang sudah jauh menyimpang itu. Haram tetaplah haram, apapun alasannya," ujar Ayah Lukman. Kali ini Luna diam, agar Ayahnya berhenti untuk bicara, ia lelah dan ingin segera sampai rumah lalu istirahat, ia capek berdebat dari tadi dengan sang Ayah. Sedangkan Bunda dan adiknya malah diam dan hanya jadi penonton saja.
Tak lama kemudian, mobil itu pun berhenti di depan rumah mewah. Luna segera turun lebih dulu dan memilih untuk segera pergi dari sana dan masuk ke kamarnya.
Sedangkan Ayah Lukmah yang melihat putrinya seperti itu, hanya bisa menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Dasar keras kepala," gumam Ayah Lukman.