
Keesokan harinya, kedua orang tua Luna datang membawakan makanan buat Luna, Diana dan juga Ariel.
Ariel sampai tak enak sendiri karena merepotkan mantan mertuanya itu. Namun ia pun juga tidak menolaknya, karena bagaimanapun, kita tidak boleh menolak kebaikan orang lain.
Sebelum makan, Ariel menyuapi Diana lebih dulu karena Diana tidak mau di suapi oleh orang lain selain Papanya.
Baru setelah Diana selesai makan dan minum, lalu sibuk dengan bonekanya. Ariel makan dengan tenang. Ia makan bersama Luna, tentu makan di ruangan itu sambil mengobrol dengan Ayahnya Luna.
Selesai makan, Luna mengambil piring kotor itu dan mencucinya d wastafel yang ada di sana. Lalu setelahnya, Ariel, Lukman-Ayahnya Luna dan Lintang pun duduk bertiga. Sedangkan Luna dan Naila menemani Diana yang asyik main sendiri.
"Kak, aku minta maaf karena dulu sudah bikin Kak Ariel babak belur bahkan sampai masuk rumah sakit," tutur Lintang. Tadi malam, Lukman sudah menasehati putranya itu untuk meminta maaf pada Ariel.
Bagaimana ia masih ingat bagaimana Lintang menghajar Ariel sampai Ariel terkulai lemas.
"Aku juga minta maaf, karena dulu menyakitkan Mbakmu." balas Ariel.
"Hemm, aku sudah memaafkannya.. Seperti kata Ayah, Kak Ariel tidak salah seratus persen di sini. Seharusnya aku tidak menghakimi Kak Ariel begitu saja. Maaf, dulu aku tidak bisa menahan emosiku hingga melampiaskan semuanya pada Kak Ariel," ujar Lintang.
"Sudahlah, lupakan masa lalu. Anggap aja sebagai pelajaran. Aku sudah memaafkannya. Dan aku harap kamu pun mau memaafkan aku."
"Aku sudah memaafkan Kak Ariel sejak lama. Aku malah menyesal setelah melakukan kekerasan itu. Dan aku harap dengan kita saling memaafkan, hatiku bisa lega dan tak lagi merasa sesak setiap kali mengingat kejadian di masa lalu."
"Hemm semoga setelah ini, hatimu tenang dan tak lagi merasa sesak lagi."
"Aamiin."
Dan setelahnya, mereka pun mengobrol santai, Ayah Lukman pun merasa senang karena akhirnya putranya itu mau meminta maaf lebih dulu.
Tanpa mereka sadari, Luna dan Naila menatap ke arah mereka.
__ADS_1
"Bagaimana hubungan kamu dan mantan suamimu?" tanya Naila dengan suara pelan, bahkan seperti orang berbisik.
"Biasa aja," balas Luna.
"Ingat! Jangan sampai kejadian dulu terulang kembali. Dulu kamu sama Ariel, berpisah karena orang ketiga. Jangan sampai kamu sama Dion pun berpisah karena orang ketiga juga. Sudah cukup dulu kamu menghancurkan kehidupan kamu sendiri dan banyak orang, jangan sampai kamu melakukan hal itu lagi."
"Iya, Bun."
"Jangan cuma iya iya aja, dulu kamu iya iya, tapi nyatanya kamu masih melakukan kesalahan. Kalau sudah kejadian, kamu seperti orang yang paling terdzolimi. Padahal perselingkuhan tidak akan terjadi, andai kamu mendengarkan kata Ayah dan Bunda. Perkhianatan tidak akan pernah ada, jika kamu tidak membantah omongan suamimu. Dan perselingkuhan tidak akan pernah terjadi misal kamu gak bawa Laras ke kota. Jangan menghadirkan orang ketiga dalam suatu hubungan, karena itu tidak baik."
"Iya, Bun."
Mendengar putrinya menjawab dengan malas, membuat Naila hanya bisa menghela nafas. Sudah capek rasanya ia menasehati putrinya itu, tapi sayangnya putrinya selalu melakukan apapun yang ia suka tanpa memikirkan dampak dari semuanya.
"Papa," panggil Diana sambil menoleh ke arah Papanya.
Diana mengulurkan tangannya minta di gendong.
"Ada apa?" tanya Ariel namun Diana hanya menggelengkan kepalanya.
"Mungkin dia bosen maen boneka sendirian," tutur Luna seakan menebak keinginan putrinya itu.
Sedangkan Ariel hanya menggendong Diana dan menaruh kepalanya Diana di bahunya sedangkan kedua tangan mungilnya memegang erat leher Papanya.
Ariel pun mengobrol dengan keluarga Luna sambil menggendong putrinya.
Dan saat mereka asyik mengobrol, Dion datang membawakan buah, roti dan mainan untuk Diana.
Walaupun awalnya canggung, namun Ariel berusaha untuk mencairkan suasana. Ia juga menyapa Dion, mantan sopir pribadi istrinya itu.
__ADS_1
Dion awalnya merasa malu dan gak enak karena setelah apa yang terjadi, Ariel masih mau menyapanya dan bertutur kata sopan. Padahal dulu, Dion juga ikut berperan membuat hubungan mereka renggang dengan memanfaatkan kesalahan Ariel untuk dekat dengan Luna.
Entah kenapa Dion jadi malu sendiri sekarang melihat sikap Ariel yang bahkan tidak dendam sama sekali, dan malah sangat welcome padanya.
Sedangkan yang lain pun merasa gak enak juga, karena saat ini calon suami Luna berbincang hangat dengan mantan suami Luna.
Lintang juga tersenyum kecut, dulu dia sangat berharap Dion dan Luna bersatu. Tapi entah kenapa akhir akhir ini, ia malah berharap jika Luna dan Ariel bisa rujuk kembali.
Karena ia bisa melihat ketulusan di mata Ariel, walaupun sudah tak ada lagi binar cinta di matanya untuk Luna. Tapi melihat perubahan Ariel yang sekarang, tentu sebagai seorang adik, ia menginginkan kebahagiaan buat kakak kandungnya itu.
Ia hanya takut, jika Luna akan menyesal di kemudian hari.
Yah, memang sih tidak ada yang tau apa yang akan terjadi di masa depan. Semuanya Fifty-Fifty.
Antara Luna akan bahagia bersama Dion, atau mungkin sebaliknya.
Tapi biasanya menjalani hubungan yang baru, pasti butuh penyesuaian. Berbeda jika meneruskan hubungan yang lama, setidaknya luar dalam sudah tau. Bagaimana sifat, karakter dan watas aslinya. Karena mereka pernah hidup satu atap cukup lama. Tentu kejelekan dan kebaikannya sudah di ketahui.
Tapi Lintang juga tidak mungkin terlalu ikut campur dengan urusan kakaknya itu. Ia tidak akan turun tangan atau mengutamakan pendapatnya jika tidak di minta. Karena bagaimanapun yang akan menjalani semuanya adalah kakaknya. Dan sebagai adik, ia hanya bisa mendoakan semoga Luna mendapatkan kebahagiaan.
Jam sepuluh siang, Kedua orang tua Luna dan adiknya pamit pulang. Dan kini hanya mereka berempat. Dion, Ariel, Luna dan juga Diana.
Jujur Luna merasa canggung, sangat canggung sehingga ia bingung harus berbuat apa.
Karena merasa sesak di ruangan itu, Luna pun memilih untuk keluar dengan alasan membeli minuman. Padahal di ruangan itu ada beberapa minuman yang bahkan belum di buk.
Namun Ariel dan Dion yang mengerti akan kekalutan Luna pun akhirnya mengiyakan saja.
Dan kini hanya sisa Dion dan Ariel sedangkan Diana sudah tidur. Namun walaupun sudah tidur, Ariel tidak menaruh Diana di brankar, ia tetap menggendongnya agar Diana lebih nyaman dan nyenyak tidurnya. Lagian ia juga senang bisa gendong Diana seperti ini, karena membuat dirinya seakan lebih dekat dan tak terpisahkan.
__ADS_1