Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
5 Bab Menuju Tamat


__ADS_3

Seminggu sejak Dion sadar, akhirnya Dion sudah di perboleh pulang. Mami Ocha dan Papi Dimas cuma menginap dua hari di sana, dan setelahnya mereka kembali ke mension milik mereka. Namun mereka janji, setiap hari MInggu mereka akan datang ke rumah Dion dan Luna untuk bermain sama mereka.


Luna pun akhirnya bernafas lega, ia tak menyangka jika kecelakaan suaminya bisa membuat mertuanya sadar dan segera kembalil ke mension. Kini di rumah itu cuma mereka bertiga. Setiap pagi, sehabis sholat shubuh. Dion yang akan menemani putranya sedangkan Luna, dia yang masak, beres beres rumah, nyuci baju dan yang lainnya. Jam tujuh tepat, barulah Luna berhasil menyelesaikan semuanya, dan setelalh itu, Dion dan Luna pun sarapan pagi bersama, sedangkan Daniel, ia di taruh di box bayi.


Selesai makan, Dion dan Luna duduk santai sambil melihat ke arah putra mereka yang tertidur lelap. Ya, Danieel emang jago tidur, asal kenyang, sudah mandi, sudah ganti popok, ia akan tidur dengan waktu yang lama, kadang bisa tiga jam lebih.


"Sayang," panggil Dion.


"Iya," ucap Luna.


"Kapan kita bulan madu?" tanya Dion.


"Nanti kalau umur Daniel sudah satu tahun ya," balas Luna dengan tersenyum manis. Sejak pulang dari rumah sakit, hubungan mereka semakin akrab.


"Kelamaan, ini aja umur Daniel baru dua bulan, berartai kurang satu tahun dong."


"Hmm. Sabar, kita nikmati aja kebersamaan kita. Toh di manapun kita berada, selama berdua, sama aja dengan bulan madu. Iya kan?"


"Iya sih, tapi kan suasananya beda."


"Sama aja sih menurut aku, toh bulan madu pada akhirnya juga lebih banyak menghabiskan waktu di kamar buat melakukan hubungan badan."


"Oh ya by the way, aku belum melakukannya loh sejak aku keluar dari rumah sakit."


"Kamu mau?" tanya Luna.


"Iya, mumpung masih pagi, habis sarapan. Tenaga kita pasti banyak, dan lagi, Daniel mumpung lagi tidur," ujarnya malu malu.


"Iya udah yuk ke kamar," ucapnya membuat Dion tersenyum cerah. Melihat senyuman sang suami, Luna pun ikut tersenyum. Ia ikut bahagia melihat suaminya bahagia.


Akhirnya mereka berdua pergi ke kamar utama, di mana di sana ada Daniel yang tertidur pulas.


Dion dan Luna pergi ke kasur, dan mereka berbaring di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Bagaimana caranya?" tanya Dion bingung, membuat Luna menepuk dahi. Ia lupa suaiminya hilang ingatan.


Tiba-tiba, Luna punya ide bagus. Ia duduk di atas perut Dion yang tengah berbaring.


"Kok duduk di atas aku, emang gini caranya?" tanya Dion, dalam hati ia merasa bahagia. Bahagia karena akhirnya Luna mulai menampakkan sifat aslinya.


"Hemm," jawab Luna sambil merendahkan tubuhnya dan mulai mencium bi-bir sang suami dengan rakus. awalnya pelan, namun lama kelamaan Luna mulai menguasai keadaan dan Dion pun menerima serangaan dari Luna dengan Luna yang tetap ada di atasnya.


Dion mulai meremas dua gunung kembar milik Luna membuat Luna mende-sah tanpa sadar. Mereka terus melakukan penyatuan dua bibir membuat naf-su mulai menyerang mereka berdua.


Setelah cukup lelah dan seperti kehabisan nafas, Luna melepaskan bibirnya dan duduk dengan tenang sambil menghirup udara sebanyak mungkin.


Dion menatap wajah cantik istrinya, ";Inikah yang di rasakan Ariel dulu?" tanya Dion. Ya, dia diam diam mulai mengingat masa lalunya. Dan ia tau, jika Luna paling suka duduk di atas perut.


Ternyata memang rasanya bikin nagih. Apalagi Dion sambil meremas dua bukit kembar Luna hingga membuat Luna terus mende-sah.


Melihat Luna seperti itu, membuat Dion tersenyum senang. Luna seperti ulat bulu yang gak mau diam berada di atasnya.


"Kenapa?" tanya Dion seperti orang bodoh.


"Sabar," ucap Luna membuat Dion menghentikan aktifitasnya.


Lalu ia menarik Luna hingga jatuh ke dalaml pelukannya, namun setelahnya, Dion membuka baju kemeja Luna hingga dua bukit kembar itu terpampang jelas di depannya.


Dion pun mulai meng hi-sap salah satu bukit kembar itu sedangkan tangan kirinya meremas salah satu bukit kembar yang terabaikan.


Luna seperti orang gila, dia benar benar di buat terlena dengan apa yang di lakukan oleh Dion. Dion sendiri sudah kepanasan, namun ia masih berusaha menahannya.


"Mas, aku gak kuat," bisik Luna di telinga Dion membuat Dion mengehentikan aktivitasnya.


"Mau di atas apa di bawah?" tanya Dion.


"Atas," jawabnya membuat Dion menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Akhirnya mereka pun melakukan hubungan badan dan ini pertama kali mereka lakukan sejak Luna melahirkan.


Jujur, Dion merasa bahagia, ia tak menyangka, jika kecelakaan yang menimpa dirinya membuat hubungan diarinya dan Luna semakin membaik dan kembali harmonis.


Di tengah tengah mereka melakukannya, Daniel menangis. Luna terus mempercepat lajunya hingga akhirnya mereka berdua mengeluarkan sesuatu yang membuat mereka puas.


Setelahnya, Luna langsung lari ke kamar mandi untuk mencucinya dan membersihkan diri, tak lama, hanya lima menit saja, setelah itu, Luna ganti celana dan baju. Dan menggendong Daniel, wajahnya cukup merah karena kelamaan menangis.


Dion melihat ke arah Luna yang menggendong putranya.


"Terima kasih sayang, terima kasih akhirnya kamu melakukan apa yang aku mau dari dulu. Kamu sangat agresif, membuat aku benar benar puas di buatnya."


Setelah cukup puas melihat Luna, Dion segera pergi ke kamar mandi untuk membersikan dirinya. Ia juga berendam di air dingin dan menuangkan sedikit aroma terapi untuk merilekskan fikirannya.


Hari ini ia sangat bahagia sekali, lalu ia menyentuh perutnya, ia tau, Luna paling suka di bagian perut. Mungkin besok dia akan berolah raga lagi hingga membuat Luna tak ingin lepas darinya.


Malam harinya, setelah sholat isya, mereka duduk berdua menikmati hidup. Dengan Daniel yang kini ada di pangkuan Dion. Sedangkan Luna, ia merebahkan tubuhnya sambil meletakkan kepalanya di paha Dion.


"Mas?"


"Iya."


"Kok aku pengen terang bulan ya."


"Pesen aja yank, kan tinggal pesen toh."


"Iya sih, tapi males."


"Kamu itu, sini biar aku yang pesankan."


Luna memberikan hpnya pada Dion, Dion pun langsung memesan terangbulan hijau rasa coklat dan kacang. Dion sedikit demi sedikit mulai mengerti apa yagn Luna sukai dan yang tidak di sukai.


Mereka kini belajar untuk saling memahami satu sama lain. Dan berharap di masa depan, tak ada lagi hal yang membuat mereka bertengkar hingga membuat hubungan mereka kembali renggang

__ADS_1


__ADS_2