Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Akhir Yang Tidak Terduga


__ADS_3

Ariel, Noah dan Ardi sudah tiba di Jember. Mereka mencari hotel ternama di daerah sana. Yah, tak apa mahal, yang penting mereka bisa istirahat dengan nyaman.


Dania yang sudah bangun dari tidurnya langsung minum susu. Untungnya Ardi sudah menyiapkan semuanya, sehingga mereka tak lagi merasa kerepotan.


Ardi menyiapkan tiga botol susu dengan ukuran sedang, dan dua makanan MPASI yang tinggal di hangatkan saja.


Serta susu bubuk, agar nanti bisa buat di hotel dan pakai air panas yang di sediakan dari pihak hotel.


Dan jika masih kurang, mereka tinggal beli. Semuanya akan mudah, selama ada uang.


Mereka menyewa tiga kamar VVIP. Dan saat ini, Dania bersama dengan Ariel. Ardi pun tak mempermasalahkannya, malah ia senang saat melihat kedekatan Dania dengan Papa kandungnya.


Saat Dania bersama dengan Ariel, Ardi akan menelfon anak pertamanya yang beranjak dewasa. Sudah lama dirinya tidak pulang kampung, mungkin jika ada waktu, ia akan liburan di kampung menemui orang tua, keluarga, adik, dan anak kandungnya.


Sungguh Ardi sangat merindukan mereka semua, hanya saja waktu yang padat membuatnya harus bisa menahan diri untuk tidak gegabah dalam mengambil keputusan.


Ia tak ingin, karena rasa rindunya yang menggebu-gebu, membuat pekerjaan yang di sini malah berakhir berantakan.


Mereka bertiga, menginap di hotel selama satu malam.


Dan pagi harinya, sehabis sarapan, barulah mereka pergi ke rumah orang tua Laras menggunakan mobil online.


Noah duduk di depan samping sopir, sedangkan Ariel dan Ardi duduk di belakang. Dania sendiri ia berdiri di tengah-tengah mereka, kadang memainkan rambut Ariel, kadang rambut Ardi. Entahlah, sejak berangkat tanga Dania seakan tidak mau diam.


Sepanjang jalan, mereka memilih diam. Semuanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


Hingga tak terasa mereka tiba di depan rumah orang tua Laras.


Mereka pun segera turun dari mobil setelah membayar sopirnya bahkan memberi tips yang cukup lumayan.


Untungnya Bapaknya Laras belum berangkat kerja karena ini masih jam setengah tujuh pagi. Sengaja bertamu di pagi hari, karena jika agak siangan dikit, pasti pasti kedua orang tua Laras akan berangkat kerja.


"Assalamualaikum," sapa Ariel dengan sopan.


"Waalaikumsalam. Nak Ariel, ayo masuk. Ayo ajak temannya masuk juga," Ibunya Laras berusaha untuk ramah, ia membuka pintu rumahnya lebar-lebar.


Ariel, Noah dan Ardi pun masuk ke dalam dan duduk di sofa.


Sedangkan Ibunya Laras, pergi ke dalam. Mungkin mau buat minuman sekalian memberitahu suaminya jika ada Ariel datang.


Selama menunggu, tentu baik Ariel maupun Ardi merasa was-was dan yang lainnya.


Sejujurnya mereka belum siap, namun mereka juga tidak mungkin untuk terus mengundur-undur waktu, karena bagaimanapun orang tua Laras harus tau tentang Laras.


Tak lama kemudian, Bapaknya Ariel datang.


"Ada apa?" tanya Bapaknya Laras to the point. Walaupun dirinya sudah memaafkan Ariel, tentu masih ada rasa sedikit kecewa karena gara-gara Ariel, Laras menderita. Namun ia pun juga tidak terlalu menyalahkan Ariel sepenuhnya, karena di sini putrinya punya andil besar dalam tragedi dua tahun lalu.


"Ada yang ingin saya bicarakan tentang Laras," balas Ariel sopan dan ramah.

__ADS_1


"Kenapa dengan anak itu?" tanyanya sambil menatap ke arah Dania yang di pangku oleh Ariel.


"Itu anakmu dengan Luna?" tanya Rahman, Bapaknya Laras.


"Bukan," jawab Ariel.


"Lalu? Kenapa wajahnya mirip kamu," ujar Rahman. Entah kenapa saat menatap wajah polos Dania, hatinya bergetar. Seakan ada sesuatu yang menyentuh sanubarinya.


Saat Ariel mau menjawab, Sari-Ibunya Laras datang membawa minuman.


"Ayo, minum dulu," ujarnya setelah menaruh minuman di atas meja. Lalu ia menaruh nampannya di belakang kursi yang ia duduki.


Ariel, Ardi dan Noah pun meminumnya hingga setengah.


Baru setelah itu, Ariel menjawab pertanyaan Rahman.


"Ini Dania, anakku dan Laras."


Mendengar jawaban Ariel, tentu Rahman dan Sari sok.


"Lalu dimana Laras?" tanya Sari, walaupun Laras pernah menyewakannya, namun sebagai seorang Ibu. Tentu ia merasa rindu dan khawatir sama anak sulungnya itu.


"Dia, Laras sudah tiada Bu." Ariel memejamkan matanya. Sakit sebenarnya, mengatakan jika Laras sudah tidak ada lagi di dunia.


"Tidak ada gimana?" bentak Rahman.


Dan setelahnya, Sari pun langsung nangis histeris. Sedangkan Rahman, ia memegang dadanya sangking soknya.


"Kenapa baru ngasih tau sekarang?" tanya Rahman dengan mimik sedih


"Aku juga baru tau, Pak." balas Ariel.


"Lalu Laras di makamkan dimana? Dan kenapa Laras meninggal?" tanya Rahman yang ingin tau. Sedangkan Sari hanya diam menangis.


"Biar Ardi yang menceritakannya, karena dialah yang menolong Laras dan merawat Dania selama ini." Ariel melihat ke arah Ardi.


Ardi yang di berikan kesempatan bicara pun langsung menceritakan semuanya, dari awal dia bertemu Laras dan membawanya ke rumah sakit. Serta kondisi Laras setelah melahirkan. Dan juga menceritakan tentang Dania yang lahir tidak tidak normal hingga harus bolak-balik ke rumah sakit bahkan sampai sekarang masih dalam tahap pengobatan.


Ardi juga menceritakan bagaimana kehidupan Laras selama ini, selama dia hamil.


Tentu Ardi tau dari cerita warga yang ada di sana. Saat Ardi mencari tau tentang Laras.


Ardi juga menceritakan pertemuannya dengan Ariel hingga akhirnya bisa sampai bertemu mereka-orang tua Laras.


Mendengar cerita pedih dari Ardi, Rahman pun merasa dadanya begitu sesak. Ia tak menyangka, jika kehidupan Laras selama ini begitu menyedihkan, bahkan hingga akhir hayatnya.


Lalu Rahman mengingat kembali, bagaimana ia menyiksa Laras saat ia tau jika Laras hamil di luar nikah. Rahman terus menyiksanya hingga Laras bahkan pernah dibawa ke rumah sakit karena kekerasan darinya.


Sari terus saja menangis, lalu ia menatap ke arah Dania.

__ADS_1


"Boleh Ibu menggendongnya?" tanya Sari.


"Boleh."


Ariel memberikan Dania pada Sari, sayangnya Dania malah nangis histeris membuat dada Sari nyeri. Bahkan cucunya pun enggan berdekatan dengannya.


Akankah ini karma karena dulu saat Dania masih di dalam kandungan Laras, dirinya dan sang suami menyiksa Laras sampai Laras kesakitan.


Bahkan Dania juga tidak mau berdekatan dengan Rahman. Dania memilih memeluk Ariel dengan erat dan menyembunyikan wajahnya di leher Ariel.


"Maaf, mungkin Dania merasa belum kenal, jadinya sedikit takut ." Ariel mencoba menjelaskan. Karena merasa gak enak sendiri sama orang tua Laras.


Tak lama kemudian, Lestari datang. Ia tadi malam menginap di rumah Neneknya dan baru kembali.


Saat tiba di ruang tamu, ia cukup terkejut dengan kedatangan Ariel, Ardi dan Noah. Terutama anak kecil yang ada di gendongan Laras.


Lebih terkejut lagi melihat Ibunya yang tengah menangis histeris dan Bapaknya yang terlihat sendu, bahkan sesekali menitikkan air mata.


"Ini ada apa?" tanya Lestari.


Ariel pun menjelaskan semuanya. Tentu Lestari langsung merasa lemah seketika, bahkan ia seperti tak punya tenaga, hingga menjatuhkan dirinya di lantai. Lestari menangis tersedu-sedu sambil menutup wajahnya.


Sungguh, Lestari tidak kenyang jika ternyata kakaknya sudah tiada. Padahal selama ini ia berharap jika Laras di Jakarta hidup bahagia bersama buah hatinya.


Tapi apa yang ia dengar barusan, sungguh menyayat hatinya.


Lalu ia melihat ke arah Dania. Dan saat Lestari mencoba untuk menggendong Dania, anehnya Dania langsung mau. Berbeda saat Dania mau di gendong Sari dan Rahman. Dania langsung menangis dan memeluk Ariel dengan erat.


Lestari mencium wajah Dania yang begitu menggemaskan. Dania adalah harta satu-satunya yang di tinggalkan oleh Laras. Dania adalah keponakannya. Dania adalah pengganti Laras. Sungguh, wajah Dania adalah perpaduan wajah Ariel dan Laras. Walaupun lebih banyak ke Ariel.


Lestari terus mencium wajah Dania hingga Dania terkekeh karena merasa geli.


Sedangkan Lestari, ia menangis sambil mencium dan memeluk Dania.


Noah, Ardi dan Ariel hanya diam dan membiarkan mereka untuk tenang lebih dulu.


Ariel ngerti, mereka pasti sok dengan kabar yang ia bawa. Untuk itu, ia membiarkan sejenak Rahman, Sari dan Lestari untuk bernafas setelah menerima informasi tentang putri sulung mereka yang kini sudah pergi mendahului mereka semua.


Sedangkan Ardi, ia menatap ke arah Lestari. Noah bahkan sampai menyenggol bahu Ardi karena tatapan Ardi pada Lestari yang terlalu kentara.


"Apa?" bisik Ardi


"Jangan liatin terus, jaga pandangan." Noah juga ikut berbisik.


"Maaf," Ardi terkekeh karena ketahuan.


Sedangkan Noah hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku sahabatnya itu.


Duda yang tiga kali cerai, kini mulai tertarik pada Lestari. Sungguh, ironis sekali. Bahkan Noah sendiri masih jomblo dan belum menemukan wanita yang tepat. Namun Ardi malah dengan mudahnya tertarik sama lawan jenisnya.

__ADS_1


__ADS_2