
Sesampai di terminal Jakarta, Laras tersenyum senang. Ia segera keluar dari sana, untuk memesan taxi, Laras berjalan ke arah taxi yang berjejer tak jauh dari terminal. Ia pun menghampiri taxi terdekat.
"Pak, tolong antarkan saya ke jalan XX ya," ucap Laras, sang sopir pun menganggukkan kepala dengan tersenyum ramah.
"Baik, Mbak." Lalu ia segera membukakan pintu untuk Laras. Laras segera masuk, dan setelah memastikan Laras duduk dengan nyaman, barulah sopir itu menutup pintunya dengan pelan.
Sang sopir duduk di belang kemudi, dan mulai menyalakan mobilnya.
Untuk menghilangkan situasi yang canggung, sang sopir memutar lagu dengan suara yang tidak terlalu keras, takut jika akan menganggu penumpangnya.
"Baru ke Jakarta ya, Mbak?" tanyanya mengajak ngobrol Laras. Laras yang di ajak bicara pun langsung menjawab tak kalah ramahnya.
"Ini kedua kalinya, Pak." sahut Laras.
"Oh, saya fikir baru pertama. Kerja atu mau ke rumah saudara?"
"Ke rumah saudara," balas Laras lagi.
Setelah itu sang sopir pun diam karena bingung mau ngomong apa lagi.
Saat dalam perjalanan, tiba-tiba perut Laras tidak nyaman dan seperti ingin buang BAB.
"Nanti berhenti di pom bensin ya, Pak."
"Loh mau ngapain, Mbak?" tanyanya.
"Saya mau ke kamar mandi bentar."
"Oh gitu, iya sudah." jawabnya.
Setelah berada di pom bensin, Laras pun buru-buru pergi, ia sudah tak tahan lagi untuk segera buang hajatnya.
Sangking buru-burunya, ia sampai lupa dengan tas yang masih ada di dalam taxi.
Laras baru ingat setelah ia ada di kamar mandi, namun ia mencoba untuk berfikir positif. Taxi itu tidak akan pergi, dan pasti akan menunggu dirinya.
Namun sayangnya, tidak semua orang itu baik. Sang sopir yang melihat tas milik Laras ada di dalam pun langsung timbul fikiran untuk menguasai tas itu. Entah setan apa yang sudah merasukinya, sang sopir segera pergi dari sana dengan membawa tas milik Laras yang masih ada di kursi belakang.
Setelah Laras keluar dari kamar mandi, ia segera pergi menuju tempat tadi. Namun ia sudah tak lagi melihat taxi itu. Ia terus mencari namun sayangnya, tadi yang ia tumpangi ternyata sudah pergi.
Mendapati kenyataan itu, Laras langsung lemas, tubuhnya langsung merosot seakan tak ada tenaga.
Ia menangis pilu, kini ia tak lagi memegang uang sepersepun, semua uang, ktp dan yang lainnya sudah di bawa kabur oleh sopir breng-sek itu.
Namun anehnya, walaupun Laras menangis tersedu-sedu, tak ada yang mendekatinya hanya sekedar bertanya, 'ada apa?'
Mereka hanya melihat sekilas dan setelah itu mereka pergi. Laras terus menangis, ia tidak tau dirinya ada di mana. Dan ia tidak terlalu faham daerah Jakarta. Setelah lelah menangis, Laras bangkit sendiri dan berjalan tak tentu arah.
Ia mencoba mencari kantor polisi terdekat untuk melaprkan apa yang terjadi, namun setelah sampai di kantor polisi, laporan Laras tidak terlalu di tanggapi. Dan itu membuat Laras murka dan berteriak seperti orang gila.
Beberapa polisi yang melihat hal itu pun menyangka Laras sedikit gila, mereka pun segera mengusirnya dengan sedikit kasar.
__ADS_1
Laras mengumpat mereka, dengan kata-kata hina dan kejam. Mulutnya yang pedas itu membuat polisi juga semakin hilang respek sama Laras dan semakin tak memperdulikannya.
Lelah mengumpat dan tak ada tanggapan, Laras juga pada akhirnya lelah sendiri dan memilih untuk pergi.
"Apakah ini karma, karena aku mencuri uang Ibu? Sehingga Tuhan mengambil uang itu dariku. Bahkan tak ada satu orang pun yang mau menolongku?" tanya Laras dengan deraian air mata.
Ia terus berjalan di sepanjang jalan, perutnya kembali lapar, namun ia sudah tak lagi memegang uang, dari mana ia bisa membeli makanan dan minuman.
"Kenapa hidupku seperti ini?" tanyanya dengan deraian air mata.
"Kenapa Mas Ariel tega sama aku? Kenapa dia gak jemput aku? Apakah ini karma buat aku karena sudah menggoda suami dari sahabat aku sendiri, sahabat yang sudah banyak menolong aku selama ini? Mereka pasti sudah hidup bahagia, dan menanti kelahiran buah cinta mereka. Tapi aku, aku malah berakhir di jalanan seperti dengan keadaaan hamil. Oh Tuhan ... tak bisakah Engkau kasihan padaku?" tanyanya.
Karena terlalu lelah dan badannya juga lemas karena efek lapar, akhirnya Laras memilih duduk di pinggir jalan.
Wajahnya yang terlihat tua efek gak pernah melakukan perawatan dan terkena tekanan mental, serta siksaaan dari Rahman, membuat keadaan Laras cukup memprihatinkan.
Orang-orang yang lewat dari sana bahkan mengira, Laras seorang pengemis, hingga mereka melemparkan uang seribu rupiah pada Laras. Melihat hal itu, Laras tersenyum miris.
"Hahahaha ... kini mereka bahkan melemparkan aku dengan uang receh," ucapnya tertawa sambil memegang uang koin dengan bertulisan 1.000 rupiah.
Laras tertawa, ia menertawakan nasibnya kini yang kini berubah seratus delapan puluh derajat.
Laras jadi keingat saat pertama kali datang ke Jakarta. Hidupnya begitu enak, Luna begitu memanjakannya, tidur di kasur yang empuk dan makan makanan orang kaya. Lalu saat LUna mencarikan ia kontrakan, ia cukup tinggal di sana, tanpa perlu pusing membayar pertahunnya.
Ia tinggal menikmati fasilitas yang Luna berikan.
Laras juga mempunyai banyak baju yang ia dapati dari Luna, make up mahal, parfum mahal, dan juga uang. Karena Luna berfikir, ia takut kekurangan uang sehingga Luna memberikan ia uang yang tidak sedikit.
Luna begitu memanjakannya.
Hidupnya sangat terjamin, tempat tinggal ada, pekerjaan ada, gaji besar, makanan juga tinggal makan di resto. Punya banyak teman di resto. Ia juga punya sahabat yang begitu peduli padanya. Hidupnya begitu sangat sempurna.
Namun sayangnya, kebaikan Luna malah ia salah gunakan. Dengan teganya ia menggoda Ariel dengan tubuhnya. Karena ia berfikir jika Luna pasti akan memaafkan kelakuannya, ia berfikir Luna pasti tidak akan keberatan jika ia melamar menjadi istri kedua suaminya. Ia fikir Luna pasti senang karena jika ia menikah dengan suaminya, otomatis, dirinya dan Luna akan semakin dekat dan hubungan mereka semakin erat.
Apalagi Luna juga tidak keberatan dan seakan mendukung hubungannya dengan Ariel. Terbukti dari Luna yang tidak keberatan sama sekali jika suaminya mengantarkan dirinya ke resto. Luna malah tersenyum hangat padanya, seakan Luna mengizinkan dirinya dan memberikan dirinya lampu hijau.
Melihat kepedulian Luna, malah membuat Laras berfikir, Luna sengaja mencoba mendekatkan dirinya dengan Ariel. Hingga Laras tanpa sungkan menggoda Ariel, membuat Ariel jatuh cinta padanya. Tapi sayangnya, malah dirinya yang terbuai lebih dulu. Ia yang lebih dulu mencintai Ariel dan menginginkan Ariel untuk menjadi miliknya.
Laras juga ingin merasakan kebahagiaan yang Luna rasakan, apalagi selama ini, selama dirinya berada di kampung, Luna tak ada hentinya membicarakan masalah suaminya padanya, semua kebaikan Ariel dan juga beberapa keburukannya pun Laras mengetahui semuanya.
Ariel yang baik hati
Ariel yang posesif
Ariel yang begitu memanjakan dirinya dengan banyak uang
Ariel yang tampan
Ariel yang peduli padanya
Ariel yang pencemburu
__ADS_1
Ariel yang selalu mengekang dirinya
Ariel yang liar di atas kasur
Ariel yang terobsesi dengan wanita cantik dan ****
Ariel yang melarang dirinya makan ini dan itu
Ariel yang selau mengingatkan dirinya untuk olah raga
Ariel yang tidak memperbolekan dirinya keluar tanpa dirinya
Ariel yang setia
Ariel yang sangat memanjakannya, hingga apapun yang ia minta, selalu di belikan.
Ariel yang selalu mengirimkan uang di ATM nya hingga kini AMT nya gendut.
Ariel yang tidak terlalu memperboleh Luna dekat dengan keluarganya di kampung
Ariel yang juga tidak memperbolehkan Luna dengan dengan keluarganya
Ariel yang tidak boleh dekat dengan temannya atau pun laki-laki lain di luar sana
Ariel yang mempunyai banyak aturan yang harus Luna ikuti
Ariel yang mempunyai perut sixpack
Ariel yang rajin olah raga, hingga bentuk tubuhnya bagus dan tenaganya kuat
Luna yang suka duduk di perut Ariel
Semuanya, Laras mengetahuinya.
Dan bukan salah dirinya, jika ia menginginkan suami yang begitu sempurna? karena Laras yakin, semua wanita di dunia ini pun juga pasti menginginkan hal yang sama.
Apalagi Laras berfikir, jika dirinya hamil, Luna pasti akan senang. Dengan begitu, anak yang ia kandung, secara tidak langung akan menjadi anaknya Luna. Mereka bisa berbagi suami dan Laras juga tidak keberatan jika harus berbagi anak dengan Luna.
Namun sayangnya, semuanya tidak sesuai dengan yang ia fikirkan.
Luna begitu murka setelah tau, dirinya melakukan hubungan dengan suaminya.
Luna begitu murka hingga ia dengan teganya, membalas semua kejahatannya dan membeberkannya di depan banyak orang.
Dan Laras sangat sok, setelah tau, jika Luna juga tengah hamil, bahkan kandunganya pun juga sudah lebih besar darinya. Namun Luna begitu pandai menutupi semuanya. Ia begitu pandai bersandiwara, padahal ia sudah tau lebih awal bahwa Laras dan Ariel melakukan zi-na di belakangnya.
Luna melakukan semuanya dengan menahan rasa sakitnya. Ah, betapa bodoh dirinya yang tidak menyadari jika selama ini, Luna sudah tau apa yang ia lakukan di belakanngya.
Dan harapannya jika Luna akan menerima dirinya pun begitu sirna, setelah ia melihat sendiri, Luna memancarkan kebencian yang begitu dalam padanya. Tak ada lagi wajah ramah, yang ada hanya wajah sinis dan penuh kebencian.
Laras pun juga tidak bisa mundur, selain karena ia sudah terlanjur mencintai Ariel, ia juga kini tengah mengandung anaknya Ariel.
__ADS_1
Untuk itu, Laras masih berharap, Ariel mau bertanggung jawab dengan janin yang ia kandung dan Luna mau berbaik hati untuk memaafkannya dan menerima dirinya untuk menjadi istri keduanya.
Atau jika tidak bisa menerima, setidaknya Ariel tidak melupakan bayi yang ia kandung. Tak apa jika tidak mau menikahinya, setidaknya Ariel mau bertanggung jawab dengan anak yang ia kandung. Tak apa jika Ariel tidak bisa menikahinya, asal Ariel tetap ada di dekatnya. Sungguh, Laras sangat mencintai Ariel apalagi mereka juga sudah melakukan hubungan ba-dan berulang kali. Bagaimana mungkin Laras bisa melupakannya begitu saja.