
Setelah bertamu di rumah Ardi, Ariel pulang membawa Dania. Untungnya Dania menurut, ia tidak nangis saat jauh dari kedua orang tua angkatnya. Ariel merasa ini benar-benar hari yang bahagia, akhirnya ia bisa bersama dengan kedua putrinya.
Ariel membawa mereka pergi ke Mall untuk jalan-jalan. Ariel menuntun kedua anaknya, Dania di sebelah kanan dan Diana di sebelah kiri. Saat mereka lelah, Ariel akan menggendong mereka bersama-sama.
Semua orang yang tidak tau, mengira jika Dania dan Diana saudara kembar, padahal mereka adik kakak, beda Ibu. Tapi mungkin karena wajahnya yang sama, sehingga tidak akan yang menyangka jika mereka saudara tiri.
Entah harus bersyukur apa gak, karena Diana dan Dania mewarisi wajahnya, sehingga mereka tampak cantik, manis, imut dan gemesin. Padahal Ariel gak ada saat ibu mereka hamil mereka, tapi anehnya, wajah mereka malah mewarisi ketampanannya.
Ariel pergi ke tempat baju khusus anak-anak, di sana Ariel membelikan mereka baju couple, karena tingginya sama, jadi tidak sulit untuk Ariel mencarikan baju buat mereka berdua. Ariel membeli lima stell baju couple, lanjut mereka pergi ke tempat mainan dan Ariel mengajak mereka main sampai puas. Setelah mereka terlihat lelah, barulah Ariel mengajak mereka untuk makan dan minum lebih dulu sekalian istirahat.
Sungguh, inilah yang Ariel tunggu-tunggu dari dulu, pergi bertiga menikmati hidup. Bersenang-senang dan menghabiskan banyak uang.
Setelah makan banyak dan menghabiskan minuman yang mereka pesan, Ariel mengajak mereka pulang ke apartemen. Di sana, Ariel membiarkan Dania dan Diana melanjutkan permainannya, setelah lelah barulah mereka istirahat.
Selagi mereka tidur siang, Ariel menghidupkan laptopnya dan melihat uangnya yang kini tengah bekerja. Ya, dia melihat saham yang ia tanam di perusahaan perusahaan besar, bukan hanya perusahaan besar di Indonesia, tapi juga di beberapa negara. Tak heran, jika saat ini pemasukan Ariel bahkan lebih dari sepuluh milliar perbulannya. Bahkan pernah sampai lima puluh milliar lebih hanya dalam waktu satu bulan.
Padahal kerjaan Ariel hanya diam di rumah dan menjaga Diana, tapi ia suka investasi semua uangnya ke perusahaan, dan dari sanalah dirinya mendapatkan banyak keuntungan walaupun tanpa bekerja.
Setelah merasa cukup melihat perkembangan sahamnya yang terus naik, Ariel tersenyum senang. Lalu ia segera merebahkan tubuhnya di samping Diana dan Dania dan ikut tidur bareng mereka.
Jam satu mereka bangun, awalnya Diana yang bangun dan karena Diana yang tiba tiba duduk di atas perut Ariel, membuat Ariel bangun dan melihat Diana yang tersenyum ke arahnya. Ariel pun akhirnya membalas senyuman putrinya itu. Rasa ngantuk yang tadi masih tersisa kini sudah hilang seketika.
Diana sama seperti Luna, yang suka duduk di atas perutnya. Entahlah, tapi Ariel tidak mempermasalahkan selama Diana masih kecil. Namun jika usianya sudah lima tahun apalagi lima tahun ke atas, barulah Ariel akan membatasinya, karena bagaimanapun, Diana adalah putrinya dan harus ada batasan batasan yang tidak boleh di lakukan olehnya, walaupun dirinya adalah papa kandungnya sendiri.
Tak lama kemudian, Dania juga ikut bangun. Ariel pun segera menurunkan Diana dari atas tubuhnya, dan setelah itu, Ariel memandikan mereka berdua, dan memakaikan baju baru, baju couple berwarna navy.
Setelah mereka selesai mandi, barulah ARiel yang mandi. Ia mandi dengan super cepat, karena ia selalu was was misal ia tak melihat putrinya secara langsung
Selesai mandi, Ariel langsung segera memakai bajunya dan setelah itu, ia mengajak kedua putrinya untuk sholat. Untungnya tadi ARiel juga membelikan mukenah untuk Dania, sehingga Dania bisa ikut sholat bareng dirinya dan Diana. Diana sendiri sudah punya banyak mukenah jadi, Ariel tidak membelikannya. Toh yang masih baru pun juga ada.
Selesai sholat, Ariel akan mengajari Diana dan Dania mengaji, mengenal huruf Alif, Ba', Ta, Tsa dan yang lainnya. Diana sendiri sudah mengenal huruf Alif sampai ya'. Hanya saja misal di sambung, Diana masih kesulitan dan harus di ajari setiap hari, agar lebih cepat faham dan mengerti. Sedangkan Dania, dia masih belum faham, mungkin Dania masih belum di ajari mengenal huruf hijaiyah, sehingga ia hanya bisa diam melihat Dania yang lancar membaca huruf hijaiyah.
Ariel pun mengajari Dania karena ini masih awal, jadi Ariel hanya mengajari dua huruf saja. TAk apa, sedikit. Asal mudah di ingat dan di fahami, dari pada belajar banyak, tapi bosen dan akhirnya malah malas belajar. BAgaimanapun untuk ukuran anak kecil, tidak bisa di paksa, walupun ngajinya atau belajarnya cuma sebentar-sebenar, yang penting konsisten. Dari pada belajar banyak, sampai berjam-jam, namun akhirnya malah berhenti di tengah jalan, itu sangat tidak di anjurkan.
Selesai mengaji, Ariel mengajak mereka nonton tivi, film anak kecil yang lucu dan di sana banyak nilai nilai yang baik, seperti harus patuh pada orang tua, baik pada teman, saling menolong dan lainnya.
Ariel emang harus pintar pintar dalam hal memilih film, karena ia tidak ingin putrinya menonton hal yang tidak seharusnya di tonton atau menonton hal yang berdampak negatif. Ariel emang sangat selektif jika sudah menyangkut putrinya.
Saat memasuki waktu ashar, Ariel mematikan tv nya. Diana yang faham tidak protes, berbeda dengan Dania. Ya melihat Ariel dengan wajah berkaca-kaca, seperti ingin menangis. Ariel yang faham, langsung memeluknya dan menenangkan Dania.
"Nanti lanjut lagi ya, sekarang masih adzan. Lebih baik kita siap-siap untuk sholat, lalu jalan-jalan ke taman. Mau?" tanyanya. Dania yang gak faham, hanya menganggukkan kepalanya saja. Ariel tau, jika Dania gak ngerti maksud ucapannya barusan, namun ia tidak marah. Karena mereka masih kecil, dan tidak akan memahami semua omongan para orang tua.
Ariel mengajak mereka untuk mengambil wudhu, Ariel mengajari mereka mengambil wudhu yang benar dan memasangkan mukenah secara bergantian. Setelah selesai, barulah dirinya yang mengambil wudhu dan siap-siap untuk sholat bersama mereka. Sebenarnya dirinya aja yang sholat, sedangkan Diana dan Dania hanya meniru gerakannya. Tapi tak apa, yang penting mereka sudah mau mencoba dan melakukan secara konsisten.
Selesai sholat, Ariel mengajak mereka ke taman namun sebelum itu, Ariel membawa air dan makanan sehat, siapa tau nanti di sana, Diana dan Dania haus atau lapar. Tak lupa, Ariel juga membawa mainan yang ia taruh di tas gendongan belakang, sehingga ia bisa menggendong Dania dan Diana di tangan kanan dan kirinya, misal mereka lelah berjalan. Ariel sudah menyiapkan semuanya, Ariel berusaha menjadi orang tua yang sempurna buat mereka.
Ariel seakan ingin menebus kesalahannya di masa lalu. Andai dirinya tidak bodoh, mungkin Diana kini bahagia dengan keluarga yang lengkap, bukan malah seperti ini. Papa dan Mamanya tinggal di tempat yang berbeda, sehingga Diana tidak mendapatkan kasih sayang utuh dari salah satunya.
Sedangkan Dania, ia harus lahir dengan keadaan yang sungguh sangat rumit untuk di jelaskan.
Untuk itu, sebisa mungkin. Ariel akan berusaha membahagiakan mereka semua.
"Papa," panggil Dania.
__ADS_1
"Iya," balas Ariel.
"Aus." Dania mengelap keringatnya. Padahal mereka baru sampai di taman.
Ariel menurunkan Dania dan Diana. Lalu dia mengambil dua dot besar dari dalam tas dan memberikannya kepada Diana dan Dania.
Mereka pun dengan sangat antusias mengambil dot itu dari tangan Ariel dan langsung meminumnya.
"Uduk, Ia," Diana menyuruh adiknya untuk duduk di kursi.
Dania menurut, lalu mereka berdua duduk di kursi, berdekatan sambil minum dot. Sedangkan Ariel hanya diam memperhatikan mereka berdua, yang tampak akrab.
Setelah selesai minum susu, barulah mereka memberikan dot yang kosong itu pada Ariel dan setelah itu, meraka mulai main lari-larian.
Ariel terus memperhatikan mereka, ia bahkan tidak berani membuka hp, walaupun hpnya terus bergetar.
Ia takut, keasyikan main hp, dan malah tidak fokus menjaga kedua putrinya.
"Diana, Dania. Hati-hati ya, Nak," tutur Ariel sedikit berteriak.
"Ya, Papa." jawab mereka kompak. Ariel begitu gemas. Apakah mereka pintar karena nurun darinya atau dari mama yang melahirkan mereka. Mengingat mereka begitu mahir dari anak seusianya. Hanya saja, jika di di bandingkan, memang Diana jauh lebih pintar.
Setelah capek lari-larian, mereka akhirnya berhenti dengan nafas ngos-ngosan. Ariel mengambil tikar dan menggelar tikar di bawah pohon, walaupun ini sudah sore dan tidak ada panas, tapi tetap saja. Menurut Ariel, di bawah pohon lebih enak dan sejuk. Tapi sebelum menggelar tikar, Ariel sudah memastikan semuanya aman.
Ariel juga menata makanan, minuman, dan mainan Diana dan Dania di atas karpet.
Semuanya tertata begitu rapi. Sedangkan dot yang kosong tadi tetap berada di dalam tas dan gak di keluarkan lagi.
"Lelah? Hemm?" tanyanya libur sambil menyeka keringat di wajah dan leher mereka berdua.
"Ya," jawab Diana dan Dania hanya menganggukkan kepalanya.
"Istirahat dulu, ini minum biar gak haus. Papa juga bawa camilan sama boneka dan alat masaknya," ujarnya lembut.
Diana dan Dania mengambil dot yang kini lebih kecil dari sebelumnya. Dan setelah itu, mereka makan mari dengan merk ternama. Dan setelahnya, barulah mereka main boneka dan masak-masakan.
Ariel begitu telaten menjaga mereka berdua, ia tidak mengeluh sedikitpun. Ariel menikmati waktu bersama putri-putrinya. Karena jika sudah besar dan beranjak dewasa, mereka pasti akan sibuk dengan dunianya masing-masing.
Setelah jam setengah lima sore, barulah Ariel mengajak mereka pulang.
Begitulah aktivitas Ariel dalam menjaga kedua putrinya.
Sedangkan di tempat yang berbeda, Luna kini tengah menatap foto Diana. Entah kenapa, ia sangat merindukan putri kecilnya itu.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Dion.
"Aku kangen Diana, Mas," jawab Luna jujur.
"Hemm, bukannya sekarang Diana ada di Jakarta. Kalau kamu kangen, aku bisa antar kamu ke sana." tuturnya pelan.
"Mas Dion kata siapa, Diana ada di Jakarta?" tanya Luna kaget.
"Lo, kamu belum tau. Kan mereka sudah tiga harian di Jakarta."
__ADS_1
"Aku gak tau."
"Emang Ariel gak chat kamu?"
"Enggak. Mas Ariel mana mau chat aku duluan, kalau bukan aku yang nelfon atau video call, nanya Diana. Mas Ariel pasti gak akan ngasih kabar," ucapnya dengan nada sendu.
"Ya sudah, ayo aku antar ke tempat Ariel."
"Emang Mas tau, Mas Ariel ada dimana?"
"Tau. Di apartemen di Daerah .... " Dion menyebutkan tempat apartemen Ariel.
"Mas Ariel masih tinggal di sana?" tanyanya.
"Kamu pernah ke sana?" tanya Dion kaget.
"Iya, dulu. Sebelum nikah. Biasanya aku ke sana buat ketemu Diana."
"Oh. Kamu juga tau, kalau rumah Paparnya Ariel sekarang sudah di jual."
"Aku gak tau."
"Hemm, rumahnya sudah di jual beberapa hari yang lalu."
"Mas tau info dari mana sih?" tanya Luna penasaran.
"Rahasia."
"Ck, sama istri aja main rahasia rahasiaan," ketus Luna membuat Dion malah tertawa, karena wajah Luna yang malah terlihat tampak menggemaskan.
"Iya sudah, hayuk siap-siap. Aku antar kamu ketemu Diana. Aku juga kangen banget sama Diana. Rasanya sudah bertahun-tahun gak ketemu. Kira-kira, Diana mau gak ya aku gendong?" tanyanya.
"InsyaAllah, mau," jawab Luna dengan ragu. Karena setau dia, dari Diana lahir, sampai umur beberapa bulan. Diana selalu nangis misal di gendong oleh Dion.
"Iya udah siap-siap gih. Kamu kan paling la kalo siap-siap."
"Okay."
"Oh ya, Mas. Misal Diana tinggal bareng kita selama seminggu, apa gak papa?" tanyanya pelan, takut jika Dion marah.
"Gak papa dong, aku malah seneng banget. Jadi kamu tidak kesepian, misal aku tinggal sendirian di rumah. Aku malah kadang kefikiran misal aku kerja, kamu di rumah seorang diri, gak ada temennya. Misal ada Diana, kamu kan ada hiburan. Tapi ya itu, jangan capek capek ya, usia kehamilan kamu kan sudah tujuh bulan lebih, kamunjuga mudah ngantuk sejak hamil, gampang capek. Jadi, misal Diana tinggal di sini, kamu harus bisa atur waktu," tuturnya dengan pelan.
"Iya, Mas. Iya udah aku siap-siap dulu."
Setelah itu, Luna bersiap-siap dengan sangat antusias. Ia sudah gak sabar ingin bertemu dengan putri kandungnya itu. Sebenarnya sudah lama Luna merindukannya, tapi karena jarak yang begitu jauh, dan dulu dirinya fokus sama usaha dan pernikahannya. Jadinya Luna gak bisa menemui Diana. Terlebih setelah usahanya kembali maju, dan dirinya fokus memperbaiki kesalahannya, membuat Luna semakin tak bisa untuk sekedar datang ke sana menemui putrinya. Apalagi setelah dirinya dinyatakan hamil, Luna makin gak bisa untuk menemui Diana.. Karena dirinya harus bisa jaga diri, jaga kesehatan, jaga fikiran agar tidak stress dan berdampak pada kandungannya.
Kandungan Luna emang lemah, bahkan dokter menyarankan agar Luna hidup santai aja, tidak mikir berat, tidak mengangkat beban berat dan melakukan pekerjaan yang bikin menguras tenaga dan emosi.
Setelah bersiap-siap, barulah Luna dan Dion pergi ke tempat apartemen Ariel. Namun sebelum mereka pergi, Luna sudah mengirim pesan lebih dulu agar Ariel jangan kemana-mana.
Kan gak enak, misal sudah sampai sana, eh Ariel dan putrinya malah pergi keluar.
Jadi untuk mencegah hal yang tak di inginkan, Luna pun mengirim pesan lebih dulu.
__ADS_1